
" apa aku membuat kesalahan ?"
devan hanya diam tak menjawabnya, dia berlalu masuk kedalam kamar mandi. fanny menghembuskan nafas kasarnya entah kenapa dia merasa serba salah sekarang.
dia tidak mau bertengkar jadi dia merebahkan kepalanya membelakangi tempat tidur devan. dia berusaha memejamkan matanya.
tak lama devan sudah mandi dan sedang memakai kaosnya memandang tiffanny dengan kesal.
" Kau tidak ingin menjelaskannya kepadaku ? apa aku harus bertanya lebih dahulu baru kau jawab ?" tanyanya sambil memakai baju.
" kau sudah melihatku membuka mata , aku ingin tidur " jawabnya dalam posisi yang sama.
" Kau terlihat sangat khawatir padanya , mengobati lukanya dan menatapnya seolah - olah dia masih kekasihmu. "
fanny mengernyitkan dahinya lalu kembali bangun dari tidurnya. " Bagaimana kau bisa tau ?" hardiknya.
" Aku melihatnya "
devan kembali mengingat bagaimana keduanya bersama tadi, dia melihat fanny saat memarkirkan mobilnya menuju pulang. dia ingin membeli sesuatu untuk fanny namun diurungkannya dia berdiri menatap keduanya dengan rasa kecewa.
" aku hanya membantunya, seseorang memukulnya tanpa rasa kasihan. "
" Apa selain dirimu didunia ini tidak ada orang lain ? dia punya istri , punya adik dan punya orang lain " devan menatap fanny kecewa.
" Aku ingin marah padamu, tapi aku sangat lelah sekarang. "
" Maukah kau mendengarkan semuanya ? sebelumnya , aku tidak pernah mengatakan apapun kepada orang lain. aku percaya , kau bisa menyimpannya "
devan hanya diam tak menjawabnya dia masih berdiri menatap kecewa fanny.
" kau akan mendengarkanku sambil berdiri ? "akhirnya devan pun luluh dan duduk di depan fanny, tanpa menatapnya seolah - olah wajah devan adalah pusat penglihatannya saat ini.
" beberapa hari yang lalu ... "
dia menjelaskan semuanya dengan teliti dan detail, dari pertemuannya dengan indra sampai dia melihat bagaimana perlakuan samuel pada brian.
" kau masih marah padakau ?"
setelah tau kebenarannya, devan sedikit meluluh namun dia juga terkejut mendengar semua penjelasan fanny. orang yang dihormati di wilayah ini malah orang yang paling keji.
" Baiklah , aku tau kau masih marah. aku mengerti " ujar fanny lagi.
" Tetap saja , aku tidak suka melihatnya. hatiku terbakar cemburu. tatapannya padamu bukanlah tatapan biasa dia memang tidak bisa melupakanmu "
devan terlihat masih kesal padanya , fanny tidak tau bagaimana cara membujuk seseorang.
( terserahlah , bagaimana lagi aku mengatakannya. dia memang selalu begitu ) pikir fanny.
diapun berlalu membuka selimut nya , devan hanya memandangnya yang keluar dari kamar entah kemana.
drtt....drrtt
" Brian Message "
" fan , terima kasih ya. ibuku bilang lukanya sudah membaik dengan cepat. aku pulang kerumah tapi aku bilang ini hanya terjatuh. aku baru ingat kapan kita bertemu dan mengatakan yang kau katakan tadi. "
fanny datang membawa gelas berisi air putih, saat itu devan sedang memagang ponselnya. matanya kembali memerah dan marah " a-ada apa ?" tanya fanny hati - hati.
" aku memang harus menghukummu " ujar devan, dia segera merebut gelas itu dan menaruhnya di meja. lalu kembali dia mencium fanny dengan ganas.
karena devan sangat kuat fanny memukul dada devan karena sesak, devan memindahkannya kekasur terus menciuminya.
__ADS_1
malam itu devan menyalurkan kemarahannya lewat hasratnya. sampai fanny kewalahan menanggapinya. devan tak berhenti melakukan apapun yang dia suka pada tubuh fanny , tadinya dia sudah meredakan amarahnya. namun sms itu membuatnya semakin marah.
pagi harinya.
sinar matahari menyeruak masuk kedalam kamar itu , keduanya terkena sinar itu membuat wajah mereka semakin bercahaya.
fanny mengerjapkan matanya perlahan , dia merasa tidak nyaman dan sesuatu yang berat menimpa perutnya.
" ahhh " dia mengingat semalam permainan devan sangat ganas. bahkan sekarang untuk bergerak saja rasanya sangat sulit.
dia kembali memejamkan matanya, dia sangat kehilangan energi sekarang. dari belakang devan mengeliat masih memeluknya.
" hmm sayang " devan mencium rambut fanny yang harum menurutnya.
dia lihat dari samping fanny sudah bangun namun tidak bergerak sama sekali.
" ada apa sayang, kau tidak mau bangun ?" tanyanya.
( dia benar - benar cabul. wajahnya yang tampan tidak menjamin sifatnya ) gerutu fanny.
" ups , masih didalam " bisik devan.
" devan hentikan, dan pergilah " usir fanny yang meringis itu.
