
akhirnya setelah perbincangan panjang dengan pak indra , tiffanny menghela nafas lega karena dia mau menjadi saksinya. namun dia harus tetap melindungi semua orang yang akan ada di pihaknya.
tapi dia juga takut bagaimana jika nanti ada yang terluka karenannya memikirkan itu membuatnya mengingat devan, dia sangat merindukan suaminya.
didalam mobil rian yang sedang terjebak macet itu dia sangat bosan. rian menoleh ke sebalah kirinya mendapati tiffanny yang hanya diam dia tau jika wanita disebelahnya sedang merasa bosan jadi dia memutarkan lagu di mobilnya.
" hentikan rian, aku tau kau sedang menghiburku " kata tiffanny yang tau akan perbuatan rian.
" kau kenapa ? bukankah harus senang ?" tanya rian.
" aku merindukannya " gumamnya pelan.
" kau mengatakan sesuatu ?" menatap tiffanny penasaran.
" tidak , apa masih lama ? ini sudah pukul 6 "
" entahlah lihatlah macetnya sangat panjang "
menatap kedepan lalu membuka kaca jendela untuk melihat secara nyata kemacetan itu.
" huu " dia hanya mendesah pelan , rian juga tidak tau kapan keluar dari jebakan macet ini.
***
sampai akhirnya tiffannny dan rian sampai ke hotel pada pukul 7 lewat , keduanya sedang membereskan meja masing - masing.
devan sudah memberi pesan tiffanny jika akan menjemputnya , fanny sudah tidak sabar untuk menemui devan dan mengatakan apa saja yang ia lakukan hari ini.
" apalagi ?" pikirnya memikirkan barang - barangnya jika nanti ada yang ketinggalan.
" ah ini sudah selesai " dia memutuskan untuk segera menutup tasnya lalu segera keluar dari ruangan itu , saat itu rian terkejut melihat tiffanny yang berlarian menuju ke lift.
" apa yang kau tunggu ? kau sangat bersemangat " teriak rian yang juga mengejar tiffanny masuk kedalam hotel.
tiffanny menekan angka 1 agar lift membawa mereka turun , rian terus memandangi wajah tiffanny yang sedikit tersenyum itu.
ting
suara lift berbunyi saat mereka sudah sampai, saat pertama kali terbuka tiffanny langsung bisa melihat devan yang baru saja datang dan berjalan lurus menuju arahnya dengan senyumannya.
tiffanny pun sama , dia tersenyum tak kala devan ada dihadapannya dia segera berlarian menuju ke arahnya dan segera memeluknya disana.
tak peduli siapa orang dan berapa banyak orang yang memperhatikannya tapi dia sangat merindukan pria ini. devan membalas pelukan tiffanny dengan lembut.
hal itu juga membuat rian terkejut atas sikap tiffanny yang tak seperti biasanya. tapi dia juga ikut tersenyum melihatnya.
" sayang kau tidak malu lagi hmm ?" sambil mengelus rambut tiffanny.
tiffanny melepaskan pelukannnya dan barulah memperhatikan semua orang yang sedang menatapnya kikuk.
" aku ingin mengatakan banyak hal padamu, ayo pulang " ajaknya dengan menggengam tangan devan terlebih dahulu.
" iya sayang tapi pelan - pelan jangan terlalu cepat jalannya " katanya sambil terus berjalan memandangi tiffanny yang sangat aneh hari ini pikirnya.
" selamat malam bu ... pak " ucap dua orang penjaga pintu , dia hanya mengangukkan kepalanya dengan devan.
***
diperjalan menuju pulang , tiffanny terlihat senang buktinya dia selalu tersenyum. melihat itu rasanya devan ikut senang tidak tau apa yang membuat nya senang baru kali ini tiffanny berubah menjadi seorang wanita yang sedikit agresif.
" sayang "
" hmm " menoleh ke devan yang sedang fokus menyetir.
