Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Hari yang Terlupakan


__ADS_3

hotel wang


tiffanny sedang fokus dilayar laptonya, tangannya bergerak lincah mengetik keyboard disana. rian masuk menghampirinya dengan senyuman.


" Kau sedang sibuk ?" tanya rian.


" hmm tidak terlalu ada apa ?" tanya fanny tanpa menoleh.


" Hari ini , aku ... hmm apa kau tidak ingat ?" tanya rian lagi dengan wajah penuh harap.


" hari ini memangnya ada apa ? ( sambil melirik ke arah kalender ) tanggal 10 february " ucapnya .


" ya " ujar rian.


deg


fanny baru sadar , ini hari ulang tahunnya. juga kematian orang tuannya. sejenak dia diam lalu rian mengeluarkan bingkisan kecil dari belakang tangannya.


" hadiah dariku, tidak mewah tapi ini seperti yang kau pakai dulu saat kecil " rian menaruh hadiah itu di meja fanny. walaupun dia tau fanny tidak suka diberi hadiah tapi setiap tahun dia tidak pernah untuk tidak memberikannya.


" Selamat ulang tahun tiffanny " ucap rian dengan tulus.


" Hmm terima kasih rian " jawabnya lemah, karena rian tau tiffanny agak sedih jadi dia memutuskan untum segera pergi .


" aku masih ada pekerjaan "


fanny langsung mengangukkan kepalanya, setelah rian pergi dia memperhatikan bingkisan itu. tangannya terjulur untuk mengambilnya lalu perlahan membukanya.


Jepitan rambut bunga Alstroemeria berwarna putih dan ditengahnya sedikit hijau. bunga itu melambangkan persahabatan , kemakmuran dan nasib baik. dia mengambilnya dan menyentuhnya.


" Terima kasih rian , kau selalu yang menjadi pertama mengucapkan. " ucapnya dalam hati.


namun setelah itu dia kembali berpikir bagaimana bisa lupa dengan hari kematian orang tuanya sendiri. apa yang sudah dia pikirkan. dia juga sudah lama tak mengunjungi makam orang tuanya.


tapi hari ini dia masih ada pekerjaan yang tak bisa ditunda.


***


sementara itu brian berdiri di sebuah gereja , kakinya melangkah masuk kedalam sana. gereja itu terlihat sepi hanya ada dia seorang diri.


dia berdiri di hadapan tuhan yang dia percayakan saat ini dan menyatukan tangannya.


" hari ini ulang tahunnya , dia tidak suka dirayakan. tapi aku selalu ingin merayakannya bersamanya tapi selalu tidak pernah terjadi. jadi aku akan berdoa padamu. dia memang bukan milikmu , tapi aku adalah milikmu jadi kabulkan doaku " ucapnya dengan sungguh.


" Aku berdoa untuknya , semoga hari - harinya dipenuhi dengan kebahagiaan. selalu berikan dia orang - orang yang baik. Aku mencintainya , dan masih mencintainya dia orang yang aku cintai dan namanya selalu ada didalam hatiku. " dia kembali menjatuhkan tangannya dan keluar dari gereja itu.


" Kak , belilah bunga ini. hanya sepuluh ribu pertangkai " ujar seorang anak laki - laki yang menghampirinya.


brian memperhatikannya wajah anak itu sangat tampan hanya saja dia bekerja seperti ini membutnya terlihat sedikit lusuh.


dia mengeluarkan dompetnya , memberikan anak itu 5 lembar uang ratusan " aku beli semuanya , ambillah sisanya. aku hanya akan mengambil satu dan yang lainnya ... berikan pada orang yang ada disini " brian menjongkokkan tubuhnya dihadapan anak itu. anak itu memberinya satu bunga mawar merah dan segera pergi membagikan bunga - bunga ditangannya.


brian membawa bunga itu bersamanya dan masuk kedalam mobil, dia memperhatikan bunga itu seraya mengingat senyuman fanny yang dulu yang semerekah bunga mawar ini.


" selamat ulang tahun Tiffanny " ucapnya.


***


sore harinya

__ADS_1


fanny masih berkutik di depan laptopnya, sepertinya tidak ada tanda - tanda jika dia akan segera pulang. hari sudah menunjukkan pukul 6 sore.


drtt..drrtt


" Devan Calling "


( halo sayang, kau dimana ? masih di hotel ?" )


📱 " iya, sepertinya masih agak lama. "


( oh begitu , aku pulang saja dulu ya. nanti telpon kalau mau pulang )


📱" iya "


( dah sayang, aku mencintaimu )


📱 " dah "


( balas dulu ) ujar devan dibalik telpon.


📱 " dev , aku sedang banyak pekerjaan "


( ck baiklah sampai nanti )


keduanya langsung mematikan ponsel masing - masing. kembali terus melanjutkan pekerjaannya. namun beberapa saat di berdiri keluar dari ruangannya.


" kalian kenapa belum pulang ? " tanya fanny pada ressa dan eva.


" maaf bu, kami menunggumu takut jika ada sesuatu yang ibu butuhkan " jawab eva.


