Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Hanya ada aku sendiri


__ADS_3

" kita kekamar dulu ya , istirahat dulu sebentar " ajak devan berkata dengan lembut namun tidak dibalas oleh tiffanny.


brian hanya bisa menyaksikan tanpa bisa menghibur wanita itu , raka juga sama dia sedih melihat tiffanny seperti itu termasuk ibunya.


keduanya melangkahkan kakinya ke anak tangga , tak henti - hentinya devan memandangi fanny.


" hati - hati sayang "


sejenak tiffanny berhenti dari langkahnya, lalu dia menoleh kebelakang melihat semuanya. matanya menatap sendu kearah itu.


dia melepaskan tangan devan dari pinggangnya lalu berlari ke arah nenek. dia terduduk di depan wajah nenek dan memandanginya dengan penuh cinta.


devan mengejarnya dan juga ikut duduk disebelahnya.


" sayang kita kekamar dulu ya, sebaiknya kau minum obat dulu "


air mata yang jatuh dipipi fanny dia hapus menggunakan tangannya.sedikitpun devan tak pernah melihat siapapun kecuali mengurus fanny.


" Mari kita makamkan sekarang , sebelum malam " kata seorang pria tua yang datang saat itu dihadapan mereka.


" sayang , sebentar kita harus mengurus nenek dulu "


devan membantu tiffanny berdiri , lalu rian juga membantunya dan mendudukkanya di dekat rian.


***


semua orang menghadiri pemakam itu dan acara pemakan sudah selesai , keempat makam itu bersejejer dengan rapi dittanah pemakaman khusus keluarga tiffanny.


" lihatlah nak orang tuamu , kakakmu dan sekarang nenekmu... kau tidak ada hak untuk hidup bahagia didunia ini " batin samuel.


" hari mulai gelap , sebaiknya kita pulang " ajak rian.


akhirnya satu persatu orang meninggalkan pemakaman itu, hanya ada fanny , devan dan beberapa kerabat dekat lainnya seperti micheal , kalista bi kali , raka dan brian.


" Fanny , ayo kita pulang. sepertinya akan hujan disini " kata kalista yang kini mendekatinya.


" devan hiks.. " fanny memeluk devan tiba - tiba dan devan membalasnya.


" iya sayang , menangislah jika ingin menangis , aku tidak akan melarangnya "


beberapa air hujan mulai turun perlahan " ajak dia pulang atau dia akan sakit nanti " ujar brian.


devan hanya menatapnya biasa saja.


malam hari dirumah itu terasa sangat sepi, semua orang sedang berkumpul dibawah membereskan sisa - sisa tadi siang.


sedangkan tiffanny dia berdiri di belakang pintu kamarnya dengan tangisan nya.


" Dokter devan apa tiffanny sudah makan ?" tanya kalista.


" astaga aku lupa "


" aku akan membawakannya makanan kau sudah lelah duduk saja dulu disini "


didapur kalista dengan tulus dia menyiapkan makanan tiffanny, lalu membawanya kekamar atas milik fanny.


tok...tok...tok


" fanny " teriaknya.


" hiks...hikss..hikss "


" fanny buka pintunya " teriak agatha ,


mendengar teriakan itu semua orang kaget , dengan sigap dan cepat devan segera menghampirinya.


" Fanny " ternyata kamar itu tidak dikunci


dia masuk kedalam kamar yang sangat gelap itu , dia menghampiri fanny yang menangis.



" Fan " gumamnya.


" hei , kau menangis lagi " katanya dengan lembut. tiffanny menoleh ke arahnya dan kembali menangis.


lalu kalista meraihnya dan memeluknya

__ADS_1



" aku tau kau harus menangis tapi jangan habisi semua tenagamu untuk ini " dia mengelus punggung fanny.


" Sayang " devan merebut tiffanny dari pelukan kalista


" sayang aku mohon , jangan Seperti ini bicaralah " lirih devan.


blek


tiffanny jatuh pingsan dipelukan devan


" fanny " kata semua orang yang melihatnya.


" sayang " devan mengangkat tubuh tiffanny dan merebahkannya di kasur , micheal menghidupkan lampu dikamar itu.


lalu devan memeriksa tiffanny.


" bagaimana keadaannya ?" tanya rian.


" iya devan " saut micheal.


" tubuhnya sangat lemah , dan sangat strees dia juga tidak makan dengan benar " jelasnya sambil menyelimuti tiffanny.


devan menatap mereka semua yang ada disana termasuk raka, brian dan ibunya.


" aku ucapkan terima kasih kepada kalian semua untuk semua bantunyan kalian. tapi sekarang biarkan dia istirahat dulu "


" kami semua akan menginap disini malam ini " ujar micheal.


" hmm terserah kalian saja "


" ayo kita keluar , biarkan dokter devan menjaganya " kata kalista.


semua orang pun keluar dari kamar itu , brian yang pergi paling akhir menutup pintu kamar itu.


disana devan hanya bisa mengelus kepala tiffanny dan memandangnya dengan sendu.


" kenapa dunia ini tidak adil untuknya. dia hanya seorang anak kecil dan perempuan biasa " batin devan.


namun sekarang hanya tersisa fanny sendirian. sampai tengah malam tiffanny belum terbangun devan masih terjaga malam itu.


" hoam " dia sudah mengantuk akan tetapi tidak ingin meninggalkan fanny.


jam menunjukkan pukul 2 pagi , 3 pagi, 4 dan lima sampai akhrinya devan tertidur di sebelah fanny sambil memeluknya.


