
keesokan harinya
diperjalanan menuju kehotel , devan bersama tiffanny. karena hari ini dia libur jadi dia memiliki banyak waktu luang dan hari ini dia akan menemani tiffanny bekerja.
" kau yakin ingin menemaniku seharian ? "
" hmm kenapa tidak , aku bisa terus melihatmu disini. jika dirumah tidak ada yang bisa kulakukan " jawabnya yang terus fokus menyetir.
" baiklah, tapi aku ada rapat dengan humas kau sendirian diruanganku nanti "
" iya " balasnya lembut.
sesampainya di hotel mereka disambut hangat oleh pegawai , semua nya takjub melihat pemandangan itu devan sangat tampan dan gagah hari ini sedangkan tiffanny seperti biasa selalu terlihat apapun kondisinya.
sekarang mereka berdua sudah di dalam ruangan fanny, devan melihat pemandangan kota bandung dari kaca lebar itu.
" sekarang aku tau kenapa dulu kau jarang pulang kerumah. inilah sebabnya " ujarnya seraya tersenyum.
fanny menatap kearah dimana devan melihat. dia juga ikut berdiri di sebalahnya. dari belakang tubuh mereka memang tidak terlalu jauh perbedaan tingginya, karena tiffanny memang cukup tinggi.
seperti bayangan yang beradu dengan nyaya. keduanya saling menoleh dan menatap.
" aku suka melihat pemandangan luar, dengan begitu aku merasa tenang. aku juga suka berdiri sendiri di atap hotel. aku seperti berada di Awan , saat seperti itu aku merasa hanya ada aku yang terbang tinggi diantara jutaan manusia. "
" Kau mau mengajakku kesana ? aku ingin lihat tempat seperti apa favorit istriku ini "
fanny tersenyum kecil mendengarnya , dan sekarang mereka berada di atap hotel ditempat paling tinggi saat itu. cuaca yang tidak panas dan sejuk angin yang sepoi - sepoi.
disana seperti ada taman buatan yang sangat indah , devan kagum dengan rancangan itu.
" ini kau yang membuatnya ?"
fanny mengangukkan kepalanya " aku mendesainnya sendiri, beberapa pekerja akan duduk disini saat sedang istirahat dan menikmati angin segar ini "
" Sayang , kenapa kau suka tempat ketinggian dan sepi ?"
" karena ... aku tidak suka tempat ramai. disana aku seperti di intimidasi, aku suka keheningan ... karena aku selalu kesepian. diantaraan jutaan orang yang hidup ini , aku merasa , akulah yang salah satu orang yang paling kesepian. "
" aku suka ketinggian karena aku pikir aku dengan mudah melihat semua orang, tanpa mereka melihatku. tidak akan ada yang melihatku maupun mendengarkanku saat aku sedang menangis dan tertawa.
" keduanya adalah kombinasi yang cocok "
" sayang kenapa kau selalu merasa kesepian sedangkan kau masih ada nenek , dan semua orang yang bangga padamu. ?" tanyanya lagi.
" Nenek memang selalu ada bersamaku. tapi dia tidak bisa menggantikan posisi orang tuaku. Kau tau , saat aku kesekolah setelah kematian orang tuaku, semuanya menjauhi ku mereka mengatakan aku tidak boleh berteman karena aku tidak punya orang tua. "
" ada satu orang teman yang mengatakan kepada teman lainnya , jangan berteman dengan Tiffanny atau orang tua kalian akan mati juga. sejak saat itu , aku tidak pernah suka dengan seorang teman. aku menjauhi semuanya dan melakukan apapun sendiri. "
devan sedih mendengarnya , dia berpikir betapa sakitnya menjadi tiffanny saat itu baru berusia 7 tahun orang tuanya sudah tiada, tidak ada teman kemudian kakaknya juga pergi.
__ADS_1
namun yang aneh saat menjelaskan itu tiffanny tidak sedih dia bersikap seperti biasa nya.
devan datang kearahnya dan memeluknya lembut baginya dia beruntung mendapatkan wanita yang mempunyai sekuat baja seperti tiffanny , jika yang diposisi itu dia mungkin dia tidak bisa melawannya.
" Ini sudah saat nya untuk rapat, para karyawan mungkin sudah menungguku " ucap fanny dalam pelukan devan.
" biarkan aku memelukmu sebentar saja " mereka masih berpelukan disana tiffanny hanya membalas dengan memegang pinggang devan.
***
saat diruangan rapat transparan itu, devan tidak pernah henti - hentinya menatap fanny yang sibuk rapat dengan karyawannya.
dia suka sekali melihat bagaimana fanny bekerja, saat sedang serius dia terlihat cantik dan sangat profesional. fanny sedang membaca salah satu buku catatan karyawannya.
lalu setelah itu dia menjelaskan semuanya dengan detail. sesekali rian melirik devan yang dari tadi menatal fanny.
