
shittt
mobil micheal sudah sampai di halaman rumah, tiffanny langsung membuka selt belt nya begitu pun dengan devan.
mendengar suara mobil datang ketiga pria didalam itu keluar membuka pintu. mereka terkesima saat fanny datang dengan micheal
tiffanny tersenyum menatap devan , namun beda hal nya dengan devan yang menatapnya dengan wajah biasa.
tapi jauh dalam hatinya, dia merasa senang karena tiffanny baik - baik saja.
" Kakak " ujar raka
fanny tersenyum kepadanya, namun dibelakang raka menggeser tubuhnya sehingga kini fanny melihat brian juga.
senyumnya kini berubah menjadi biasa saja.
" devan " ucap tiffanny pelan.
Devan mendekatinya semakin dekat , sampai hanya ada jarak beberapa cm saja.
" Tidak tahukah kau aku menunggumu dan mengkhawatirkanmu ? " sambil mengatakan itu mata devan tertutup dia hampir menangis.
" Maaf " hanya kata itu yang bisa dia katakan sekarang.
" Hei , jangan menangis. aku baik - baik saja , aku tidak terluka. dan kau membuatku merasa bersalah seperti ini " devan benar - benar menangis sekarang, air matanya sudah menetes.
fanny mengangkat tangannya perlahan dan menghapus bulir putih yang keluar dari mata devan , membuat semua orang yang disana hanya bisa menyaksikan kemesraan itu.
tak terkecuali brian, dia hanya bisa menundukkan kepalanya melihat pasangan itu.
devan langsung memeluk tiffanny erat " Aku mencintaimu , benar - benar mencintaimu " ucap devan.
tiffanny pun mengangkat tangannya , dia ingin membalas pelukan pria itu.
" aku tahu " jawab fanny.
" lalu kenapa kau menyembunyikan semua ini ha ? sayang ... aku selalu mengkhawatirkanmu setiap saat , aku mencarimu kemana - mana , tahukah kau sayang jika semua orang ingin mencelakaimu tadi. bagaimana jika terjadi sesuatu pada dirimu maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri " devan menggenggam pipi fanny dengan kedua tangannya.
" tapi aku baik - baik saja. devan ... kau bisa kembali kerumah sakit lagi mulai besok , apakah kau bahagia ?" tanya tiffanny yang menatap lekat manik mata devan.
" kebahagiaan ku hanya ada pada dirimu. jika kau ada disampingku maka aku akan bahagia. aku bisa meninggalkan apapun tapi tidak bisa kehilanganmu "
fanny mengangukkan kepalanya seraya tersenyum kecil , tiffanny menggengam tangan devan lalu keduanya menatap ketiga pria itu.
" terima kasih , raka .. brian. aku sudah merepotkan kalian semua , dan maaf .. harus membuat kalian melakukan ini semua " ucapnya dengan tulus.
" kami khawatir pada kakak , jadi kami mencari kakak. tapi melihat kakak baik - baik saja membuat kami senang dan lega " jawab raka.
tiffanny tersenyum mendengarnya " Lain kali , berhati - hatilah. mulai sekarang, jangan pergi sendirian. agatha akan mencelakaimu " nasihat brian dengan lembut.
" hmm aku tau , terima kasih " ucap fanny.
" fan , aku pulang dulu ya. atau nanti ... aku bisa langsung di DO jadi menantu Real estate " ujar micheal.
" ya , hati - hati " jawab fanny.
micheal melambaikan tangannya seraya tersenyum dan masuk kedalam mobil.
tin
micheal pun pergi dari halaman rumah itu , hanya tinggal raka dan brian. raka menatap brian yanh dari tadi terus menatap fanny , dia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung .
" kak , ayo kita pulang. nanti ibu takut sendirian di apartemen " ajak raka.
brian mengangukkan kepalanya " kak , kami permisi ya. dokter kami pulang " pamitnya.
" iya , hati - hati. dan ... terima kasih " ucap devan.
" tidak masalah " jawab raka.
dengan langkah pelan brian mengikuti langkah kaki rian yang berjalan cepat masuk kemobil. sepertinya raka lah yang akan membawa mobil malam ini.
sebelum dia membuka pintu mobil brian masih menatap tiffanny , devan tau brian sangat berat meninggalkan tiffanny sekarang.
devan semakin mengencangkan genggamannya , membuat fanny menatapnya tak paham.
tin
devan mengangukkan kepalanya , lalu mobil itu keluar dari halaman.
__ADS_1
" sayang , ayo masuk "
akhirnya mereka berdua masuk ke rumah , didalam rumah fanny didudukkan di sofa dan devan menuju ke arah dapur tak lama dia keluar membawa air minum dan beberapa makanan.
" Aku tidak lapar " ujar fanny.
" tidak , harus makan " jawab devan yang duduk disebalah fanny.
fanny menghela nafas kasarnya , dia mengambil roti daging yang dipegang devan , lalu memakannya.
fanny memakannya dengan cepat , devan sampai terheran - heran melihatnya. katanya tidak lapar tapi cara makannya sangatlah cepat.
" pelan - pelan sayang " devan menyingkirkan anak rambut yang ada di pipi fanny.
fanny mengambil gelas yang dipegang devan lalu meminum airnya.
glek...glek...glek
" devan , air nya habis " ujar fanny.
" lalu ?" tanyanya lembut.
" aku masih haus "
devan tersenyum mendengarnya , dia pun berdiri namun kali ini dia membawa seceret air putih membuat fanny tersenyum lebar.
" terima kasih " ucapnya.
