Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
hanya sebatas kakak adik


__ADS_3

sebuah mobil mewah brand dari amerika yang terkenal itu yaitu Tesla model X



terparkir dihalan rumah , semua yang melihatnya tercengan atas hadiah tiffanny untuk devan.


" untukmu " kata fanny.


devan mendekati mobil itu dan memperhatikannya " terima kasin sayang " ucapnya yang menatap tiffanny , akan tetapi dalam hatinya dia merasa mobil ini berlebihan untuk membuat hati tiffanny senang dia tidak akan menolaknya.


" kau tidak suka ?" tanya tiffanny dia memperhatikan mata devan walaupun berterima kasih tetapi seolah dia tak bersemangat.


" hei devan kau beruntung sekali mendapatkan mobil ini , wah ! aku jadi iri " ujar samuel.


" kau mau ? " tanya kalista.


" siapa yang tidak mau diberikan hadiah semewah ini " jawab micheal.


kalista hanya tersenyum mendengarnya sedangkan dua orang itu masih menatap satu sama lain.


" sayang bukan begitu , aku suka sungguh aku sangat suka " jawabnya yang berusaha untuk terlihat senang.


" jika kau tidak suka tidak masalah ikutlah dengan ku dan pilih sesuka hatimu "


" kalau begitu ini untukk ku saja bagaimana ?" saut micheal


devan memicingkan matanya menatap micheal " itu milikku , istri ku yang memberikannya "


" mobil ini tidak perlu mengisi bahan bakar karena ini adalah mobil listrik , sekali pengisian daya bisa membawa mobil sampai jarak 550 km . tiffanny ingin membelikan ini sebagai hadiah sekaligus ucapan terima kasih untuk dokter. dia menyuruhku memilih warna dan model mobilnya tapi setelah itu dia sendiri yang memilihnya " jelas rian.


" benarkah sayang ?" tanya devan yang penasaran .


" hmm "


" terima kasih banyak sayang , aku akan menjaga benda ini "


" aku senang kau menerimanya "


***


sampai di malam hari mereka semua menikmati pesta ulang tahun devan yang dirayakan dengan sederhana bersama teman - teman dekat mereka.


devan dan tiffanny terus saling menyuapi satu sama lain , begitu juga dengan micheal dan kalista sedangkan rian dia hanya minum sendirian dan memperhatikan keduanya.


dilihatnya di ujung rak dekat televisi ada sebuah boneka berwarna cokelat dia hampiri itu dan ambilnya.


dia kembali lagi kekursinya dan menaruh boneka itu disebelahnya.


" hari ini kau temani aku " ucapnya mengelus kepala boneka itu.


tiffanny yang melihat rian sendirian di kursinya , dia mengatakan permisi pada devan dia menghampiri rian yang minum sendirian disana sedangkan devan memperhatikannya dari meja makan.


" gudi " dia mengelus boneka itu.


rian menoleh ke arah sebelahnya yang ternyata tiffanny juga duduk di kursi yang sama dengannya.


" kenapa kau kesini , temani dokter devan " ujar rian.


" tidak dia sudah selesai makan. kau tidak ada teman jadi kau membawa gudi ku "


rian tersenyum kecil mendengarnya " ada kau , dan aku tidak butuh teman lainnya "


" rian "


" ya " mereka saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


" kau tidak ingin mencari vania ? "


rian terdiam ketika mendengar nama seorang wanita disebut oleh tiffanny.


" tidak ingin "


" kalian belum benar - benar berpisah , jika ada kesempatan apa kau ingin menemuinya lagi ?"


" tiffanny aku ... sudahlah aku tidak ingin membahas itu lagi"


" baiklah , aku temani kau disini saja "


devan yang terus memperhatikan tiffanny yang terlihat sangat dekat dan seperti tidak ingin melihat rian sendirian itu merasa cemburu , walau bagaimana pun dia istrinya dan dia sangat mencintainta wajar jika dia cemburu.


tapi disisi lain dalam diri tiffanny , dia sudah menganggap rian seperti kakaknya sendiri. hubungan mereka terjalin sejak lama dan tak bisa diartikan hubungan lain.


" jangan cemburu "


mendengar micheal berkata devan menoleh kepadanya.


" sebenarnya apa hubungan mereka ?" tanya kalista.


" rian adalah teman kakak nya , dari sekolah sampai kuliah rian selalu ada disamping tiffanny. dan tidak mungkin bagi tiffanny memiliki hubungan lebih selain dia menganggapnya kakak "


" lalu dimana orang tua rian ?" tanya kalista lagi.


" kata tiffanny orang tuanya ada di spanyol, mereka mempunyai perkebunan apel disana. jadi dia hanya tinggal sendirian di apartemennya. "


" dia pasti kesepian disana. apa dia tidak punya pacar ? wajahnya juga tampan apa dia tidak suka perempuan ?"


" astaga , kau ini. aku tidak terlalu tau mengenai hubungan asmaranya hanya tiffanny yang tau. kau tau kan tiffanny tidak akan memberi tahu rahasia orang lain. "


" aku percaya mereka hanya dekat sebagai kakak dan adik. aku juga percaya dengan rian dia orang yang baik. tapi terkadang aku hanya terlalu cemburu " saut devan yang masih terus memperhatikan mereka.


