Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Menjauhi


__ADS_3

" Anda Menderita Tumor otak yang sudah kritis " ucap dokter itu.


mata fanny langsung berair seketika , tangannya melemah dan sekujur tubuhnya seperti tak punya lagi kekuatan.


" Apa aku akan mati ?" tanyanya parau.


dokter itu menatap fanny dengan sendu, dia memang biasa melihat seseorang yang divonis suatu penyakit tapi baru kali ini dia mendengar orang yang bertanya seperti itu.


" Dan apa kau akan menyerah?" tanya balik dokter itu.


" Kepalaku terasa sangat sakit saat sedang kambuh sampai rasanya aku tidak pernah tahan , mungkinkah Mati adalah jalan keluarnya " jawab fanny.


" Tumor otak ini sudah menyebar dan sangat kritis , waktumu ... hanya tersisa beberapa bulan saja jika kau tidak menjalani pengobatan "


" Pengobatan seperti apa yang harus aku jalani ? "


" kemoterapi , walau itu tidak bisa menyembuhkan tetapi setidaknya bisa memperpanjang hidupmu sekitaran 1 tahun "


fanny menundukkan kepalanya , sudah tidak ada harapan untuknya lagi. ingin menangis tetapi percuma dia sudah menderita sekarang.


" kau harus dirawat sekarang , jika tidak operasi saja walau tidak sepenuhnya sembuh tetap.."


" masih banyak pekerjaan dan tanggung jawabku, terima kasih dokter " ucapnya yang langsung berdiri untuk meninggalkan ruangan itu.


dokter wijin itu tidak bisa berbuat apa pun ketika pasien nya sendirilah yang memutuskan hidupnya seperti itu , dia hanya memberi sebuah jalan namun yang menentukan tetaplah pasien itu sendiri.


dengan langkah lesu dan gontai dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit. hancur ... sakit dan sedih rasanya , ketika mendengar penyakitnya ini.


" mama .... papa , kakak mungkin kah kita akan bertemu tidak lama lagi " ucapnya dalam hati.


dilain sisi di hadapan fanny ada devan dan kedua suster kemarin yang ada di meja resepsionis berdiri bersama sedang mendorong pasien.


" dokter bukankah itu tiffanny wang yang beberapa hari lalu mencarimu " tunjuk suster ressa itu sehingga devan menolah.


" fanny " gumamnya.


" dia menangis ? ada apa sehingga dia datang kerumah sakit " pikirnya.


dia ingin menemuinya tetapi kondisi sedang tidak memihak mereka karena sekarang devan harus bertugas menyelamatkan pasien itu.


***


sekarang fanny sudah ada di hotelnya , dia menenteng tasnya dengan lesu dan wajah yang murung , banyak karyawan menegurnya tetapi dia tidak menjawabnya.


" selamat siang bu " ucap karyawan yang lewat.


fanny hanya melewatinya saja.


" ada apa dengannya , dia tidak biasanya seperti ini " ujar karyawan tersebut.


" Fanny " kata brian yang kini ada dihadapannya.


" brian " ucapnya dalam hati , dia menatap brian dengan sendu. air matanya terjatuh sekarang sudah tidak bisa menahan air mata lagi.


brian menghampirinya dengan seribu langkah cepat dan kini sudah berdiri dihadapan sang mantan kekasih.


" kau dari mana saja ? membuatku khawatir aku menunggumu dari tadi ?" tanya devan.


" kau menangis ada apa fan ? apa karena berita itu ? katakan jangan menangis , aku tidak suka kau menangis " ucapnya yang tadi agak meninggi dan kini memelan ketika melihat air mata itu jatuh dari sang pemilik dan langsung memeluknya.

__ADS_1


" maaf ... maaf sudah membuatmu amat terluka " gumamnya masih memeluk fanny.


prang


ponsel yang dipegang rian terjatuh dari tangannya tak kala melihat kedua insan itu berpelukan.


" apa yang kau lakukan disini ? " tanya fanny seperti orang linglung itu. tubuhnya tidak konsisten dan otaknya sedang tak bisa mencerna untuk berpikir.


fanny baru melepaskan pelukan itu setelah dari jauh melihat brian yang melihat mereka berdua berpelikan itu.


" aku ingin memberitahumu kalau semua berita itu aku sudah menyuruh seseorang untuk menghapusnya , jangan khawatir " jelas brian.


" hmn terima kasih kau boleh pergi" usir fanny.


" tunggu " brian mencegat tangannya saat fanny akan pergi meninggalkannya.


" kau tadi diam saja saat aku memelukmu , apa kau memaafkan aku ? " tanya brian.


" kau ingin aku memaafkaanmu ? " tanya fanny balik.


" aku tau aku salah dan tidak bisa dimaafkan. tapi aku melakukan semua ini u.."


" aku ... tidak akan pernah memaafkanmu " ucap fanny pelan namun menekankan kata itu.


" fanny dengarkan aku dulu " teriak brian ketika fanny meninggalkannya.


