
malam harinya
dikediaman samuel itu terjadi hidangan ala italia. ada risotto, spaghetii bollognese , antipasto , keju dan anggur.
Satu keluarga yang berisi 3 orang itu sedang menikmati makan malam dengan tenang namun sepertinya penuh kecanggungan.
" Bagaimana ? kalian suka tema makan malam hari ini ?" tanya pak samuel sambil menyesap wine.
" tentu saja ayah , ini sangat nikmat " balas agatha.
namun brian tak menjawab dia hanya fokus pada spaghettinya. samuel menatapnya agatha menatap ayahnya.
" Kau punya masalah ?" tanya samuel.
" Tidak ayah , terkadang kakak suka lebih diam saat sedang lelah " bela agatha.
" Sayang biarkan dia yang menjawabnya , sebaiknya nikmati makan malammu " ujar samuel dengan lembut.
" Tidak ayah " jawab brian singkat.
...
dihalaman belakang rumah mereka , kini samuel dan brian saling berhadapan. samuel memasukkan tangannya kedalam saku celana.
" Kau pikir ... saat aku di kanada, aku tidak tau bagaimana perlakuannmu terhadap putriku ?" tanyanya yang masih santai.
" memangnya apa yang aku lakukan ?" tanya brian dengan nada yang masih sopan.
" tanganmu ... seharusnya kau pergunakan dengan baik untuk membelai lembut putriku saat sedang memelukmu" samuel perlahan mendekati brian dengan wajah dinginnya, dia menyentuh telapak tangan kanan brian dan menyentuh jari - jarinya.
" putriku sudah tidur sekarang, kau tidak berniat untuk ikut tidur didalam kamar kalian ?"
samuel menekan jari kelingking brian, membuat brian meringis menahan sakit.
" Jika tangan ini tidak dipergunakan dengan baik untuk putriku, kenapa tangan ini masih harus ada " ujarnya pelan.
wajah brian memerah, dia hanya diam diperlakukan begitu.
" Aaku ... "
" Jangan menjawabku , kau hanya seorang budak bagiku. budak untukku perintahkan menikahi putriku! " tekannya.
brian terduduk di tanah karena rasa sakit di tangannya yang masih harus dia terima.
" ini tidak sebanting dengan rasa sakit putriku " Dia melepaskan tangannya yang sudah hampir membuat jari brian patah, brian mengeram menahan semuanya sedangkan samuel hanya berlalu begitu saja.
***
sedangkan didalam rumah pasangan baru itu , Fanny sedang mononton televisi , tidak ada lagi hal lain yang harus dia lakukan. menonton televisi hanya untuk menghibur kebosanannya saja.
" hoam " dia menguap saat sudah terlalu jenuh, devan datang dari belakang membawa sebuah buku ditangannya.
__ADS_1
" sayang kau mengantuk ?" tanyanya yang kemudian duduk di sebalah tiffanny.
" tidak , hanya menguap tapi tidak ingin tidur "
" Kalau begitu temani aku saja malam ini, besok aku harus mengajarkan beberapa teknik operasi kepada anak magang baru "
fanny memerasa haus jadi mengambil air minum di meja yang ada di depannya matany tertuju di film kartun itu.
devan baru tau kalau fanny hanya akan menonton film kartun. sifatnya yang seperti ini membuatnya sangat lucu diusia yang sudah dewasa malah menonton film anak - anak.
dia terua membaca bukunya, sedangkan fanny lambat laun menjadi mengantuk, hanya suara jam yang terdengar sekarang. tifanny tertidur dalam posisi duduk , devan mengambil kepala tiffanny dan menaruh kepala nya diatas pahanya.
" Selamat malam , tidurlah dengan nyenyak " ucapnya sambil mengusap rambut fanny pelan. dan kemudian kembali melanjutkan membaca bukunya.
hari sudah lewat tengah malam , beberapa bab sudah devan baca. dia juga sudah mulai mengantuk jika dia mengangkat tiffanny dia akan terbangun dan membuatnya merasa tidak tega.
jadi dia tidur disana menyenderkan kepalanya disenderan sofa.
sampai keesokan harinya , keduanya masih dalam posisi yang sama.
drttt....drrtttt
ponsel tiffanny bergetar di meja , membuat dia terbangun dan mengerjapkan perlahan matanya. saat dia terbangun hidung mancung devan sangat menonjol baginya , dia ingin menyentuhnya namun dia ingat dia sekarang berada di atas paha devan.
" Apa dia sudah tidak waras , dia membiarkan ku tidur di atas pahanya. apa dia tidak merasakan sakit " pikirnya.
dia melirik ke jam dinding yang baru jam setengah 7. dia segera berdiri dan melepaskan tangan devan dari buku yang dia pegang.
