
fanny sudah berada di hotel sekarang , dia sedang sedang memberikan presentasi kepada beberapa karyawannya di dalam ruangan rapat ini.
disana ada rian , raka dan beberapa bagian staff lainnya. dengan rinci dan jelas dia menjelaskan semua slide demi slide , para karyawannya semua nampak memperhatikannya dengan seksama.
" Karena itulah saya disini sebagai pimpinan akan memberikan cuti selama 3 hari , untuk setiap karyawan yang ada di dalam rapat ini. saya berterima kasih kepada kalian semua , sebagai wakil dari yang lainnya karena telah membantu saya mencapai target yang melebihi keinginan saya. "
" saya dan sekretaris rian sudah membicarakan kegiatan apa yang akan dilakukan selama cuti 3 hari itu "
" apa bu ? kami penasaran ?" tanya seorang pria yang agak melambai cara bicaranya.
" iya bu " saut yang lainnya.
" kita akan mengadakan Gathering "
" wah " semua orang membulatkan mulutnya dan bertepuk tangan.
" Aku tidak sabar , kapan kita bisa pergi bu ?" tanyanya.
fanny pun kembali duduk di kursinya lalu sekarang giliran Rian yang berdiri dan membagikan sebuah tiket.
" Jadi kita semua akan pergi di hari minggu , hari itu tidak dihitung dari libur. kita akan tau saat sudah sampai disana " jelasnya.
" apa Pimpinan juga ikut ?" tanya raka yang mengangkat tangan.
" Sepertinya tidak , kalian saja " jawab fanny.
" Ayolah bu , ikut saja sekalian bawa suami ibu. kita bisa liburan bersama nanti " pinta karyawannya.
" iya bu, jadi kita ... hmm bisa saling lebih mengenal hehehh " ucap seorang perempuan menyengir kuda.
Rian menatap fanny dengan tersenyum , saat itu juga fanny menatapnya " saya ... saya akan memikirkannya lagi " jawabnya.
" kalau begitu , rapat nya sudah selesai mungkin hanya itu saja yang bisa saya arahkan. selanjutnya kalian diskusikan dengan sekretaris rian " jelas fanny lalu dia berdiri dari kursinya sehingga membuat semua karyawan disana juga berdiri.
" selamat sore " ucapnya
" selamat sore bu " jawab mereka serempak.
rian melihat fanny yang nampak buru - buru itu, dia ingin menemui fanny tapi masih ada karyawan yang menunggunya.
" Yang ingin bertanya silahkann, dan jika tidak ada boleh keluar " ujar rian.
" Pak rian , saya permisi keluar " raka mengangkat tangannya lagi , yang dibalas anggukan oleh rian.
" pak saya mau bertanya "
" iya , Ghea " jawab rian.
***
tiffanny buru - buru memasuki ruangannya, dia sudah telat menjemput devan. malam ini mereka berjanji untuk makan malam dirumah nenek.
dia membereskan barang - barangnya dengan cepat. setelah selesai dia bergegas keluar dan menekan tombol lift itu.
ting
pintu lift terbuka dia menekan angka 1 dan pintu lift tertutup.
ting
__ADS_1
dia sudah sampai di lobi , beberapa karyawan menyapanya dia hanya mengangukkan kepalanya.
diparkiran itu dia mencari mobilnya sampai ketemu dan segera pergi meninggalkan area itu.
***
Rumah sakit
devan melepaskan jas kebanggannya itu , jadwal prakteknya sudah selesai sekarang. dia merapikan kemejanya lalu mengambil ponsel yang ada di meja dan meninggalkan ruangan itu.
" dokter devan " sapa suster dan dokter yang lewat.
dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya , dia menuruni anak tangga satu persatu. setelah berada di lantai dasar dia menunggu tiffanny di depan rumah sakit sesekali dia melirik jam tangannya yang sudah hampir pukul 6.
tin
fanny menghentikan mobilnya tepat di samping devan , dia menurunkan kaca jendelanya. devan langsung menoleh seraya tersenyum manis dan segera masuk kedalam mobil.
" Sayang apa pekerjaanmu lancar ?" tanyanya sambil memasang selt belt.
" hmm tentu saja " jawabnya seraya menyetir.
devan menoleh ke arah tiffanny " sebelum kerumah nenek kita beli sesuatu dulu ya , tidak enak datang dengan tangan kosong " jelasnya.
" Iya "
karena suasana yang sepi devan pun memutar radio. pertama kali dia menyetel nya sudah ada sebuah lagu yang diputar.
wanita
🎶 hangatnya ... sentuhan cintamu ... meluluhkan hati , yang dulu membeku , kini tlah mencair ... selamanya kan tetap begitu uuuu.
🎶 kau yang terbaik untukku , seluruh nafasku untukmu ... kutakbisa bila harus tanpamu ...
wanita
🎶 cinta ... kita cinta surga sampai mati tetap bersama ... kau dan aku , kau dan aku selamanyaa....
lagu itu seakan - akan benar ditujukan untuk mereka berdua , yang sebelumnya hanya ada cinta sepihak dari devan tapi sepertinya Es yang ada di hati tiffanny itu sudah mencair
devan terus tersenyum mendengar lagu itu , dia merasakan hal yang sama dengan lagu ini. perasaannya tidak bisa dia pungkiri jika dia sangat bahagia karena dari tingkah dan gerak - gerik tiffanny dia tau jika istrinya sudah jatuh cinta padanya akan tetapi belum menyadarinya saja.