" fanny kau baru datang ? dari mana saja ? aku bisa menjemputmu kau membuatku takut " oceh rian sambil berjalan mengiringi fanny.


" mulai sekarang kau tidak perlu memikirkan aku lagi, ataupun mencemaskanku. aku ... akan hidup dengan caraku sendiri , sampai aku tidak ada nanti " tegas fanny.


" apa maksudmu kau katakan apa aku tidak mengerti ?" tanya rian.


" ada apa denganmu , baru beberapa saat aku merasakan kalau kau sudah berubah lebih terbuka dan tenang tetapi sekarang kau kembali seperti dulu lagi " ucap rian dengan bingung.


***


ini sudah sore , fanny tadinya berencana tidak ingin pulang kerumah nenek , tapi rian terus mengatakan kalau nenek ingin bertemu dengannya.


terpaksalah dia pulang dengan rian sekarang, tidak ada percakapan apapun diantara keduanya selama diperjalanan itu.


hanya ada kekosongan dan kesepian seperti tidak ada orang. rasanya rian ingin sekali bertanya apa yang terjadi tapi rasanya percuma saja dia tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


tak terasa perjalanan itu sudah sampai kerumah nenek , rian memandangi fanny yang belum mau turun itu.


" ehem .. ehem "


" kita sudah sampai " sambung rian.


bisa dilihat dari depan kalau mobil devan dan mobil micheal sudah berjajar rapi di halaman itu. dengan malas fanny turun dan segera masuk kedalam rumah.


kali membukakannya pintu " selamat datang nona ... tuan " sambutnya.


" terima kasih bi " ucap rian.


" fanny sayang , ya ampun nenek sangat merindukanmu nak " kata nenek yang berhambur memeluk fanny.


" aku juga nek " balasnya pelan.


" apa ini kenapa nenek merasa kau sedang marah ? rian apa ada sesuatu ?" tanyanya melirik rian.

__ADS_1


" eh itu nek .."


" mulai sekarang jika ada yang nenek ingin tanyakan , tanyakan langsung padaku " potong fanny.


" apa kalian berdua bertengkar hm? sayang ada apa coba jelaskan sama nenek ?" tanya nenek.


" tidak ada nek "


" hai ! apa kabarmu wanita cantikku " ucap micheale yang melambaikan tangan kepadanya. yang berdiri sejajar dengan devan.


" nek aku ingin kekamar " pamit fanny tanpa menghiraukan micheal itu.


membuat semua orang terheran - heran akan tingkahnya.


" rian ada apa ? " tanya devan.


" iya nak katakan " timpal nenek.


" tidak tau nek , tadi dia datang terlambat ke hotel. nampaknya dia habis menangis tapi tidak tau kemana dia " jawab rian.


" menangis ? tapi kenapa apa brian mengganggunya lagi ?" tanya nenek.


" brian memang ke hotel tadi , tapi dia hanya menyampaikan berita kalau semua video itu sudah dihapus " jelas rian.


" aku melihatnya pagi tadi di rumah sakit dan dia bilang pulang nya menangis. sebenarnya kenapa dia " pikir devan.


" Nenek coba temui dia , aku ingin menemuinya tapi dibandingkan dapat jawaban aku malah dapat teriakan darinya nanti " usul micheal.


" huft " nenek membuang nafas kasar nya karena tindakan fanny yang lagi - lagi kembali berubah itu.


mulai dari hari itu , fanny jarang sekali berbicara dengan semua orang. dia jadi lebih sangat pendiam bahkan setiap hari pulang larut malam.


wajahnya makin hari makin pucat , hanya obat yang menunjang nya hidup sampai sekarang. setiap hari bekerja tidak ada liburnya hanya demi menutupi semua penyakitnya itu.


dan sampai sekarang pun tidak ada satu orang pun yang tau penyakitnya , kalender di meja kantornya nys itu selalu diantadai dengan ( X ). satu bulan berlalu dan hidupnya hanya tersisa kurang lebih 60 hari lagi. memang tidak ada yang tau waktu kematian seseorang tapi penyakitnga setiap hari semakin ganas saja.


seperti sekarang matanya menatap kalender dimeja itu, wajahnya sudah sangat pucat. beberapa hari sudah tidak pulang kerumah nenek.


" ini kaporan keuangan bulan ini " ucap rian.


dia hanya menatap saja tak mau membalas perkataan rian.


" bicaralah kepadaku , kau membuatku takut" kata rian lagi.


" pergilah " ucap fanny pelan.


" kenapa fanny ? kenapa ? kau bertingkah seperti sedang menjauhi kami semua " teriak rian yang sudah kesal atas tindakan fanny.


" Nenek menyediakan supir dibawah menyuruh mu pulang, Nenek sedang sakit sekarang " ucap rian pelan.


" sakit apa ?" tanya fanny yang mendongakkan wajahnya.


" temui dia dan kau akan tau " kata rian.


****


" Nenek .... Nenek " teriak fanny dirumah itu.


" Nenek ..." teriaknya lagi.

__ADS_1


__ADS_2