
dengan malu - malu fanny melangkahkan kakinya keluar , kaki jenjang mulus itu terlihat , dia hanya mengenakan kemeja putih yang kebesaran.
devan meneguk salivanya , bagaimana bisa tiffanny melakukan ini sekarang padahal mereka dia tidak menyentuh tiffanny. melihat bagaimana reaksi devan fanny juga tau hasrat devan membara tapi dia berusaha untuk tenang dan bersikap biasa saja.
tanpa berkata apapun lagi, dia menyingkirkan semua bunga yang ada di kasur nya. untuk menghilangkan rasa panas yang menjalar ditubuhnya devan segera masuk kedalam kamar mandi tanpa satu katapun.
ting
suara bel berbunyi , dia berhenti melakukan aktivitasnya itu. dan akan membuka pintu. dia membuka pintunya hanya sedikit saja karena dia hanya memakai kemeja dan juga celana pendek yang hampir tak terlihat.
" Maaf bu , ini makanannya. saya harus taruh dimana ?" seorang wanita berpakain Hitam dan putih membawa makanan untuk fanny.
" Eh .. taruh saja disana , aku akan membawanya masuk nanti. hmm Aku bisa minta tolong ?" tanya fanny.
" iya bu "
" Belikan baju apapun untukku , dan ... antarkan besok pagi. kalau bisa pagi sekali. "
" Ha ? "
" Bilang saja pada Sania , aku akan menggantinya nanti "
" Ba - baiklah bu " segera dia pergi karena tau fanny mungkin tidak ingin dia lihat. lalu fanny mengambil Makanan itu dan dia taruh di meja kecil.
ceklek
ternyata devan habis mandi, dia hanya memakai celana panjangnya tadi tanpa menggunakan pakaian.
fanny berdiri membelakanginya, kakinya yang putih mulus itu terekspos sehingga dia hanya bisa menahannya saja.
" Makanlah ... Aku sudah memesannya untuk kita " kata fanny.
" hmm "
" Sayang , apa kau akan tidur dengan baju itu ?" tanya devan. yang kemudian dia duduk di kursi.
" ha ? sebenarnya ... itu , Tidak ada baju yang tertutup selain ini. Jadi aku pakai ini saja "
" ya , aku sudah melihatnya tadi. hanya ada baju jaring disana ".
fanny pun duduk disebelah devan , namun dia agak menggeser supaya tidak terlalu dekat dengan devan. dia mengambil sumpit dan memakan sushi nya.
***
keesokan paginya , Fanny membuka matanya terlebih dahulu. tidak menyangkan tangan devan melingkar di perutnya sehingga membuatnya menatap devan.
wajah devan yang terlihat putih bersih , hidung yang mancung itu terlihat sangat tampan. Fanny menatapnya tak berkedip.
tok...tok...tok
ketukan pintu itu membuat lamunannya menjadi buyar , dia memindahkan tangan devan dari perutnya lalu segera membuka pintu.
__ADS_1
" Ini bu " karyawan semalam mengantarkannnya paper bag berisi baju.
" Terima kasih " ucap fanny , karyawan itu mengangukkan kepalanya dan dia segera menutup pintunya.
tak lama kemudian dia sudah memakai baju dress nya berwarna hijau tua selutut. hari ini dia akan langsung pulang kerumah. karena besok dia harus bekerja seperti biasanya , ada begitu banyak persiapan untuk rapat.
" engghhh " devan mengeliat dari tidurnya , melihat fanny yang sudah siap dengan pakaiannya membuatnya bertanya - tanya.
" Mau kemana ?" tanyanya khas suara habis bangun tidur.
" besok harus bekerja , aku belum melihat Laporan hotel jadi aku harus pulang " fanny terus membereskan pakaiannya semalam ke dalam paper bag bekas bajunya tadi.
" Baiklah ayo kita pulang. tapi hari ini tidak kerja bukan ?" tanyanya sambil bangun dari tidurnya.
" Nenek akan memarahiku jika aku bekerja hari ini "
" Bukan hanya nenek , aku juga akan marah " timpal devan.
...
kini fanny dan devan sudah ada di restoran hotel. semua orang memperhatikannya sebagai pasangan baru. keduanya bersikap biasa saja malahan devan senang akhirnya semua orang tau kalau dia sudah menjadi suami fanny.
fanny meminum teh hangat di hadapannya itu sedangkan devan meminum latte.
" Besok , Ibu dan ayah harus pulang ke jerman. mereka tidak bisa lama karena harus penelitian " ungkap devan.
" sayang kau juga ikut mengantar dibandara bukan ?" tanya devan.
" akan aku usahakan " ucap fanny pelan.
***
keduanya sudah sampai dirumah , semua orang menyambut mereka. Nenek memeluk fanny seakan fanny baru pulang dari medan perang.
