Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Suka Merajuk


__ADS_3

walau tidak ke hotel tetapi tiffanny tetap bekerja dari rumah dia juga harus membantu rian dan tidak enak selalu merepotkannya.


dia duduk di meja kerja devan sambil terus mengetik sesuatu di laptopnya.


ting tong


suara bel yang berbunyi itu membuatnya terbangun dari tempat duduk untuk segera membukanya.


ting tong


ceklek


" Ck kenapa lama sekali , lihat aku membawakan mu oleh-oleh sebanyak ini walau aku sering kesini " kalista masuk begitu saja tanpa tiffanny suruh.


tiffanny menutup kembali pintu rumahnya dan duduk di sofa melihat apa yang dibawa kalista.


" Kau membawakan ini bukan untukku tapi untuk devan "


" Dibawah ada Nuggetnya , aku pinjam kamar kecil dulu "


hubungan mereka semakin hari semakin dekat, karena kalista memang tidak terlalu bisa berteman dekat dengan sembarang orang dia adalah tipikal pemilih dalam berteman.


namun setelah bertemu tiffanny yang sama-sama memiliki sifat sepertinya membuatnya berani mengespresikan apapun.


***


bandar udara internasional muhammad husein sastranegara.



brian baru saja sampai di kota bandung, raka yang berdiri dari tempat tunggu keluar itu melambaikan tangannya.


" kakak ! " teriaknya dengan senang.


brian pun menoleh dengan cepat dia mendatangi raka dengan mendorong kopernya.


" Apa kabarmu ?" tanya brian memeluk raka.


" baik kak "


" bagaimana dengan ibu ?"


" ibu sibuk dengan usaha menjahitnya , ayo pulang ibu membuatkan sup daging sapi untuk kakak " ajaknya mengambil koper brian.


" Hmm raka sebelum itu temani kakak kerumah tiffanny dulu, ada sesuatu yang ingin kakak berikan untuknya.."


benar saja dia telah membawakan sesuatu yang sudah dia janjikan sebelumnya.


" Ha ? ba-iklah "


****


Rumah Sakit Lentera


Sehabis memeriksa pasien devan kembali kedalam ruangannya dan melepaskan jubah dokternya, karena teringat tiffanny dia pun menyambungkan telpon video kepadanya.


" Ya devan " tiffanny langsung saja membuka telponnya, devan tersenyum mendengarnya.


" Sedang apa ? apa anak kita menendang lagi seperti pagi tadi ?"


tiffanny menggelengkan kepalanya seraya tersenyum lebar " mungkin dia sedang tidur, kalista ada disini jadi aku tidak kesepian dia juga membawakan aku oleh - oleh juga untukmu. "


" Kalau begitu sampaikan ucapan terima kasih ku untuknya"


" Aku dengar " teriak kalista yang ada dihdapan tiffanny yang membuat keduanya tersenyum.


" Kau sedang apa ? " tanya tiffanny.


" baru saja selesai memeriksa keadaan pasien, aku sangat lelah sekarang rasanya ingin cepat kembali dan menemanimu. "


" kalista tunggu sebentar disini "tiffanny meninggalkan kalista yang sedang mengupas buah itu , dia berjalan menaiki kamar atas.

__ADS_1



" Devan "


" hmmm Iya sayang "


" Apa aku boleh keluar dengan kalista ? aku ... aku ingin berjalan - jalan mencari udara segar sebentar saja " pintanya dengan nada yang dibuat sekasihan mungkin.


" Nanti saja bersamaku , besok aku tidak akan masuk kita berjalan - jalan bagaimana ?"


" kau tidak percaya padaku ?"


" bukan begitu sayang tapi aku hanya khawatir jika tidak ada diriku aku takut kau membutuhkan sesuatu nanti. "


muka nya langsung berbeda seperti datar tanpa eksrpresi satu hal yang tidak tiffanny sukai pada diri devan setiap dia pergi selalu dilarang dia hanya bisa pergi bersama devan.


" aku tutup dulu, dah"


tut...tut...tut


devan tau terkadang hormon tiffanny sering berubah dimana dia akan senang lalu akan kembali merajuk sesudahnya karena hal keci dia hanya harus lebih tenang dan bersantai dalam menghadapinya.


****


shitt


mobil raka berhenti di depan rumah tiffanny dan juga devan, brian tersenyum saat melihat rumah itu.


" Kau tunggu disini saja apa mau masuk ? " tanya brian.


" disini saja kak , nanti ada orang yang lewat aku bisa meminggirkan mobilnya. "


" baiklah "


tok


tok


tok


tiffanny baru turun itu langsung membuka kembali pintu rumah dan dia terkejut melihat brian datang dengan senyuman.


***


didalam rumahnya tiffanny dan brian duduk di ruang tamu berbeda dengan kalista yang duduk di ruang televisi seperti ingin mendengarkan mereka berdua.


