Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Menanti Jawaban


__ADS_3

didalam kamar nya sehabis melayani kebutuhan devan , dia membersihkan dirinya di kamar mandi. dia sudah bersih dan mengenakan pakaian tidur.


sedangkan devan masih di ranjang membuka ponselnya. tiffanny duduk dipinggiran ranjang , pikirannya terus tertuju pada rekaman brian itu.


devan nampak bingung melihat tingkah fanny sehabis dari rumah sebelumnya, dia selalu diam dan tak banyak bicara. bahkan tadi dia tidak menolak sedikitpun seperti biasanya.


" Sudah malam , apa kau belum mengantuk sayang ?" tanya lembut devan.


" Ha ? ehh ... belum " jawabnya.


" Apa masih kurang ? kalau begitu ayo lakukan lagi " goda devan.


" Aku lelah " jawabnya dengan nada pelan. dari cara bicara dan tatapan fanny devan paham ada masalah yang menimpa fanny dan sekarang dia sedang memikirkannya.


devan kemudian bangkit dari tidurnya dia hanya mengenakan celana panjang saja dan ikut duduk disebelah fanny.


cup


devan mencium pipi fanny " jujurlah padaku, kau ada masalah bukan ?"


fanny melirik devan " tidak ada , aku memang seperti ini . jika tidak bisa tidur, aku selalu duduk seorang diri " jawabnya yang matanya terus tertuju kedepan.


" Bukan seorang diri , hanya kau saja yang tidak ingin terbuka. ada begitu banyak orang bisa mendengarkan keluh kesahmu, cobalah untuk membuka dirimu sendiri dan jangan menahannya sendiri. aku yakin ... kau akan merasa lebih baik setelahnya. " devan mengelus rambut lurus panjang tiffanny itu.


" Dan jangan berpikir tidak ada orang yang harus kau ajak bicara seperti dulu, sekarang ada aku. kapanpun kau ingin bercerita, aku siap mendengarkannya." sambung devan lagi.


" Apa kau selalu mengatakan masalahmu ? " tanya fanny.


" iya ! kau tau apa alasannya ? "


fanny menggelengkan kepalanya.


" karena aku tidak ingin menyimpan masalahku sendiri. dengan berbagi kita bisa dapat jalan keluar. namun aku tidak sembarangan berbagi cerita , selama ini ... ayahku adalah orang yang pertama aku datangi saat aku sedang ada masalah , dia selalu memberiku jalan keluar untuk semua hal. "


" Kau benar ... papa adalah orang pertama yang akan membantu anaknya, saat aku kecil ... aku terjatuh dari sepeda orang pertama yang berlari menghampiriku dengan rasa khawatir adalah papa, wajahnya sangat khawatir tapi dia dengan cepat menolongku. mama ... dia tidak bisa melihatku menangis dan ada luka di tubuhku dia mudah menangis jadi papa selalu datang lebih dahulu "


mengingat semua itu membuat dadanya sesak, devan beruntung masih mempunyai keluarga yang lengkap. dia sangat iri mendengarnya , tetapi dia juga sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.


dimana saat dia terpuruk dia hanya bisa memendam semuanya sendiri tanpa ada orang yang tahu.


devan membawa fanny kedalam pelukannya, dia tahu hati wanita ini sangat rapuh namun terus berusaha untuk terlihat kuat dihadapan semua orang.


" Aku tidak akan menggantikan posisi papamu, tapi mulai sekarang... berlarilah kepadaku saat kau ada masalah, atau ... aku akan mengejarmu saat kau dalam kondisi sulit, dan membantumu untuk berdiri. "


" Dan sekarang ada dirimu, sayang .. kau satu - satunya wanita yang akan kuberitahu semua masalahku, kehidupanku , aktivitas ku dan semuanya. aku mengatakannya karena kau sangat penting bagiku, aku ingin istriku tau semua apa yang terjadi padaku. "


malam itu , keduanya banyak bercerita dan saling menguatkan. Ada luka di setiap insan manusia namun, saat kita terus diam melihat luka itu maka luka itu tidak akan sembuh harus ada seseorang yang berperan sebagai penyembuh.


***


pagi harinya tiffanny sudah rapi dengan kemejanya , dia menuruni anak tangga dan sudah tercium aroma maasakan devan.


dia bisa melihat devan yang sibuk membuat makanan untuknya, dia segera menghampiri devan.


" Kau tidak kerumah sakit hari ini ?" tanyanya karena devan hanya mengenakan kaos biasa saja.


" tidak , aku libur. aku akan membuatkan makanan yang enak untukmu. setelah itu aku akan mengantarmu " jawab devan yang sibuk menumis brokoli itu.


" Oh "

__ADS_1


Drtt....drtt


📱 " Mari bertemu di tempat yang sering kita kunjungi"


fanny membaca sms itu dan hanya membacanya saja. dia segera duduk di meja makan dan wajah nya memperhatikan bentuk tubuh devan dari belakang.


" Dia seperti tidak punya kekurangan apapun " ucap batinnya.


" aku lupa , nanti malam tidak usah menjemputku. aku akan pulang terlambat aku pakai mobil di hotel saja "


" Tidak apa , aku akan menunggumu telpon saja aku jam berapapun. " balas devan.


