Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Kembalilah


__ADS_3

tiffanny sudah tiba dirumah sakit kleuwit samuel , brankar nya lebih dahulu dibawa masuk dengan cepat.


" brian "


" dokter pasien sudah ada didalam " kata seorang suster yang menghampiri.


devan mengangukkan kepalanya masih belum tau kalau itu adalah istrinya. brian menatapnya tajam seakan marah. lalu langkahnya mendekati brian.


" kau ! selamatkan dia dengan cara apapun juga ! jika sesuatu terjadi padanya , ini semua ... karena dirimu " tekan brian.


raut devan menunjukkan dia sama sekali tidak paham perkataan brian. devan tidak ingin meladeni brian dan memilih masuk ke ruangan ICU.


" apa yang terjadi ?" tanya devan saat mendekati pasien yang tak lain istrinya.


suster yang ada dihadapannya terlihat menghalanginya , dan suster itu segera menyingkir lalu mulutnya terbuka kecil seakan shock dan terkaku disana.


" sayang " dengan lirih dan semakin mendekatinya dengan air mata yang jatuh.


brak


" dia kecelakaan di jalan dalam keadaan yang begitu mengenaskan , mobilnya terbalik dan hancur saat dia masih didalam mobil " brian mengatakannya sekarang.


" siapkan Defilbriliator ! " tegas devan


segera para suster itu menyiapkan segalanya , tidak tau apa yang harus dia pikirkan sekarang akan tetapi devan harus menyelamatkan istrinya terlebih dahulu.


devan memasangkan ventilator alat bantu pernapasan di hidung untuk tiffanny , alat itu membantu untuk melancarkan ventilasi mekanik ke dalam paru - paru pada pasien yang sangat lemah.


akan tetapi tiffanny langsung mengalami sesak nafas saat itu juga dalam keadaan tak sadarkan diri tubuhnya mengejang , devan langsung memompa bagian dada atasnya.


" Defibrilator "


suster langsung mengambilnya dan devan segera menempelkan alat itu ketubuh tiffanny.


deg


" detak jantungnya melemah dokter "


deg


kembali devan berusaha untuk melakukannya lagi , brian yang masih ada diruangan itu terlihat sangat gelisah dan takut. tubuhnya yang terluka tidak dia hiraukan dan malah lebih memilih memperhatikkan tiffanny.


deg


titttttttt


tangan tiffanny yang sebelah kiri dimana ada cincin pernikahannya dengan devan itu jatuh lunglai seakan tak punya daya masih dengan darah yang menempel disana.


tidak sayang tidak . jangan seperti ini , aku mohon kembalilah untukku. aku tidak akan membiarkanmu pergi sekarang , aku mohon bertahanlah sekali lagi.


***


lampu ruangan operasi menyala , kembali devan memakai baju operasi berwarna birunya itu lengkap dengan masker dan sarung tangan.


sekarang giliran orang terpentingnya yang harus dia selamatkan , walau rasanya tangannys bergetar takut melakukan kesalahan sehingga menyebabkan kegagalan dalam operasinya tapi tidak peduli dia harus berusaha sebisanya.


air matanya harus tertahan saat itu juga , dia tidak boleh menanngis.


hanya ada suara patient monitor yang terus bersuara kecil menunjukkan aktivis kelistrikan jantung pasien.


cukup lama operasi itu berjalan dari pukul 9 dan sekarang sudah pukul 10 lebih waktu bagian barat. sedangkan didepannya brian masih menunggu dengan setiap , dia sudah diobati dan menggunakan baju pasien.


" kakak ! kakak ! bagaimana kondisimu ? " raka tiba - tiba datang seorang diri melihat itu brian langsung berdiri.


dia menggelengkan kepalanya " kakak baik ... akan tetapi , tiffanny ... "

__ADS_1


" kak tiffanny ? apa yang terjadi pada kak tiffanny ?" tanyanya penasaran.


" dia kecelakaan besar " jawabnya .


" apa ? lalu dimana kakak ? apa dia baik - baik saja ? bagaimana dia sekarang apa dia terluka parah ?" tanyanya dengan khawatir.


brian menoleh kedepannya , sebuah ruangan dimana tiffanny sedang berjuang antara hidup dan mati.


...


*ada dimana ini ? hamparan rerumputan yang luas berwarna hijau dan langit sangat cerah. semuanya terlihat sangat indah, dengan gaun putih panjang dan rambut terurai cantik tiffanny berjalan sendirian di padang rumput itu.


wajahnya menengok kekanan dan kekiri namun tak dia temui siapapun. dan matanys tertuju pada sebuah aliran sungai berwarna biru , dia tersenyum senang lalu berlarian dengan kaki telanjangnya.


" air " ucapnya senang.


dia memainkan air itu dengan tangannya , merasa bahwa itu adalah kebahagiaan terbesar.


" sayang ! sayang kau dimana ? tiffanny sayang ?"


tiffanny berhenti memainkan air saat dia mendengar suars seorang laki - laki yang tidak dia kenal. dia menoleh penasaran mencari tahu sumber suara akan tetapi tetap tak ada orang.


" siapa itu " gumamnya


" sayang hiks - hiks kembalilah dan hiduplah denganku " suara itu semakin terdengar jelas , tapi dia tidak tau dimana.


" kau siapa ? apa ada orang ?"


" aku mencintaimu kembalilah ... Tiffanny "


deg


langkahnya terhenti seketika , matanya menatap nanar kedepan " Tiffanny " ucapnya.