" sakit ya , maaf ... aku benar - benar lupa diri. aku sangat merindukanmu 4 hari aku tidak bertemu denganmu setelah pulang kau membuatku marah. tanpa pikir panjang aku menghukummu dengan begitu " ucapnya dengan penuh sesal.
" ck sudahlah menjauhlah dariku, aku ingin istirahat. "
" baiklah, setelah itu aku akan membawa sarapan kekamar. " katanya sambil mencium fanny.
dia tak menggubrisnya hanya memejamkan matanya karena masih mengantuk.
***
ada rasa sesal dihati devan saat melihat wajahnya. namun kemarahaan selalu menguasainya lebih dari yang dia bayangkan saat menyangkut fanny dan brian.
" jika masih sakit tidak usah ke hotel, aku khawatir " ujar devan yang menuruni anak tangga bersama fanny, tapi fanny berjalan lebih dahulu.
tok ... tok...tok
" siapa pagi - pagi begini " ujar devan.
fanny tak menjawabnya hanya saja dia langsung bergegas membukakan pintu.
" Kak " orang itu adalah raka dia sangat tampan dengan jas hitamnya.
fanny tersenyum melihatnya, devan penasaran kenapa adiknya brian datang ke sini.
" masuklah, apa kau sudah sarapan ?" tanya fanny.
" hmm belum "
" kalau begitu ayo sarapan bersama kami " ajak fanny.
raka pun masuk kedalam rumah itu, dibawah tangga itu devan berdiri menatapnya tajam.dia hanya tersenyum kepadanya.
" maafkan aku, kakak meminta ku datang kesini " jelasnya.
" sayang ada apa memangnya ?" tanya devan menatap fanny.
" raka dan aku akan pergi membeli beberapa barang untuk hotel. karena dia bagian dari purchasing jadi dia bertanggung jawan dibidang itu. "
" Baiklah " devan memgangukkan kepalanya , fanny segera membawa raka ke meja makan. namun saat melihat cara berjalan fanny yang tidak seperti biasanya dia penasaran.
__ADS_1
" kak fanny sakit ?" tanyanya.
" ha ?" fanny menoleh kearahnya.
" kaki kakak sakit , kakak berjalan seperti tidak biasanya " ujarnya.
devan dan fanny terkikuk mendengarnya, fanny memperhatikan kakinya bingung apa yang harus dia jawab sedangkan devan dia hanya duduk dimeja makan dengan salah tingkah.
" hmm itu , eh ... jangan khawatir semalam hanya terpeleset di kamar mandi jadi agak sedikit memar kaki kakak. ya .. terjatuh " jelasnya dengan terbata - bata.
" oh begitu, kakak harus hati - hati "
" ya , akan kakak ingat. ayo duduklah "
raka pun duduk di bangku kosong hadapan devan, sedangkan fanny duduk disebelah devan.
" ambil saja yang kau suka , ini masakan nya " jelas fanny.
raka tersenyum mendengarnya " kau mengejek istriku ya " tuduh devan.
" ha ? tidak " jawab raka seraya menggelengkan kepalanya.
" lalu kenapa kau tersenyum begitu "
" aku hanya ... "
" hei , sudahlah. semua orang tau aku tidak bisa melakukan apapun kecuali bekerja " lerai fanny.
" tidak. bukan hanya bekerja , kakak juga bisa Figure skating , melukis iya kan "
devan melirik ke wajah fanny kenapa pria ini malah lebih tau banyak tentang istringa dibandingkan dia.
" ehhh ... itu dulu, sekarang tidak. sudah kita harus segera pergi setelah ini "
***
" cup " devan mengecup kening fanny sebelum pergi. lalu dia menatap raka.
" tolong jaga istriku, jika ada apa - apa aku akan menuntutmu "
" hmm oke " jawabnya kaku.
" aku pergi ya , hati - hati menyetirnya " ujar devan lembut kepada fanny. sedangkan orang yang dituju hanya mengangukkan kepalanya.
devan melesat pergi menggunakan mobil hitamnya, mobil BMW yang biasa dia pakai sedang diservis jadi dia memakai warna hitam.
raka dan fanny sudah masuk kedalam mobil, hari ini raka yang menyetir. fanny sibuk membaca majalah bisnis di samping itu.
" sepertinya suami kakak memang benar - benar mencintai kakak " ucap raka sambil tersenyum.
" benarkah ?"tannya fanny sambil terus membaca.
" ya, buktinya dia sangat takut terjadi sesuatu kepada kakak. lihatlah matanya juga dia mencintai sangat mencintai kakak " sambungnya
mendengar itu fanny pun berpikir " orang lain bisa melihatnya kalau dia sangat mencintaiku. sedangkan aku "
" Raka kau pernah berpacaran ?" tanya fanny.
" belum pernah kenapa memang kak ?"
" hmm tidak " dia lagi - lagi fokus membaca.
" jangan takut untuk menyatakan cinta, toh dia juga suami kakak. kakak juga berhak bahagia. aku tau kakak tidak pernah mengatakan isi hati kakak kepada orang lain tapi aku bisa tau dari cara kakak memandangnya. sebenarnya kakak sudah jatuh cinta padanya, coba kakak resapi dan dalami lagi tanyakan pada hati kakak sendiri. "
__ADS_1