Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Tersangka utama akan menyusul


__ADS_3

dari jauh devan tersenyum mendengarnya , dia bisa melihat cinta dimata tiffanny untuknya saat itu.


" rasanya pelangi selalu ada diatas kepalaku , saat kau mendengar namaku kemudian tersenyum membuat jantungku berdetak cepat. "


****


Penjara


disebuah ruangan itu tiffanny , devan dan tersangka sudah saling berhadapan. hanya dibatasi oleh dinding sel dan mereka duduk berhadapan.


" aku sudah mengakuinya untuk apa kau menemuiku " ujar tersangka itu.


" jangan berkata seperti itu kepadanya. kau mungkin senang hanya dipenjara selama 4 tahun tapi aku tidak akan membiarkanmu bebas secepat itu ! " ucap devan penuh tekanan didalamnya.


pria itu hanya tersenyum miring " hei , sudah aku katakan di pengadilan waktu itu aku mengantul lalu menabrak nya. aku tidak tau jika orang itu meninggal "


" kenapa kau berkata seolah - olah kau tidak pernah melakukan apapun ha ? kau pikir nyawa itu mainan ?" bentak devan.


" devan " fanny memegang tangan devan memintanya untuk tenang.


" sayang aku ... "


" katakan yang sebenarnya kau disuruh siapa ? kau punya seorang anak yang masih kecil apa kau tidak ingin melihatnya tumbuh ?" fanny menggunakan taktiknya yang menekan batin tersangka.


seketika pria itu diam tak menjawab " Kami tau kau disuruh oleh seseorang, tolong katakan siapa dia "


" tidak , aku sudah mengatakan semuanya " telak pria itu.


" Anakmu dan istrimu ... mereka tidak lagi tinggal dirumah lamamu. rumah itu sudah dihancurkan , kau tidak ingin tau dimana keberadaan mereka sekarang ? " fanny menyorkan beberapa foto - foto.


pria itu langsung mengambilnya dan melihatnya.


" bagaimana bisa ? aku sudah memberinya uang yang banyak. kaliaan ... kalian yang melakukannya bukan ?" tunjuk - tunjuk pria itu kepada tiffanny.


" aku bisa mematahkan tanganmu saat ini juga , jangan menunjukknya dengan kasar seperti itu. devan mencekal tangan pria itu dengan kuat sampai pria itu mendesis kesakitan.


tapi tiffanny tidak memperdulikannya, yang dilakukan devan tidak sebanding dengan kesakitan neneknya.


" baru tanganmu yang dia sakiti lalu bagaimana dengan nenekku yang kau tabrak secara sengaja apa kau tidak mendengar rintihannya ?" menatap tanpa rasa kasihan kepada pria itu.


" aku ... bisa melakukan apapun terhadap anak dan istrimu, sekali saja ... aku menyuruh seseorang menyakitinya maka tidak akan ada yang tersisa untukmu. jika mereka tiada ... kau menjadi sama denganku , sama - sama tidak punya keluarga "


" kau "


" kau tidak tau betapa berartinya orang itu untukkku, dia satu - satunya keluargaku yang tersisa dan kau membunuhnya. aku ... tidak akan membebaskanmu semudah itu , dan tidak akan membiarkan anak dan istrimy tenang " ancamnya.


" jangan ... jangan kau mohon jangan hiks " pria itu ketakutan dan menangis , devan melepakan cekalannya dia melirik ke fanny yang sudah berhasil menyentuh hatinya.


" aku akan katakan tapi tolong jangan sakiti istri dan anakku. aku melakukannya untuk mereka jika mereka tiada aku sangat berdosa "


" kau masih ingat dosa " ujar devan.


" seseorang menelponku dan memintaku menghabisi nyawa nenek itu , tadinya dia memintaku untuk membunuhmu juga "


devan sangat marah mendengarnya dia melototkan matanya sedangkan tiffanny hanya bersikap biasa saja ketika pria itu menyebut nama dirinya tapi hatinya sangat sakit mendengar nama nenek.


" tapi pria itu berubah pikiran , aku tidak tau kenapa tapi dia menjanjikan kehidupan yang layak untuk keluargaku. aku tidak bekerja aku hanya penjahat dipasaran. anakku sakit jadi aku harus mencari uang yang banyak. "


" siapa pria itu ?" tanya devan.


" aku tidak tau karena kami tidak pernah bertemu hanya lewat telpon saja. tapi suaranya terdengar tidak asing. dan ditelpon aku pernah mendengar seseorang menyebut pak samuel , pria itu langsung mematikan ponselnya. "

__ADS_1


" samuel " gumam tiffanny yang mengeram marah.


" pak polisiiiii " teriak devan


membuat dua polisi datang segera " dia sudah mengakui semuanya , dia berniat membunuh dua orang termasuk istriku. cepat lakukan persidangan ulang dan hukum pria ini seberat - berat , segera ... tersangka utama akan menyusul " ucapnya dengan tegas.


***


setelah mengetahui semua siapa tersangkanya , tiffanny dan devan merencakan sesuatu didalam ruang kerja mereka berdua. tiffanny mengeluarkan semua bukti dan memori card yang diberikan pak indra dulu.


" sayang sebaiknya untuk menambah saksi kita panggil pak indra dan minta dia menjadi saksi " usul devan.


" kau benar , besok ... aku akan menemuinya " balas fanny.


