
dengan langkah gontai rian baru saja keluar dari ruangan rapat seorang diri , biasanya dia mencari sesuatu yang tertinggal disana. sambil membenarkan posisi dasinya membuat menunduk sambil berjalan.
dia menuruni anak tangga dengan lincah karena sudah hapal dengan bagian - bagian hotel , lalu kembali berjalan di pinggiran lorong hotel.
brak
" aduh "
rian tersentak dan tersadar ada seorang yang dia tabrak , lalu dia menoleh ke belakang.
" aduh " rengek anak itu.
" hei kau baik - baik saja ?" tanyanya yang berjongkok dihadapan anak itu.
" dengkulku sakit " rengeknya.
" ah maafkan aku , aku tidak sengaja " ucap rian dengan rasa bersalah.
" Dirga! "
anak itu menatap kearah depan , seorang perempuan memakai celana jeans berwarna putih dengan hiells tingga dan kemeja putih dan memegang tas selempangnya berwarna coklat.
" mama " panggil anak itu , dengan perlahan rian menoleh kebelakang melihat sosok perempuan itu dari bawah sampai ke atas.
namun perempuan itu langsung menghampiri anak itu yang terjatuh.
" sudah mama bilang jangan berlarian , kakimu akan selalu terluka nanti. apa sakit ? " tanyanya dengan khawatir
rian tidak banyak bicara hanya wajahnya saja menatap wanita itu dengan intens.
" tidak apa ma , paman maaf ya. hmm paman ? bukankah paman yang ada di pantai waktu itu ?" kata anak itu yang mengingat rian.
rian masih diam lalu perempuan itu menoleh melihat rian , kedua manik mata mereka saling bertemu dengan dalam.
hingga beberapa saat mereka masih terus menatap , dari arah depan tiffanny berjalan sendirian namun langkahnya terhenti ketika melihat rian dan dua orang dihadapannya.
" kau " ucap perempuan.
" mama kenal dengan paman ini ?" tanya anak itu.
" ah itu ... "
" hmm " rian hanya mengangukkan kepalanya tanpa eskpresi apapun.
saat menoleh didepan dia melihat tiffanny yang juga melihatnya saat itu.
" maaf aku harus pergi " kata rian yang kemudian berlalu meninggalkan perempuan itu, dia tidak menghampiri fanny namun memilih untuk masuk kedalam lift.
membuat tiffanny menjadi bingung, tiffanny pun berusaha untuk menemui rian melalui lift berikutnya.
" mama , mama kenal dengan paman itu ?" anak itu menarik - narik ujung kemeja longgar wanita itu.
" ayo sayang kita bereskan pakaian kita disini. "
***
" Rian " panggil tiffanny yang berada di atas atap hotel dengan menatap fokus kedepan.
" kenapa kau tidak kembali ?"
" tiffanny " gumamnya.
" dia .. "
" aku tau " jawab rian sebelum tiffanny menyelesaikan ucapannya.
" seperti anak kecil itu adalah anaknya dengan suaminya. " sambung rian lagi.
" kau baik - baik saja ?" tanya tiffanny menatap rian.
" memangnya kenapa jika ada dia , aku akan bersikap biasa saja. aku hanya bosan dan ingin mencari udara segar "
" ayo kembali ke dalam , ada yang ingin aku bicarakan denganmu. "
" apa ?" tanya rian
" fan , apa aku boleh untuk tidak masuk setelah ini ? hari ini aku ingin keluar " namun dia malah bertanya lagi kepada tiffanny.
" pergilah , dan kembalilah besok "
__ADS_1
" terima kasih fanny "
rian meninggalkan kembali tiffanny sendirian di atas atap itu, sedangkan tiffanny hanya bisa memperhatikan langkah rian yang menjauh darinya.
***
devan datang ke hotel dengan paper bag berwarna putih di tangannya , semua orang tidak mempertanyakannya karena devan bebas akses.
langkahnya memasuki lift , lalu menekan angka 20. sesampainya disana tiffanny tidak terlihat di dalam ruangan lalu dia menelponnya namun telpon tiffanny juga tidak dibawanya, dia memegang ponsel itu dan mengusap layar ponsel tiffanny.
" kenapa dia tidak membawa ponselnya " pikirnya.
tok...tok...tok
" maaf pak, saya ingin menaruh berkas ini untuk bu tiffanny. " kata eva yang permisi masuk kedalam
" iya silahkan , dimana istri saya ? apa dia sedang keluar ?"
" oh itu tadi ibu tiffanny sedang menyusul sekretaris rian tadi tapi sepertinya sebentar lagi akan kembali. "
" baiklah terima kasih "
" sama - sama pak. kalau begitu saya permisi. "
devan mengangukkan kepalanya dan menunggu tiffanny di dalam.
drrtt...drrttt
sebuah pesan singkat masuk dari kalista membuat devan penasarana.
Kalista Message
📱 " jika kau merasakan hal yang sama periksa saja ajak dokter devan "
" apa maksudnya ? apa dia sakit ? ck kenapa dihapus pesan sebelumnya" pikir devan.
ceklek
" devan "
" sayang " devan menutup kembali telpon tiffanny dan menghampirinya lalu mencium kening tiffanny.
