
malam harinya
di dalam kamar devan sudah berkumpul kedua orang tuanya , devan duduk di atas ranjangnya sedang ibu dan ayahnya menatapnya.
" devan kau tau sesuatu kan ?" tanya anja yang kemudian duduk di sebelah devan dan mengelus tangan devan.
" ibu aku..."
" dev , kau mengetahui sesuatu maka katakanlah. ayah dan ibu ingin tau karena kami berdua sangat mengkhawatirkan fanny. dia seperti anak kami " kata sang ayah.
" ayah... ibu ..." devan menatap kedua orang tuanya , lalu dengan detail dia memberitahu semua tentang tiffanny hanya sebatas yang dia tau dan dia lihat saja. sedangkan ayah dan ibunya sangat mendengarkan penjalasan dari devan tersebut dengan seksama.
" itulah mengapa dia seperti itu " ucap devan diakhir penjelasannya.
" kenapa pria itu tega sekali padanya " ucap anja.
" tapi sejauh yang ayah lihat , dia masih bersikap biasa san seolah tidak terjadi apa pun padanya. dia sangat dewasa sekali menutupi semua kesedihannya padahal dia hanya seorang anak perempuan yang mungkin masih sangat butuh seseorang yang bisa mendengarkan dan memahaminya "
" devan ... kau harus melindunginya dan menjaganya , dia temanmu " kata anja dengan lembut.
" bukan hanya sekedar teman , apa kau tau devan apa yang dulu kami rencanakan dengan orang tuanya fanny ? mamanya sangat menyukai mu dulu hingga papa nya memutuskan kalau besar nanti kalian akan dinikahkan , tapi takdir berkata lain sebelum semuanya terjadi tuhan sudah mengambilnya "
" apa ayah masih ingin menikahkan kami ?" tanya devan.
" kalau itu ya , ayah tidak memaksa ... ayah akan senang jika kalian menikah sungguhan tapi dengan kondisi yang seperti ini mana bisa juga. kau juga mungkin memiliki pilihan sendiri begitu juga dengan fanny "
" ayah ini , kalau bisa berjodoh kenapa tidak . malahan lebih bagus devan menikah dengan fanny kita tau dari kecil dan keluarganya. ibu tidak ingin devan menikah dengan sembarang perempuan " timpal anja.
" ayah... ibu kenapa jadi bahas pernikahan devan " kata devan.
" bagaiman devan apa kau menikah dengan fanny ?" tanya ayah.
" ayah serius ?" tanya devan yang penasaran itu.
" ya ! tentu saja " jawab cepat ayahnya.
" ayah. ... ayah tidak mungkin seorang tiffanny menyukai ku. jelas - jelas dari awal kami selalu berselisih paham " ujar devan sambil tersenyum.
" jadi kau menyukai tiffanny ?" tanya ayahnya.
" iya nak kau menyukai fanny bukan ?" timpal ibunya .
" ah sudahlah bu ayah , aku mau tidur besok ada jadwal operasi " usir devan .
ayah dam ibunya hanya mendesah kesal karena tidak dapat jawaban dari devan , karena ini sudah sangat malam jadi mereka berdua pergi agar devan bisa istirahat dengan baik.
****
keesokan paginya , fanny akan mendapatkan hasil pengumuman dari para pemegang saham di hotelnya apa akan dibangun hotel impiannya di Norwegia atau tidak. tapi dia berharap iya , karena setelah hotel ini dibuat target selanjutnya ada di Dubai.
dia sudah rapi dengan dress berwarna pink dan rambut yang di gerai, dia menyetir sendiri ke hotelnya. dengan kecepatan sedang dia mengedarai mobilnya hingga sampai dengan selamat di hotel.
beberapa bunga terpajang di depan ruangan kantornya , bunga ucapan selamat dari para kolega bisnisnya , dia mengambil satu ucapan di dalam bunga itu kemudian membacanya.
" kita bisa membuat hotel di Norwegia " kata rian dari depan pintu lift , fanny segera menoleh pada rian yang hari ini tampak cerah dengan setelan jas warna hitam dan rambut yang rapi.
" maafkan aku , tapi aku sudah membukanya duluan. aku ingin mengatakannya langsung padamu " timpal rian.
__ADS_1
fanny tampak tersenyum kecil hanya bisa dilihat dari dekat saja , rian dapat dengan jelas setitik senyuman kecil itu.
" hari ini berikan potongan 50 % bayaran untuk setiap tamu yang datang "
" apa kau yakin ?" tanya rian .
" ya , aku yakin " jawab fanny cepat.
" baiklah , sekarang masuklah dan lihat ada begitu banyak email masuk " ujar rian.
fanny berjalan masuk keruanganya , dalam hatinya dia merasa sangat senang dan bangga atas pencapaiannya. tidak mudah jalan yang harus dia lalui untuk sampai ke posisi sekarang, walau dia pemilik hotel tapi dulu hotelnya tidak terkenal seperti sekarang. dia sudah berusaha dengan baik dan menunjukkan pada dunia kalau buah dari perjuangannya begitu indah.
