Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
berusaha melupakan


__ADS_3

" proyek nya akan dibangun dalam 1 bulan, jika kita memberikan Rancangan sekarang mungkin akan ada perbaikan dari Arsitek disana " ungkap rian ,


tetapi hanya diam , dia mendengar semua perkataan brian. masih banyak rintangan lagi yang harus dia lewati. dia memang senang karena terpilih tapi didepan masih ada beberapa orang yang harus dia cegah untuk menggagalkan rencananya.


" tahap ini sudah aku menangkan , hingga tahap - tahap berikutnya aku juga harus memenangkannya " pikirnya.


tiba - tiba dia memegang kepalanya menggunakan dua tangannya , rasa sakit dikepalanya sangat dahysay sekali. rasanya dua ini berputar dikepalanya.


" fanny " gumam rian yang curiga karena fanny terus bersikap aneh seperti itu.


" fanny kau baik - baik saja ?" tanyanya.


fanny mengangukkan kepalanya menahan semuanya , lambat laun dia merasa sedikit lega karena sakit dikepalanya mulai reda.


" ada apa dengan diriku ?" pikirnya.


" Rian pulanglah kau berikan saja Rancangan Arsitek kita , jika ada perubahan diskusikan dengan kedua Arsitek " ucap fanny.


" baiklah "


" aku pergi " sambung rian.


fanny hanya mengangukkan kepalanya , dia ingin sendirian merasa sangat lelah seharian bekerja dan tiba - tiba kepalanya terasa sangat sakit.


dia masuk kedalam kamar mandi dan berendam disana , memejamkan kedua matanya menikmati air hangat itu menenangkan diri seorang diri.


" Selamat sudah memenangkan nya "


dia terus mengingat itu bagaimana tadi siang ketika dia sedang sibuk bekerja dentingan di ponselnya terdengar lantas dia membukanya.


dari nomor yang tidak dia simpan padahal dia tau itu dari brian.


" Selamat Sudah Memenangkan Nya "


tiffanny membuka matanya , menatap apa yang ada dihadapannya tetapi tatapanya tampak kosong.


tok...tok...tok


" fanny sayang apa kau didalam nak ?" gedor anja ibunya devan.


fanny membuyarkan lamunannya setelah mendengar suata itu " ya " jawabnya.


" setelah selesai turunlah kami menunggu dibawah "


" iya " jawabnya lagi.

__ADS_1


sebelum pergi anja menatap kamar besar itu terlihat sangat rapi dan berdesain modern, ada foto tiffanny dulu sewaktu sma sangat cantik di pinggir meja itu.


dia mengambilnya dan memperhatikan foto itu " persis seperti mamanya " ucapnya.


setelah itu dia kembali dibawah karena tidak ingin mengganggu tiffanny , sedangkan tiffanny tak lama itu diapun keluar berjalan kearah lemari dan mencari baju kaos biasa dan celana panjang berwarna putih juga kaos berwarna mustard.


tidak butuh waktu lama baginya karena dia hanya memakai lipbalm saja sudah cantik dia turun kebawah seorang diri.


" iya mungkin sebentar lagi " kata anja.


" nah itu dia " ujar anja , membuat semua orang menengok ke arah fanny.


" duduklah di sebelah devan , lihat bibi anja memasak makanan kesukaanmu " ujar nenek.


" nona apa ingin dibuatkan susu nanti ?" tanya kali yang sedang menuangkan air di gelas.


" tidak usah bi" jawabnya.


fanny menatap semua makan malam yang ada dihadapannya , ada ayam kecap kesukaannya juga makanan lainnya.


dia mengambil satu ayam itu dan juga sedikit nasi dev terpana melihat makanan tiffanny .


" ini untukmu atau untuk kucing ?" tanyanya.


" devan " kata ayahnya.


" begitulah dia nak , dia seperti bermusuhan dengan nasi itu sudah sangat banyak menurutnya " saut nenek.


" terima kasih untuk masakannya bi " ucap fanny.


" iya sayang tidak masalah tapi ... kau harus makan banyak bibi akan kecewa jika kau hanya makan sedikit " anja berinisiatif menambahkan nasi dipiringnya , fanny tidak bisa menolaknya lagi sehingga dia hanya bisa pasrah saja.


" sudah ayo makan , devan ayo makan " ujar nenek.


devan pun makan sesekali melihat cara tiffanny yang makan dengan teratur itu, melihatnya seperti itu berada di sebelahnya membuatnya sadar tiffanny hanya perempuan biasa yang dulu dia pikir fanny itu suka bertindak sesuka hatinya tapi semuanya berubah ketika dia tau semuanya.


" makanlah yang banyak karena kau butuh energi untuk menghadapi orang - orang " ucapnya sambil memperhatikan fanny.


