
didalam perjalanan itu fany hany diam saja, metanya terus menatap ke arah depannya. pikirannya terus tertuju pada perkataan pak pramono tadi. haruskah dia merelakan sesuatu yang dia miliki untuk diambil orang lain ? ataukah .. dia harus mempertahankan semuanya dengan dirinya sendiri sebagai penopangnya.
sifat brian membuatnya bingung , dulu semenjak berpisah seakan dia membenci dirinya. tetapi sekarang brian mendekatinya seolah - olah tidak terjadi apapun.
" kau membuaktku berpikir keras untuk sifatmu brian ... apa yang harus aku lakukan terhadapmu sekarang " pikirnya.
lampu merah itu membuat rian memberhentikan mobilnya , dia mengambil sesuatu dibelakang jok mobil yang tak lain sebuah botol air minum. dia menjulurkannya pada fany.
" minumlah " katanya.
fanny menerimanya " terima kasih " ucapnya , rian tersenyum seraya mengangukkan kepalanya.
fanny segera menelan habis air minum itu karena memang masih tersisa setengah saja.
" fany " ujarnya.
" ya " fany melirik ke arah rian dan rian juga menatapnya.
" kau bisa mengatakan sesuatu kepadaku , aku akan mendengarkannya " ucap rian lembut.
" sebenarnya ... "
***
didalam rumah itu , sudah berkumpul orang tua devan , devan dan juga nenek ji. nenek ji mendesah pelan ketika mendengar penjelasan hars.
" apa tidak bisa diperpanjang visanya ? rumah ini sangat sepi tadinya , semenjak kalian datang ... rumah ini tampak lebih berwarna " gumam nek.
" kami juga ingin seperti itu bu , tapi visa nya tidak bisa diperpanjang lagi , lagipula ... masih ada penelitian yang belum diselesaikan jadi harus segera diselesaikan " jawab hars.
" iya bu , ayah devan benar , kami sangat menyukai tinggal disini . ada ibu dan fany juga , betapa senangnya jika kami tinggal disini tapi itu tidak mungkin. ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan " timpal anja.
" lalu kapan kalian akan pulang ?" tanya nenek.
" besok pagi kami akan berangkat " jawab anja.
" baiklah ibu tidak bisa melarang kalian. semoga perjalanan kalian menyenangkan " balas nenek.
" devan , kau harus menjaga nenek dengan baik. jika tidak ... ibu akan kemari dan menjemputmu paksa "
" tenang saja bu , aku pasti akan menjaga nenek dengan baik disini " ujar devan.
" nona fany sudah pulang " ujar kali.
" hmm "
" fany sayang kemarilah " ujar nenek.
fanny pun mendekati nenek dan berdiri disebelahnya , diikuti oleh rian dibelakangnya.
" kenapa terlambat ? apa ada urusan penting ?" tanya nenek.
" iya tadi ada beberapa urusan penting " jawab fany.
" duduklah dulu ... rian kau juga duduklah " perintah nenek.
akhirnya fanny dan rian pun duduk bersama di sofa yang lebar itu.
" fany , bibi dan paman akan kembali besok " ujar anja.
" benarkah " tanyanya.
" ya , apa mau mengantar ?" tanya anja lagi.
__ADS_1
" hmm maaf bi , besok masih ada urusan jadi tidak bisa mengantar " jawabnya.
" ya sudah tidak apa nak , yang penting jaga dirimu baik - baik ya. jika ada waktu nanti bibi dan paman pasti akan melihatmu lagi nanti " kata anja.
" iya bi "
***
malam harinya
fanny terlihat sangat gusar didalam kamarnya , dia baru saja selesai mengganti pakaian nya. dia menguncir rambutnya dan duduk di pinggiran ranjang.
dia mendesah pelan kemudian menidurkan diri diranjang. matanya menatap kosong saat ini.
" tidak ... tidak aku harus pikirkan bagaimana pun caranya " tekadnya bulat.
lantas tak ingin berdiam diri merenungi semuanya dia memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan - jalan di sekeliling taman rumah.
lampu lampion yang kerlap kerlip membuat suasana malam hari terlihat sangat nyaman , dia juga bisa lebih tenang dan bisa berpikir dengan jernih.
drtt....drttt
ponselnya bergetar dia pun segera melihatnya ada nomor yang masuk tapi dia tidak mengenali nomor itu.
" beberapa hari lagi aku pulang , tunggu aku dan mari kita bertemu nanti "
dia tidak merespon hanya membacanya saja , saat dia berdiri dan berbalik ada devan yang kini ada dihadapannya.
cukup lama mereka saling bertatapan dan fanny memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.
" raut wajahmu mengatakan ada sesuatu yang kau takuti "
" kau bisa mengatakannya padaku , aku janji tidak akan mengatakannya kepada siapapunn" timpal devan lagi.
" aku .... "
drttt....drtttt
" Dion Calling "
" telpon mu berbunyi, aku pergi dulu " kata fanny.