__ADS_1
" kau memelukku tadi , apa itu hanya reflek ?" tanyanya
" aku akan memelukmu sesuka hatiku. kau sendiri yang pernah bilang kalau ingin menjadi kekasih sesuai kriteriaku. " jawabnya dengan santai dan wajah datar.
" owh ( mengangukkan kepalanya ) apa dulu kau juga sering melakukannya ?" godanya dia tidak marah hanya ingin menggoda saja.
" sudahlah kau membuatku kesal "
devan hanya terkekeh mendengarnya lalu merangkul tiffanny dan membuatnya menyender dibahunya walaupun sedang menyetir.
***
diruang televisi setelah mereka selesai makan malam , devan menemani tiffanny menonton kartun favoritnya. sambil menyemil dan tiffanny memeluknya seraya menyenderkan bahunya.
tiffanny berusaha mencari dan meraih minuman disebelah nya devan yang peka langsung mengambilkannya dan memegangnya untuk tiffanny minum dan dia menyedotnya.
" devan "
" ada apa sayang ?"
tiffanny menatap wajah devan sehingga dia agak mendongakkan wajahnya.
" apa kau suka saat aku bersikap seperti ini ? kau tidak risih kan ?"
devan mengangkat alisnya " kenapa harus risih ? ini juga yang aku mau " jawabnya sambil menatap mata tiffanny.
" tapi sayang ... aku dari tadi terus memikirkan ini , kenapa... perubahanmu drastis sekali ? yang tadinya tidak pernah bermanja kepadaku tapi kenapa seketika berubah hmm "
" Karena kau suamiku " jawabnya.
devan tersenyum namun dia masih merasa ganjal pikirnya.
" sayang apa kau hamil ?"
" ha - hamil ? " tatapannya tak berkedip
" apa jadwal menstruasimu tepat ?" tanyanya.
" hmm " tiffanny mengangukkan kepalanya.
" baiklah , berarti itu bukan karena hormon tapi karena keinginan sendiri. aku terlalu nyaman kan diperlakukan seperti ini ?" godanya sambil memencet hidung tiffanny.
" sakit devan " desisnya.
" yah , filmnya sudah selesai " dia menatap telvisi dengan kecewa.
" tapi lihat sayang , aku tau kisah film ini ( televisi itu menayangkan sebuah film remaja yang menuju dewasa ) mau aku jelaskan bagaimana jalan ceritanya ?"
tiffanny langsung menganggukkan kepalanya.
" dia ... seorang pria kota namun jarang bersosialiasi , tapi saat dia diterima di sebuah kampus ternama dia berjumpa dengan seorang wanita yang ceria. dan itu membuatnya berubah , mereka sering bersama sampai akhirnya menyadari kalau mereka saling jatuh cinta "
" lalu ?" tanyanya yang penasaran mata tiffanny selalu memancarkan rasa cinta dan kenyamanan saat pria itu berbicara.
" lalu mereka berpacaran , setiap hari mereka bersama melakukan layaknya seorang sepasang kekasih , memeluk , mencium dan ... "
" dan .... " saut fanny.
" dan apa ? hayo ... apa pikiran sayang pasti kotor kan "
" hei ! aku tidak seperti itu " teriaknya.
" oke hukuman setelah ini "
" cih " desis fanny.
__ADS_1
devan kembali tersenyum dan menatap kedepan berbeda dengan tiffanny yang terus mendongak untuk menatapnya.
" saling memeluk saat bertemu, mencium bahkan terkadang mereka tidur bersama karena mereka memutuskan untuk tinggal didaerah yang sama dan jarak mereka hanya 2 menit. setiap tidak bisa tertidur si wanita atau di laki - laki akan menemui pasangannya dan sampai akhirnya mereka menikah "
" hanya seperti itu ? " tanya tiffanny yang dia pikir akan berlanjut dan mempunyai konflik lain.
" hmm "
" mereka berpacaran seperti itu ? wah ... " seraya menggelengkan kepalanya, pertanyaan itu membuat devan berpikir negatif lalu menatap tiffanny.
