
" bagaimana bisa nenek pergi tanpa mengucapkan satu kata pun , devan hikss... "
" kau tidak sendirian sayang, ada aku yang akan selalu bersamamu " ucapnya meyakinkan tiffanny sembari beralih memeluknya.
tiffaanny menatapnya dengan mata yang penuh air mata " Berjanjilah untuk bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku seperti keluargaku yang lain hikss. " katanya dengan nanar dan bibir gemetar.
" hmm aku bersumpah "
tiffanny memeluk devan dengan erat membenamkan kepalanya didada bidang devan.
" kenapa hanya dia yang kau sebut , aku juga akan selalu bersamu dan tetap mencintaimu seperti dulu. bagaimana bisa aku menghilangkanmu " batin brian.
1 bulan kemudian
pasca kepergian nenek tiffanny lebih diam dari sebelumnya, mereka sudah kembali kerumah sendiri. sedangkan rumah itu masih diurus oleh bi kali.
namun dirumah itu juga bi kali merasa kesepian rasanya tidak enak menempati rumah sebesar ini , ini juga bukan miliknya.
dia juga punya keluarga yang harus diurus , sebelumnya dia masih ingin bekerja disini karena nenek dan tiffanny dulu belum menikah.
tetapi sekarang keadaan sudah berubah, dia punya anak , suami dan keluarga.
jadi dia memutuskan untuk pergi dari kota bandung dan ikut bersama anak dan suaminya. dia membereskan perlengkapannya dan memasukkan nya ke koper.
sopir akan mengantarnya ke bandara , 3 jam kemudian dia sudah ada dibandara seorang diri.
namun tiba - tiba tiffanny dan devan datang bersama , bi kali langsung berdiri karena memang harapan dia sebelum pergi adalah menemui tiffanny.
" nona " ujarnya dengan sendu.
" apa bi kali sudah membereskan semua nya ?" tanya devan.
" iya tuan , dan ini ... kunci rumahnya satunya lagi ada di sopir dia juga akan mengantarkannya kerumah nona dan tuan "
tiffanny hanya murung dan diam saja , tapi wajahnya menatap bi kali.
" tuan , tolong jaga nona ya. jangan sakit hatinya , nona sangat tangguh diluar tapi didalam hatinya sangatlah lembut. bibi titip nona "
" tanpa bibi minta aku akan melakukannya, bi ... terima kasih untuk semuanya "
" tidak tuan, jangan berkata seperti itu. bibi yang harus berterima kasih kepada keluarganya nona , berkat nenek dan orang tuanya dulu bibi bisa hidup dengan lebih baik "
bi kali melihat ke tangan tiffanny dia memakai gelaang yang dulu dia berikan sehagai hadiah pernikahan.
" nona memakainya "
" hmm itu sangat cantik di tangannya " saut devan.
tiffanny melirik ke devan , devan mengangukka kepalanya seperti dia tau apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
jadi dia membuka paper bag yang dia lalu memberikannya kepada tiffanny.
" aku tidak tau bagaimana membalas semuanya , kita sudah lama bersama. Ini ... ( menyodorkan bingkai yang langsung bi kali terima dan balik nya ) "
bi kali terperanjat melihat nya itu adalah sekumpulan foto waktu dia kecil bersama tiffanny sampai besar.
" Tolong jangan lupakan aku. aku memberikannya karena tidak ingin bibi melupakan aku "
bibi mengangukkan kepalanya tak terasa air matanya menetes, " tidak akan . bibi tidak akan melupakanmu nona " dia memeluk tiffanny dengan hangat sehangat pelukan seorang ibu yang dia berikan.
__ADS_1
***
malam harinya
setelah mengantar bi kali ke sampai ke pesawat mereka berdua sudah dirumah. tiffanny melepaskan aksesoris yang menempel ditubuhnya sambil melihat kaca.
devan tersenyum melihatnya lalu memeluknya dari belakang.
" mau makan apa malam ini ? aku buatkan sekarang " dia juga melihat tiffanny dari kaca dan keduanya saling melihat pada pantulan diri mereka sendiri.
" apapun " jawab tiffanny lembut.
" Chicken Katsu ?"
" hmm " mengangukkan kepalanya.
melihat fanny tak bersemangat dia mendudukkan tiffanny di sebuah kursi lalu berjongkok dihadapannya.
" sayang , sudah satu bulan berlalu kapan aku bisa melihat senyuman diwajah mu lagi ? aku sangat merindukan semua itu. "
" devan aku .. "
" lihatlah disana " tunjuk devan dikaca itu keduanya melihat kekaca lagi.
" kau dan aku , kau tidak sendiri sayang. masih banyak orang yang menyayangimu , ada aku yang aakan selalu bersamamu setiap hari. ada rian yang akan menemanimu bekerja , ada micheal dan kalista yang akan menemuimu setiap saat. dan ada orang tuaku yang akan mencintaimu sama seperti mereka mencintaiku "
pikirannya seolah - olah berusaha memahami, memandangi diri sendiri di kaca seperti ini. jika dirinya erlihat sangat menyendihkan dimatanya sendiri bagaimana dengan orang lain ?
pikirkan mereka yang menyayangimu, tidakkah membuat mereka juga ikut sedih.
