
drrtt....drrtttt
ponsel devan bergetar , dia yang sedang menyetir menghubungkannya ke mobil
" aku melihat cctv rumah ternyata dia baru pulang "
📱 " benarkah ? baguslah. apa kamu harus kesana ?"
" aku rasa tidak perlu, aku akan menanganinya sendiri. terima kasih untuk bantuannya sampaikan juga pada kalista "
📱 " hmm aku disini , jaga dia baik - baik atau dia akan melakukan sesuatu nanti " balas kalista
" oke , aku tutup "
dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli betapa besarnya risiko yang harus dia tanggung.
hanya dalam waktu 5 menit dia sudah sampai dirumah tergesa - gesa langkahnya memasuki rumah , dilantai bawah terlihat sepi dia memutuskan untuk kekamar.
Ceklek
langkah kakinya terhenti saat dia buka pintu dan fanny sedang tertidur menghadap ke jendela, dia lega karena baik - baik saja akan tetapi dia belum puas jika tidak dia pastikan sendiri.
" sayang ?" dia naik ke atas ranjang dan menyantuh bahu fanny.
sebenarnya tiffanny masih bangun dia hanya berpura - pura tidur.
" sayang apa sudah tidur ?" tanyanya lembut.
tangannys terus mengelus tubuh tiffanny sampai dia menyentuh tangan kanan tiffanny , saat akan dia cium pergelangan tangan tiffanny terlihat sangat merah dan ada bekas celakan tangan seseorang.
" sayang , sayang bangun ! sayang " perkataannya agak meninggi karena khawatir tapi tiffanny tetap berpura - pura tidur.
" aku tau kau tidak sedang tidur jadi bangunlah sebelum aku marah "
" Tiffanny wang " ucapnya lagi karena tiffanny tidak mau mendengarkannya.
" baiklah kalau tidak mau , aku tidak akan bicara kepadamu "
mendengat itu tiffanny tersentak dia tidak mau seperti itu , dia membuka matanya , devan segera membantunya duduk tapi tiffanny tetap menundukkan wajahnya.
" apa yang sebenarnya terjadi hmm , tanganmu ... siapa yang berani melakukannya. sayang ... kenapa terus menunduk saat aku bicara tatap mataku "
devan sudah tidak tahan sampai akhirnya dia mengangkat wajah tiffanny dan betapa terkejutnya lagi dia melihat luka di bibir tiffanny.
" ada apa ini ? kenapa bibirmu terluka ? sayang ! " bentaknya.
fanny menutup matanya dia tidak sanggup membalas pertanyaan devan.
" katakan " ucapnya lembut dia tau tiffanny tidak akan bicara jika dia berkata kuat.
" hanya luka biasa " jawab tiffanny sendu.
" jangan berbohong lagi. samuel ? samuel yang melakukannya bukan ?" dia menatap tiffanny tajam.
" benar , dia yang melakukannya. " sambungnya lagi.
tiffanny menahan air matanya dia tidak ingin menangis dihadapan devan sekarang.
" Tidak boleh seseorangpun menyakiti dirimu. tunggulah disini dan aku akan memberinya pelajaran !" devan sudah berdiri dengan raut muka merah tak tertahan karena marah.
__ADS_1
sebelum devan pergi melangkahkan kakinya tiffanny lebih dahulu mencekal tangan devan , dia menahannya agar devan tak pergi.
" jangan pergi " lirihnya dengan penuh harapan menatap devan.
****
tangan devan dengan lembut dan lihainya mengobati luka memar di samping bibir tiffanny, sedangkan orang yang diobati hanya diam tak bergeming seakan rasa sakitnya sudah tidak ada.
" jangan ulangi lagi hmm jika ada dia maka pergi saja. "
" hmm "
Samuel , kau yang membangunkan singa yang tertidur dalam diriku. kau menyakiti wanitaku.
" shhh " fanny baru meringis saat sedikit menekan memar itu.
" maaf aku tidak sengaja menekannya, apa sangat sakit ? bagaimana jika kita kerumah sakit ha ?"
" tidak usaha ( seraya menggelengkan kepalaya ) kau juga seorang dokter , aku akan mengeluarkan biaya yang lebih banyak nanti. " katanya pelan
" diamlah jangan bercanda itu tidak lucu " jawab devan dengan agak cemberut, fanny tersenyum mendengar dia menghalangi tangan devan saat kembali melanjutkannya.
" mari kita tidur , aku sangat lelah sekali " dia mencekal dan menatapnya lirih.
" ck jangan menatapku seperti itu atau aku tidak tahan nanti. sebentar lagi selesai baru bisa tidur " devan melepaskan cekalan tiffanny , lalu tiffanny hanya diam membiarkan devan mengobati lukanya.
15 menit kemudian tidak terasa devan sudah menyelesaikan nya , tiffanny berbaring di ranjang menunggu devan yang masih dibawah.
ceklek
dia menoleh saat devan masuk , devan mengunci kamarnya lalu dia juga naik ke ranjang. baru saja dia naik tiffanny langsung memeluknya.
devan menatap nya seakan tak percaya " apa ... a-aku tidak boleh ?"
deg...deg...deg
" suara jantungmu sangat keras " gumam fanny.
" aku ... ya , dia berdetak untukmu. baru kali ini seorang wanita memelukku terlebih dahulu saat sedang tidur jadi aku .. "
" kau tegang ?" tanya tiffanny
" ck , aku tidak tegang ... hanya saja , bahagia. akhirnya kau menerimaku seutuhnya. " dia mengusap lembut rambut tiffanny yang lurus itu.