" devan kau tidak ingin makan ?" tanya ayahnya yang sadar kalau devan terus menatap fanny.


" tidak ayah aku akan makan " jawabnya.


setelah selesai makan fanny segera pamit , karena habis makan banyak dia tidak ingin langsung tidur dia pun memutuskan keluar rumah dengan naik ke kelantai 3 disana ada balkon luas yang sangat cantik dihiasi dengan lampu warna warni dan gazebo.


dia berdiri di dekat pagar , angin malam membuat rambut indahnya itu berterbangan kesana - kemari , walau dingin tapi tidak terlalu menusuk sampai tulang. saat seperti ini dia merasa nyaman dan tenang.

__ADS_1


" berpikir kenapa langit tidak bertiang ?" ujar dev dari belakang , fanny menoleh kepadanya namun berbalik lagi kedepan.


" aku sedang berpikir kenapa ada orang yang suka ikut campur urusan orang lain " jawab fanny.


" aku tidak merasa seperti itu jadi terserah kau mau bilang apa "


" apa kau suka membawa pria yang kau kenal kedalam kamar ?"


" apa maksudmu ?" tanya balik fanny dengan nada kesal namun tetap tenang.


" dengarkan aku devan , jangan pernah ikut campur urusanku. aku tidak pernah mengatakan apapun padamu tentang hidupmu. kau itu bukan siapa - siapaku " tegas fanny.


" karena yang ingin kau dengar hanya Brian bukan ?"


" Brian sudah menikah, kau tidak bisa memilikinya lagi ... hanya ada rasa sakit dihatimu bukan. tinggalkan saja dia, lupakan pria itu ... lihatlah dihadapanmu saat ini , ada banyak orang yang menginginkanmu bahagia " tekan devan.


" siapa dia ? apakah itu kau ?"


devan terdiam tidak ingin menjawab pertanyaan tiffanny , tiffanny memajukan langkahnya hingga kini sangat dekat dengan devan kedua manik matanya bertemu dan bertautan dengan devan.


" kau harus tau , tidak harus tersenyum saat kita bahagia ... dan tidak harus menangis saat kita sedih." katanya dengan mata yang nanar


" apa jika aku begini aku terlihat sangat menyedihkan dimatamu ? ya ... anggap saja begitu , kau suka mengecapku begitukan "


" ya ... kau perempuan paling menyedihkan yang pernah aku lihat ! kenapa fanny... kenapa " bentak devan.


" kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik darinya , lebih mencintaimu dan lebih menghargaimu " teriak devan


fanny hanya diam karena teriakan devan itu , dia sudah tidak mampu untuk menjawabnya karena percuma devan akan terus mencerca nya dengan begitu banyak pertanyaan pikirnya.


namun matanya tidak bisa dibohongi dia terlihat ingin menangis tetapi dia tidak ingin dicap sebagai wanita lemah dihadapan devan.


" Tiffanny kau itu temanku dulu, kita mungkin tidak terlalu dekat tapi aku masih menganggapmu teman. bagaimana mungkin aku bisa melihat mu seperti ini " ucapnya dengan nada yang pelan sudah tidak emosi seperti tadi.


" Di dunia ini , bukan hanya dirimu yang mengalami hal seperti ini. tetapi aku tau tidak banyak orang yang bisa kuat sepertimu, kehilangan segalanya termasuk orang tua aku tau itu sangat menyakitkan "


" bagaimana kau tau jika orang tuamu masih ada bersamamu. kau bisa mengatakan itu karena kau tidak tau bagaimana rasanya tuhan mengambil semua orang yang kita cintai. sangat sakit ... sakit sampai - sampai kau tidak bisa bersuara lagi " kata fanny dengan air mata yang mulai menetes , hidungnya memerah karena menahan tangis.


" masih ada nenek , masih ada aku " gumam devan.


" pergilah devan aku tidak ingin kau disini " ujar fanny yang memalingkan wajahnya.


" Fanny aku berjanji akan membuatmu melupakan mantan kekasihmu dan membuatmu bahagia bersama ku dan bersama semua orang" ucap devan , setelah mengatakan itu devan pun pergi namun terasa sangat berat setiap langkahnya dia terus mengingat tiffanny hingga dia sesekali berbalik kebelakang.


tiffanny hanya menundukkan kepalanya seraya berpegangan dengan pagar besi itu. " aku tidak tau bagaimana perasaanku padamu. tapi aku tidak ingin melihatmu menangis " ucapnya dalam hati.

__ADS_1


fanny menghapus air matanya yang jatuh, sampai sekarang tidak ada orang yang berbicara seperti itu padanya bahkan neneknya sekalipun.


" andai kau tau dev , aku sedang berusaha untuk melupakannya sekarang. karena yang kau katakan benar dia tidak mungkin menjadi milikku " ucapnya dalam hati.


__ADS_2