
hari ini ... apapun caranya aku harus diterima bekerja. biaya sekolah untuk dirga sangatlah mahal , aku harap aku berhasil mendidiknya dengan baik dan dengan pekerjaan baruku nanti kebutannya akan terpenuhi.
berbagai perusahaan sampai ke toko - toko kecil dan juga swalayan dia datang. Vania Valerie dia adalah mantan kekasih Rian pangestu entah apa yang terjadi padanya akan tetapi dia kembali dengan seorang anak bersamanya.
" Maaf pak apa perusahaan ini sedang membutuhkan lowongan ?"
" maaf bu sedang tidak "
huft
untuk kesekian kalinya dia ditolak , melihat ada cafe dia masuk dan memesan minuman.
" Permisi ini makananmi nona " kata pelayan.
" aku tidak memesan makanan " jawab valerie.
" aku yang pesan "
dia menoleh kebelakang dan rian telah berdiri dengan wajah datar disana.
" kau "
" kau hanya memesan minuman tanpa makanan " balas rian.
" apa aku boleh duduk ?"
" ya "
mereka berdua pun duduk , vania masih belum makan sedangkan rian dia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
" Kenapa ... kau ada disini ?" tanya vania yang membuka obrolan.
" Hanya sedang disini. dimana anak kecil waktu itu ?"
" Dia ? dia anakku "
rian menatapnya sekilas dan kembali menatap lain " kalian sudah punya anak "
" hmm "
" dimana suamimu ? dua kali anakmu terjatuh dihadapanku dia hanya menyebut mama "
" sudah tidak ada lagi "
" mak-sudnya ?"
" Beberapa hari setelah aku melahirkan dirga , dia meninggal karena serangan jantung. "
" maaf aku ... "
" untuk apa kau meminta maaf , lagipula itu sudah lama " kata vania.
" makanlah atau semuanya akan dingin " kata rian.
" terima kasih aku akan mentraktirmu lain kali. " jawab vania.
mata rian terus menatap sendu vania yang sedang tertunduk memakan makanan yang dia pesan , tidak menyangka jika vania akan mengalami itu semua.
***
didalam dapur rumahnya keduanya sedang memasak bersama , untuk menghilangkan suntuk keduanya devan mengajak tiffanny untuk membuat kue kering.
devan mengajarkan tiffanny dengan perlahan dan tiffanny disuruhnya untuk mengaduk adonan.
sedangkan devan melihat kue yang sedang di panggang dalam oven itu.
" sayang selanjutnya cetak bentuk apa ?" tanya devan.
" hmm yang buah anggur itu saja , apa kau sering membuat nya ?" tanya tiffanny.
" tidak sayang hanya sesekali aku belajar dengan ibu , bagaimana kalau kita telpon ibu ?"
" jangan devan mungkin ibu sedang bekerja "
" sebentar "
devan melepaskan sarung tangan plastiknya dan mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan video kepada ibunya.
tut...tut...tutt
( iya nak )
__ADS_1
" ibu , lihat kami berdua sedang apa ? " dia menaruh ponselnya dihadapan tiffanny dan menyenderkannya di sebuah sanggahan.
( nak jangan terlalu lelah , sebaiknya jangan melakukan hal - hal yang membuatmu lelah. oh ya nak apa yang sedang kalian lakukan ? )
tiffanny tersenyum dan memperlihatkan tangannya " kami sedang membuat kue ibu "
" iya bu , katanya istriku sangat bosan jika terus dikamar jadi aku ajak buat kue seperti resep ibu " saut devan lalu mencium pipi tiffanny.
" hei devan ! "
ibunya tertawa melihat anak - anaknya ( ada apa ini hmm sepertinya anak - anakku senang sekali , bagaimana kabar cucuku hmm ) hars datang dan ikut melakukan video call.
" baik dong ayah aku sering menengoknya katanya dia baik - baik saja " jawab devan.
" devan kau ini apa kau tidak bisa menahan " gerutu anja.
" menengok apa ?" tiffanny menatap devan karena tak mengerti maksudnya.
devan mengedipkan matanya sebelah dan menatap ponselnya lagi.
" tenang saja ayah ibu aku tau batasan hehe "
( tiffanny sayang apa kau senang melakukannya nak ? ) tanya anja.
" sangat ibu , aku tidak tau cara membuat kue tapi sekarang aku tau karena devan mengajarinya dengan baik " jawabnya.
anja dan hars merasa senang mendengarnya " ibu , sudah dulu ya aku tutup " ucap devan.
( hee memangnya kenapa ? baru kali ini menelpon lewat video mau langsung ditutup begitu saja ) gerutu anja.
( ya benar sekali kami ingin melihat menantu ku yang cantik ) saut hars.
tiffanny hanya tersenyum mendengarnya , devan melihat kembali ovan itu , " sayang " tiffanny menoleh lalu devan menariknya dan mendorongnya perlahan ke meja dapur.
" ada apa ?"
" aku ingin menciummu sayang "
" apa ?"
" tap - "
belum selesai tiffanny bicara devan telah membungkam mulutnya dengan mulut devan.
" ya ampun sayang anakmu itu " dari pantulan kulkas itu bisa dilihat apa yang dilakukan oleh putranya kepada menantunya.
( sangat tidak sabaran dan memaksa ) ujar hars.
( sama seperti ayahnya ) saut anja
( heheh )
" dev- van " tiffanny memukul dada devan yang masih menciumnya itu.
" sayang " lirih devan.
" kenapa ?" tanya tiffanny yang saat ini devan menyentuh bibir yang bekas dia cium itu.