" tap.. "
devan menghembuskan nafas kasarnya , baru saja dia ingin mendekati fanny. dia angkat telpon itu dengan berat hati.
" halo "
( maaf van aku hanya miscall saja aku pikir handphone ku rusak karena tidak ada yang menelpon ku dari pagi hehhe )
" kau menelpon di waktu yang salah !" ketusnya dan segera menutup telpon itu "
" sekarang aku akan merubah caraku untuk mendekatinya , bukan dengan kemarahan tapi dengan kelembutan " ucapnya dalam hati.
keesokan harinya
fanny berada di ruangannya sambil tangannya memainkan pulpen , ini sudah jam 1 siang mungkin rian sedang istirahat jadi dia tidak ingin mengganggu rian biasanya rian akan terus berada di sisinya.
tok....tok...tok
" masuk"
seorang perempuan sangat rapi masuk keruangannya membawa map berwarna hitam dan tersenyum manis kepadanya.
__ADS_1
" selamat siang bu , saya hanya ingin menyampaikan kalau beberapa hari lagi akan ada rapat untuk kepemilikan saham yang baru " jelasnya.
" berapa hari lagi itu kapan ? " tanyanya.
" tepatnya 3 hari lagi " jawabnya.
" 3 hari , itu tidak mungkin. dalam 3 hari aku bisa melakukan apa " ucapnya dalam hati
" bu ... bu fanny " kata perempuan itu ketika melihat fanny melamun.
" eh oh kau boleh pergi " katanya.
" baiklah terima kasih bu " perempuan itu segera pergi dan menutup kembali pintu itu dengan pelan.
jiwa fanny benar - benar risau wajahnya menggambarkan ketakutan sekarang, karena ulah brian dia harus mengalami ini lagi sekarang. wajahnya sudah memerah menahan kesal.
(kau bisa mengatakannya padaku , aku janji tidak akan mengatakannya kepada siapapun )
sejenak dia mengingat perkataan devan itu , tapi kenapa harus devan yang dia ingat saat di posisi sekarang ini. selalu ada kesalahpahaman saja diantara mereka pikirnya.
***
shitt
fanny memberhentikan mobilnya di Rumah Sakit Kleuwit Samuel itu , dia melihat betapa tinggi dan megahnya bangunan rumah sakit itu yang kini ada dihadapannya.
tanpa menunggu lama dia segera turun dan meninggalkan tasnya di mobil dia hanya membawa ponselnya saja.
langkah kecilnya membawa dia kedalam rumah sakit , begitu banyak orang saat ini melihat suster yang ada di meja resepsionis dia pun mendekatinya untuk bertanya.
" permisi suster apa dokter Devandra Atmaja ada disini ?" tanyanya.
" Dokter Devan ada tapi sekarang sedang ada operasi tetapi sudah dari 2 jam lalu " jawab suster itu.
" Lalu kapan selesai ? " tanyanya lagi.
" mungkin tidak lama lagi , jika nona mau menunggu silahkan tunggu di ruang tunggu itu. tetapi sebelumnya mohon maaf nona ini siapanya dokter Devan ?" tanya lagi suster itu.
" aku ... eh "
" aku tidak mungkin bilang dia temanku kan " ucapnya dalam hati.
" jika dia bertanya katakan saja Cucu Nenek ji , aku akan menunggu disini " jawab fanny.
" baiklah terima kasih " balas suster itu
fanny duduk di ruangan itu bersama pasien lain yang sedang menunggu untuk diobati, dia melirik ke kanan dan kekiri tapi devan belum datang.
15 menit ... 30 menit ... 45 menit , devan belum juga datang , suster itu memperhatikan fanny dari tadi.
" suster apa dokter devan sudah keluar dari ruang operasi ? tanya nya pada suster sebelah.
" tidak tau tapi aku sudah menghubungi suster yang ada di lantai 4 untuk memberi tahu dokter devan. nona itu menunggu sudah lama aku jadi kasihan " jawab suster sebelahnya.
" aku seperti mengenalnya ... wajahnya tidak asing. " kata suster itu lagi.
kedua sustet itu memperhatikan fanny yang duduk dengan anggun , pakaian yang dia gunakan sangat diperhatikan oleh kedua suster itu dari ujung kaki sampai kebadan.
" Tiffanny wang ? " gumam mereka berdua.
" kau benar , dia pemilik hotel yang sedang banyak dibicarakan itu kan. apa hubungannya dengan dokter devan ?" pikir mereka.
sudah 1 jam lebih fanny menunggu tapi tidak ada tanda-tanda bahwa devan akan keluar. fanny sudah sangat bosan menunggu dia pun berdiri dan menatap pintu lift itu. dan kemudian kakinya melangkah untuk pergi.
__ADS_1
" Tiffanny " panggil devan dari belakang.
fanny segera menoleh kebelakang , dia melihat devan masih berpakaian setelan operasi itu. wajah devan terlihat lelah namun setelah mendengar ada tiffanny datang dia menutupinya dengan masker di mulutnya.