" biar aku saja " devan melarang fanny memegang ceret itu dan dia yang menuangkannya.
drttt....drttt
Brian Message
📱" kau sudah dengar berita kalau agatha meninggal ? "
fanny membelalakkan matanya saat melihat sms itu , membuat devan penasaran dan merebut ponsel itu. sama seperti hal nya tiffanny dia juga terkejut.
" biarkan aku membalasnya " ujar fanny yang merebut kembali ponselnya
^^^📱 " apa itu benar ? bagaimana bisa ? ^^^
drrtt...
^^^📱 " baiklah ^^^
drrt
📱 " kau akan datang ? "
^^^📱 " entahlah , lihat saja besok ^^^
📱 " yasudah , sebaiknya kau istirahat. kau terlihat sangat lelah tadi.
saat fanny akan membalas pesan itu malah devan merebutnya.
" jangan dibalas lagi, dia sedang mencari perhatianmu "
fanny tak berkata lagi, dia benar - benar tidak habis pikir. disaat semuanya terbongkar agatha malah meninggal.
tapi apa penyebabnya dia juga masih berpikir.
" Bagaimana sayang ? mau datang ?"
" Sebaiknya kau datang. walau bagaimana pun dia dulu adalah pengurus rumah sakit tempat mu bekerja "
" lalu dirimu ?"
" aku ... aku akan menemanimu saja "
***
di dalam kamar mereka berdua, devan sedang menunggu tiffanny di ranjang mereka. tiffanny masih berganti baju di walk in closet.
sambil menunggu dia memikirkan sesuatu , bagaimana caranya tiffanny melakukan semua nya sendirian.
" Naiklah " ujar devan.
" aku tidak mau besok terganggu matahari tidurku " dia menutup hordeng terlebih dahulu dan merapikanya. setelah itu barulah dia naik ke atas ranjang.
" apa ?" tanyanya saat devan terus melihatnya.
__ADS_1
" kau melakukannya demi aku sayang ?"
pertanyaan devan itu membuat dia tak berkutik , sehingga dia hanya bisa menatap devan saja.
" sayang ? "
" ha ? hmm ... itu , ya " jawabnya terbata - bata.
" kenapa ?" tanya devan.
" Karena kau suamiku " jawab tiffanny.
" Sejak kapan ? sejak kapan kau menganggapku begitu ?" tanyanya lagi.
sejenak fanny diam, devan benar sejak kapan dia menganggap nya begitu dia saja tidak tau jawabannya.
" Aku .. aku "
" kau mencintaiku kan ?" tanya devan lagi.
tidak ada jawaban dari tiffanny, devan mengambil tangan kanan tiffanny dan mengelusnya lembut.
" tidak apa , jangan menjawabnya jika tidak mau. tapi jika kau benar - benar menganggapku sebagai suamimu ... setidaknya beritahu aku setiap rencanamu , bahkan ... apapun , aku sangat meminta itu darimu " lirih devan.
" Maaf , aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan semuanya darimu. hanya saja ... aku tau kau pasti melarangku melakukannya jika kau tau. " dia menundukkan kepalanya saat mengatakan itu.
" aku tidak tahan mendengar semua orang mengecap mu sebagai pembunuh " sambungnya lagi.
devan mengangkat tangan tiffanny " tatap mataku " ujarnya lembut.
entah kenapa tiffanny tidak bisa menatap wajah devan sekarang, hatinya gugup dan jantungnya terus berdetak tak karuan.
dia hanya menggelengkan kapalanya " aku mohon "
suara devan yang lembut dengan nada memohon itu membuatnya mengangkat kepala , walau sebenarnya dia tidak sanggup.
" cup " devan mencium bibir tiffanny.
manik mata mereka bertemu
deg...deg...deg
bisakah kau berhenti sebentar , rasanya jantungku seakan - akan mau loncat keluar
devan bisa mendengar suara detak jantung itu.
" sekarang jelaskan kepadaku bagaimana caramu melakukannya "
fanny langsung mengalihkan pandangannya ke depan dan berusaha menetralkan detak jantungnya.
" dibantu micheal , aku .... "
fanny pun akhirnya menjelaskan semua caranya , dari awal sampai akhir , namun dia tidak mengatakan seberapa besar dia memberikan uang kepada sheira.
" sayang kau sangat berani , tapi berapa yang dia inginkan ?" tanya devan.
" tidak besar " jawabnya.
" iya tapi kan ada nominalnya , dan aku yakin dia tidak akan meminta sedikit " selidiknya.
" lupakan saja. setidaknya kau bisa membersihkan nama baikmu dan nama baikku juga , jika kau terus - terusan dianggap buruk maka aku juga akan begitu " jawabnya
" bohong , buktinya selama ini istriku selalu diam kalau di cap buruk dia bersikap biasa saja " devan menyentuh hidung tiffanny dan menariknya.
" hei sakit " desis fanny.
" sudah 5 kali sayang kau menyebutku hei ,hei kau tau kan konsekuensinya apa. "
" hei " ucapnya keceplosan
astaga ! kenapa kau suka sekali memanggilnya begitu , hentikan
" mak..maksudku , devan . ini sudah malam ayo tidur aku lelah "
" baiklah , pasti melelahkan. ayo sini " devan menarik fanny kedalam pelulannya , mereka pun tidur sambil berpelukan karena sangat lelah fanny hanya langsung tertidur nyenyak.
sedangkan devan dia masih belum tidur , dia masih ingin tau kebohongan fanny yang tersisa. dia tau fanny berbohong saat memberikan imbalan.
setelah agak lama tiffanny tidur , dia melepaskan pelukannya dan bangun dengan hati - hati. dia turun dari ranjang dan mengecek ponsel fanny yang sedang di charger.
dia membuka pesan yang berisi pengeluaran transaksi , dia cari pesan itu sampai dia menemukannya.
__ADS_1
" 5 milyar " gumamnya.