Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Peluang


__ADS_3

pukul 4 pagi , devan terbangun lebih dahulu. karena dia harus berangkat sekarang juga dan akan sampai kekota pada pukul 7 pagi.


dia membenarkan posisi selimut fanny sambil mencium pipi fanny dengan rasa sayang. dia mengelus kepala itu dan masuk kekamar mandi untuk bersiap - siap.


tak lama setelah devan kekamar mandi tiffanny terbangun, mengerjapkan matanya. dia melirik kesamping yang sudah tidak ada devan matanya mencari sosok pria itu namun sepatu devan masih ada di dekat pintu itu berarti devan masih disini pikirnya.


dia merasa tubuhnya sakit semua , lalu turun dengan perlahan dari ranjang karena masih mengantuk.


tok


tok


tok


" sayang ?" panggil devan dari dalam.


" hmm ini aku , kau didalam ?" tanya fanny.


" Mau mandi bersama ?" tawar devan dibalik pintu itu dia sedang menyabuni tubuhnya yang atletis itu.


" tidak " jawab fanny singkat. lalu dia membuka gordeng itu yang ternyata awan pun masih gelap.


benar - benar dingin suasana pagi hari di puncak ini. dia merasa kedinginan walaupun ditutup tapi angin tetap masuk dari arah ventilasi jendela.


" kenapa berdiri di sini hmm , tidur saja " devan memeluk fanny dari belakang sehingga membuat fanny terkejut.


" kau mengejutkanku " kata fanny yang tetap dalam posisi didepan dipelukan devan.


devan hanya bisa tersenyum " aku harus pulang sekarang , tidak mau ikut denganku ?" tawar devan lembut , dia membenarkan rambut fanny yang agak kusut dibagian bawah karena ulahnya semalam.


" Aku akan pulang sore nanti. oh ya , sebelum pergi ... sebaiknya kau makan dulu , cuaca dingin tidak baik jika perutmu kosong apalagi sedang menyetir "


" mencemaskan suami mu sayang ?" goda devan.


fanny melepaskan pelukan devan lalu kini menghadapnya " jangan terlalu Besar kepala , aku sudah sering mengalaminya " jawan fanny sambil tersenyum kecil.


" alasan " devan mencium bibir fanny sekilas , lalu fanny menghindar.


" Bersiap - siaplah aku ke luar sebentar " kata fanny sambil menguncir rambutnya itu. devan membiarkan fanny pergi keluar , dia pun memakai pakaian dan yang lainnya.


diluar kamar , di bagian dalam villa utama itu dia mencari dapur. tidak tau apa yang harus dia buat tapi setidaknya jika ada mie instan dia akan membuatkannya untuk devan walau tidak pernah pasti ada cara atau petunjuk untuk membuatnya pikirnya.


sesampainya di dapur dia membuka - buka seluruh pintu yang ada di lemari makanan. hingga dia menemukan satu satu cup mie.


dia memutari mie itu membaca petunjuk yang ada di dalam


" sedang apa ?" tanya brian yang datang dari arah depan , tiffanny yang sibuk membaca itu kembali terkejut.


" ini , aku .. "


" biar aku yang buatkan sekarang duduklah " brian mengambil mie itu , dia merebus air untuk dituangkan kedalam cup.


" tapi .. "


" untukmu ?" tanya brian yang penasaran.


" devan " jawab fanny dengan menoleh ke arah lain , brian pikir itu untuk fanny jadi dia mau membuatkannya. tapi setelah mendengar hatinya panas tapi dia tidak mungkin meninggalkan fanny dalam posisi ini dia sendirilah yang menawarkan bantuan.


" kalian bangun pagi sekali ?"


" Dia akan kembali ke kota "


" kau sering melakukan ini ?"

__ADS_1


" baru kali ini "


" kenapa ?"


bria masih bertanya kenapa , jelas - jelas mereka suami istri tentu saja itu kewajiban fanny.


" Karena saya suaminya , dia istri saya. dia melakukannya karena mengkhawatirkan suaminya pergi ke kota dengan perut kosong " jawab devan yang keluar dari lantai dua itu , membuat fanny menoleh dan segera berdiri dari duduknya.


" seharusnya saya yang bertanya kenapa kau selalu ada di dekat istri saya " hardik devan yang tak suka itu.


" sudah devan , brian apa itu sudah matang ? aku bisa membawanya ?" tanya fanny yang tak ingin ribut dipagi hari begini.


" sebentar "


brian menuangkan air panas itu , lalu segera fanny membawanya namun devan mengambil alih.


" ini panas sayang , ayo makan didepan " ajak devan sambil menggandeng tangan fanny.


***


diluar sambil menikmati pemandangan puncak yang hijau nan asri itu devan sedang menikmati mie itu , walau sebenarnya tidak suka karena brian yang melakukannya tapi harus menghargai fanny.


" Apa itu enak ?" tanya fanny .


" mau ? " tawar devan


fanny menganggukan kepalanya , devan merasa senang karena tiffanny tidak pernah merasa jijik jika harus makan di wadah dan bekas yang sama.


" hufttt....huftttt " devan meniup niup mie itu agar tidak panas saat istrinya memakannya.


" aaaa " fanny membuka mulutnya , lalu mengunyah itu.


devan membersihkan bagian pinggir bibie fanny yang terkena cipratan mie itu.


