Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Gembok Keabadian


__ADS_3

pagi hari di swiss itu lalu lalang kendaraan melintasi depan hotel , para pesepeda dan para pejalan kaki. cuaca yang terang dan cerah matahari pun tampak bersahabat dan tak terlalu panas.


kedua insan itu masih tertidur lelap di bawah selimut putih yang lembut. sesekali tiffanny mengulet namun tetap tidak bangun juga. alhasil pergerakannya itu membuat devan terbangun.


padahal orang yang pertama tidur adalah tiffanny tapi yang bangun paling akhir dia juga orangnya.


bagi devan melihat pemandangan di pagi hari dimana istrinya masih tertidur lelap dengan muka polos tanpa make up itu adalah surganya.


baginya juga dalam keadaan apapun dia terlihat sangat cantik. tidak pernah bosan apalagi ingin memandang yang lainnya.


mata itu hanya akan digunakan untuk memandang istrinya saja sesuai janji pernikahannya.


" hmm " fanny mengulet dalam tidur lalu mengucek kedua matanya , saat itu devan terus memandangnya dengan tatapan sinis namun terlihat penuh cinta.


" hei kenapa kau memandangku seperti itu " gumam tiffanny dengan suara serak seraya tersenyum malu - malu lalu bersembunyi kembali di balik selimut itu.


rasanya tidak tahan melihat nya devan ikut masuk kedalam selimut hingga selimut itu saling membujuk kesana - kemari sepertinya kedua insan itu sedang saling menggelitik atau ya , hanya mereka berdua yang tau.


***


didalam kamar mandi itu mereka berendam air hangat bersama, betapa nyamannya bagi mereka berdua saat itu apalagi kini tiffanny berada di pelukan dada bidang yang polos tanpa busana itu.


" sayang "


" hmm "


" sayang apa yang kau rasakan sekarang ?"


" hangat "


" apanya ?"


" airnya "


" maksudku bukan itu , maksudnya perasaanmu "


fanny mendongakkan kepalanya memadang devan lalu kembali memainkan air di bathup itu.


" aku akan senang jika kau ikut denganku kesuatu tempat hari ini " jawab fanny.


" kemanapun kau mengajakku dan yang kau mau sayang, aku tidak akan menolaknya "


***


Bandung , Indonesia


Rian tengah mengurus pekerjaannya dan pekerjaan tiffanny yang dititipkan kepadanya. dia menggunakan ruangannya sendiri dan tumpukan berkas itu sangatlah mencolok sekali.


bukti bahwa dia harus bekerja dengan giat lagi, tapi dia tidak pernah mempermasalahkannya.


dilihatnya jam yang sudah pukul 7 malam tak terasa dia sudah menghabiskan seharian waktunya di hotel.


akhirnya dia memutuskan untuk menyudahi pekerjaan itu dan berniat untuk kembali ke apartemennya.


saat di lobi hotel sepertinya seseorang menunggunya tak lain adalah brian , dia terlihat berdiri menatapnya yang baru saja keluar dari lift.


disebuah cafe dan bar itu mereka duduk dan minum bersama, beberapa makanan sudah mereka habiskan.


" kau membutuhkan sesuatu ?" tanya Rian.


brian menggelengkan kepalanya " aku hanya kesepian "


" itu masalahmu ? baiklah. aku rasa kita sama , aku juga merasakan hal itu setiap hari. "


" Menurutmu apa aku tidak bisa dimaafkan ?"

__ADS_1


" ah ( rian menyesap minumannya yang terasa hangat itu ) dimaafkan untuk siapa ? tiffanny ? jika ditujukan untuknya sebaiknya kau mundur. dia sudah mencintai dokter devan "


" untuknya dan untukmu juga , apa kita tidak bisa berteman seperti dulu ?"


rian tersenyum mendengarnya kata 'teman' diantara mereka cukup kaku.


" dari dulu kita tidak pernah mengatakan jika kita adalah teman. tapi kita cukup dekat "


brian pun kini tersenyum dan mengangkat gelasnya yang kemudian dibalas oleh rian.


***


zurich , swiss


mereka memegang gembok dan kunci yang sudah mereka beli di toko, kini mereka berjalan di sepanjang jembatan muhlesteg , dimana jembatan itu dikenal sebagai jembatan paling romantis , banyak pasangan yang datang kesini untuk mengabadikan cinta mereka.


" disini saja " ujar devan yang berhenti tepat di tengah - tengah jembatan.


" kita pasang berdua ya " ajak devan.


" kau percaya dengan semua ini ?" tanya tiffanny sambil tangannya dan tangan devan mengaitkan gembok itu ke pagar jembatan lalu menguncinya.


kini gembok itu terpasang rapi bersamaan dengan gembok - gembok yang lainnya.


" percaya atau tidak aku ingin melakukannya karena aku ingin tetap bersamamu. kata orang , cinta kita akan abadi saat kita memasangkan dan membuat nama kita di gembok ini. "


fanny menatap dengan intens wajah devan yang rambutnya bertebrangan karena angin membuatnya tampak tampan dan menawan.