" Nah sudah jadi, ayo makanlah setidaknya belajarlah makan menggunakan nasi ... bagaimana pun juga karbohidrat itu penting. " jelas devan yang menata lauk di meja makan.


" terima kasih " ucap fanny.


" hmm tidak perlu berterima kasih padaku, saling membantu adalah pondasi rumah tangga agar tetap harmonis. "


" Kau seperti orang tua , yang sangat paham tentang hubungan "


" Bagaimana denganmu sendiri, bukankah kau yang lebih tau tentang hubungan percintaan ?" goda devan.


fanny diam tak menjawab devan dia melanjutkan makanannya, devan terkekeh melihat tingkah fanny itu sangat lucu saat dia sedang merajuk.


" Sayang apa kau marah ?" goda devan.


" Tidak " jawabnya dingin.


" Lalu kenapa mukamu cemberut hmm, rasanya ... aku tidak ingin membiarkanmu ke hotel hari ini "


" Dasar pria mesum " umpat fanny kecil.


" aku bisa mendengarnya sayang "


" Jangan begitu , buktinya kau menikmati kemesumanku itu bukan ? kau terus menyebut namaku saat kita sedang me..."


" hei, devan ! masih banyak percakapan yang lain kenapa harus yang itu " fanny memasukkan selada ke dalam mulut devan sehingga devan tak bisa bicara.


" sayang , aku tidak menyangka kau bisa sekasar ini " katanya sambil memakan selada itu.


**Drtt...drttt


📱 " maaf Fanny , cafe itu sedang dalam renovasi. aku akan mencari cafe baru , aku akan segera menghubungimu**. "


fanny hanya melirik nya saja karena ponselnya ada di dtas meja , devan juga bisa melihatnya.


" Kau mau keluar dengan siapa ?"


" Rekan kerja "


" Kenapa tidak menyimpan nomornya ? "


" Hanya ... tidak mau "


" aku ingin berangkat sekarang, ada rapat penting pagi ini. " jelas fanny.


****


" cup " devan mencium bibir fanny sekilas.

__ADS_1


" jangan terlalu lelah , ingat telpon aku setelah pulang nanti "


" hmm , hati - hati dijalan " ucap fanny.


" iya sayang "


fanny segera keluar dari mobil dia menuju pintu yang mengarahkan ke dalam lift. di bassment itu terlihat sepi tidak ada orang.


setelah memastikan fanny sudah masuk dengan aman devan kembali memutarkan mobilnya dan segera meninggalkan hotel.


***


malam harinya


brian menunggu dengan lama tiffanny di cafe itu, didepannya sudah ada minuman namun kali ini dia tidak meminum alkohol karena tiffanny tidak menyukainya saat dia meminum itu.


dia memesan Moctail saja , sudah lama setelah hari pernikahan dia tidak melihat wajah tiffanny. dia terus tersenyum berharap tiffanny datang menghampirinya dengan senyuman.


di depan cafe itu fanny sudah turun dari mobilnya, dia keluar manatap cafe yang sepertinya cafe ini sangat terkenal. banyak muda mudi yang masuk kesana .


dia langkahkan kakinya kesana, malam ini dia berharap mendapatkan semua kejelasannya. dia tidak ingin ada sesuatu yang disembunyikan brian tentang hidupnya lagi.


fanny mencari sosok brian disana, dan dia bisa melihat brian duduk di dekat bar. diapun menghampirinya.


" Brian " panggilnya tanpa ekspresi itu.



brian yang sedang melamun itu pun menoleh ke arahnya, dia tersenyum saat fanny datang.


" Kau datang " ujarnya dengan senyuman lebar.


" Ayo cari tempat duduk dulu " ajak brian yang akan berdiri.


" tidak perlu. disini saja "


" tapi ..."


tanpa mendengarkan perkataan brian, tiffanny langsung duduk di kursi sebelah brian dia menghadap kedepan tanpa memandang brian.


tidak pernah sedikitpun untuk brian menoleh ke arah lain, dia ingin melihat wajah ini dengan jelas. dia merindukan kekasihnya.


" Aku pikir , kau tidak akan menemuiku tanpa ada sesuatu hal yang penting " brian memulai percakapannya terlebih dahulu.


" Raka ... dan ibumu , sudah kembali "


" Aku tau " jawab brian dengan pelan, mendengar brian berkata seperti itu dia bisa tau suara itu menunjukkan kesedihan dan kerinduan.


" Lalu kenapa kau tidak menemui mereka ? ibumu .. sakit " sekarang fanny menatap brian dengan dalam, brian tidak mampu memandang tiffanny dia hanya menunduk.


" aku juga tau " lirihnya.


" raka menceritakan semuanya kepadaku, kenapa kau berbohong padaku ?"


kini brian yang bergantian menatap fanny, sedangkan fanny menoleh ke arah depan bar itu.


" Apa ? aku ... Fanny aku tidak bermaksud membohongimu tap.."


" lalu apa ? selain berbohong apa kata lain yang tepat untuk itu ? apa kau masih ingin menyimpannya sendiri ?" mata fanny terlihat berkaca - kaca, rasanya dia ingin menangis sekarang.

__ADS_1


" Aku melakukannya karena aku menyayangimu, mencintaimu ... dan ingin terus melihatmu "


kedua mata itu saling bertemu , kedua orang itu seperti ingin menangis.


__ADS_2