
sesampainya dirumah tiffanny menyuruh devan untuk istirahat saja. untuk makan malam tiffanny telah memesan makan untuk mereka berdua.
devan sudah tertidur di ranjang itu , saat fanny baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan mantelnya dia membenarkan posisi selimut devan.
setelah itu dia bergegas mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur biasa. dia pun ikut naik keranjang , mematikan lampu dan menurunkan suhu ac agar membuat devan nyaman.
beberapa jam kemudian , devan tidur dengan tidak tenang membuat fanny terbangun. padahal dia masih mengantuk , diliriknya jam sudah pukul 1 malam.
dia hidupkan lampu nya wajah devan terlihat pucat sekali. dia langsung khawatir dan menyentuh dahi devan.
" panas sekali " gumamnya.
" devan ... devan " dia menyenggol pelan bahu devan , namun devan tidak bangun.
Bagaimana ini , apa yang harus kulakukan . dia sangat risau dan khawatir.
tiba - tiba ide nya muncul begitu saja , dia segera turun ke bawah lalu dia memasak air sambil menunggu air mendidih wajahnya menahan kantuk. dia benar - benar mengantuk saat ini.
5 menit kemudian air pun mendidih dia mencari wadah di rak lalu ketemu dan menuangan air hangat itu disana.
" aww " tangannya terkena cipratan karena tidak tahan dengan rasa panas yang menjalar dari wadah itu.
dia mendesis menahan perih , tangannya memerah dia segera kembali naik ke atas.
disana dia duduk di ranjang pinggir devan menyingkirkan tangan devan lalu dia mengkompres badan devan. dimulai dari dahinya.
" devan , aku sedih dan takut melihatmu sakit seperti ini. jangan sakit , aku tidak bisa mengurusmu dengan baik " katanya pelan menatap lembut wajah devan.
" hoam " sesekali dia menguap dan kembali mengompres dahi devan. tangannya masih perih namun dia biarkan saja yang sudah memerah itu.
wajahnya benar - benar mengantuk diperiksanya dahi devan yang merasa sudah agak menurun demamnya.
" syukurlah " dia kembali memasukkan kompres itu kedalam air hangat namun karena mengantuk dia salah menggapai sampai air jatuh mengenai tangannya lagi.
" haaaaa " teriaknya agak sedikit kencang namun segera dia tutup kembali mulutnya takut devan akan terbangun.
" fanny kau benar - benar tidak becus. begini saja kau tidak bisa " dengan sedih dan rasa kesal dia mengatakannya tapi dia pasangkan lagi kain itu di dahi devan.
***
devan mengerjapkan kedua matanya , dilihatnya tangan tiffanny yang berada di atas perutnya itu. namun dia kaget saat melihat tangan fanny yang merah dan dia merasakan sesuatu di atas dahinya.
dia mengambilnya " kain "
dia memandang tiffanny yang masih tertidur , ada sebuah baskom kecil dipinggir mejanya dan nampan itu artinya semalam yang merawatnya adalah fanny sampai dia melukai dirinya sendiri.
" sayang " panggil devan lembut.
merasa ada yang memanggil namanya membuat fanny terbangun " hmm , ha ? devan ... devan kau sudah bangun. demammu ?" tanyanya reflek langsung menyentuh dahi devan.
" agak turun " gumamnya.
" haa syukurlah aku benar - benar takut "
devan memandang nya dengan sendu , dia dekatkan wajah fanny dan mengecup bibirnya.
__ADS_1
" kenapa melakukannya sendirian ? lihat ini ... tanganmu terkena air panas kan ?" devan memegang kedua tangan fanny .
" oh itu , hmm aku juga salah tidak hati - hati. tidurlah lagi sebaiknya kau telpon rumah sakit dan libur saja aku akan menyuruh seseorang untuk membeli bubur "
" oh ya , dimana kau menyimpan obat - obatan dan termometer ? "
" banyak bicara " kata devan seraya tersenyum.
" obati dulu lukamu baru mengobatiku " sambung devan.
" sebentar lagi juga hilang. tunggulah disini aku mandi sebentar dan dimana kotak nya ?"
" ada dekat bawah lemari meja tv "
" ah baiklah "
betapa bahagianya devan melihat kekhawatiran tiffanny padanya , dia merasa dicintai dan dihargai oleh tiffanny. tapi dia juga sedih karena dirinya tiffanny harus terluka , dia baru tau sisi fanny yang baru lagi. sisi peduli yang tidak pernah dia tunjukkan pada sembarang orang.
***
fanny sudah rapi dengan baju untuk ke hotel , dia sudah memegang termoter " dimulut ?" devan mengangukkan kepalanya.
fanny memasukkan ke mulut devan lalu dia kembali duduk di ranjang.
