Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
keputusan devan


__ADS_3

sore harinya karena tiffanny merengek untuk terus meminta keluar dari ruangan kamarnya dia ingin menghirup udara segar diluar rumah sakit membuat devan terpaksa menurutinya.


padahal devan tahu kondisi tiffanny masih lemah , dia tidak boleh banyak bergerak dan melakukan apapun untuk sementara waktu.


disamping tempat tiffanny duduk , ada kursi roda yang terparkir rapi sedangkan tiffanny dan devan hanya duduk berdampingan di kursi taman dengan tangan yang masih di infus.


" pakai dulu baju hangatnya " devan memakaianya baju hangat berwarna abu - abu. setelah selesai dia kembali duduk.


" hmm aku baru ingat sayang, aku belum memberi tahumu kalau aku , akan berhenti dari rumah sakit ini " ungkap devan dan hal itu tentu membuat tiffanny sedikit terkejut.


" kenapa ? apa ini semua karena kejadian yang menimpaku ? " tanya tiffanny menatap lekat devan.



devan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum " sebelumnya aku sudah memikirkan hal ini "


" tapi aku merasa itu bukan alasan yang sebenarnya "


" ya ... selain itu juga , aku terlalu terikat dengan peraturan rumah sakit dimana aku harus datang sesuai keinginan dan jadwal rumah sakit. sehingga aku tidak bisa mengatur waktuku bersamamu. "


" kemarin aku hanya ... "


" aku sudah memutuskan untuk membuka klinik ku sendiri " ujar devan yang memotong pembicaraan tiffanny.


" kau serius ?"


" hmm sangat serius , kali ini aku akan terus bersamamu setiap malam bahkan setiap aku ingin menemuimu aku tinggal pergi sendiri. "


" jika kau melakukannya hanya untukku , sebaiknya jangan ... aku juga berpikir harus menerima pekerjaanmu , seperti apapun kondisinya "


" ini sudah menjadi keputusanku sendiri sayang, setelah kau sembuh dan keluar dari rumah sakit aku akan menemui kepala dan memberikan surat pengunduran diriku. "


" baiklah terserah padamu saja "


devan tersenyum lalu mencium pipi tiffanny begitu saja " devan banyak orang disini " gerutu tiffanny.


" mendengar suara marahmu adalah kerinduan terbesarku " ucap devan.


" kau berbohong " ucap fanny.


" bagaimana mungkin begitu , aku tidak pernah bohong padamu sayang "


" aku ingin pulang " katanya tiba - tiba.


" tidak bisa sekarang , harus sampai pulih dulu. sayang ... luka dibagian luar tidak sama dengan yang didalam " jelas devan yang menaruh kepala tiffanny di bahunya.


" sudah berapa lama aku koma ? "


" 10 hari "


" lama sekali " gumam tiffanny.


" hmm aku akan meminta gantinya nanti "


" dengan apa ?"


" kau akan tau setelah aku melakukannya "


dan sore hari itu mereka nikmati dihalaman itu dengan saling bercanda dan bergurau ria , sambil tersenyum kecil dan mengingat - ingat semua yang telah terjadi.


sampai langit menjadi gelap dan matahari sudah terbenam sempurna.


***


beberapa hari kemudian


akhirnya tiffanny diperbolehkan pulang hari ini, devan telah membereskan semua yang mereka bawa kerumah sakit. tiffanny hanya duduk dia belum mengganti pakaiannya dia ingin mandi tetapi devan melarangnya mandi sendirian.

__ADS_1


" devan kapan kau selesai ? aku mandi sendiri saja aku janji tidak lama "


" tidak bisa ! bagaimana jika lantainya licin dan kakimu terpelesat , aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu sayang. aku memasukkan selimut ini dulu baru aku bantu. " tolak devan dengan tegas karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan.


" aku sudah sembuh dan tidak sakit kepala lagi , aku masuk sendiri saja " dia turun dari atas ranjang namun sebelum langkahnya menapak ke lantai devan lebih dahulu menatapnya dengan tajam.


" sekali kaki itu menyentuh lantai maka aku mencabut perintah untuk pulang " ancam devan .


" tapi ! devan aku ... "


" sekarang ayo kita mandi " devan sudah menggendongnya.


" devan tubuhku berat " gerutu tiffanny.


" hanya 50 kg berat apanya ? kan perutnya masih kosong belum ada devan juniornya " jawab devan.


" ck sekarang turunkan aku " perintah tiffanny karena mereka sudah ada di dalam kamar mandi.


lalu devan duduk berjongkok dihadapan tiffanny hal itu jelas saja membuatnya gugup.


" kau mau apa ?" tanya nya bingung.


" membuka bajumu sayang , kau akan mandi apa mungkin mandi dengan pakaian seperti ini ?".


" aku tau tapi kan , aku ... aku malu " jawab dengan pelan diakhir kalimat.


" malu ? ya ampun sayang ... bahkan kita sudah saling kenal bentuk tubuh masing - masih juga sudah sering melakukannya tanpa pakaian lalu kenapa harus malu ?"


tiffanny menutup mulut devan dengan telapak tangannya membuat devan mengernyitkan kedua alisnya.


" mulutmu ... " desis fanny.


kemudian devan menyingkirkan tangan tiffanny dan mulai membuka satu demi satu kancing baju tiffanny.


