
tiffanny berdiri dengan senyuman yang tulus , sejujurnya dia terkejut karena didepan ruangannya devan tengah berdiri menunggunya datang.
matanya berkaca - kaca seakan baru pertama kali bertemu setelah sekian lama.
" kau datang " ucapnya.
devan tersenyum manis lalu menghampirinya , mereka sama - sama berjalan untuk mendekati diri masing - masing.
" kapan kau datang ?" tanyanya yang sudah berhenti berjalan itu.
" sudah dari tadi " jawab devan sambil mengelus kepala tiffanny. tiffanny memperhatikan tangan devan yang sedang mengelus rambutnya itu.
***
didalam ruangan itu mereka berdiri , tiffanny melepaskan blezernya kemudian dia menghampiri devan yang tengah berdiri di depan mejanya.
" kenapa kau datang kesini ? " tanyanya.
" apa suamimu tidak boleh datang hmm " dia membenarkan rambut tiffanny lalu membelakangi telinganya.
" tentu saja boleh. kapanpun kau mau hotel ini akan selalu terbuka lebar untukmu " jawabnya lembut sambil tersenyum manis.
" devan " panggilnya setelah cukup lama mereka saling memandang dalam diam.
" iya sayang "
" hari ini ... bisa temani aku bekerja ?" tanyanya , dia sudah tidak tahan untuk terus jauh dari devan.
" itu tujuan ku kemari, setelah aku berpikir semalaman kenapa ... istriku ini terlihat cuek dan raut mukanya sedih , dan aku pikir dengan aku menemaninya bekerja hari ini ... dia tidak akan cuek lagi pada suaminya "
tiffanny tersenyum lebar mendengarnya lalu dia memeluk devan langsung kini dia tidak malu lagi untuk melakukannya.
" aku merindukanmu " gumamnya , walau begitu kecil akan tetapi devan masih bisa mendengarnya. alangkah berbunga - bunganya hati nya saat ini.
" devan , kemarilah " tiffanny mennggeret devan kedekat kursinya , setelah disamping kursi devan dia duduk kan dikursinya.
" sayang apa ini ? " tanyanya yang tak mengerti.
" hari ini temani aku bekerja , kau yang duduk disana dan aku akan duduk dihadapanmu. dan ... kau terlihat sangat cocok saat sedang seperti ini , kau terlihat seperti seorang pemimpin yang berwibawa. " pujinya sambil membenarkan dasi devan.
" sayang jangan menggodaku! " peringat devan yang telah menggenggam kedua tangan tiffanny.
" aku membenarkan dasimu " jawabnya.
" iya tapi jika terus begini sesuatu akan bangun nanti "
tiffanny langsung melepaskan tangannya dari leher devan dan langsung duduk di hadapan devan.
devan hanya terkekeh melihat kelakuan tiffanny itu " hoam " dia menguap karena semalaman tidak tidur.
" devan kau mengantuk ? kalau mengantuk aku akan meminta seseorang untuk menyiapkan kamar untukmu. "
__ADS_1
" tidak sayang aku hanya menguap saja , sudah aku temani sekarang mana yang harus aku bantu ? " tanya devan yang mulai memegang kertas - kertas tumpukan itu.
" yang kau pegang itu kau lihat dan bandingkan dengan data yang ada di komputer apa sudah benar atau tidak , jika belum maka beri tanda "
" baiklah ibu pimpinan " ujarnya dengan suara yang lembut.
dan hari ini tiffanny merasa senang seharian bekerja ditemani devan , devan yang terlihat fokus mengerjakan tugas dari tiffanny. begitu pula dengan tiffanny yang sedang fokus menandatangani beberapa berkas yang harus dia tanda - tangani.
saat akan mengambil berkas lainnya tak sengaja dia menatap devan yang sangat fokus itu , lalu dia menaruh tangannya di dagu memperhatikan dengan intens devan seraya tersenyum manis dan mata yang memancarkan seseorang yang benar - benar sedang jatuh cinta.
" hidungnya mancung , bibir tipis yang berbentuk , alis yang tebal dan kulit yang putih " ucap batinnya.
" dia sangat tampan saat sedang fokus seperti ini. "
namun saat tiffanny tengah memperhatikannya , devan pun tak sengaja mengangkat kepalanya dia melihat betapa jatuh cintanya tiffanny sekarang pada dirinya.
" begini rasanya diperhatikan dan dicintai oleh seorang wanita yang aku juga mencintainya. aku sadar jatuh cinta sangatlah indah tapi ketika , cinta itu juga terbalas dan bukan hanya sekedar cinta yang bertepuk sebelah tangan. " batin devan.
ceklek
dari depan rian membuka pintu namun baru sedikit dia buka, dia melihat kedua insan itu sedang saling memandang untuk sesaat dia memperhatikan keduanya.
lalu tak lama dia pun menutup kembali pintu itu , dia tetap berdiri di depan pintu ruangan tiffanny.
" Pak Rian apa ada sesuatu ?" tanya Ressa.