" Apa malam kalian menyengkan ? " basa - basi nenek.
" ha ?" fanny mengernyitkan kepalanya.
" Ibu... Jangan membuat mereka malu " goda anja.
" apa masalahnya? kita juga dulu pernah muda kan. santai saja sayang , ini zaman modern apa kalian sangat romantis hmmm " Goda nenek.
" Tidak bisa nek ... Sepertinya Cucu nenek ini gagal " kata devan.
" Apa ? bagaimana bisa ? " tanya nenek yang penasaran.
" Nenek ..." kata fanny.
Anja dan hars hanya mampu tersenyum melihat tingkah nenek seperti ingin tahu itu.
" Istriku sedang tanggal merah nek , nenek tenang saja... tidak lama lagi juga ... Nenek akan menggendong cicit "
Fanny membulatkan matanya devan sangat frontal dan juga mengatakan cicit ? astaga dia saja tidak pernah berpikir sejauh itu.
__ADS_1
" Ya kau harus berusaha lebih keras , jika dia menolak ... paksa saja , dia memang suka dipaksa " Ucap nenek sambil tersenyum genit.
" sudah ibu , jangan mengganggu putriku. lihatlah wajah nya memerah karena malu " anja mendekati fanny dan merangkul lengan.
fanny melirik itu dimana tangan anja melingkari tangannya. dan beralih menatap wajah anja yang sangat manis itu.
" iya ibu ! devan tidak boleh menyakiti putri kami , nak . . jika dia memarahimu atau menyakitimu katakan pada ayah dan ibu , biar kami berdua yang menghukumnya " timpal hars.
hal itu membuat semua orang tertawa mendengarnya , akhirnya setelah sekian lama rumah itu dipenuhi gelak tawa penghuninya.
sedangkan fanny hanya mampu berdiam diri disana. dia tidak tau kehidupannya akan berubah drastis seperti sekarang , bahkan sekarang seseorang harus dia panggil ayah dan ibu.
***
di dalam kamar devan.
Tiffanny sedari tadi dia terus diam, dia duduk di atas balkon rumah seperti biasanya jika dia tidak melakukan apapun.
angin sepoi - sepoi membuat rambutnya berterbangan karena hari yang sejuk dan tak panas membuatnya betah disana.
dari belakang devan memperhatikannya , dia datang membawakan fanny buah - buahan yang sudah diiris dan dibersihkan. dia taruh di samping kursi fanny karena kursi itu panjang.
" Apa ada masalah ?"
Fanny melihatnya karena mendengarnya suara kemudian dia menggelengkan kepalanya.
" Kau bisa mengatakan apapun padaku sekarang. semuanya ... aku akan mendengarkanmu "
" .... "
" aaku seperti sedang bicara dengan patung " sambung devan.
" aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang mengganjal dihatiku kepada orang lain. "
" Orang lain ? Aku ini suamimu , bukan orang lain lagi. "
" Aku tau ... Tanpa kau beritahu pun aku ingat. devan ( Matanya sekarang menatap devan ) ... Kau ingin punya anak ?" tanyanya.
mendengar pertanyaan itu , devan memandanginya. " hmm ingin sekali , Aku ingin punya anak denganmu agar pernikahan kita lengkap " jawab devan lembut.
" Bagaimana jika aku ingin Menundanya ? apa kau akan akan mengizinkan aku ?"
" Ada apa ? apa kau tidak ingin punya anak dariku ?" Tanyanya yang masih bersikap biasa belum emosi.
" Tidak , bukan begitu maksudku. Semuanya sangat tiba - tiba untukku. Pernikahan dadakan , Dan juga status yang berubah. Aku tau ... Setiap menikah pasti akan ada kehidupan yang datang, Tapi aku saja tidak bisa mengurus diriku dengan baik ... bahkan setelah menikah pun aku masih tidak bisa melakukan pekerjaan rumah , Lalu bagaimana bisa aku mengurus orang lain "
" Tidak masalah bagiku jika kau tidak bisa melakukannya. Tapi aku ingin tetap punya anak tanpa menundanya. Ada aku yang akan mengurusnya , aku rela bekerja dirumah sakit dan juga dirumah untuk menggantikanmu. "
" sayang ... dengarkan aku. setiap orang pasti akan berubah seiring jalannya waktu. ketika kita didatangkan tanggung jawab terhadap suatu hal ... kita akan tau sendiri caranya melakukan sesuatu itu. "
Devan kemudian menyingkirkan piring buah itu lalu dia menarik bahu fanny merangkulnya. Fanny tidak berkata apapun dia hanya diam diperlakukan seperti itu.
tanpa disangka oleh mereka kedua orang tua devan hars dan anja memperhatikan keduanya, mereka tersenyum bahagia karena akhirnya mereka saling menerima satu sama lain.
__ADS_1