Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Tak Perlu Membela Diri


__ADS_3

dengan mata berbinar dia menatap dua nasi goreng yang terlihat cantik itu. karena tidak ingin merasa buruk dia menyicipinya sekali.


dia mengunyah dan berusaha menemukan sensasi rasa nikmat pada nasi goreng buatannya.


ahhhh ini tidak buruk , tiffanny kau memang terbaik !


didalam hatinya dia merasa puas dan senang , Namun saat menatap dapurnya sekarang yang berantakan dia hanya bisa mengedipkan matanya.


siapa yang akan membereskan ini ? ah tentu saja kau sendiri tiffanny , dasar bodoh kenapa malah bertanya .


***


semua kabar itu sudah menyebar ke penjuru rumah sakit , bahkan media juga sudah mengetahui itu. banyak media yang mendatangi hotel tiffanny sekarang , rian khawatir jika tiffannny datang dia akan dicercah dengan beribu pertanyaan.


raka yang baru datang dengan diantar oleh brian itu merasa heran kenapa banyak wartawan menunggu di depan hotel.


" ada apa ya kak ?"


" tidak tahu, apa ada artis yang menginap disana. biasanya sih begitu "


" dimana bu tiffanny ? apa dia sudah mendengar berita tentang suaminya ?" teriak salah satu wartawan.


" berita ? kak, kakak dengarkan ?"


raka melirik brian , brian pun melepaskan selt belt nya lalu turun diikuti raka. keduanya menghampiri segerombolan wartawan dan berusaha melewati nya.


" minggir.. tolong minggir " kata raka dan brian.


setelah melewati itu dia melihat sosok rian yang menjadi garda terdepan saat ini.


" ada apa iini ?" tanya brian.


" iya kak rian ada apa ?" timpal raka.


" seseorang mungkin sudah memfitnah dokter , saat ini mereka mencari fanny untuk meminta keterangan "


" memangnya apa yang dilakukan dokter ?" tanya raka.


" katanya dia sengaja atau mungkin salah memasukkan cairan suntikan pada pasien "


brian terkejut begitu juga dengan raka.


***


devan terbangun dari tidurnya , dia berdiri dan mencari fanny namun saat ke dapur untuk minum dia melihat dua nasi goreng tertata rapi di meja makan.


saat itu juga fanny sudah turun dari kamarnya dan siap dengan pakaiannya.


" sayang " devan menoleh memperhatikan fanny.


" hmm " fanny hanya menatapnya dengan tersenyum.


" ini ... " devan melihat nasi goreng.


" hmm , sebenarnya ... itu , eh aku ... aku tidak tega membangunkanmu jadi aku berusaha memasak sebisanya. tapi jika kau tidak mau tidak apa aku akan membawanya untuk bekal nanti siang di hotel " dia malu jika nanti rasa masakannya tidak secukup baginya.


" kata siapa ? ini masakan istriku harus mencobanya. jarang - jarang kan seorang tiffanny wang memasak untuk suaminya " dengan tersenyum devan duduk mengambil sendok dan garpu di atas meja.


fanny menundukkan kepalanya takut jika masakannya akan terasa aneh di mulut devan.


" sayang "


" ha ?" fanny menatap fakut wajah devan.


" ini enak ! sepertinya nasi goreng buatan ku saja kalah , wah sayang ! rupanya istriku juga berbakat dalam memasak " puji devan memang benar dia tidak berbohong kali ini.


untuk pemula rasa nasi goreng ini sudah cukup baik .

__ADS_1


" benarkah ? tapi ... jujur saja , aku ingin pendapatmu jika itu tidak enak aku tidak akan membuatnya lagi , lebih baik aku pesan saja "


" jujur sayang , rasanya sudah pas untuk pemula. hanya saja aku tidak terlalu suka dengan mentimun tapi tidak apa ini hanya sedikit aku akan memakannya "


mendengar itu fanny pun duduk di sebalah devan , dia mengambil sendok dan garpu.


" oh ya , maaf aku tidak terlalu tau apa yang kau suka atau yang tidak kau sukai "


" tidak masalah , lama - lama juga tau "


rasanya seperti ini devan bisa melupakan pekerjaannya , untuk sesaat dia merasa tiffanny sudah menjadi istri yang mencintai suaminya.


membuatkan sarapan , tidak membangunkannya karena takut masih mengantuk. memikirkan itu membuatnya hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata.


***


sesampainya di parkiran hotel , keduanya masih tidak memperhatikan depan hotel dekat pintu utama yang banyak wartawan itu.


" aku jemput ya nanti "


" iya "


sementara itu briam melihat mobil yang dia kenal itu , dia berlari melewati kerumunan kembali membuar rian dan raka bingung.


" jangan sampai telat makan " devan memperringati tiffanny , namun mereka terkejut saat brian sudah ada dihadapan mereka berdua.


" fanny sebaiknya kau jangan lewat sana , ikutlah denganku " brian memegang tangan tiffanny langsung , devan yang melihat itu berusaha melapaskan genggaman tangan brian.


" jangan menyentuh istriku ! " ucap devan.


" ada apa ?" tanya tiffanny yang sekarang raut muka nya bingung.


" cepatlah " brian tanpa memeperdulikan devan dan tiffanny langsung berlari mengajak fanny mengendap - endap menuju ke pintu darurat bagian belakang.


devan pun mengejar keduanya , sampai kini mereka berdua berada di dalam pintu itu berlari menuju ke bassment.


" tiffanny kali ini saja "


" tapi kenapa ?"