" dia membaca semua buku yang tebal ini " batinnya.
tok...tok...tok
dia mendengar suara ketukan pintu dari luar , sebelum dia buka dia membantu devan untuk tidur dengan benar di atas sofa itu.
setelah dirasa posisi nyaman dia segera membuka pintu rumahnya.
" Selamat pagi , maaf mengganggu nona. perkenalkan saya tetangga barumu di depan. suamiku baru kembali dari perbatasan jadi saya buat makanan yang banyak " ujar seorang perempuan yang rambutnya dia sanggul dan bicara dengan ramah.
fanny menerimanya, dia berpikir tidak akan merepotkan devan dengan memasak untuknya. setidaknya ini Bantuan kecil dari tetangganya menurutnya.
" terima kasih , aku akan membalasmu lain kali "
" Seperti apa saja , tidak usah ! lain kali mampirlah kerumah, aku lihat setiap hari rumah ini sepi " katanya lagi.
" oh .... itu memang benar, kami ... bekerja "
" kalau begitu saya tidak akan mengganggu kalian. permisi "
" hmm terima kasih banyak "
fanny menerima nampan itu kemudian dia menutup pintu rumah. dia taruh nampan itu di meja makan, dibukanya tutup nampan itu.
__ADS_1
" Apa nama makanan ini ? " pikirnya.
" Sayang " teriak devan dari ruang televisi.
" sayang , aku pikir kau kemana " devan sudah ada dihadapannya sekarang, lalu mata devan tertuju pada nampam makanan itu.
" sayang darimana ini ? kau membuatnya ?" tanyanya yang penasaran.
" Aku tau aku tidak memasak tapi jangan mengejekku dengan kalimatmu. tadi ... katanya dia tetangga baru didepan rumah suaminya baru pulang dari perbatasan jadi dia membuat banyak makanan ini "
devan terkekeh mendengarnya lalu menghampiri fanny dan memeluknya dari belakang.
" ya , devan apa yang kau lakukan ? gumamnya yang memberontak ingin dilepaskan.
" tidak masalah sayang kau memang tidak bisa memasak tapi kau bisa memuaskan ku di ranjang " gumamnya.
mata fanny membulat sempurna mendengarnya , dia tidak menyangka dari diri devan bisa mengatakan hal sevulgar itu.
" Kau sudah tidak waras dipagi hari. aku tidak melakukan apapun kau lah yang selalu melakukannya " fanny melepaskan paksa tangan devan yang melingkar ditangannya.
namun tidak semudah itu devan melepaskan tiffanny dia mengunci tubuh tiffanny menggunakan tangannya dengan pinggiran meja itu.
" tidak masalah sayang sama saja aku tetap puas , apalagi nanti saat kau sudah terbiasa .. dan lebih agresif aku sangat menyukainya " godanya lagi.
" Dasar mesum " umpat fanny yang bisa didengar oleh devan.
devan tertawa mendengarnya , lalu dia mencium bibir fanny dengan lembut. Fanny belum membalas ******* devan, namun dia sudah memejamkan matanya.
" cup " devan mengakhiri ciumannya itu setelah beberapa lama , dan kemudian fanny membuka matanya.
" aku ingin lebih banyak waktu bersamamu, tapi kita harus bekerja. aku akan mengatur waktu kita untuk pergi bulan madu nanti " ucapnya dengan lembut.
***
sehabis mandi dan bersiap - siap keduanya sudah berangkat bersama, didalam perjalanan itu jalanan terlihat renggang karena ini hari sabtu banyak orang yang libur bekerja.
" Sepertinya nanti sore aku tidak bisa menjemputmu , ada jadwal operasi nanti. tidak apa kan pulang sendirian ?" tanya devan yang masih fokus menyetir.
" Hmm Rian akan mengantarku nanti "
mereka tidak lagi bicara , sampai mereka berhenti di perempatan jalan karena lampu merah. disaat yang bersamaan mobil hitam milik pak samuel itu berhenti di jalan yang sama.
namun keduanya masih belum menyadari, masih menatap kedepan tanpa menoleh.
beberapa saat kemudian lampu kembali hijau, mobil samuel lebih dahulu jalan. namun saat dia menoleh ke kanan dia melihat wajah cantik tiffanny yang ada di mobil warna putih milik devan.
" Putrinya Jackson " batinnya.
mobil devan juga melaju dengan cepat , sampai di mendahului mobil samuel. samuel masih memperhatikan mobil devan.
" Putrimu tumbuh dengan baik dan sangat cantik " batinya.
__ADS_1
" Tidak , seharusnya dia putriku " sambungnya.