" kau menyembunyikan sesuatu dariku sayang ?" selidik devan.
" aku ? aku rasa tidak kenapa memang ?"
" kenapa kalista menyuruhmu untuk memeriksa ke dokter denganku ?" selidik itu.
" ha itu ... aku tidak sakit hanya kemarin aku bertemu dengannya namun kepalaku sedikit sakit jadi dia memberiku obat tapi sudah tidak apa. "
" yakin ? kenapa aku tidak percaya ?"
" percayalah devan , tanyakan saja pada kalista jika kau tidak percaya "
" baiklah ... baiklah aku percaya , sekarang ayo makan aku buatkan tumis udang dan brokoli juga ada salad buah " devan menuntun tangan tiffanny dan menundukkan nya ke sofa.
" wah ! sepertinya sangat enak , apa kau mau mengajariku memasak nanti ?" antusias tiffanny.
" kenapa istriku harus lelah - lelah memasak. sekarang cicipi " devan menyuapi tiffanny perlahan yang langung dimakan tiffanny.
namun saat di dalam mulut dia merasa kenapa tidak suka , lidahnya tidak menerima udang. " ada apa sayang ? apa tidak enak ?" tanya devan yang melihat wajah tiffanny terdiam itu.
" ha ? tidak .. tidak ini enak kok sangat enak " jawabnya yang kembali mengunyah.
kau harus memakannya, mana mungkin aku mengatakan jika tidak ingin memakannya.
" lagi ya " kembali devan menyuapinya walaupun rasanya dia tidak mampu memakannya berulang kali namun tetap dia usahakan.
kenapa mual sekali, rasanya aku tidak sanggup . batinnya
" lagi sayang " saat devan akan memakanninya , tiffanny malah berlari ke kadalam kamar mandi lalu memuntahkan semua isi perutnya.
" sayang ! sayang kenapa ? apa tidak enak ? apa kau sakit hmm ?
" hoek "
" hoek "
" sayang kau sakit ?" menyentuh dahi tiffanny , yang sedang muntah itu.
__ADS_1
tiffanny menggelengkan kepalanya.
" hoek "
setelah dirasa sudah tak mual dia membersihkan mulutnya lalu beralih ke wajahnya , " sayang , lihat aku " kata devan yang khawatir.
" aku ... pu.. "
blek
tiffanny jatuh pingsan begitu saja segera devan menangkapnya.
" sayang ! "
secepat mungkin devan menggendongnya lalu membawanya keluar dan alhasil membuat semua orang memperhatikan mereka berdua.
***
didalam rumah sakit itu tiffanny masih tertidur dengan selang infus ditangannya .
sedangkan devan berada di dalam sebuah ruangan dokter perempuan yang cukup muda mereka duduk saling berhadapan.
" bagaimana kondisi istri saya dokter ? apa dia baik - baik saja ?"
" dokter devan kapan terakhir kali anda berhubungan dengan istri anda ?"
" 2 hari yang lalu "
" begitu , dan kapan anda menikah ?"
" hampir 1 tahun "
" sebelumnya apa sudah ikut program hamil ? "
" belum , saya memang berniat mengajaknya tapi karena dia tidak punya banyak waktu dan dulu aku juga sibuk dirumah sakit jadi tidak sempat. "
" saat saya memeriksanya tadi , ibu tiffanny memiliki semua tanda - tanda kehamilan. namun saat saya melakukan ultrasonografi masih sangat kecil untuk mengetahuinya sekarang. namun setelah bangun kami akan mengetesnya dengan urine istri anda . "
" ha- mil ? istri saya hamil ?" tanya devan dengan antusias.
" iya tapi setelah bu tiffanny bangun kita akan melakukan tes urine kembali. "
devan merasa sangat senang mendengarnya , " terima kasih dokter , terima kasih banyak " ucapnya gembira.
" sama - sama "
devan segera berlarian menuju kekamar tiffanny , dia membuka pelan pintu kamar itu lalu duduk disebelah tiffanny.
" sayang " dia mengelus kepala tiffanny lembut.
" sayang sebentar lagi kita memiliki buah hati, terima kasih untuk segalanya "
cup
air matanya jatuh saat dia mencium kening tiffanny , dia tatap lekat wajah yang tengah tertidur itu. dan tangannya mengelus lembut perut tiffanny.
" anak papa " gumamnya.
tiffanny membuka matanya perlahan , dia merasa sangat lemah dan lemas. devan tersenyum senang saat dia sudah bangun.
" sayang " panggil lembut devan.
" kenapa tubuhku lemas sekali , dan perutku terasa tidak enak " gumam kecil tiffanny.
" iya sayang aku tau , tidurlah lagi jika masih pusing dan tidak enak hmm "
" rasanya aku ingin terus muntah " katanya lemah
kembali dia merasa ingin muntah lagi , lalu segera bangkir dari tidurnya dan devan mencegahnya.
" sayang pelan - pelan "
" aku tidak tah ... hoek " dia memuntahkan isi perutnya di kemeja devan.
" devan " katanya dengan rasa bersalah.
__ADS_1