
Shitt
rian mengerem mobilnya setelah sampai di rumah nenek, dia pulang bersama tiffanny. fanny membuka selt beltnya dan langsung turun begitu saja. rian juga ikut turun dan berdiri dihadapan fanny.
" katakan " kata fanny yang mengerti wajah rian itu sedang ingin mengungkapkan sesuatu kepadanya.
" Apa yang dilakukan agatha padamu tadi , dia tidak memperlakukanmu buruk kan ?" tanyanya.
" Tidak. aku bisa mengatasinya " jawab fanny.
" Aku masuk dulu. Pulanglah dan hati - hati " kata fanny lagi.
lalu diapun pergi meninggal rian sendirian, rian berbalik dan menatap fanny dari belakang.
" Tiffanny " panggilnya.
faanny yang mendengar rian memanggilnya dengan nama panjang nya itu merasa heran hingga langkah kakinya terhenti, dia masih belum berbalik.
" Besok , maukah kau pergi denganku ?"
fanny berbalik mendengarnya dan menatap rian dari jarak 10 meter itu.
" hmmm " fanny mengangukkan kepalanya.
Rian tersenyum kecil mendengarnya " Besok aku menjemputmu pukul 4 sore " teriak rian.
fannny mendengarnya dia hanya menatap rian yang sedang masuk kedalam mobilnya. sebenarnya dia orang yang sangat tidak suka berjalan-jalan keluar. tetapi rian sudah banyak membantunya dia harus membalas semua itu.
dia kembali berjalan, karena jarak rumah dan halaman cukup jauh dia harus berjalan agak lama.
ceklek
dia membuka pintu besar itu menggunakan Jarinya yang dia tekan di samping sensor pintu itu, dia berjalan dengan menundukkan kepalanya.
" kejutaaannnnn" sorak nenek bersemangat sambil kedua tangannya direntangkan bermaksud agar fanny memeluknya.
fanny mendongakkan kepalanya, dia hanya bersikap biasa saja tanpa terkejut sekalipun. nenek baru ingat bagaimana sifat cucu perempuannya itu hingga dia menutup rentangan tangannya.
" Sayang kau ada masalah ? " tanya nenek sambil berjalan menuju tiffanny.
" tidak ada nek, hanya sedikit lelah saja " jawabnya.
" ck baiklah kalau begitu mandi lah dan segera turun kebawah ada sesuatu hal yang harus nenek katakan "
" iya nek"
" nasib punya cucu yang susah diajak bercanda" gumamnya.
" Nek Kue nya sudah jadiii" teriak devan dari dapur.
" ya " balas nenek.
" tidak apa ji , jika cucumu sedingin es maka kau punya menantu sehangat matahari " gumamnya dengan tersenyum seperti penuh kemenangan.
__ADS_1
***
Malam hari dikediaman nenek di meja makan itu sudah tertata rapi banyaknya makan malam hari ini bertema seafood.
sedangkan nenek masih memasukan kue kering kedalam Toples. Devan pun duduk di kursi memperhatikan kamar atas itu yang orangnya belum keluar dari sehabis pulang.
" Devan coba kau panggil tiffanny kenapa lama sekali dia turun. tidak mungkin hanya mandi saja menghabiskan waktu 3 jam " perintah nenek yang tangannya masih sibuk memasukkan kue itu.
" iya nek " namun saat devan akan berdiri fanny baru saja keluar dari kamarnya.
" duduklah " kata devan yang menarik kursi untuk tiffanny. tiffanny langsung duduk dikursi nya diikuti oleh devan disebelahnya.
" sayang mau makan dengan apa nenek ambilkan , ada cumi ... udang ... Ikan salmon .. ada kepiting ada da.."
" Cumi saja nek "
nenek pun mengambilkan cumi dan nasi tak lupa lauk lainnya , dia tau fanny tidak suka makan terlalu banyak kalau malam jadi hanya mengambilkan sedikit nasi.
" Ini makanlah , devan mau nenek ambilkan ?" tawar nenek.
" tidak nek. sebaiknya nenek duduk dan makan.devan bisa sendiri " jawab devan.
mereka bertiga pun makan dengan tenang hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang menyatu dengan piring. sambil makan nenek menatap tiffanny yang dari tadi terus menunduk karena makan dilanjutkan dengan menatap devan yang juga sibuk makan.
( ya , kau benar sekali Diana. mereka harus menikah, yang satu sifatnya dingin dan jarang bicara dan yang satu hangat dan penyayang. ini adalah formasi sempurna untuk sebuah rumah tangga) kata nenek dalam hati sambil senyum - senyum
" apa yang nenek lihat ? apa ada yang salah ?" tanya fanny yang bingung kenapa neneknya menatap dia sambil tersenyum.
" tidak ada heheh. oh ya sayang besok kan hari minggu , bagaimana kalau temani nenek berbelanja ?"
mendengar nama rian, devan pun melirik ke arah tiffanny. nenek tau devan sedang memperhatikan tiffanny jadi dia berniat untuk memancing mereka berdua.