" brian ? kenapa ?" tanya devan.


" yah kau sangat lamban berpikir seperti ini. bagaimana bisa dia melepaskan tiffanny begitu saja setelah semua yang terjadi , dia sudah tidak bersama agatha lagi jadi kesempatan untuk kembali sangatlah besar pikirnya. "


" tapi kan dia tau kalau Fanny sudah menikah " saut kalita


" benar ! kau harus tau urusan hati itu sangat sulit dilupakan apalagi berpisah karena ketidakinginan. "


" brian memang terlihat mudah menyerah akan tetapi jika menyangkut tiffanny dia tak akan mudah menyerah ."


" dia hanya mencintaiku , dan sebelum dia melakukan sesuatu yang membuat kami berpisah aku lebih dahulu yang akan menghalanginya " kata devan dengan keyakinan penuh.


***


hari semakin malam , pesta itu nampaknya sudah berakhir bergotong royong mereka saling membersihkan rumah itu.


setelah itu ketiga orang itu memutuskan untuk kembali ke tempat masing - masing. sedangkan devan dan tiffanny hanya mengantar mereka sampai halaman rumah saja.


" ayo masuk sayang " ajak devan yang dibalas anggukkan oleh tiffanny.


" hoam " tiffanny menguap kecil sepertinya dia sudah mengantuk.


" mau tidur sekarang ?"


" entahlah tapi aku ingin ke kamar saja "


" baiklah " mereka berdua menaiki tangga bersamaan , setelah di lantai 2 devan membuka knop pintu dan mendahulukan tiffanny masuk kemudian dia.


tiffanny masuk ke dalam walk in closet dia ingin berganti baju. sedangkan devan berdiri di depan kaca jendela kamar dia memperhatikan mobil yang dihadiahkan tiffanny untuknya.


tak lama tiffanny keluar menggunakan kaos biasa dan celana pendek , melihat devan berdiri di sana dia jadi bingung dan penasaran apa yang devan sedang lihat jadi dia memutuskan untuk mendekatinya.

__ADS_1


" kau sedang apa ?"


devan menoleh " tidak aku hanya memperhatikan mobil itu "


" kenapa ?"


" sayang jangan tersinggung tapi aku hanya ingin bertanya "


" katakan "


" kenapa kau memberikan aku mobil ? dan aku tau harganya sangatlah mahal "


tiffanny pun menatap kedepan melihat mobil yang terparkir itu.


" saat aku pulang mengantarmu aku melihat mobilmu tergores di bagian belakang. dan mobil yang satunya juga sudah tidak berfungsi dengan baik bukan ? aku bingung ingin memberikan apa jadi aku belikan mobil saja "


cup


devan mengecup bibir tiffanny dan memeluknya " terima kasih untuk mobilnya , terima kasih juga karena sudah memperhatikanku. " ucapnya lembut.


cup


dia mengecupnya lagi " aku terima ucapan terima kasihnya " balas tiffanny.


" tapi ... bisakah aku meminta satu hadiah lagi ?"


" apa ? " fanny mengernyitkan dahinya.


" jam tangan ? baju ? sepatu ? jalan - jalan keluar negeri ?" sambung tiffanny


" hmm tidak bukan itu semua " seraya menggelengkan kepalanya.


" lalu ?"


" aku ingin membuat anak malam ini " ucap frontal devan.


otak tiffanny langsung bleng setelah itu , dia melongo dan hanya menatap devan dengan kedipan kaku.


" bagaimana ?" tanya devan dengan suara menggoda.


" hmm ah aku mengantuk sekali , hoam " dia menguap dan sedikit mengeliatkan badannya , dia ingin tidur cepat malam ini pikirnya.


" sebentar saja baru tidur setelah itu " ujar devan sambil mengangkat alis menggoda tiffanny.


" ah benar besok ada rapat pukul 9 , devan ... maaf kau tau kan aku tidak suka telat hmm lain kali saja ya " dia berusaha untuk terlihat sekasihan mungkin dipandang.


" sungguh ? bukannya rian tadi bilang tidurlah yang nyenyak besok tidak ada rapat "


" ha ? itu ... aku , ah ya dia menyuruhku tidur yang nyenyak malam ya aku harus menuruti perintahnya "


" siapa yang suamimu rian atau aku ? coba jawab ? "


" k-kau "


" nah jadi ... kau harus menuruti ku bukan ?"


" eh itu ... eh , ya ... " harus alasan apalagi sekarang dia. dia sudah mati kutu.


" oke jadi kita bisa mulai ?" menatap wajah tiffanny yang sedang mencoba untuk kabur itu.


" heheh "


dan akhirnya pergulatan itu terjadi lagi , devan terus melakukannya bahkan mungkin hampir setiap hari. karena dia ingin cepat - cepat punya anak dari tiffanny , tak ada lelah baginya jika urusan hal seperti itu.


berbeda dengan tiffanny yang terkadang lelah melakukannya , sampai akhirnya setelah selesai dia langsung tertidur di pelukan devan.

__ADS_1


__ADS_2