Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Kita yang satu


__ADS_3

" Maaf ... aku , aku tidak bisa " tolak tiffanny yang segera berlari masuk kedalam kamar mandi.


di berdiri di balik pintu itu dan berusaha menetralkan jantungnya.


sementara itu , devan merasa kecewa ditolak mentah - mentah begitu saja. harapannya harus pupus kali ini. tidakkah wanita itu mengerti kalau dia juga pria biasa seperti pada umumnya yang punya hasrat.


didalam kamar mandi itu , tiffanny sudah memakai mantel nya dia ingin keluar tapi ragu, dia takut berhadapan dengan devan.


" Kau bodoh sekali, kenapa harus mengatakan itu. ada banyak kata yang bisa digunakan " gerutunya pada diri sendiri.


" Kau tidak akan keluar dari sana ? " teriak devan.


fanny tercengang suara devan begitu dingin , dia berusaha untuk tidak takut dan perlahan membuka pintu kamar mandi itu.


ceklek


dia keluar dari sana dan berdiri di depan pintu kamar mandi, devan memperhatikan fanny yang hanya memakai mantel mandi selutut itu. dia perhatikan dari bawah sampai atas dengan tatapan tajam.


devan lagi - lagi mendekatinya , fanny berjalan mundur kebelakang hingga dia tidak bisa lagi karena sudah mentok di dinding.


tangan devan mengunci tubuhnya dan memperhatikan wajah tiffanny yang terus menunduk itu.


" Kau takut padaku ?"


fanny tidak menjawab, dia meremas ujung mantelnya melihat itu devan semakin yakin fanny takut kepadanya.


" Aku pikir kau tidak takut padaku. tapi bagus juga , sepertinya ... kau sudah ada seseorang yang ditakuti, fanny ..."


" ha ?" seketika fanny mengangkat wajahnya dan kini beradu tatap dengan devan, lalu secepatnya dia menundukkan kepalanya lagi.


devan menyeringai " Kau takut padaku, tapi kenapa kau tidak menolakku tadi. Aku bisa saja melakukannya dengan paksa. tetapi , aku masih punya perasaan. Kau akan semakin membenciku nanti "


" mengingkirlah, aku dingin " ucap fanny pelan.


" kalau begitu peluklah aku. kita berdua akan merasa hangat "


" mesum " umpat fanny.


" mesum ?"


devan semakin ingin membuat tiffanny takut , dia menyentuh pipi itu dan menjalar sampai ke leher.


" dengar ya , aku tidak takut denganmu. hanya saja ... aku ... aku... sudahlah , kau tidak mengerti " ungkap fanny yang mendorong devan dan membuka lemari baju devan untuk mencari pakaiannya.


" jelas - jelas kau takut, tunggu aku dikasur ada hal yang ingin aku bicarakan "


kini devan bergantian mandi , setelah 10 menit dia keluar hanya memakai lilitan handuk di pinggangnya. fanny benar - benar kesal jika melihatnya dia berulang kali menunjukkan ketidak nyamanannya tetapi devan selalu melakulannya.


tok..tok..tok


fanny yang sudah selesai berpakaian itu membuka pintunya dan bi kali masuk kedalam membawakan nampan berisi makan malam.


" bi kenapa dibawa keatas ? kami akan turun nanti " tanya fanny.


" maaf nona , tuan devan menyuruh mengantarkan makanan ke kamar. " jawab kali yang menaruh nampan di meja.


" iya aku yang menyuruh bibi, terima kasih bi" kata devan yang muncul dari walk in closetnya.


setelah bibi keluar fanny menutupnya lagi , dan membuka ponselnya. ada beberapa pesan yang masuk dia hanya membuka dan membacanya saja lalu menaruh lagi telpon itu.


" Makanlah dulu baru kita bicara " ujar devan.


dan fanny pun menurut keduanya makan di sofa itu dengan tenang, karena tiffanny tidak suka makan di sofa dia lebih memilih duduk di lantai karena diBawah juga dipasang Karpet tebal.


devan tidak menyangka tiffanny mau melakukannya padahal jika dilihat dari luar, tiffanny seperti orang sombong yang tidak mau melakukan hal hal seperti ini.


drttt.....drrtt

__ADS_1


📱 62876543091


Calling


" ponselmu berdering " ujar devan.


tiffanny mengambilnya lalu menolaknya langsung.


" siapa itu ? kau menolaknya langsung " kata devan.


drttt.....drrtt


📱 62876543091


Calling


fanng lagi lagi menolaknya , tetapi orang tersebut terus menelpon tiffanny.


" aku yang akan mengangkatnya " devan mengambil ponsel itu.


" halo "


fanny segera mengambil dan mematikan ponsel itu, dia segera mematikan dengan benar kali ini sehingga tidak bisa ada yang menelponnya lagi.


" sebenarnya siapa dia ? " tanya devan.


...


" siapa yang mengangkat telponnya, dia bukan rian " pikir Brian yang menelpon tiffanny.


dia telpon lagi tapi tidak bisa .