" Kau seperti anak kecil yang minta dibelikan permen. tidak sabar ! " desis fanny.


" ayolah sayang , tentu saja aku tidak sabar. disana aku tidak akan membiarkan seseorang yang mengganggu aktivitas kita , kita harus mematikan ponsel "


" iya , iya terserah kau saja. lihat ini sudah pukul 4.30 sekarang pergilah atau kau akan terlambat "


" oh iya , hmm tapi sebelum itu ... " devan tidak melanjutkan perkataannya tapi wajahnya dimajukan.


" apa ?"


devan memajukan bibirnya " hei , akan ada orang yang melihat nanti " membelalakkan matanya.


" biarkan saja kalau tidak aku tidak akan pergi " ancam devan.


mata fanny mengelilingi area itu dilihatnya tidak ada orang jadi dia berani melakukannya.


cup


tanpa membiarkan fanny melepaskan devan lebih dahulu **********


sangat salah jika tidak ada yang memperhatikan mereka karena sedari tadi brian terus mengawasinya , tangannya menyatu mengepal marah atas apa yang dilakukan dua insan itu.


***


" dahh " devan melambaikan tangannya setelah masuk kedalam mobilnya yang langsung dibalas oleh fanny.


setelah mobil devan menjauh dari penglihatannya dia memutuskan untuk berkeliling di area puncak , tapi sebelum itu dia akan mengambil jaket nya.


segera naik kekamar membuka kopernya lalu kembali turun setelah menemukannya. dia berjalan perlahan menikmati waktu fajar itu , sebentar lagi matahari akan terbit.

__ADS_1


kicauan burung dan harumnya semerbak bunga yang tertanam di tanah itu membuatnya merasa tenang.


sementara itu


di dalam kamar milik pasangan yang baru saja bermalam pertama itu masih berantakan karena kelakukan mereka , kalista terbangun lebih dahulu antara masih setengah sadar dia tersenyum mengulet dengan pelan.


" haaa "


saat dia menoleh ke samping dia mengernyitkan dahinya mengingat kejadian semalam , setelah mengingatnya dia merasa malu tapi juga bahagia.


" cih apa artinya kami sekarang ... sudah menjadi pasangan asli " gumamnya sambil tersipu.


" ahh " begitu pun dengan micheal yang mengeliat , mendengar itu segera dia menutup matanya kembali berpura - pura tertidur.


micheal mengusap wajahnya , namun saat tersadar dia sudah ada di sebelah nya kalista. wajah kalista yang polos tanpa baluran make up dan langsung terpancar dengan matahari itu sangatlah cantik.


" bajuku " pikir micheal.


dia meraba tubuhnya tidak memakai baju begitupun dengan kalista, dia melotokan matanya melihat baju yang terceceran dan pakaian dalam milik kalista.


" itu artinya , semalam adalah kenyatan " gumamnya.


" apa dia akan marah " sambungnya dengan wajah takut.


" hei micheal , kau bodoh sekali bagaimana jika dia mengamuk. aahhh ini memang salahku bagaaimana jika dia marah dan memintanya kembali " ucapnya dengan gusar.


" hei , kau pikir aku juga bodoh " saut kalista.


mendengar itu micheal manatapnya dengan wajah lucu dan takut " dasar , hei kita melakukannya dengan sadar tidak mabuk. dan ... aku juga tidak akan " diakhir kata ucapannya melembut.


" benarkah ? ( bersemangat mengatakannya ) tetapi ... kau tidak mencintaiku bagaimana bi.."


" aku mencintaimu " ucap kalista dengan spontan.


" benar , Leonardo Micheal hari ini aku umumkan bahwa kalista Xavier menyatakan dengan resmi kalau mulai hari ini aku mencintai mu , diterima atau tidak kau harus menerimaku " ucapnya seperti membaca proklamasi.


" Kalista , kau sungguh - sungguh "


" ya ! " kalista mengangukkan kepalanya.


" seharusnya pria yang lebih dahulu mengatakannya , kenapa malah kau " ujar micheal.


" tidak bagiku. aku akan menyatakan perasaanku jika suka , dan dengar ... aku akan menciummu di hadapan orang banyak nanti "


micheal membelalakkan matanya, diketahui memang sifat kalista agatha terus terang dan tidak suka membohongi perasaannya suka atau tidak dia lebih menyukai dengan sifat keterbukaan.


***


fanny berada di antara sungai dan jembatan , jembatan gantung yang indah itu derasnya air sungai yang mengalir dibawah dengan pinggiran bebatuan yang besar.


dia sangat berani mendatangi tempat itu sendiri karena baginya tempat ini sangatlah indah.


" bisa bicara sebentar ?" tanya brian yang langsung memegang tangan fanny.


" katakan saja " tapi dia melepaskan tangan brian dari tangannya.


" aku ... ( menghela nafas ) apakah rasa cintamu masih ada untukku ?" tanya brian yang nekat itu.


mendengar itu fanny hanya bisa menatap nya dengan biasa


Kau bertanya begini , mempertanyakan perasaanku membuatku tak bereaksi apapun seperti dulu.


" Aku baru tau bagaimana rasanya melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain adalah sesuatu hal yang menyakitkan untuk kita. kau pasti mengalami hal yang berat karena ku dulu. apakah aku sudah tidak ada peluang lagi ?"

__ADS_1


__ADS_2