" tidak ada , pulanglah sebentar lagi saya pulang "


lalu fanny membuka pintu lift menekan angka 19 walau hanya beda satu lantai dia sedang malas memakai tangga.


ting


" selamat sore bu " ucap pegawai yang akan pulang.


" selamat sore " balasnya.


" Dimana raka ? dia sudah pulang ?" tanya fanny pada seorang wanita yang masih duduk dimejanya.


" sudah bu, ada apa bu jika ada sesuatu katakan saja ?" tawarnya.


" hmm tidak , lanjutkan pekerjaanmu saja. "


dia kembali naik ke lantai atas sudah tidak ada dia respsionis nya itu.


detik demi detik berubah menjadi menit , menit berubah menjadi jam. dia masih berkutik di laptopnya sudah pukul 8 , dia melirik ke arah jam lalu segera menutup laptopnya.


dia berdiri dan merenggangkan badanya yang terasa pegal itu. " haa." desahnya kecil sambil mengurut lehernya .


saat membuka ponselnya, baterai nya habis dia ingin menelpon devan tapi yasudah pikirnya. pakai taksi saja , dia segera keluar memasuki lift dan menekan tombol angka 1.


ting


sudah sampai dibawah segera keluar dari hotel seorang diri.


" Devan "

__ADS_1


devan berdiri dihadapannya sekarang, pria itu sudah menunggunya dari tadi. fanny melangkahkan kakinya menuju devan.


" sayang " panggil devan.


" wajahmu lelah sekali , mari pulang dan istirahat " ajak devan yang menggenggam tangan fanny.


dia membukakan pintu untuk fanny, disebrang jalan brian melihat nya tadinya dia akan memberikan bunga yang dia beli kepada fanny. namun setelah melihat itu niatnya diurungkan.


hanya bisa menatap wanita itu pergi dengan pria yang berstatus sebagai suaminya.


ditengah perjalanan fanny tertidur pulas disana. harinya benar - benar lelah ditambah dia terus memikirkan kesalahannya yang sudah melupakan hari kematian orang tuanya.


devan melirik wajah fanny tangan kirinya memengang lembut pipi fanny.


sesampainya dirumah fanny masih tak bangun sangat kasihan jika fanny harus terbangun dari tidur nyenyaknya jadi devan menggendong tifanny ala bridal style.


dia masuk kedalam membuka pintu perlahan dan naik kekamar atas milik mereka , dia merebahkan tubuh fanny dengan hati - hati , melepaskan heelsnya dan kemudian menyelimutinya.


" bahkan kau tidur tanpa makan terlebih dahulu " gumam devan.


fanny memiringkan tubuhnya ke arah kanan , wajah lelah itu membuat devan khawatir. seharusnya istrinya berada dirumah menunggunya pulang dan menyambutnya saja , kenapa harus bekerja keras sampai kelelahan.


dia meratapi wajah itu , dia tau fanny tipe pekerja keras apapun impiannya harus didapatkan. namun semua nya sudah dimiliki wanita itu , apalagi yang harus dia cari.


tengah malam tepatnya pukul 1.00


tiffanny terbangun dari tidurnya , dia lihat devan nyenyak tertidur disebelahnya seraya memeluknya. dia angkat perlahan tangan itu kemudian turun dari ranjang.


dia keluar kamar membuka gagang pintu perlahan takut devan akan terbangun sehingga mengganggu tidurnya. dia turun ke dapur mengambil gelas dan menuangkan air putih kedalam nya.


glek..glek...glek


air itu habis seketika, kemudian dia duduk diam di sofa ruang tamu.


mengingat kalau tadi adalah hari ulang tahunyya , dia tidak menyangka semua berjalan dengan cepat seperti ini.


lalu tangannya menggeser layar ponsel yang dia pegang itu , dia amati kedua photo orang tuanya. memperbesar nya kadang juga mengecilkannya.


" Maaf , fanny lupa tentang hari ini. besok , aku akan menemui kalian. " lirihnya.


pagi hari sekali , fanny sudah bersiap dengan rapi. devan masih tertidur di ranjang itu. fanny memakai lipstik berwarna nude , rambutnya dia urai seperti biasa.


jam 6 pagi dia sudah siap dan turun ke bawah, dia juga meninggalkan catatan kecil untuk devan yang dia taruh di meja.


" Dev


aku harus pergi ke sesuatu tempat, maaf tidak memberi tahumu. jangan mengkhawatirkan aku "


menggunakan mobilnya dia segera melesat ke pemakaman orang tuanya , jarak antara makam dan rumahnya sekarang terbilang jauh butuh waktu satu jam lebih.


pukul 06.30


devan terbangun dari tidurnya melihat fanny tidak ada disebelah dia shock dan langsung bangun.


" Sayang " panggilnya


namun tidak ada suara , saat dia melirik ke arah kanan dia lihat kertas catatan berwarna kuning itu. dia ambil dan baca.


" aku tau kau dimana "

__ADS_1


__ADS_2