" ini baru permulaan , devan ... aku akan memberikan sesuatu yang lebih besar untukmu nanti , jika aku sempat ... aku sendirilah yang akan mengatakannya , tapi jika tidak bisa ... aku akan tetap berusaha untuk mengatakannya. "
" apa maksudmu ? jangan bicara melantur atau kuhukum. "
namun tidak ada suara lagi dari tiffanny, dia sudah tertidur nyenyak. devan tersenyum semakin mempererat pelukannya.
Kau akan mengatakan cinta kepadaku, sayang. aku akan menunggunya. tidak lama lagi , cinta kita akan penuh seututuhnya.
***
kedua insan itu masih tertidur dalam posisi yang sama , saat devan bergerak dia merasakan hangat pada tangannya. dia terbangun saat merasakan itu tangannya yang berada di tangan tifanny terasa sangat panas.
dia terbangun lalu memindahkan tifffanny tidur ke bantal nya , dia menyentuh dahi tiffanny untuk memeriksanya. dia segera turun dari ranjang lalu membuka nakas hingga dia menemukan termometer.
dia masukkan termo itu kedalam mulut tiffanny , saat dirasa cukup dia terkejut melihat panasnya " 38 " gumamnya.
__ADS_1
fanny mengeliat dalam tidurnya , saat membuka mata devan sudah menatapnya membuat nya terkejut " selamat pagi " ucapnya dengan suara serak.
" sayang jangan banyak bergerak kau demam "
" benarkah ? ah ... kepalaku memang agak pusing " dia menyentuh kepalanya mendesis sakit.
" tidurlah jangan bergerak , aku buatkan bubur ya ... "
" hmm "
cup
dia memberikan kecupan di kening tiffanny sebelum keluar dari kamar " jangan berdiri " ingatnya.
" iya devan "
devan pun keluar dari kamar itu , tiffanny menutup matanya lagi dia demam sekarang tentu saja dia tidak akan diperbolehkan oleh devan untuk bekerja. padahal hari ini dia akan keluar kota rencananya bersama rian.
drtt ..drrrt
" **Rian Message "
📱** " fan , mau langsung kejemput dirumah ? "
dia membaca pesan itu langsung , karena ponselnya ada disebelahnya.
^^^📱 " maafkan aku rian , aku sedang demam tidak mungkin devan mengizinkan aku. apa kau bisa melakukannya sendirian ?"^^^
📱 " bagaimana keadaan mu ? apa kau baik - baik saja ? bagaimana jika aku batalkan aku akan menengokmu sekarang ?"
dari caranya membalas terlihat rian sangat mengkhawatirkannya.
^^^📱 " jangan rian , bukannya kau ingin menghadiri seminar itu jadilah pemateri yang handal bukannya kau ingin menjadi panutan bisnis generasi muda. kau bisa melihatku setelah kembali nanti. "^^^
📱" baiklah aku akan pergi tapi jaga diri baik - baik. katakan saja jika kau ingin sesuatu dari Padang "
^^^📱 " ya hati - hati. lihatlah nanti "^^^
ceklek devan membuka pintu kamar dia membawa nampan berisi mangkuk bubur dan segelas air. melihat itu tiffanny menaruh kembali ponselnya.
" ini , sayang selagi panas ayo dimakan aku suapi ya "
" ini sudah pukul 7 kau akan terlambat nanti "
sambil makan suapan devan dia memperhatikan devan " sebentar lagi tidak masalah , aku titipkan dengan dion untuk pasien pertamaku. jangan bekerja hari ini beristirahatlah beberapa hari "
" tidak bisa begitu , aku bisa libur hari ini tapi besok harus kembali. kau tau hotel baruku sudah rampung di norwegia , para karyawan sangat antusias mereka memintaku untuk segera merencanakan pengesahan. "
" aaaa ( menyuruh tiffanny membuka mulutnya ) aku bangga sekali memiliki istri berbakat , pintar dan cerdas sepertimu. lakukan semua yang kau inginkan tapi kau juga harus ingat ada aku dan juga batasan untuk dirimu , jaga kesehatanmu dan jangan terlalu memaksakan diri " jelasnya lembut dengan perhatian.
tiffanny mengangukkan kepalanya " kau tau kan bahkan saat pertama kali berjumpa kau selalu marah tidak jelas kepadaku , aku selalu pulang malam dan berangkat di waktu fajar. sebenarnya aku akan menyelesaikan pekerjaan di pukul 8 setelah itu aku hanya duduk diruanganku tanpa melakukan apapun sampai aku merasa bosan lalu pulang "
" lalu keesokan harinya sebelum orang bangun aku sudah siap untuk kembali bekerja , walau nenek suka memarahiku aku terus melanggarnya. dan aku sangat menyesal membuang seluruh waktu ku dengan sia - sia seharunya aku dirumah tepat waktu dan menemaninya saja. "
" jika dipikir - pikir kami juga sama , sama - sama kesepian "
devan menaruh mangkuk itu di nakas lalu mengelus lembut tangan tiffanny.
" tidak akan ada manusia tanpa penyesalan, entah dalam kondisi apapun manusia selalu memiliki penyesalan. akan tetapi jangan terlalu dipikirkan , perbaiki saja ... lambat laun semuanya akan baik - baik saja . "
__ADS_1
" hmm baiklah , aku akan memperbaikinya "
kedua nya sama - sama tersenyum dan saling memeluk satu sama lain.