" Tiffanny sayang " dia menoleh kebelakang saat lagi - lagi ada orang yang memanggilnya.


mulutnya terbuka lebar sambil tersenyum. didepannya berdiri keluarganys yang terlihat sedang bersama, ada papa , mama , kakak dan neneknya.


" kalian " dia segera berlari menghampirinya.


" berhenti disitu sayang " ucap mamanya dengan lembut.


padahal satu langkah lagi kakinya melewati garis berwarna putih itu. sampai akhirnya dia tarik lagi kakinya.


" aku pikir aku hanya sendirian disini , ternyata ada kalian semua ... nenek ( sambil tersenyum lebar ) nenek cantik sekali , apa nenek tidak merindukan aku ? " tanyanya polos.


nenek menggelengkan kepalanya.


" nak " ucap lembut papanya.


" papa " gumamnya.


" kami ... berkumpul menjadi satu disini , itu sudah menjadi takdir kami sekarang. "


" ma - maksudnya ?"


" begini sayang , belum saatnya untukmu ada disini. " kata mamanya


" sayang hiks ... aku mohon " suara tangisan pria itu terdengar lagi.


" kau dengar nak , itu suara siapa ?" tanya nenek.


tiffanny mengernyitkan dahinya " siapa ?"


" dia ... takdirmu , dan takdirmu yang menyelamatkanmu sekarang. dengarlah tangisan nya , sayang ... kembalilah ketempat asalmu sekarang " jelas mamanya.

__ADS_1


" tapi kenapa ? aku sangat sakit disana " lirihnya sambil meneteskan air matanya.


" hanya sebentar saja , setelahnya ... kau akan merasa sangat bahagia. lupakan kami , dan hiduplah dengan takdirmu sesuai dengan jalanmu. "


" kami tidak akan menunggumu disini , tapi papa , mama dan semuanya akan mendoakan yang terbaik untukmu. hargai selagi ada dan jaga selagi punya. sayang kau masih diberikan kesempatan sekarang , pergi dan kembalilah . " kata papanya lagi.


" kau berjanji untuk terus bersamaku , aku tidak akan memaafkanmu jika kau mengingkarinya "


suara itu masih berbunyi sampai sekarang.


" Takdir ? janji ? kembali ? "


" ketiganya harus kau jalani sekarang , takdirmu buka ada disini, janjimu harus kau tepat dan kembali maka artinya segera keluar dari tempat ini " ucap neneknya.


tifanny menutup kedua telinganya , dia merasa banyak sekali yang bicara kepadanya namun tidak tau sumber suara itu.


perlahan keluarganya yang ada disebrang memburam dan menghilang " mama ! papa ! nenek ! kakak ! kalian dimana ? jangan tinggalkan aku ! sakit sekali ... ahhh* "


...


tut...tut...tut


suara patient komputet itu kembali menyala , devan yang ada di dada tiffanny itu langsung menatapnya.


" dokter detak jantungnya kembali normal " kata suster itu.


devan menutup matanya , maskernya sudah basah karena air matanya sebelum nya tiffanny tidak memiliki detak jantung lagi , dan untuk beberapa saat tiffanny dinyatakan meninggal.


" terima kasih , terima kasih " gumamnya sambil menanvis lalu mencium kening tiffanny.


***


seteleh selesai operasi tiffanny berada di dalam ruangan perawatan , hanya ada dia sendirian disana kecuali dokter dan suster orang lain tidak boleh masuk.


brian yang terus menunggu kabarnya hanya bisa menatapnya dari jendela bersama raka.


devan yang baru saja mengganti pakaiannya itu menyaksikan betapa khwatirnya brian terhadapnya.


" dokter devan , dokter bagaimana keadaan kakak ?" tanya raka yang mendekatinya.


" akan tau setelah dia bangun "


brian menatapnya dengan tajam " suami macam apa yang membiarkan istrinya keluar sendirian di malam hari ha ? taukah kau betapa sakit nya dalam posisi seperti itu ? aku ! aku menyaksikan bagaimana tragisnya kecelakaan itu dan kau ! kau hanya berdiam disini bersama pasien - pasienmu. " tegas brian yang mencengkram kerah baju devan.


dia tidak marah sedikitpun karena perkataan brian sangatlah benar , ini semua karena dirinya pikirnya. dia hanya bisa menundukkan kepalanya.


" kakak cukup kak ini rumah sakit " peringat raka.


" tidak raka ! dia tidak layak untuk tiffanny. kau ! kau tidak bisa menjaganya dengan baik. aku bersumpah akan mengambilnya lagi dan menjadikannya milikku ! " ucapnya geram.


devan mendorong brian saat itu juga ,dia tau dia salah tapo dia tidak diam saat akan ada orang yang mengatakan harus mengambilnya.


" aku suaminya dan kau tidak berhak mengambilnya lagi , brian ! kau sendiri yang melepaskannya. sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kau mengambilnya dariku " tekan devan.


keduanya saling menatap tajam bersama , tidak tau raka harus membela yang mana tapi dia takut itu akan mengganggu tiffanny.


" kakak cukup, dokter cukup. " cegahnya.


" kau memang suaminya , tapi kalian tidak terikat apapun yang bisa membuat kalian harus bersama. bersiaplah ! setelah dia sembuh aku akan merebutnya darimu "


" brian !!! "


" hentikan devan ! "


saat itu devan sedang mengangkat tangannya untuk memukul brian akan tetapi micheal lebih dahulu datang dan mencegahnya.

__ADS_1


__ADS_2