" devan "


" hmm "


" mengkanya jangan menggodaku sekarang " jawabnya yang terus melepaskan kancing bajunya dengan pelan.


" tapi ... kau juga tidak boleh melakukannya untuk sementara waktu bukan ? kau tidak akan melakukannya kan ? " tanyanya dengan mata polos.


lalu setelah baju luar kini giliran tank top itu yang dia naikkan sehingga dia bisa melihat bra berwarna cream yang melekat di tubuh tiffanny.


dia hanya bisa menahan semua nya sekarang, sesuatu dibawah sana mendesaknya untuk minta di keluarkan tapi dia harus menahannya. tidak mungkin melakukannya saat tiffanny masih sakit pikirnya.


lalu devan berdiri untuk mengambil sabun , namun betapa terkejut nya tiffanny saat pinggang devan berada di hadapannya langsung sehingga dia bisa tau dibalik celana itu devan sudah bereaksi ia hanya bisa meneguk ludahnya.


" sudah tau kan , jadi jangan menggodaku diam saja " kata devan yang mulai menyirami pelan tubuh tiffanny.


" memangnya apa yang kulakukan aku hanya diam " ucap fanny.


" ahhh " tiffanny mendesah saat devan mengelus didekat area lukanya , dia mendesah kesakitan namun yang didengar devan sangatlah berbeda.


dia menahannya dengan menutup mata.


" aw ! pelan - pelan dev-van " desis tiffanny lagi dia merasa sakit di area punggungnya saat devan menyabuni bagian belakang.


" sayang bagaimana bisa aku menahannya " lirih devan.


" memangnya apa yang kau rasakan ?" tanya tiffanny.


" Sakit dan sesak "


" kau sedang flu ?" tanya tiffanny.


devan memejamkan kedua matanya , dan hanya mengangukkan kepalanya.

__ADS_1


" ya aku hanya flu di bagian bawah " jawab devan.


" mana ada flu yang dibagi - bagi atas bawah , cepatlah devan punggungku sakit duduk di dekat sini " rengek tiffanny.


" iya - iya sabar sayang sebentar lagi " ucap devan


kau juga harus bersabar devan , setidaknya selama 3 hari lagi . batinnya.


***


disebuah pantai yang air lautnya sangat tenang itu , cuaca dingin dimalam hari tak mengiraukan pria itu untuk tetap duduk berdiam diri dihamparan pasir, ditemani bintang - bintang yang gemerlap diatas langit juga bulan yang yang bersinar terang.


brian duduk memegang kakinya dengan air mata yang jatuh , matanya memerah dan wajah yang sembab akan tetapi dia tetap terlihat tampan.


hatinya begitu hancur saat tahu tiffanny sudah mencintai devan sepenuhnya tidak ada harapan baginya untuk bersama dan kembali lagi dengan wanita itu.


seolah hukum membalas perlakuannya , sama seperti tiffanny yang menangis dipantai ini , pantai yang seharusnya menjadi tempat pernikahan mereka harus pupus.


kepalanya terisi hanya dengan kenangan - kenangan indah bersama tiffanny , sambil tersenyum miris saat mengingat.


" he " dia menyeringai dengan hati yang sakit.


" sungguh , kapan kita bisa seperti waktu dulu " gumamnya


" tiffannyyyyyyy !!!!!" teriaknya sekuat - kuatnya melepaskan rasa rindunya.


" aku mencintaimuuuuu !!! kau dengar ? aku masih mencintaimuuu " sambungnya.


" hiks , aku lelaki bodoh "


***


dikamar nya dengan tiffanny devan baru saja selesai mandi dia mengelap rambutnya dengan handuk , sedangkan tiffanny membuka laptopnya melihat - lihat kondisi hotelnya . tatapannya begitu fokus seakan tak teralihkan.


" sayang "


" ... "


" sayang "


" hmm "


" sedang apa malam - malam begini ? sudah ya tutup dulu "


devan merebut laptop itu dan tiffanny hanya membiarkannya saja , dia ingin melihat apa yang akan dilakukan devan kali ini.


" sekarang tidurlah , sudah makan dan juga minum obat saatnya istirahat " devan duduk di sebelah ranjang tiffanny sambil mengelus tangan tiffanny.


" hanya menyuruhku tidur ? cih kupikir kau akan melakukan sesuatu " desis fanny.


" ada apa ini ? sayang ... kau berpikir apa memang hmm "


" tidak "


" jangan - jangan. astaga sayang kenapa pikiranmu kotor hmm aku bukannya tidak mau tapi masih menahannya saja "


" ha ?" tiffanny mengernyitkan dahinya " kau yang berpikir tidak - tidak , aku hanya berpikir mungkin kau akan mengajakku menonton atau kau berbicara sesuatu hal ck .. sudahlah aku tidur saja "


dia merebahkan tubuhnya membelakangi devan , kelakuan tiffanny sekarang membuatnya sering kali menggelengkan kepalanya, semenjak dia mencintainya tiffanny berubah menjadi sosok yang sangat manja.


" kau merajuk sayang ? " bisik devan di telinga tiffanny.


" entahlah aku mengantuk sekarang " gumam tiffanny.


devan hanya tersenyum saja dan mencium pipi tiffanny.


" selamat malam sayang " ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2