" kabarmu baik ? " tanya brian.


" hmm sangat baik, bagaimana denganmu ?"


" Sama , dan ini ... aku membelikannya untuk calon anakmu aku tidak tau laki-laki atau perempuan jadi aku membelinya untuk keduanya. "


tiffanny menerimanya betapa senangnya brian saat tiffanny tidak menolaknya sama sekali " Aku jadi merepotkanmu , jika kau menikah dan punya anak aku akan membalasnya nanti. "


brian tersentak mendengar perkataan tiffanny itu tidak sadarkah dia kalau dia masih menyimpan rasa kepadanya.


" Baiklah aku menunggunya " ujar brian tersenyum kaku.


" Aku lupa menawarkanmu minuman , maaf kau mau minum apa ?"


" Tidak usah repot-repot aku akan segera kembali. fanny kapan kau akan melahirkan ?"


" kurang lebih 1 setengah bulan lagi. "


" Ha begitu pasti Sangat menyenangkan jika melihat wajahnya nanti. "


tiffanny tersenyum kecil mendengarnya " usaha mu berjalan dengan baik kau semakin terkenal berkat kerja kerasmu. "


benar sekali, studio milik brian sekarang sudah berjalan lancar dan selalu memiliki job baik dari management artis maupun dari pertelevisian.


" Kau benar tapi seperti yang selalu kau bilang semua itu tidak akan berhasil tanpa pegawainya. aku mengapresiasi mereka dan kerja kerasnya. "

__ADS_1


" hmm benar "


" kalau begitu aku pulang dulu ya , raka menunggu di mobil lain kali kita akan bertemu lagi. "


tiffanny pun ikut berdiri " Kau tidak perlu mengantarku, perutmu semakin membesar pasti melelahkan jika banyak bergerak aku pulang ya jaga dirimu baik-baik. "


tiffanny mengangukkan kepalanya dan tersenyum " Kau juga "


setelah brian pergi kalista langsung saja keluar dia melihat pintu yang tertutup dan artinya brian sudah benar-benar pergi.


" bukalah dan lihat apa yang dia bawakan. "


" hey ini punya anakku "


" ck kita lihat saja "


akhirnya tiffanny diam saja melihat kalista yang membuka paper bag besar itu.


" wah ternyata dia sangat pandai memilih fashion mewah sekali " pujinya melihat baju-baju bayi perempuan dan laki-laki lengkap dengan topi dan sepatunya.


" Tapi Fan apa kau tidak dengar dari caranya berbicara dia masih mencintaimu. " ujar kalista lagi


" Apa maksudmu dia tau aku sudah menikah dan akan punya bayi jikalaupun itu memang benar aku hanya mencintai devan sekarang. " balas tiffanny dengan yakin.


" ck benar kau memang sosok yang setia , lanjutkanlah "


****


Malam harinya


devan bilang sebelumnya dia akan pulang cepat tapi ternyata devan pulang pukul 7 malam, membuat tiffanny lama menunggunya dirumah dia sudah bosan karena kalista sudah pulang dari tadi sore.


dia merajuk dan tidak berbicara kepada devan, devan mengerti kenapa tiffanny merajuk sebab itu dia memasak kesukaan tiffanny sekarang.


rasanya tidak enak didiamkan oleh orang yang dicintai pikirnya dengan cara apapun dia harus membujuknya.


" Sayang Apa Sup nya mau ditambah tahu ?" tanyanya.


" Terserah "


devan hanya tersenyum mendengarnya beginilah yang harus dia hadapi semenjak tiffanny hamil, karena hal kecil dia sering merajuk.


" Baiklah aku masukkan ya , sayang aku tadi melihat Ranjang bayi lucu sekali warnanya pink sangat cocok untuk anak kita nanti bagaimana kita beli hmm "


" tidak "


" Jadi anak kita mau tidur dimana kalau kita tidak membelinya "


" Terserah "


" Hmm begitu , maafkan aku tadi alat baru untuk rumah sakit baru saja tiba jadi aku harus mengeceknya dengan benar aku tidak tau kalau akan datang secepat ini aku sangat menyesal " ucapnya sambil mendekati Tiffanny yang ada di ruang televisi itu.


" Devan aku bosan " rengeknya dengan manja sekaligus memeluknya.


" Bosan ? katakan padaku mau kemana ?".


" tidak tau mau kemana tapi aku bosan "


" Yasudah besok aku tidak akan kerumah sakit, kita piknik bagaimana ? hanya berdua saja ups bertiga dengan bayi kita " mengelus lembut perut tiffanny.


" Sunggguh ?"


" hmm sungguh "


fanny pun tersenyum lebar lantas devan merangkulnya sambil mencium puncak kepalanya.


" Terima kasih " ucap tiffanny.


" untuk ?"


" untuk apapun itu "

__ADS_1


__ADS_2