" sayang ,kau baik - baik saja ?" mengelus tangan tiffanny.


tiffanny menundukkan kepalanya dan mengelengkan kepalanya.


" kau tau sangat bohong rasanya jika aku menjawab aku baik - baik saja "


" aku mengerti , tapi aku juga bersyukur dia tidak melakukan apapun terhadapmu. jika dia melakukannya aku tidak tau apa yang harus kulakukan , tanpa dirimu ... aku tidak akan hidup "


tiffanny menatap devan yang ada dihadapannya , lalu dia mengelus kepala devan " aku ada disini untukmu. tidak akan ada seseorang yang memisahkan kita kecuali kau sendiri yang ingin berpisah denganku "


" seumur hidup aku tidak akan mau berpisah denganmu "


cup


dia cium punggung tangan tiffanny itu, dan menghapus air mata tiffanny yang sedikit jatuh ke pipi.


***


keesokan harinya


" Tolong jaga dia baik - baik , aku ingin ikut tapi ada jadwal operasi. " pintanya pada rian.


" iya dokter "


" jangan panggil aku dokter , panggil nama saja aku rasa usia kita sama "


" hmm baiklah devan " rian mengangukkan kepalanya , tiffanny tersenyum melihat kedekatan mereka. akhirnya tidak ada salah paham diantara devan yang suka mencurigai rian.


" sayang aku pergi ya , telpon aku segera jika ada sesuatu yang menurutmu tidak baik. " memegang kedua tangan tiffanny.


" iya , aku akan menelponmu. " devan mendekatkan wajahnya ke wajah tiffanny dia ingin mencium bibir tiffanny.


tapi tiffanny mendorongnya karena disana masih ada rian , tiffanny merasa tidak enak namun rian segera berbalik


" aku tidak melihatnya , cepatlah devan "


devan tersenyum lalu mencium bibir tiffanny tadinta dia ingin mengecup singkat karena tidak tahan dia agak **********.


" devan " gumam tiffanny mendorongnya.


" iya - iya "


cup


mengecup pipi fanny " dah " melambaikan tangannya.


rasanya jantung rian ingin keluar saat itu bagaimana tidak dia tidak pernah melihat secara nyata pria yang memcium bibir wanita dengan jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


" Ri- an " kata fanny.


" ah apa sudah selesai ?" dia membalikkan badannya.


" maaf , dia memang ... "


" sudahlah aku paham , bekerjalah jam 1 aku akan menemuimu lagi baru kita keluar "


" hmm baiklah "


beberapa jam kemudian tiffanny sudah menyelesaikan pekerjaan nya terlebih dahulu, untuk mempersingkat waktu dia segera menemui rian sendirian di ruangan sebelahnya.


dia keluar dari ruangannya lalu membuka ruangan rian disana rian sedang fokus memeriksa berkas - berkas tanpa sadar jika fanny mrmbuka pintu.


" Rian kau belum selesai ?"


rian melepaskan kaca matanya lalu berdiri dan menutup berkas itu " aku hanys memahami proposal , kau sudah siap ? "


" hmm "


" ayo "


***


shift


mobil mercedez benz berwarna putih itu berhenti tepat disebuah gedung sekolah dasar. kebetulan ini jam pulang sekolah jadi anak - anak berhamburan keluar.


rian dan tiffanny keluar bersamaan dengan kaca mata hitam casualnya dan tanpa diragukan lagi semua orang memandangnya dengan melongo , karena sekolah itu hanya tergolong sekolah ekonomi bawah.


rian dan tiffanny saling menatap , rian mengangukkan kepalanya lalu keduanya berjalan dengan gaya swag nya menuju ke dalam sekolah.


semua orang yang memperhatikannya hanya melongo saja , kedua terus berjalan lurus sampai akhirnya


dihadapannya seorang pria sedang fokus menyapi dihalaman sekolah itu.


pak indra menatapnya seraya mengangkat sebelah alisnya karena tak mengenali keduanya. lalu tiffanny membuka kaca mata hitamnya.


" nona " ujar pak indra yang baru tau jika itu tiffanny.


" aku ingin menagih janji mu " balas fanny.


disebuah kantin sekolah yang cukup sederhana itu mereka bertiga duduk saling berhadapan.


" apa yang harud kulakukan ?" tanya pak indra.


" jadilah saksi untukku , dan penjarakan samuel " jawab fanny dengan wajah datar.


" ha ? " pak indra sontak kaget mendengarnya


" benar. kami membutuhkan mu untuk menjadi saksi dipersidangan nanti. " timpal rian.


" kau siapa ?" tanya pak indra.


" saya Rian temannya sekaligus sekretarisnya "


pak indra mengangukkan kepalanya mengerti " tapi ... "


" kau tidak bisa mengingkari janjimu. kau harus menebus dosa - dosa penghianatan mu kepada orang tuaku " tekan tiffanny.


" tapi bagaimana jika terjadi sesuatu, anakku masih kecil "

__ADS_1


" aku juga kecil dulu , bagaimana denganku waktu itu ? tapi aku tidak sebuta dirimu dulu ... aku akan membuatmu tetap aman "


sejenak indra diam seribu bahasa memikirkan apa yang harus dia lakukan, disisi lain dia memang harus membayar semua kejahataannya tapi disisi lain juga dia tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya atau anaknya akan terluka nanti.


__ADS_2