***


suasana duka atas kepergian nenek masih sangat terasa dirumah itu. bahkan karangan bunga masih terus berdatang dari kolega bisnis tiffanny, para tetangga yayasan dan dari rumah sakit.


dirumah itu masih ada kalista, micheal , rian dan juga brian. yang masih terus membereskan sisa - sisa kemarin. karena semalam masih tidak sempat menyelesaikannya.


" Apa mereka belum bangun ?" tanya kalista.


" entahlah, aku akan keatas dulu , tolong lanjutkan ini " micheal segera naik keatas untuk membangunkan keduanya.


saat itu brian dan rian baru bangun , melihat hanya ada kalista mereka mendekatinya.


" dimana semua orang ? " tanya rian.


" dokter dan tiffanny sepertinya masih dikamar , micheal sedang membangunkan mereka "


" bi kali ?" tanya rian.


" ah iya tunggu dulu aku akan menemuinya "


rian hanya bisa menghela nafas panjang lalu duduk di sofa itu diikuti oleh brian.


" Bagaimana caranya mengembalikan keadaan , dia pasti sangat hancur sekarang " gumam brian.


" kita tidak bisa merubah takdir seseorang. tapi kita bisa membantunya melawati masa - masa sulitnya " saut rian.


" aku akan mencari tau bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi " ujar brian.


" kau memikirkan hal yang sama dengan yang kupikirkan bukan ?" tanya rian dan keduanya saling memandang.


brian mengangukkan kepalanya.

__ADS_1


sementara di lantai atas micheal mengetuk pintu kamar tiffannny, disalam sana hanya ada devan yang ketiduran karena ada suara dia jadi terbangun.


dia terkejut saat disebelahnya sudah tidak ada tiffanny.


" sayang " panggilnya.


" sayang " sambungnya.


" Tiffanny "


tok...tok....tok


pintu itu terbuka karena sebenarnya tidak dikunci " ada apa ?" tanya micheal penasaran.


" dia tidak ada , aku ketiduran "


" astaga " ucap micheal.


dia segera keluar dan berlarian mencari tiffanny ke seluruh lorong - lorong rumah.


" Tiffannny " teriaknya.


membuat semua orang yang ada dibwah terperanjak.


" ada apa micheal ?" tanya brian.


devan pun sudah bingung mencari tiffanny dan tidak ketemu sama sekali ponselnya juga tidak aktif.


sekarang semua orang mencari nya dan sampai sekarang tidak ada yang berhasil menemuinya.


" aku mohon sayang , jangan terjadi sesuatu kepadamu " batin devan yang terus mengkhawatirkannya itu.


" mungkin bibi tau " kata bi kali yang mungkin dia ingat akan sesuatu tempat.


" dimana bi ? dimana ?" tanya devan tak sabaran.


bibi berjalan menuju kesesuatu tempat , dia mendatangi lorong - lorong rumah yang panjang itu. semua orang tidak pernah tau jika dirumah itu masih ada ruangan tersembunyi.


lorong itu terlihat sangat gelap , dan dibalik itu semua ternyata ada pintu , perlahan bi kali membuka pintu itu tidak ada cahaya sama sekali.


krek


saklar lampu dihidupkan , tiffanny sedang berdiri menatap foto - foto yang ada didinding dan juga berserakan CD playslist yang sedang dia putar.


matanya tak pernah berhenti menatap kesana , dia tidak memperdulikan semua orang yang kini melihatnya menangis tertahan.


" Nona " panggil bi kali lalu dia memberanikan untuk mendekatinnya.


" kita berdua sama - sama kehilangan Nenek " dengan nada yang gemetar dan tangannya terlurur untuk memegang pundak fanny.


mengetahui ada orang yang menyentuhnya dia meliriknya , dan menatap semua orang yang ada disana.


" sayang aku mencarimu kemana - mana " kata devan.


" kami mencintaimu gadis kecil kami " suara film itu terdengar dimana mama nya menciumnya dan memeluknya diikuti oleh papa dan neneknya.


bi kali mematikan film itu , dia tidak ingin membuat tiffanny semakin memderita.


" bibi hiks " isaknya bibi langsung memeluknya dan keduanya teduduk di lantai.


" kenapa nenek pergi hiksss "


devan pun mengelus punggung tiffanny , rasanya dia tahan melihat itu lagi tapi dia tidak bisa melarangnya untuk tidak menangis dia berhak menangisi neneknya.


selain nenek dia tidak punya siapapun lagi didunia ini sebagai keluarga kandugnya.


" Aku tidak punya siapapun lagi sekarang hiks... hikss... aku tidak punya semua orang yang ada disana " tunjuknya pada dinding foto keluarga itu.


" hikss....hiksss " dia menangis sejadi jadinya meluapkan semua rasa sedihnya , suaranys itu sangatlah lirih membuat siapapun mendengarnya akan merasa ingin ikut menangis.


" nona hiks jangan begini atau nenek akan sedih "


" sayang nenek sudah tenang disana. semuanya sudah bertemu di surga , ikhlaskan saja ya "


" kau mengatakan itu karena kau tidak mengerti. tuhan tidak pernah adil kepadaku. dia selalu mengambil semua orang yang aku sayangi. setelah kedua orang tuaku pergi hanya ada nenek disampingku hiks... dan sekarang hiks... nenek juga pergi "


" bagaimana bisa nenek pergi tanpa mengucapkan satu kata pun , devan hikss... "

__ADS_1


__ADS_2