Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Membeli Saham


__ADS_3

" Devan " gumam fanny pelan.


mereka berdua saling melangkah untuk mendekat, hanya butuh beberapa langkah saja jarak mereka sangat dekat.


" kau mencariku ? apa kau butuh sesuatu ?" tanya devan.


" eh ... aku , aku tau kalau mungkin aku tidak tau diri ... tapi aku ingin minta tolong padamu " jawabnya ragu.


devan bisa melihat sorot mata tiffanny yang dari tadi saat bicara tidak mau menatap wajahnya , fanny orang yang lugu menurutnya.


" ikutlah denganku kita bisa bicara berdua saja "


devan berjalan dan fany mengikutinya dari belakang , mereka masuk kedalam lift bersama. fanny merasa sangat canggung sekali berdiri di samping devan dalam masker itu devan terus tersenyum melihat kelakuan fanny.


ting


" ayo " kata devan lagi.


lalu mereka masuk kedalam sebuah ruangan yang di depan pintu tertulis sebuah nama " Dr . Devandra Atmaja S.p B.s "


ceklek


devan membuka pintu dan mempersilahkan fanny untuk masuk, ruangan devan terlihat sangat rapi walaupun banyak buku buku yang bertumpuk di rak dan juga banyak pajangan tentang organ manusia.


" ini ruanganku , duduklah di kursi itu " devan menujuk ke kursi yang dihadapan kursi dia.


devan melepaskan maskernya dan kemudian duduk menghadap ke arah tiffanny.


" ingin minta tolong apa ?" tanya devan.


" belilah saham si hotel ku " jawab fanny to the point.


devan mengernyitkan dahinya , tidak mengerti kenapa fanny menyuruhnya membeli saham di hotelnya.


" fany bisa kau jelaskan alasan kenapa aku harus membeli saham di hotelmu ?" tanya devan.


fanny sedikit diam , dia menatap wajah devan mencari keyakinan di wajah devan agar dia yakin dan mempercayai devan.


" Dia pasti bisa di percaya " pikirnya.


" maksudku , kau hanya perlu membeli saham ku atas namamu saja tetapi aku yang akan memberikan uangnya. bisa dikatakan ... aku meminjam namamu " jelas fanny.


" berikan alasan signifikan agar aku bisa membantumu "


" aku akan mengatakannya , tetapi berjanjilah jangan memberitahu siapapun itu walau nenek sekalipun " pinta nya.


" kau bisa mempercayaiku " kata devan.


" brian ingin membeli saham di perusahaanku sebanyak 12 % , dia sudah punya saham 10 % yang ditinggalkan oleh pak samuel. aku tidak ingin dia membelinya , jika aku menolaknya dan aku juga yang memiliki semua saham itu maka orang akan mengeluarkan petisi untuk menurunkan posisiku "


" bagaimana bisa itu ? itu hotel yang kau bangun sendiri tidak orang yang bisa menurunkan posisi itu darimu "


" aku tau , tapi dalam berbisnis tidak seperti yang orang lain pikirkan. posisi tertinggi di sebuah perusahaan akan dianggap orang yang paling tinggi kekuasaannya tetapi sebenarnya saat rapat kepemilikan saham jika beberapa orang ingin menurunkan sang pemilik maka itu bisa terjadi "


" maafkan aku jika aku banyak bertanya , tetapi kenapa brian menginginkan saham lagi ?"

__ADS_1


fanny belum menjawab devan , bagaimana mungkin dia tau itu. dia saja sangat bingung dengan tingkah brian.


" aku tidak tau niat apa yang dia punya. jadi aku mohon bantu aku , harga yang dia tawarkan untuk saham itu Rp. 800.000.000,- maka kau bisa membelinya dengan harga 1 milyar dan aku akan memberikan langsung padamu "


" tidak perlu terlihat sungkan denganku. kan sudah aku katakan semalam , tenanglah ... aku akan membantumu dengan uangku sendiri. hanya 1 milyar bukan "


" apa ? tapi dev 1 milyar itu sangat mahal untuk 12% saham " imbuh fanny


" aku ingin membelinya dan mengikuti investasi saham seperti yang lainnya. tidak peduli berapa harganya aku akan membelinya "


devan tersenyum setelah mengatakan itu , mulut fany terasa kelu saat ingin mengatakan sesuatu kali ini devan sudah sangat membantunya.


***


" aku akan mengantar sampai di parkiran " ujar devan yang kini berjalan berdampingan dengan fanny, fanny mengangukkan kepalanya.


" Dokter devan tungguu" cegah para suster yang ada di meja resepsionis tadi.


" ya , ada apa ?" tanyanya.


" ini nona Tiffanny wang itu kan ,pemilik hotel wang ?" tanyanya.


devan melirik ke arah fanny dan dia mengangukkan kepalanya.


" kebetulan sekali ... aku sangat suka membaca tentang kisah keberhasilanmu dan jika dilihat dari dekat begini , sungguh sangat cantik. nona tiffanny apa kami boleh mengambil foto bersama ?" tanya para suster dengan antusias.


" ha ? eh ... ba,baiklah " jawab fanny.


dengan semangat 2 suster itu mengelilingi fanny dan mengambil foto selfie. fanny menatap ke kamera tapi tidak tersenyum.