" apa ?"
" sayang aku jadi ingin tahu bagaiman gaya kalian berpacaran dulu. apa sama seperti itu ?" tanyanya seraya memicingkan matanya.
" aku ? dulu ? hmm kami tidak seperti itu tapi kami lebih sering ... "
" sering apa ?" tanyanya penasaran.
" kau pikirkan saja apa yang dilakukan kedua orang berlawan jenis saat tinggal negara luar "
" sayang ! "
fanny tersenyum dan tidak tahan ingin tertawa sampai akhirnya dia tertawa kecil " devan wajahmu sangat lucu , kau cemburu ? marah atau kesal sekarang ? hahah "
" kalian berdua ! "
" hmm ( menggelengkan kepalanya dan lagi - lagi menyenderkan kepalanya di bahu devan ) saat masih berpacaran dulu Brian tidak pernah melakukan hal yang diluar batas. dia hanya akan mencium kening , rambut dan pipiku saja tidak lebih. dia juga hanya akan memelukku "
mendengar itu semua membuat devan cemburu tapi itu masa lalu dia harus mengerti jadi dia ingin terus mendengarnya.
" suatu hari , kami pernah ditugaskan bersama. kami harus pergi meneliti sesuatu dan disana kami ingin menginap tapi karena hanya ada 1 kami tinggal di kamar yang sama. kau tau apa yang dia lakukan ? dia menyuruhku tidur di kasur sedangkan dia di sofa. "
" dia bilang kalau dia tidak akan melakukan hal yang tidak seharusnya.dia mencintaiku jadi dia harus menjagaku. "
devan hanya diam mendengarnya perkataan tiffannny itu seolah - olah dia sedang memuji brian.
" devan " menatap devan lagi.
" devan " katanta lagi.
" perkatannmu tapi seperti kau sedang memuji, aku sangat cemburu " ujar devan dengan jujur matanya menatap nanar tiffanny.
sejenak fanny terdiam , lalu dia bernisiatif mencium devan pipi devan yang terlalu jauh dari wajahnya menjadi incarannya.
cup
" aku akui jika aku sangat mengaguminya karena menghormati wanita. tapi sekarang ... itu sudah menjadi masa laluku , aku tidak bisa melupakannya seolah - olah tidak ada yang terjadi diantara kami. tapi aku juga tidak akan mengingatnya lagi , karena ... "
" karena apa ?" tatap devan
" karena ada dirimu " jawab tiffanny.
" aku pikir ... kau akan mengatakan cinta kepadaku. tapi sudahlah aku juga akan mendengarnya nanti , sekarang ... aku ingin menghukum mu dulu " dia mendekati wajahnya ke wajah tiffanny namun tiffanny memundurkan wajahnya.
" kita belum selesai menonton nya " ujarnya seraya tersenyum malu.
" filmnya sudah selesai saat aku menjelaskannya tadi " devan langsung melahap bibir ranum itu yang langsung dibalas oleh tiffanny.
dia menahan kepala tiffanny agar dia bisa memperdalam ciumannya.
" hmphh...hmpphh " tiffanny sudah kehabisan nafas karenanya yang tak memberi jeda.
devan menidurkan tiffanny di sofa , menatapnya dengan tatapan *****. lalu devan melepaskan kaos nya yang dipakai ditubuhnya , tubuh kotak - kotak dan atletis itu sangatlah indah untuk dipandang.
devan memegang tangan tiffanny lalu menempelkannya di dada bidangnya , tubuh tiffanny terasa sangat panas dan kaku setelah menyentuhnya dia jadi salah tingkah.
__ADS_1
lalu devan kembali mendekati tiffanny dia mencium leher , telinga dan beralih ke bibir itu lagi.
sampai akhirnya mereka melakukannya disana , kegiatan panas itu berlangsung agak lama sampai keduanya terlelap kelelahan akibat aktivitas yang menguras tenaga itu.