" brian ! " teriak devan.


brian menghentikan langkahnya , tiffanny menatap devan yang sangat marah itu.


" tiffanny diluar ada begitu banyak media yang mencarimu. mereka ingin kau membuka suara terhadap kasus dokter ini. aku tau kau tidak suka dicerca wartawan dan aku tidak mau kau terluka nantinya " ucapnya dengan khawatir.


" kau tidak berhak mengkhawatirkannya, dia istriku akulah yang akan mengurusnya " devan tidak main - main wajahnya sudah memerah karena emosi.


" kau saja tidak bisa mengurus pekerjaanmu, bagaimana bisa melindunginya ! " balas brian.


" hentikan ! cukup ! " tekan fanny.


membuat dua orang diam tak bersuara.


" aku menghargai hal yang kau lakukan tadi , aku akan mengurusnya dengan caraku sendiri. " dia menatap brian sekarang.


" tapi fan ..."


" tidak brian. ini masalahku dan masalahnya , jangan ikut campur lagi terhadapku. kau sudah melakukan banyak hal untukku selama ini jadi sekarang aku tidak mau merepotkanmu lagi. "


" Sayang , aku akan mengatakan semuanya kepada media. agar kau tidak perlu dicerca dan dicari lagi. masuklah kedalam dan aku akan menanganinya " devan menggenggam tangan tiffanny , namun fanny mungkin tidak ingin didengar percakapannya jadi dia membawa devan masuk ke dalam ruangan dekat lift.


brian tidak bisa menghentikannya lagi, dia bukan siapa - siapanya tifanny.


" jangan katakan apapun pada mereka. atau mereka akan semakin bertanya hal lain " jelas fanny.


manik mata keduanya saling menatap , devan tau fanny terlihat khawatir dengannya tapi devan sejujurnya dia tidak takut karena memang dia tidak bersalah.

__ADS_1


" sayang aku tidak bersalah jadi aku bisa mengatakannya, jika aku terus diam mereka akan malah mengejarmu " timpal devan.


" tidak devan ( menggelengkan kepalanya ) kau tidak mengerti bagaimana mereka bekerja. jika kau membuka suara , menjelaskan semuanya maka kau dianggap hanya melakukan pembelaan. seolah - olah kau bersalah, mereka akan mengeluarkan artikel yang tidak sesuai dengan faktanya. "


" lebih baik diam , dan semuanya akan melupakan masalah ini. jika ingin membuktikan kebenarannya maka cari tahu semuanya dirumah sakit. kau yakin tidak bersalah jadi aku akan membantumu "


devan memeluk fanny , perkataan tiffanny ada benarnya dia tidak perlu menutup mulut setiap orang , lebih baik gunakan kedua tangannya untuk menutup telinga.


tiffanny sudah banyak berpengalaman tentang ini sebelumnya semu artikel mengatakan hal yang salah tentangnya tapi dia tidak pernah membalasny selalu diam dan diam tapi semuanya berangus hilang dan malah membuat namanya semakin tenar.


" Pulanglah dengan hati - hati dan tanpa ketahuan. ayo ikut aku ke ruanganku dulu. "


devan menuruti perkataan tiffanny mereka pun masuk kedalam lift bersama , disana juga brian masih berdiri karena pintu kaca jadi mereka saling bisa bertatapan.


karena brian masih disana devan pun mengambil tangan fanny lalu menggenggamnya, kemudian fanny menatapnya devan hanya membalas fanny dengan senyuman.


ting


sesampainya di lantai 20 , keduanya disambut ressa dan eva tiffanny hanya membalas anggukan saja dan membuka pintu ruangannya.


devan mengikuti fanny yang berjalan ke arah mejanya , dia membuka laci meja mencari sesuatu disana devan terus memperhatikannya.


" ini , pakailah " dia memberikan masker hitam untuk dipakai.


" pakaikan " pinta devan


tanpa menolak fanny sedikit berjinjit dengan pelan dia memasangkan masker hitam.


" sayang " panngil devan.


" hmm "


" antar aku sampai ke lift ya " pintanya lagi.


" baiklah " fanny mengangukkan kepalanya , kembali devan tersenyum karena bahagia.


keduanya berjalan beriringan untuk sampai ke lift. setelah sampai tiffanny menekan tombol hijau.


ting


lift terbuka dan devan segera masuk , namun dia masih ingin bersama tiffanny " sayang , aku masih merindukanmu " ucapnya.


" ck pulanglah dan jangan sampai ketahuan "


pintu lift itupun tertutup , devan sendirian berada di dalam lift. tak butuh waktu lama dia sudah sampai di lantai 2 sengaja tiffanny menyuruh nya turun lewat tangga selanjutnya , rian juga sudah menunggunya karena tiffanny memberitahunya.



" ayo dokter , saya antar "


mereka seperti dua kakak beradik yang berjalan bersama bak seorang model yang berjalan di catwalk.


" tolong berikan kunci mobilnya , saya akan membawanya kemari "


devan memberikannya segera rian mengambil mobil devan yang ada di parkiran.


shiit


mobilnya berhenti tepat didepannya , rian memberikan kunci mobilnya " terima kasih " ucap devan.


" iya " balas rian.


saat devan akan membuka mobilnya dia menatap rian sejenak.


" apa ada yang ingin dokter sampaikan ?"


" aku ....sekretaris rian , tolong jaga Istriku. aku mempercayainya padamu hari ini "

__ADS_1


" tanpa dokter pinta aku pun akan melakukannya "


__ADS_2