" sayang lagunya bagus kan ?" tanya devan yang berusaha menghentikan keheningan di dalam mobil.
" eh ? a ... itu , ya ... " jawabnya terbata - bata.
" kisah nya seperti kita ya , pada akhirnya sang wanita luluh karena kehangatan dari prianya. sayang ( melirik tiffanny dengan dalam ) jujur saja , hatimu sudah mencair dan jatuh cinta kepadaku kan ?"
" Entahlah , aku saja tidak tau bagaimana bisa kau mengetahuinya "
" dari caramu yang tidak mau terjadi sesuatu padaku " jawabnya cepat , dia menyangga dagunya dengan telapak tangannya yang dia genggam dengan terus menatap fanny.
" hei jangan menatapku begitu , atau aku tidak fokus nanti "
" menyetir ya menyetir. istriku sangat..sangat...sangat cantik dilihat dari dekat seperti ini " dia menatap dengan penuh cinta dan perasaan pada tiffanny.
" oh ya , hukumannya double . hari ini kau memanggil ku hei sebanyak 2 kali "
" kau memang selalu mesum seperti itu. kita sudah sampai "
__ADS_1
mereka sudah berada di toko Frozen Food , karena dirumah nenek menyukai camilan seperti ini bahkan sering memakannya dengan nasi.
keduanya pun turun dari mobil , dan masuk kedalam mereka memilih - milih frozen food sampai keranjang itu penuh.
" ini sudah cukup ?" tanya devan.
" hmm sebentar " pikir fanny sambil memperhatikan area sekitar.
setelah apa yang dia pikirkan ketemu dia berjalan sendirian , lalu devan mengikutinya.
dia memilih bungkusan berisi butir - butir bakso " untuk siapa sayang ? bukannya nenek hanya suka ini ?" tanya devan yang penasaran.
" bi kali , aku tidak tau dengan jelad tapi waktu itu aku pernah melihatnya memakan bakso seperti ini mungkin dia menyukainya " jawabnya yang memperhatikan merk dan bahan didalamnya.
" diantara ketiga ini , apa yang bagus menurutmu ?" tanya tiffanny yang menatap intens ketiga bungkusan berbeda itu.
devan hanya bisa terkekeh melihat tingkah laku fanny.
" sepertinya yang ini " tunjuk devan pada bungkusan ketiga.
" tidak ... tidak aku pikir bukan itu " menggelengkan kepalanya.
" lalu yang mena menurutmu ?" tanya devan.
" yang sebelah kanan , harganya mahal jadi kualitasnya juga bagus. kita tidak tau terbuat dari apa dengan harga murah seperti itu " jawabnya dengan wajah polos .
" hahah sayang mana bisa begitu , memang ... bahan yang digunakan mungkin tidak sebagus yang mahal , tapi manfaatnya sama. jika semuanya dibuat dengan harga mahal maka katakanlah hanya orang kaya yang membelinya. agar semua orang dapat menikmatinya jadi mereka membuatnya dengan beberapa varian dan juga harga tertentu " jelas devan dengan teliti.
" oh begitu " gumam fanny seraya mengangukkan kepalanya.
" kalau begitu ambil yang pilihanku saja " dia memasukkan bungkusan itu kedalam keranjang yang dibawa devan mereka berjalan ke arah kasir untuk membayarnya.
setelah devan membayar keduanya kembali ke mobil kini mereka bergantian , giliran devan yang membawa mobil.
***
Mobil mereka sudah memasuki halaman luas rumah nenek itu , gerbang rumah secara otomatis tertutup kembali saat mobil sudah masuk.
nampaknya nenek benar - benar tidak sabar jadi dia sudah menunggu devan dan tiffanny dari tadi diluar. padahal ini sudah jam 7 nenek tidak merasa kedinginan diluar.
" sayang , cucu nenek " sambut nenek memeluk tiffanny erat.
" apa kabar nek ?" tanya tiffanny.
" baik ...baik apalagi melihat kalian berdua sedekat ini . oh astaga ! apa yang kau bawa nak , sepertinya itu berat. ayo ! ayo masuk jangan diluar cuacanya dingin sepertinya mau hujan "
" ayo ... ayo "
mereka berempat pun masuk termasuk bik kali , lalu devan dibantu bi kali menaruh oleh - oleh yang dibeli nona dan tuannya itu.
" Nenek sudah mendengarnya semua , nenek bangga padamu " puji nenek mengelus pipi fanny lembut.
" hentikan nek, itu sudah berlalu "
" tidak , bagi nenek ... kau sudah berubah sekarang, devan sudah benar - benar merubah sifat dingin dan cuek mu itu. kau sudah melakukan hal yang terpuji untuk seorang istri "
" dengan begini ... jika nenek tidak panjang umur , maka nenek bisa pergi dengan tenang " sambungnya lagi dengan mata yang berkaca - kaca.
" jangan bicara seperti itu " fanny menutup mulut neneknya dengan telapak tangannya.
__ADS_1