" fanny tersenyumlah " katanya.


fanny tersenyum tipis di hadapan kamera , begitu juga dengan dua suster yang tersenyum lebar itu.


" sudah , ayo fanny kau masih banyak pekerjaan " devan menarik tangan fanny hingga keluar dari pintu bagian UGD.


" apa mereka berpacaran ?' tanya mereka berdua.


" devan ..."


" ya "


" tanganku " katanya.


" oh maaf " devan segera melepaskan cekalan tangannya , mereka berdua sudah ada di depan mobil fanny.


" terima kasih " ucap fanny.


" bukan apa - apa , kau bisa minta apa saja padaku nanti " balas devan.


" aku ... kembali ke kantor dulu " katanya.


devan membukakan pintu mobil dan fany langsung masuk ke bangku sopir " hati - hati , jangan mengebut " peringat devan.


" iya "

__ADS_1


setelah mobil fanny hilang dari hadapannya, dia kembali masuk kedalam rumah sakit.


***


3 hari kemudian


ada 10 orang yang sudah duduk di kursi itu , termasuk brian yang tampil rapi dengan setelan jas hitam hari ini. namun tak lama ada wajah baru yang datang yaitu Dokter Devan. semua orang memperhatikannya karena baru kali pertama devan menghadiri acara ini.


dia duduk di kursi paling akhir , dan tak lama itu beberapa orang datang membagikan beberapa lembaran kertas ke semua orang.


" sebentar lagi Bu Tiffanny akan datang , jadi silahkan dibaca dulu " ujarnya.


tak ... tak... tak


suara sepatu yang menggema di ruangannya itu , sangat bergema karena ruangan ini dibuat kedap suara. Fanny datang dengan anggunnya dia berjalan , hari ini dia memakai pakaian Blexer berwarna Kuning dan rambut yang dibuat curly tampak cantik dan manis dengan make up tipisnya. diikuti Rian di sampingnya yang memakai jas berwarna hitam lengkap dengan dasi hitam.


semua orang yang hadir pun berdiri menyambut kedatangan pemilik hotel itu melihat semua orang berdiri devan pun ikut berdiri.


" selamat Siang semuanya , silahkan duduk " katanya.


semuanya pun duduk dengan rapi dan teratur , sesekali brian memperhatikan fanny yang duduk di sebelahnya kanannya dan fanny duduk di bagian tengah.


" semuanya ... hari ini bersama kumpul di ruangan ini , kita akan membahas tentang kepemilikan saham baru yang ada di hotel Group wang. dengan pemiliknya Tiffanny wang akan menjadi pembicaranya " jelas rian yang berdiri di sisi kirinya dan kemudian duduk.


" seperti yang kita ketahui jika pak pramono sudah hiatus dari pekerjaanya , jadi beliau ingin menjual saham yang dia miliki sebesar 12 % kepada siapapun yang mampu membeli dengan harga yang tertinggi " jelas fanny


" maaf bu fanny , saya menyela pembicaraan anda. jadi apakah sudah ada yang membeli saham itu ?" tanya seorang pria yang kisaran usianya 40 tahunan.


" Dan apakah jika sudah terjual akan mengubah harga saham kami ?" tanya seorang perempuan berkisaran usia 38 tahunan.


" maafkan aku bu fanny , tapi aku sudah menawarkan harga paling tinggi pada pak pramono. saya berharap bu fanny mempertimbangkan itu " kata brian yang mulai bicara.


fanny tidak menoleh kepadanya dan hanya mendengarkannya saja.


" pak brian bukankah anda sudah memiliki 10% saham ? kenapa anda ingin membelinya lagi ?" tanya yang lainnya.


" saya merasa hotel ini sangat menguntunkan jadi ingin menambah saham agar keuntungannya juga berlipat " jawabnya.


" Bu fanny bagaimana menurutmu , kau tidak menolaknya kan ?" tanya brian.


" karena waktu pertemuan ini terbatas , langsung saja saya jelaskan semuanya " jelas fanny.


" pertama - tama tidak akan ada perubahan harga atau kenaikan saham karena kasus ini , dan yang kedua sudah ada yang membeli saham ini langsung dari tangan pak pramono " ungkap fanny.


Brian seakan tak percaya dan menoleh kearah fanny tetapi fanny tak menggubrisnya sedikitpun.


" pria yang memakai kemeja putih itu dia lah orang yang membeli sahamnya , saham itu dibelinya dengan harga 1 milyar. jadi pak brian ku harap kau tau batasan peraturan Hotel ini "


" Tapi bagaimana bisa , tanpa persetujuan kami dan ini semua dilakukan ?" tanya brian.


" maafkan aku tapi semuanya bisa saja , aku sudah membelinya langsung dari pak pramono dengan harga tertinggi. aku dengar harga yang kau tawarkan adalah 800 juta rupiah , selisih yang cukup jauh denganku " saut devan yang mulai bersuara itu.


" Kami tidak mempermasalahkannya , karena tidak mempengaruhi harga saham kami" kata yang lainnya yang menyetujui itu.


" terima kasih , saya tau kalian pasti setuju " fanny tersenyum ramah kepada mereka.

__ADS_1


__ADS_2