" oh itu , hmm tolong berikan ini kepada bu tiffanny satu jam lagi " ujar rian yang lebih memilih menitipkan berkas itu ke ressa sang resepsionis.
" baik pak " jawab ressa yang menerimanya dengan sopan.
drrtt...drrttt
ponsel devan yang ada di meja itu bergetar , tiffanny memegangnya
" Dr. prisia " gumamnya pelan.
ada rasa ingin mengangkat telpon itu tapi dia takut akan dianggap tidak sopan dan juga ingin tahu urusan nya.
akhirnya dia taruh kembali ponsel devan di meja , dia membereskan mejanya dan mengumpulkan semua berkas menjadi satu.
tak lama devan menggeliat dari tidurnya , dilihatnya blezer tiffanny ada di punggungnya dia menariknya dan mengelusnya.
" kau sudah bangun ? tadi ada telpon tapi aku tidak mengangkatnya aku ingin membangkukanmu tapi kau terlihat sangat lelah "
" seharusnya angkat saja aku tidak masalah , siapa yang menelpon " ucapnya sambil mengambil ponselnya. lalu kebetulan ponselnya kembali bergetar.
tiffanny hanya melihatnya tanpa bergeming, dalam hatinya dia cemburu karena sebelumnya devan tak pernah membicarakan teman perempuan atau pun rekan kerja perempuan kepadanya.
" baiklah aku akan datang " jawab devan di telpon itu.
" .... "
" iya sama - sama " lalu dia menutup telponnya.
melihat tiffanny yang berdiri itu dia membawa blezer itu dan memasangkannya kembali.
__ADS_1
" kau ... mau bekerja lagi ?" tanya tiffanny.
" iya sayang , tadi itu dokter prisia. dia juga dokter bedah aku tidak ada hubungan apapun dengannya bahkan aku tidak pernah berbicara kepadany selain tentang pekerjaan. "
" aku tidak bertanya siapa dia dan apa hubungan kalian " jawab tiffanny.
" tapi raut wajahmu menunjukkan hal lainnya , kau cemburu sayang ?" goda devan.
" sudahlah , apa sekarang kau akan bekerja lagi ?"
" iya sayang aku... "
" apa kau tidak bisa untuk tidak datang sehari saja ? aku ingin bersamamu malam ini. sudah beberapa hari aku terus menunggumu dan aku merasa kesepian dirumah " ucapnya dengan nanar dan mata yang berkaca - kaca.
devan mengangkat dagu tiffanny dan menatapnya lekat.
" maaf sayang aku sadar beberapa hari ini aku terus bekerja dan membuatmu kesepian sendirian dirumah. ini semua karena seorang dokter sedang cuti jadi aku harus berbagi waktu dengan yang lainnya. "
" apa tidak ada dokter lainnya ? haruskah dirimu setiap malam ? waktu itu ... kau marah padaku karena aku tidak pernah peduli padamu dan hanya terus bekerja saja. dan aku sadar aku sudah terlalu melalaikanmu aku bisa meninggalkan pekerjaanku dan membagi waktu denganmu , apa kau tidak bisa ?" tanyanya lirih.
" kita tidak sama sayang , aku juga ingin setiap malam bersamamu dan menemanimu tidur. aku hanya seorang karyawan yang harus patuh pada peraturan " jelasnya dengan selembut mungkin.
" aku berjanji hanya malam ini dan besoknya tidak akan lagi " sambung devan meyakinkan tiffanny.
" terserah kau saja " jawab tiffanny acuh dia memilih memandang kearah lain.
" sayang kau marah ? " goda devan.
" jangan menggodaku aku memang sedang marah sekarang! "
" tunggu dan lihat saja aku akan membeli rumah sakit itu dan membuatmu tidak bekerja dimalam hari lagi " katanya lagi dengan cepat dan agak keras.
" benarkah ? lalu aku hanya duduk diam saja dirumah " timpal devan.
" jika kau mau menjadi pengangguran aku juga tidak mau menikah denganmu "
" apa ? sayang jadi kau mau menikah denganku karena aku seorang dokter ?" goda devan lagi.
" benar ! untuk apa aku menikahi pengangguran hartaku akan habis karenanya. "
devan tertawa mendengarnya , tiffanny pun hanya tersenyum kecil padahal sesungguhnya dia masih marah.
sebelum mereka pergi ke rumah sakit , keduanya sedang mampir kesebuah cafetaria untuk makan malam.
karena keadaan malam itu sangat ramai membuat tiffanny merasa tak bisa bebas , dia hanya diam memakan makanannya saja.
sifatnya yang tak suka keramaian dan berkumpul membuat dirinya agak sudah bersosialisasi. banyak orang yang memperhatikannya dan dia hanya menunduk saja.
" sayang ayo kita langsung pergi setelah selesai makaan " ajak devan yang mengerti perasaan tiffanny.
" hmm "
devan langsung membayar makanan mereka di kasir dan tiffanny masih duduk dikursinya menungu devan selesai.
dilihatnya devan yang sedang membayar dia meninggalkan kursi itu dan menunggu devan di pintu utama.
__ADS_1
" ayo sayang " ajak devan.