Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Halusinasi Yang Nyata


__ADS_3

Bandung , Indonesia.


Sore hari jalanan telihat padat karena ini jam pulang bekerja, banyak kendaraan berlalu lalang melewati jalan raya itu.


Fanny berjalan seorang diri dibawah pohon Trotoar jalanan. dia menghirup udara perlahan.


" kenapa langkahku tertuju kesini ? " pikirnya


ya benar , di sebrang jalan itu rumah sakit dimana devan bekerja. entah dorongan darimana kakinya membawanya kerumah sakit ini. dia baru tiba di indonesia setelah 3 tahun yang lalu pergi untuk pengobatan.


" Brian " katanya dalam hati ketika melihat brian keluar dari pintu utama rumah sakit. dia segera menyumbunyikan diri dari balik tiang yang cukup besar itu.



dia memperhatikan brian yang sedang akan masuk kedalam mobilnya , namun ... disana dia juga melihat agatha. brian membukakan pintu untuknya.


tak lama mereka meninggalkan wilayah rumah sakit itu, barulah tiffanny berani memunculkan tubuhnya kembali. dia berjalan lagi hingga berhenti di dekat lampu rambu Lalu lintas menunggu jalanan itu sepi dan menjadi lampu merah untuk menyebrang.


dilain sisi ada devan yang baru saja keluar dari rumah sakit untuk pulang. dia berjalan menuju ke parkiran Luar rumah sakit karena mungkin di bassment penuh.


tangannya dimasukkan kedalam saku celana. dia terus berjalan hingga saat dia memutar kepala menuju keluar jalanan matanya terhenti melihat sosok perempuan berdiri di sebrang jalan.


" apa aku berhalusinasi " pikirnya.


dor


dari belakang dion mengejutkannya , tetapi matanya masih menatap kedepan tiffanny masih ada disana.


" ini bukan mimpi " ucapnya.


dia pun berjalan melangkahkan kakinya pergi. dion bingung kenapa devan tidak jadi pulang dan malah pergi karena sebelumnya mereka berdua berjanji untuk pulang bersama. ralat ... dion ingin menumpang di mobil devan.


" devan " teriak dion tetapi tak digubris devan.


saat dia ada disebrangan fanny, dia melihat fanny yang melirik ke arah lain tapi masih berdiri di depannya. karena lampu merah masih 30 detik lagi dia sudah tidak tahan malah menggunakan tangannya untuk bisa mengadah menyebrangi jalan.


tin...tin


klakson suara mobil yang melihatnya menyebrang, fanny terkejut hingga matanya menatap ke depan. dan tidak pernah dia pikirkan devan berlari menuju ke arahnya.


matanya menatap sendu kearah pria itu. tubuhnya kaku dan melemas. seakan - akan waktu itu dunia berhenti bagi devan tidak memperdulikan pengguna jalan yang lain hanya tiffanny pikirnya.


seketika devan langsung memeluknya disana, fanny terpaku , terdiam bisu seakan - akan tak bisa bergerak. devan memeluknya erat sampai dia membenamkan wajahnya di rambut itu sambil mencium rambut fanny dan memejamkan matanya menghayati dan meluapkan rasa rindunya selama bertahun - tahun ini.


" Aku merindukanmu ... Sangat merindukanmu " lirih devan.


tangan fanny masih terbujur kaku, lampu merah itu membuat pengguna mobil berhenti dan diantara banyak mobil ada mobil rian disana. dia mengendari sendiri dan melirik ke arah orang yang berpelukan itu.


dia tidak mengenali siapa itu karena hanya melihatnya selintas. namun seketika dia teringat dan menoleh lagi.


" Fanny , dokter " gumamnya dengan mata yang berkaca - kaca.


entah dorongan dari apa , tangan fanny mulai terangkat. seperti dia ingin membalas pelukan itu. devan makin memeluknya erat.


" Aku menunggumu " ungkap devan lagi.


shittt


" aku akan mengambilnya untukmu. tunggulah disini " kata brian yang keluar dari mobil bersama Agatha. mereka parkir disamping trotoar jalanan.

__ADS_1


namun saat melihat kesamping brian menyipitkan matanya , 2 orang yang sedang berpelukan itu kini menyita perhatiannya. begitu juga agatha mencari sumber titik arah kemana mata suaminya menuju.


" Tiffanny " kata agatha.


" tapi siapa pria itu " pikir agatha.


brian masih melihatnya , dia rindu sosok itu yang entah pergi kemana dia tidak pernah tau namun kembali ke hadapannya dan berpelukan dengan lelaki lain.


" Devan ... ini tempat umum " ucap fanny pelan.


devan menggelengkan kepalanya dia masih merindukan sosok itu.


" Kemana kau pergi, aku sudah menunggu dengan waktu yang lama " tanyanya yang masih memeluk fanny.


fanny membalas pelukan devan sesaat , lalu dia berusaha melepaskan pelukan itu dan menatap wajah devan. sepertinya devan masih enggan meleppaskan pelukan itu.


" Aku harus pergi " kata fanny yang kemudian berjalan meninggalkan devan disana. dan sekali melirik sedikit kebelakang.



" tunggu ..." devan memegang lengan fanny hingga membuat fanny berhenti dan menoleh kembali kearahnya.



" kau ingin pergi lagi ? " tanya devan dengan menatap wajah fanny.


rian tidak melanjutkan perjalannanya, dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan memperhatikan kedua orang itu.