" Apa kalian mengerti ? saya harap bulan depan semuanya kembali normal seperti biasa. sania , ini catatannya terima kasih " tanyanya dan jelasnya.
semuanya memperhatikan dengan sigap " mengerti bu. oh ya bu, kabar baik untuk semuanya saya baru mengatakan ini kepada semuanya. pagi tadi saya diberitahu kalau lagi - lagi hotel kita masuk kedalam nominasi salah satu hotel terbaik. mereka menilai dari jumlah tamu , pendapatan dan kebersihan hotel " jelas salah satu seorang wanita.
" Kalau begitu bagus, itu adalah hasil kerja keras kalian semua. " jawabnya.
" bu ... sepertinya suami ibu sudah menunggu diluar saya perhatikan dia terus memandang mu "
hal itu membuat fanny menoleh ke arah devan , devan tersenyum dan melambaikan tangannya.
fanny tersenyum kecil melihatnya, membuat semua orang yang ada disana merasa malu dan juga bahagia.
" kalau begitu rapat kita akhiri sekarang, selamat bekerja kembali " katanya.
fanny bersama rian keluar lebih dahulu dari sana , lalu dia mencari devan yang sudah tidak ada ditempat sebelumnya.
" aku akan mencarinya " rian mengerti apa yang dicari fanny.
" hmm terima kasih rian " ucapnya.
rian menganggukkan pelan kepalanya lalu pergi mencari devan.
***
tiffanny terus menunggu devan di depan hotel, hari sudah hujan .dia mencari kemana devan pergi namun kata rian saat dia lihat cctv devan keluar berjalan kaki dari hotel.
tiffanny sangat khawatir padanya, tanpa dia sadari dia menunggu pria itu datang. melirik ke jam tangan yang sudah jam 6 sore.
" dia belum kembali ?" tanya rian.
__ADS_1
" belum, aku takut terjadi sesuatu padanya. aku telpon juga tidak diangkat " jawab fanny .
rian tertegun mendengarnya, untuk pertama kalinya fanny mencemaskan seorang laki - laki.
" Sekretaris rian , seseorang mencari mu di lobi " ujar seorang pria dengan jas hitam lengkap
" masuklah dan temui aku akan menunggunya disini "
" baiklah " dengan berat hati rian meninggalkan fanny, dia tidak tega meninggalkannya sendirian.
dari depan jalan fanny melihat devan datang menutup kepalanya dengan tangan, berlarian kearahnya. fanny khawatir melihat devan sekarang sudah tidak terlalu karena pria itu akhirnya baik - baik saja.
" Sayang , maaf aku tadi keluar sebentar " ucapnya yang sudah kebasahan itu.
" kau darimana saja , bajumu basah " ujar fanny yang mengibaskan tangannya agar baju devan tidak terlalu basah.
sebuah mobil putih masuk kedekat hotel, didalam itu adalah brian. dia menyaksikan bagaimana fanny sedang membersihkan jaket dengan tangannya di tubuh devan.
hatinya cemburu melihatnya " bahkan aku tidak pernah kau lakukan seperti itu " batin brian.
" sayang apa kau khawatir padaku ? lihat apa yang kubawa , tadinya aku ingin keluar membeli minuman disebrang jalan. lalu aku melihat penjual sosis bakar aku ingat kau menyukainya , antriannya sangat lama. ini ... tapi lihat seperti sudah terkena basah buang saja " dia kecewa melihat sosis yang sudah terkena hujan di tangannya.
fanny menerima sosis itu, dia mengambil bungkus putih dari tangan devan.
" lain kali, jika akan hujan pulang saja. bagaimana jika kau sakit nanti, " ucapnya agak sedikit kesal.
entah kenapa melihat dan mendengar fanny agak marah itu dia merasa senang, dia pikir saat ini fanny sedang memghawatirkannya.
" baiklah, maafkan aku . aku janji tidak akan mengulanginya "
" Bu , ini payungnya " salah satu penjaga memberikannya payung.
" terima kasih "
fanny membuka payung itu namun devan merebutnya, dia membukanya payung itu cukup lebar dan muat untuk 2 orang.
" ayo "
devan merangkul bahu fanny , dia melirik dimana tangan devan merangkul bahunya. mereka berjalan dibawah guyuran hujan bersama.
karena jarak antar parkiran dan hotel cukup jauh , mereka berjalan agak lama. namun setelah ada di depan mobil devan membukakan pintu agar fanny masuk.
devan merasa kedinginan saat didalam mobil, fanny langsung mematikan AC mobil devan.
" hmm terima kasih " ujar devan.
" sini , aku lapar " fanny merebut sosis yang ada ditangan devan yang bungkus kotakanya sudah basah.
" jangan sayang, nanti aku buatkan saja dirumah. "
__ADS_1
fanny tetap memakan sosis itu, devan menatap nanar fanny, matanya berkaca-kaca. tingkah laku fanny sekarang membuatnya bahagia, dia merasa jika fanny sudah mulai mencintainya.