" sayang obatnya yang pil dan kapsul itu " ujar devan dengan termometer yang berada di dalam mulutnya.
" kau harus makan dulu baru bisa minum obat , benarkan ?"
" hmm benar sekali. istriku memang pintar " pujinya sambil mencubit hidung fanny.
" aku suka "
fanny mengambil termometer itu panas devan hanya 36,5 derajat " 36,5 apa artinya itu ?" tanya fanny menunjukkan hasilnya.
" artinya normal sayang , aku hanya demam biasa " lirihnya.
" ini makanlah "
" suapin "
" ha ? devan aku harus ... baiklah , baiklah "
setelah selesai dia memberikan obat dan mengelap tubuh devan kini dia mengurus dirinya , dia harus segera ke hotel sekarang juga.
" sayang , tidak bisa temani aku saja dirumah ? " dengan penuh harap dia ingin tiffanny menjawab iya.
" hmm ( melihat jam dinding ) aku akan tetap disini selama setengah jam saja setelah itu aku harus pergi, beberapa hal harus kutangani " jelasnya.
devan mengambil kedua tangan tiffanny dan mengelusnya lembut " maaf , karenaku ... tanganmu terluka "
" aku kan sudah bilang , tidak masalah untukku. ini hanya luka biasa aku obati saja sudah langsung sembuh. dan ya ... bagaimana jika kita undur saja , kau demam "
" tidak , dengan tidur aku akan sembuh lagipula istriku merawatku dengan baik aku yakin nanti siang saja sudah hilang "
tangan devan tak pernah berhenti untuk mengelus pelan punggung tangan tiffannny, dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
Lihatlah , ketulusannya itu. dia masih mengkhawatirkan diriku.
tangannnya terulur untuk mengusap pelan rambut devan, sampai devan tertidur pulas. saat dirasa dia sudah kesiangan dia mendekati devan lalu mengecup agak lama kening devan.
" Jaga dirimu baik - baik "
****
di kantor tiffanny , dia sibuk melihat - lihat persiapan hotel yang akan digunakan untuk suatu kegiatan perlombaan itu. semua karyawannya mengatur dengan baik.
namun beberapa kali karyawannya bertanya kepadanya dia hanya menjawab iya , terserah , lakukan yang terbaik.
pikirannya selalu melayang dan tertuju untuk devan. " apa dia baik - baik saja sendirian dirumah ? " batinnya berkata dan mengkhawatirkannya.
" bu ,tolong tanda tangani ini " kata seseorang perempuan yang mengkhawatirkannya itu.
dia mengangukkan kepalanya " sania , tolong katakan pada pak tama jika ada yang mencari ku katakan temui saja ressa dan eva nanti dia akan menyambungkannya ke sekretaris rian. aku harus pulang sekarang " katanya yang sudah tak tahan lagi untuk menemui devan ,lagipula hari mulai gelap sekarang.
" oh ya , baiklah bu "
secepatnya dia kembali ke rumah , karena tidak membawa apapun hari ini jadi dia langsung ke bassment dan segera menyalakan mobilnya.
***
shittt
dia menghentikan mobilnya di perkarangan rumah , bergegas masuk ke kamar dengan cepat namun devan tidak ada di kamar mereka.
dia buka kamar mandi pun tidak ada lalu mengecek ke seluruh ruangan juga tidak ada.
" devann " panggilnya
" devannn " teriaknya lagi.
" sayang " balas devan saat tiba dari halaman belakang. entah kenapa tiffanny lupa jika devan akan duduk dihalaman belakang jika sedang tidak ada aktivitas.
dia menghela nafas lega " kau membuatku khawatir " kata fanny dengan manatapnya agak sedikit kesal.
" Aku disini sayang , aku tidak kemana - mana "
" Tetap saja , kau sakit kenapa masih duduk diluar " tegasnya lagi.
" Istriku sedang marah ?"
" aku memikirkanmu seharian , aku tidak fokus untuk bekerja " katanya dengan air mata yang mulai jatuh itu.
devan memeluk fanny dengan erat , mengelus rambut panjangnya itu.
" maaf , aku sudah membuatmu khawatir " kata devan dengan lembut.
*Apakah seperti ini rasanya di khawatirkan oleh seorang wanita yang sangat kucintai. apakah rasanya begini dicintai oleh seorang wanita. tadinya aku pikir kau tidak akan memperdulikanku , sampai aku jika hari ini yang sebenarnya adalah , cintaku bukan hanya cinta sepihak saja.
kau sudah mencintai sebagaimana mestinya. aku akan terus memelukmu seperti ini sampai kau tidak punya peluang untuk lari dariku*.
__ADS_1