" Aku takut , aku sangat takut kehilangan yang lain lagi "
fanny memeluk devan dengan erat , dalam hatinya dia takut kehilangan pria ini. pria yang sudah dia cintai sekarang.
...
devan sudah tertidur nyenyak di kasur itu sedangkan tiffannt masih terjaga malam ini. semilir angin yang masuk kedalam kamar membuatnya tak tahan, gorden itu terus bertebrangan.
pikirannya melayang entah kemana, untuk sejenak dia menghadap ke devan melihat bagaimana lelapnya pria itu tertidur.
jangan pergi dariku, hanya tersisa dirimu sekarang. aku begitu mencintaimu tapi aku juga takut akan kehilangan mu.setiap aku mencintai seseorang dia selalu pergi dariku.
tapi kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun pergi dariku. apalagi ... dirimu .
dia memeluk devan yang tengah tertidur , sampai keesokan paginya masih dalam posisi yang sama.
devan terbangun saat matahari sudah menyeruak masuk kedalam, tangannya terasa berat sampai dia tau jika tiffanny tidur didalam pelukannya.
dia tersenyum lebar lalu mengecup singkat bibir tiffanny.
jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi , dia harus segera berangkat ke rumah sakit sekarang tapi tidak tega membangunkan tiffanny.
drrtt....drrtttt
" Rian Message "
📱 " Fan , bisa cepat ke hotel ? "
devan mengambil ponsel yang tergeletak itu , dia buka dan baca pesan itu.
__ADS_1
lalu dia menelpon rian
( halo fan , kau dimana ? )
📱 " ini aku "
( dokter )
📱 " apa terjadi sesuatu dihotel ?"
( tidak ada hanya saja ini menyangkut kasus nenek , pria itu sudah dijatuhi hukuman 4 tahun )
📱 " hanya 4 tahun ? apa mereka tidak salah menjatuhi hukuman ? " devan shock mendengernya , suara devan yang agak meninggi itu membuat tiffanny terbangun.
dia melihat devan dengan muka yang marah , lalu dia juga menggengam ponselnya.
( aku juga terkejut mendengarnya , akan tetapi kita bisa melakukan banding )
📱 " mari kita bertemu nanti malam aku akan mengirimkan alamatnya dimana kita harus bertemu "
" Rian ?" tanya fanny.
" sayang kau sudah bangun ? itu ... i- iya rian memberitahu kalau pria itu ... hanya dihukum 4 tahun penjara "
" 4 tahun " gumam fanny sambil tersenyum miring namun sebenarnya senyuman marah.
" sayang apa yang ingin kau lakukan ?"
" jika benar dia yang melakukannya maka aku akan menuntutnya lagi, tapi jika dia hanya penerima suruhan maka aku akan mencari tahu siapa dia "
...
disebuah cafe yang agak sepi pengunjung itu , rian dan tiffanny datang bersama mereka menunggu devan yang belum datang.
sudah ada 3 minuman yang tersedia disana, tak ada obrolan apapun dalam meja itu. sesekali rian melirik tiffanny.
" Fan " ucap rian pelan.
fanny hanya menoleh tanpa menjawab.
" bisakah kau kembali seperti dulu, dimana kau selalu tersenyum walau sangat kecil sampai tidak ada yang melihatnya " ujar rian seperti memelas.
" hidup akan terus berlanjut walau kau tidak mau, tapi yang aku tahu ... walaupun nenek meninggalkanmu akan tetapi dia sangat bahagia karena kau sudah berada di tangan pria yang tepat. bukankah nenek sangat bahagia dengan hubungan mu dan dokter devan , jika aku boleh beri saran ... pikirkan hubungan kalian dan sempurnakanlah " menatap lembut manik mata tiffanny.
sejenak tiffanny diam , namun disana juga devan mendengar semua perkataan rian. rian sangatlah baik memikirkan hubungan mereka berdua, karena dia tau devan sangat mencintai tiffanny.
" untuk beberapa waktu , aku memang merasa sangat kehilangan. aku tidak bisa melupakan semuanya dalam waktu yang sangat singkat. "
dia menggela nafas pelan " sampai suatu malam aku melihat kenangan nenek dan kakek di kamarnya. mereka terlihat saling mencintai satu sama lain. dan aku mengerti ... nenek juga pasti bahagia dia kembali menemui pasangannya di sana. berkumpul dengan papa , mama dan kakak di surga. "
" kini hanya ada aku yang tersisa tapi tidak lagi... walaupun aku sedih aku tidak ingin hidup dengan seperti ini lagi, ada devan yang menemaniku setiap hari , ada dirimu yang akan menemaniku dalam setiap pekerjaan dan kalista juga micheal yang akan datang setiap aku membutuhkan mereka. "
rian tersenyum mendengarnya hatinya sangat bahagia , menyebut namanya di dalam kehidupan tiffanny adalah suatu kebahagiaan tersendiri baginya.
" aku tidak tau darimana kau bisa mengatakan hal sebagus itu "
tiffanny tersenyum kecil " Menurutmu siapa lagi "
" Dokter Devan " jawab rian sambil terkekeh sedangkan tiffanny hanya tersenyum.
__ADS_1