" Fanny kenapa kau keras kepala, aku takut Pak samuel menyakitimu "


****


" bukan siapa - siapa " jawab tiffanny.


" Brian "


devan tercengang , dan menatap tiffanny. pria itu masih menghubungi tiffanny. apakah tidak punya malu pikirnya.


" Dia sering menghubungimu ? "


" Bukan urusanmu " telak fanny.


" ganti saja nomormu biar dia tidak bisa menghubungimu"


" tidak mau "


" oh ... jadi disana masih banyak kenangannya , sama seperti ponsel yang kau simpan di rumah itu kan " ujar devan yang menahan amarahnya.


fanny melirik kedepan , dia berdiri dari duduknya.


" kenapa kau membuka ponsel itu ? apa kau begitu ingin taunya tentang diriku ? devan ... aku tidak tau apa maksudmu tetapi aku tidak ingin kau mencari tau tentang masa laluku dengannya. aku ... Tidak menyukainya "


" Kau marah karena kau masih mencintainya kan ?" tanyanya dengan menekankan kata mencintai itu.


" Devan " ucapnya pelan.


" kenapa ? kau tidak bisa menjawabnya "


" Jika kau tidak mempercayaiku , maka bercerai saja ... sebelum semuanya lebih jauh "


Bercerai ? apa - apaan , bahkan devan saja tidak pernah berpikir seperti itu. tetapi tidak dengan tiffanny dia langsung mengatakan cerai dengan mudahnya.


" Tidak ! sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu ! " bentak devan.

__ADS_1


" Ya ... tentu saja , kau tidak mau. Baiklah ... terserah padamu "


Fanny keluar dari kamarnya sambil menangis, dia tidak ingin bertengkar dengannya tetapi devan selalu ingin memulainya pikirnya.


yang katanya mencintai dia tetapi dia sama sekali tidak mempercayainya , bukankah bagus dia tidak mengangkatnya.


dia berlari sampai ke Balkon itu dan berdiri di atas pagar itu.


" Fanny sayang "


fanny menoleh kearah sumber suara dan dia menatap orang itu dia terlihat cantik dengan Baju putih yang penuh cahaya yang tersenyum kepadanya.


" Jangan menangis "


" Ma .. mama " gumam fanny.


wanita itu tersenyum manis


" mama "


" Fanny sayang ... Apapun masalahnya, jangan menangis sendirian. hadapi bersama dan yakinlah semuanya akan baik-baik saja "


" mama aku merindukanmu "


" mama sangat merindukanmu. tapi kita berbeda sayang, kau harus hidup dengan baik bersama nya. "


" Fanny " teriak devan.


fanny menoleh kesamping kiri, namun saat teringat mamanya dia menoleh kekanan dan sudah tidak ada lagi.


" mama ... mamaa " teriaknya.


" mama hiks " isaknya kecil dia berusaha menahan air matanya..


" fanny "


devan yang melihat fanny jongkok di pinggir pagar itu segera berlari mendekatinya.


" maaf ... aku tidak seharusnya membentakmu, aku bersalah " ujarnya sambil memeluk tiffanny.


tiffanny memandangnya dengan mata yang penuh air mata di wajahnya.


" mama " ucapnya menatap devan.


devan memeluk erat tubuh fanny " jangan menangis , kau boleh menghukumku apapun "


...


sekarang mereka berdua ada di kamar , tiffanny terus bergelut dengan pikirannya. sedangkan devan dia belum tidur dia hanya menatap tiffanny dari belakang.


" Kau belum tidur " devan menyentuh bahu fanny.


" i..iya "


" ada apa ? kau ingin menghukumku ?" tanya devan lembut.


fanny berbalik dan sekarang mereka saling berpandangan .


" Devan , boleh aku mengatakan sesuatu ?" tanya fanny.


" katakan , aku akan mendengarkannya "


" kau tau, selama 21 tahun terkahir aku hanya ingin melihat wajah mamaku , dan tadi ... aku sungguh bisa melihatnya. Dia sangat cantik , tersenyum kepadaku. Aku ingin waktu berhenti disana ... Aku menunggu selama 21 tahun untuk melihatnya , tetapi hanya 21 detik saja dia datang " ungkapnya sambil air matanya jatuh, devan mendekatinya dan memeluknya fanny tidak menggubrisnya hanya membiarkannya saja.


" aku tau, kau pasti sangat sedih. Kau sudah banyak mengalami kejadian. Tetapi mulai sekarang , ada aku. aku akan berjanji sebagai suami mu untuk selalu membuatmu melupakan kesedihanmu "


" kita akan bersama - sama, bersedih bersama dan tersenyum bersama " sambung devan.

__ADS_1


devan mengelus rambut lurus fanny itu , dia sangat menyayangi wanita ini juga begitu mencintainya. ketika melihat menangis dia juga merasa sedih.


" Tidurlah " gumam devan.


__ADS_2