" itu artinya semua gembok cinta ini adalah banyaknya pasangan yang mengharapkan keabadian cinta mereka. semoga saja itu benar. " ucap tiffanny menatap sendu ke gembok - gembok itu.


lalu tangan mereka saling menggenggam hari mulai sore dibawah sunrise , matahari yang akan terbenam itu mereka berjalan di sepenjang jembatan muhlesteg itu.


malam harinya


setelah keluar dari sana mereka makan sambil berdiri sambil melihat - lihat keramaian malam hari itu.


" besok ada kejutan untukmu , berdandan lah yang cantik ya "


" apa aku tidak cantik sekarang ?" tanya fanny yang menoleh menatap devan.


" tidak sayang tentu saja istriku ini sangat cantik , bahkan saat makan dessert dan mengenai mulutmu tetap cantik " katanya sambil mengelap dessert itu dari mulut tiffanny.


" sayang dibagian itu terlihat bagus apa kau mau mengambil fotoku ?"


" baiklah , tapi aku tidak tau hasilnya bagaimana. berdirilah dan aku akan memotretmu , pakai ponselku saja "


" oke , bagaimana sayang ? apa pas ?" devan sudah berdiri di dekat pinggiran kota itu.


" ya , sangat bagus "


cekrek...cekrek...cekrek


beberapa kali devan berganti gaya namun wajahnya tetap sama selalu menatap dingin hanya ada satu senyuman kecil saja.


" kenapa kau berfoto tidak tersenyum ?"


" karena hanya istriku yang boleh melihat senyumanku "


" cih ada - ada saja "


" ayo kembali ke hotel aku ingin makan di restorannya "


" baiklah - baiklah istriku ini kalau tidak segera dituntaskan laparnya maka akan mengamuk " devan merangkul tiffanny sambil mereka berjalan dia terus menggoda tiffanny.


" aku pun bisa memakanmu "

__ADS_1


" hmm tidak sebelum itu aku yang lebih dahulu memakanmu "


" kau tega padaku. "


" tentu tidak sayang aku kan bercanda mana mungkin istri tercantikku ini harus kumakan "


***


keesokan harinya


malam ini devan akan mengajak tiffanny dinner , dia sudah siap dengan kemeja hitamnya. lalu tiffanny , dia sudah siap dengan dress berwarna biru muda , dan dilengkapi make up tipis.



saat dia keluar dari walk in closet itu , devan terpesona akan kecantikannya. dress panjang dengan rambut yang diurai membuat jantungan berdetak tak karuan.


bukan hanya devan yang merasa gugup namun tiffanny juga , dia berusaha bersikap biasa saja menutupi semua rasa gugupnya.


" sangat cantik " gumam devan.


" Bagaimana ?"


devan mendekati fanny dengan langkah pelan , lalu dia menggapai tangan tiffanny dan dia elus pelan tangan itu.


" Rasanya aku ingin waktu berhenti disini, hanya ada aku dan dirimu "


fanny tersenyum mendengar nya , dia mengarahkan tangannya untuk membenarkan posisi dasi devan.


" jika saja kau seorang pebisnis maka akan banyak orang yang ingin berinvestasi denganmu. kau terlihat cocok dengan setelan ini " untuk pertama kalinya tiffanny berani mengutarakan hatinya.


devan mencium lembut kening fanny sambil memejamkan matanya , lalu dia berjongkok dihadapannya tiffanny.


" istriku sayang ... maukah kau makan malam romantis dengan suamimu ?" fanny terkekeh mendengarnya tak butuh waktu lama untuk berpikir sehingga dia langsung mengangukkan kepalanya.


fanng menerima juluran tangan devan , bersama - sama mereka keluar dari kamar hotel dengan bergandengan tangan.


keduanya tak pernah berhenti untuk saling menatap , sampai ke sebuah restoran di hotel itu terlihat sangat tertutup membuat tiffanny bingung karena biasanya di jam seperti ini semua tamu banyak yang datang.


2 pemain biola berdiri di pintu restoran itu , menyambut mereka dengan menundukkan kepalanya.


" Mari sayang " ajaknya


" kenapa sepi sekali ?" tanyanya yang merasa aneh.


" Kau akan tau setelah masuk nanti "


tak


seketika lampu di restoran itu menyala , suasana romantis dan hangat diruangan itu sangatlah terasa, perpaduan lilin aroma dan bunga mawar putih dan merah menghiasi tempat itu.


beberapa orang bersejajar di dekat sebuah meja utama dengan penuh makanan spesial.


devan membawa fanny mendekati meja itu , dia mendudukkan tiffanny disana lalu dia pun ikut duduk dihadapan tiffanny.


" aku memesan semua restoran ini malam ini. aku hanya ingin makan malam spesial bersama istriku "


" Bagaimana sayang , apa kau suka ?"


tiffanny memutarkan pandangannya ke seluruh tempat ini.


picture hasil foto tiffanny



__ADS_1


__ADS_2