****
berita itu sudah menyebar di semua kalangan bisnis perhotelan , hingga terdengar sampai ke telinga brian. dia yang sedang berada di maldives kini sedang bercumbu mesra dengan agatha di atas ranjang , mereka menghentikan aktivitas panasnya saat seseorang menelpon dan memberi kabar kebersihan fanny.
" sayang kenapa berhenti " ucap agathan manja.
" eh maaf , ada telpon " ujar brian.
" mengganggu saja , buang saja ayo tuntaskan sekarang " agatha merebut ponsel itu dan melemparkannya ke luar dan jatuh kelaut.
agatha pun menyerang brian dengan ciuman panasnya , brian yang tidak semangat itu berubah membalas ciuman itu karena dapat rangsangan dari agatha.
" hamili aku brian " bisik agatha di telinga brian.
brian membalikkan tubuh agatha yang kini sudah berada di bawahnya " itu yang kau mau ?" tanya brian.
" ya ... hamili aku sekarang "
brian pun menuruti semua permintaan agatha, dia memuaskan semua hal keinginan agatha sekecil apapun
***
tak lama handphonenya bergetar dia segera melihatnya setelah itu langsung menutupnya.
" Fanny ... nenek menyuruh mu pulang kerumah hari ini " ujar rian lembut.
" baiklah " jawab fanny.
" ini sudah jam 6 sebaiknya kita pulang " kata rian.
" kau duluan saja , masih banyak yang harus dikerjakan "
" aku akan menunggumu sampai selesai , mari kita kerjakan bersama " balas rian.
melihat tangan putih itu mengetik laptop dengan lincah , mata rian menatap nya dan melihat wajah perempuan itu , sedang fokus pada pekerjaannnya.
mata yang indah , hidung mancung dan bibir mungil berwarna pink , betapa indahnya ciptaan tuhan ini.
" betapa bodonya brian yang sudah menyia-nyiakan wanita seperti nona fanny , begitu cantik dan pekerja keras . "
" suatu saat nanti , seseorang akan mengemis untuk dicintai olehmu nona, aku berjanji akan terus mendapingimu dalam susah senangmu dan tangis tawamu " ucap rian dalam hati.
****
dimeja makan itu 4 orang sedang makan hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. jam sudah menunjukkan pukul 9 malam ,
__ADS_1
dari depan kali berlarian ke meja makan membawa sebuket bunga mawar berwarrna merah " nek ada buket untuk nona fanny " kata kali.
semuanya memerhatikan buket itu terlihat sangat elegan dan mahal " dari siapa ?" tanya nenek.
" ini ada surat nya nek " kali memberikan surat itu pada nenek.
yang kemudian nenek membukanya dan membacanya.
***Dear Tiffanny Wang
selamat untuk keberhasilanmu
semoga hotel yang akan kau bangun bisa sama terbaiknya seperti hotel mu yang sekarang.
aku mengirimkan bunga ini , bunga yang indah sama seperti matamu , berwarna merah seperti saat kau tersenyum . cantik sama sepertimu.
aku menunggu untuk makan malam denganmu.
^^^by : Micheal Leonardo***^^^
nenek tersenyum ketika membaca surat itu , anja , hars dan devan tampak aneh melihat itu , lalu anja mengambil surat itu dan kemudian membacanya dengan suara keras.
" micheal leonardo , apa dia pacara tiffanny ?" ujar anja.
" jadi dia yang dipilih " ucap nenek dalam hati.
devan merebut surat itu dan membacanya " ck kenapa sangat banyak gaya sekali , lihat lah cara penulisannya tidak ada kisah nya " ungkap devan.
" memang kisah apa yang harus ditulis didalam sana ?" tanya hars yang menggoda devan.
" ini baru satu , lihat saja besok ... ada puluhan bahkan sampai seratus buket bunga datang kerumah " kata nenek.
" siapa Micheal Leonardo itu nek ?" tanya devan.
" entahlah nenek juga tidak tau tapi sepertinya dia kolega bisnisnya tiffanny , tiffanny akan memberikan alamat rumah ini jika ditanya oleh teman bisnisnya karena jika dirumah sana dia tidak ada seseorang yang datang "
tak...tak...tak
suara hak sepatu dan lantai beradu , tiffanny sudah pulang dengan rian disampingnya keduanya sangat serasi seperti sepasang kekasih.
semuanya menoleh kearah sumber suara sudah berdiri rian dan tiffanny disana. rian tersenyum kepada semua orang dan fanny hanya memasang wajah datar.
" nak tumben kau pulang cepat " kata nenek.
" rian menyuruhku pulang sekarang " jawab fanny.
nenek tersenyum dan merasa aneh kenapa tiba-tiba seorang fanny menuruti perkataan rian dia pun menghampirinya dan membawa buket bunga ditangannya.
" lihatlah ada seseorang yang mengirimu buket dan ada tulisan romantis juga "
" sini nek biar aku yang mengurusnya " rian mengambil buket itu dari tangan nenek dan memegangnya.
" fanny ayo makan malam semuanya sedang makan ayo nak kau belum makan kan pasti " kata anja.
" nanti saja bi aku masih ada pekerjaan , rian ayo " kata fanny.
rian pun mengikuti fanny dari belakang , dan naik ke lantai atas lalu mereka berdua masuk kedalam kamar.
__ADS_1
" kenapa mereka masuk kedalam kamar " pikir devan.