" aku ( mengusap bibir tiffanny lagi ) entah kenapa aku tidak bisa menahannya. " lirih devan.
" maksudnya ?"
" aku ingin melakukannya sekarang "
***
didalam kamar keduanya , devan melepaskan pakaiannya dia juga merasa aneh setiap saat dan setiap hari dia ingin selalu melakukannya dan rasanya tidak sabaran.
tiffanny merasa aneh melihatnya , dia hanya diam melihat tingkah devan yang membuka kaosnya sendiri.
" Devan tunggu " cegah tiffanny saat akan menciumnya.
" aku tidak pernah melihatmu seperti ini apa terjadi sesuatu kepadamu ?" tanyanya curiga.
" aku rasa ... aku sedang mengidam sekarang. "
" mengidam ? apa untuk laki - laki juga ?" tanya tiffanny.
" memang ada beberapa seperti itu , saat perempuan tidak mengidam bisa jadi suaminya. " dia ingin mendirukan tiffanny tapi tiffanny masih menahannya.
" apa harus dengan ini ?"
" ya , aku harus melakukannya sekarang "
__ADS_1
yatuhan maka lebih baik aku saja yang mengidam dari pada dia , aku akan setiap hari melakukannya jka seperti ini. gerutu tiffannt dalam hatinya.
" aku janji akan pelan - pelan agar tidak menyakiti anak kita " gumam devan di telinga tiffanny.
dan akhirnya terjadilah pergulatan panas disiang hari oleh kedua insan itu.
***
malam harinya tiffanny terbangun dari tidurnya setelah melakukan aktivitas tersebut dengan devan. devan terlihat masih nyenyak tertidur dengan bertelanjang dadaa.
tiffanny meraba wajah devan dan beralih ke jakun nya itu. sesaat dia tersenyum.
" sudah puas merabanya ?" gumam devan
dia terkejut dan menutup matanya langsung berpura - pura tidur seakan devan tidak tahu.
devan membuka matanya , sambil tangannya menarik selimut hingga keleher tiffanny.
" cup " bibirnya kembali mencium bibir tiffanny namun hanya ditempelkannya saja.
" Besok kita periksa ya kedokter kandungan. "
" sekaligus ... aku mau bertanya masalah *** yang aman saat sedang hamil. "
tiffanny membuka matanya langsung dan memundurkan tubuhnya.
" kenapa hmm " kata devan sambil tangannya menggerayangi tubuh tiffanny.
" apa kau tidak malu ?" tanya tiffanny.
" untuk apa malu , dokter juga sama seorang manusia. pertanyaan wajar saat pasiennya menanyakan hal seperti itu. "
" kau memang selalu ingin menang saat bicara denganku. "
***
didalam kantor tiffanny keduanya berdiri saling menghadap dengan senyuman mengembang dibibir tiffanny
" yakin akan bekerja hari ini ?" tanya devan saat mengantar tiffanny sampai ke dalam ruang kerjanya.
" hmm aku baik - baik saja , sudah beberapa waktu berlalu aku sangat jarang mengalami mual. " jawab tiffanny.
devan mengelus pipi tiffanny dengan lembut " sayang ingatlah perkataan dokter tadi , jangan sampai stress dan kelelahan ya "
" Aku bukan anak kecil devan. aku paham semuanya , aku tidak lelah dan stress karena pekerjaanku. aku lelah karena dirimu kau tau "
" sungguh ? wah ! aku pikir istriku menyukai nya. aku pikir saat di ranjang aku cukup memuaskanmu sayang " bisik devan dengan menyipitkan matanya dan bicara di samping telinga tiffanny.
" cabul " jawab tiffanny seraya terkekeh.
" kata dokter tadi aku yang sedang mengalami ngidam. tapi ngidam ku sungguhlah menguntungkan bagiku , tapi sayang ... kapan kau akan bera..."
" cukup devan aku akan bekerja apa kau akan terus mengoceh ? lihatlah rumah sakitmu katanya semus perlengkapan rumah sakit sudah tiba. " potong tiffanny yang tau arah kemana devan bicara.
" baiklah istriku yang cantik... suami tampanmu ini akan menurutimu , dan bayiku sayang .. jaga mama ya nak " dia berjongkok dihadapan tiffanny dan mencium perut tiffanny.
tiffanny hanya mampu tersenyum mendengarnya dengan mengelus kepala devan.
***
beberapa bulan kemudian
perut tiffanny semakin membesar di usia kehamilan yang menginjak 7 bulan ini.
devan telah melarangnya untuk bekerja seharian di hotel karena tiffanny mudah merasa lelah dan sering pegal - pegal.
setiap malam devan selalu memijat kakinya , walau tiffanny menolak dia melakukannya saat tiffanny tengah tertidur.
devan juga telah membuka rumah sakit kecilnya walau tidak bisa tapi bisa menghasilkan uang yang cukup. dirumah sakit itu ada beberapa dokter magangnya yang bekerja dengannya.
" Sayang " panggil devan saat tiffanny datang kerumah sakitnya dengan rian disampingnya.
" aku menunggumu " kata fanny.
" sayang kenapa tidak bilang jika ingin kesini , lihatlah kakimu agak membengkak ayo keruanganku. "
" rian terima kasih ya , aku akan mengurusnya " ucap devan.
" iya dokter , aku pergi dulu. Fan aku pergi dulu ya "
" hmm "
__ADS_1
" ayo sayang " devan merangkul tiffanny dan membantunya berjalan sambil mereka bercerita.