" Aku ... aku harus melihat Hotel " jawabnya pelan.


" Aku akan mengantarmu " kata devan yang tidak ingin fanny pergi lagi.


kemudian devan menggandeng tangan tiffanny dan membawanya menyebrangi jalan untuk mengambil mobilnya. fanny membiarkan devan memegang tangannya matanya tak pernah melirik ke arah lain selain wajah devan yang tampak tampan itu.


" sebaiknya kita pulang ... biarkan nanti seseorang mengambil nya , ayo kita pulang " ajak agatha yang menuntun brian masuk kedalam mobilnya.


brian hanya menurut dan mengikuti perintah agatha. agatha juga masuk kedalam mobil dan brian mengendarai mobilnya.


agatha tampak khawatir karena sudah lama tidak melihat wajah brian yang seperti ini , dia takut kehilangan pria itu.


Rian juga sama , dia pergi meninggalkan tempat itu. dia menyetir mobil dengan mengebut.


***


sementara itu didalam mobil, fanny hanya diam tak bersuara sama sekali. berbeda dengan devan yang terus tersenyum. betapa bahagianya dia saat seseorang yang dia tunggu kembali di hadapannya sekarang. jika saja dia punya status lebih mungkin dia masih akan terus memeluk erat wanita itu.


" ibuku memberitahu .. kalau nenek ada dirumah sekarang " kata devan yang memecahkan keheningan diantara mereka.


" hmm , nenek bilang ingin menemui paman dan bibi disana. " balas fanny tanpa menoleh kearahnya.


" kau .. tidak ingin mengatakan sesuatu ?" tanya devan.


" apa ?" ujar fanny yang sekarang meliriknya.


" tidak jadi " ucapnya seraya tersenyum kecil.


" Eh devan , kita langsung kerumah saja. mungkin rian juga sudah pulang " katanya dengan lembut.


" oke "

__ADS_1


***


sesampainya dirumah itu , bi kali menyambutnya dengan haru dia memeluknya bagai seorang putri. fanny tersenyum penuh arti dia juga merindukan tempat ini dan juga bi kali dan semuanya.


namun dia seseorang yang tidak pandai mengutarakan isi hatinya, jadi dia hanya tersenyum untuk membalasnya.


" Nona ... Anda sangat cantik sekali. aku selalu merindukan dirimu. aku tidak menyangka akan selama itu " ujar kali dengan sedih sambil menundukkan kepalanya.


" aku sudah ada disini " balas fanny.


" oh ya kapan nenek pulang ?" tanya bi kali.


" katanya seminggu lagi pulang " jawab fanny.


" bi aku kekamar ku dulu " ucapnya.


" tunggu sebentar nona, saya ingin bertanya. makan malam apa yang ada inginkan ? " tanya bi kali.


" hmm terserah bi " jawabnya.


" Kalau tuan devan ?" tanya bibi yang melirik kesebelah fanny.


" apapun itu " jawab devan seraya tersenyum.


" baiklah " balas bibi.


fanny melangkahkan kakinya menuju kedalam kamarnya, perlahan - lahan dia menaiki anak tangga. sampai dia membuka pintu kamarnya pelan.


ceklek


kamar itu terlihat rapi persis seperti sebelum dia pergi dari sini. tetap sama dan tidak ada yang berubah .. dia masuk kedalam dan memandanginya.


" Boleh aku masuk ?" tanya devan dari depan pintu kamarnya.


fanny menoleh menatap devan lalu dia mengangukkan kepalanya.


" Kau merindukan ini ?" tanya devan yang berdiri di sampingnya.


" Ya " jawabnya pelan.


" Apa kabarmu ?" tanyanya dengan menatap wajah fanny yang cantik itu. dia sangat ingin tau semuanya.


fanny menoleh kearahnya dan menghadapnya , dia sedikit mendongakkan kepala karena tubuh devan yang tinggi.


" baik - baik saja " jawabnya lembut.


" aku ingin tau semuanya , bisakah kau memberitahuku ? " tanya devan lagi.


fanny bisa melihat wajah devan yang sangat peduli padanya, mata itu tidak bisa berbohong.


" Kau tidak perlu khawatir lagi padaku , bahkan mencemaskanku. Aku sudah sembuh "


" Hanya itu ? apa yang membuatmu tidak bisa dihubungi bahkan kau seperti menghilang ? tidak taukah kau kalau aku selalu menunggu kabarmu , aku takut terjadi sesuatu padamu. fanny ... aku mau kau terus mengabariku " ujarnya dengan begitu banyak pertanyaan. sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan itu tapi dia tidak mau membuat fanny risih padanya.


" Devan , Aku tidak tau ... dan tidak ingat apa kita pernah bertemu dulu. nenek bilang , aku dulu temanmu jadi ... hubungan kita sekarang hanyalah teman biasa sama seperti dulu. beberapa hal aku tidak ingin membaginya kepada orang lain , aku tidak ingin semua orang tahu tentang kondisiku "


jleb


Teman Biasa ?

__ADS_1


hanya itu ? apa yang devan lakukan sebelumnya masih dia anggap teman biasa ? sungguh terbuat dari apa hati wanita ini. sangat keras dan beku.


" Ba - baiklah . aku mengerti perasaanmu " jawab devan kaku .


__ADS_2