" kemana ?" tanya nenek lagi.
" entahlah , dia mengajakku keluar " jawabnya yang masih terus makan.
" Pasti dia mau mengajakmu ke Cafe yang lagi terkenal itu di bandung. semua pria mengajak pasangannya kesana , nanti foto ya kirim sama nenek "
" Cafe ? Cafe yang mana nek ?" tanya devan.
" itu .. nenek baru saja mencarinya di google di cafe Couple. disana semua orang masuk membawa pasangan yang tidak ada pasangan tidak boleh masuk " jelas nenek.
" Nenek kenapa membicaran itu. kami berdua bukan anak SMA lagi, kami hanya keluar untuk mencari udara segar " timpal fanny.
" udara segar, kalian juga bisa mendapatkan udara segar dihalaman depan " saut devan.
" Nenek aku sudah selesai makan. bukankah nenek tadi bilang ada yang ingin disampaikan kepadaku ?" ujar fanny.
...
diruang tamu itu , devan , nenek dan tiffanny duduk di sofa dengan tenang. dimeja itu ada minuman dan beberapa buahan juga kali yang berdiri di samping nenek.
" Baiklah nenek tidak akan berbelit, Fanny sayang ... kau menyayangi nenek kan ? " tanya nenek lembut.
__ADS_1
" Kenapa ... nenek bertanya seperti itu ?" tanya fanny balik.
nenek tersenyum mendengarnya lalu mengeluarkan kotak kecil hitam pemberian dari orang tuanya devan , semuanya hanya memperhatikan kotak kecil yang dipegang nenek itu.
" Saat nenek di jerman kemarin , orang tuanya devan melamarmu untuk menikah dengan devan " kata nenek to the point.
bukannya terkejut fanny hanya bersikap biasa saja, sedangkan devan juga diam karena dia sudah tau tetapi kalilah yang terkejut dia membulatkan matanya.
devan sedari tadi hanya terus memperhatikan wajah fanny, dia ingin melihat bagaimana reaksi fanny selanjutnya.
" Dan nenek menerimanya " kata nenek lagi.
" Tiffanny sayang, nenek tau kau betapa beratnya hidupmu. tetapi nenek hanya ingin yang terbaik untukmu. Nenek takut setelah nenek tiada nanti tidak ada orang yang akan menjaga dan melindungimu dengan baik, ditangan pria lain nenek tidak akan percaya "
" Bagi nenek ... kau hanya bukan sekedar cucu. tapi malaikat nenek. Setelah kematian papa, mama dan kakakmu tidak ada seseorang yang berdiri di samping nenek kecuali dirimu. jika saja tidak ada kau ... mungkin nenek akan mengakhiri hidup ini"
" Sayang , Menyangkut masa lalumu dengan brian. nenek harap kau bisa melupakannya, hiduplah untuk saat ini dan untuk masa depanmu "
" Beri aku waktu untuk berpikir " ungkap fanny.
" Sayang, nenek sudah menerima Lamar.."
" Aku tau nek , aku hanya ingin ... memikirkan beberapa hal terlebih dahulu " ujarnya yang memotong pembicaraan nenek.
" Aku .. permisi " sambungnya lagi dan dia segera naik kekamarnya.
Nenek membiarkan fanny pergi, sementara devan dia juga segera pergi meninggalkan nenek. dia jugai naik kekamarnya.
...
didalam kamarnya devan terduduk di sofa, dia tidak tau apa yang akan tiffanny putuskan. sebelum itu dia harus membicarakan hal ini terlebih dahulu padanya. tetapi bagaimana apakah tiffanny masih bertekad untuk tidak menikah pikirnya.
sedangkan didalam kamarnya tiffanny duduk di ranjang.
" menikah , dengan devan ? apa aku harus melakukannya " pikirnya.
tok...tok...tok
fanny segera berdiri dan membuka pintu kamarnya, ada devan yang sudah berdiri dan manatap wajahnya.
" Bisa bicara berdua ?" tanya devan.
dan kini mereka sudah berada di Balkon rumah. Fanny berdiri di pinggiran besi pembatas itu sedangkan devan ada dibelakangnya.
" Kenapa kau ingin meminta waktu ? apa karena kau ingin menolaknya ?" tanya devan.
Fanny tercengang mendengarnya, dia pun berbalik dan menghadap devan sehingga kini wajah mereka saling bertemu.
" Devan .."
" ya, aku tau kau masih mencintai Brian. aku sadar aku hanya pria yang terus mengharapkanmu dibalik diamnya aku. aku juga sudah jujur padamu tentang perasananku, sampai sekarang ... Rasa itu masih ada dan mungkin tidak akan pernah hilang "
" Bisakah kau tidak mengikutcampurkan Orang lain, semua orang sudah pasti terus menganggapku Masih mencintainya , sedangkan aku saja tidak tau apa aku masih mencintainya atau tidak "
__ADS_1
" Fanny , Harus bagaimana lagi aku mengungkapkan perasaanku agar kau percaya padaku ?" tanya devan.