Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Baju Favoritmu


__ADS_3

" Terserah apa katamu .. tapi selama aku masih hidup , aku bersumpah untuk menyelamatkan hidupmu " kekeh devan.


***


keesokan harinya


nenek sedang menyuapi tiffanny , walau tiffanny menolak nenek tetap tidak mau kalah. rasanya tiffanny sudah kenyang tapi nenek terus memaksa.


" Nek cukup " katanya.


" makan yang banyak agar sembuh , kau harus cembuh apapun yang terjadi " kata nenek.


tiffanny tersenyum mendengarnya , neneknya memang orang yang tidak mau dibantah.


" masih mau tersenyum ? sepertinya penyakit ini membuatmu kehilangan akal " kata nenek.


" fanny " katanya lembut.


" hmm "


" bertahan ya , bertahan sampai nenek bisa melihatmu seperti para perempuan yang lain " kata nenek sambil mengelus tangan putih mulus itu.


mendengar itu rasanya untuk menelan ludah sajs tidak sanggup bagaimana dia bisa melihat wajah nenek yang sekarang ini. tangan dan tubuhnya terasa lemas.


" Nenek hiks "


" sayang hiks...hiks " nenek langsung memeluk fanny dengan erat dia tidak mau kehilangan cucu satu - satunya ini sekarang. dia tidak siap !


" maafkan aku jika aku terus menyusahkan nenek hiks...hikss aku tau , aku bukan cucu yang baik " isaknya.


" tidak sayang jangan katakan itu , sembuhlah untuk nenek dan untuk hidupmu sendiri. papa dan mamamu pasti sangat sedih melihatmu begitu menderita seperti ini hiks andai sakit ini bisa di tukar maka nenek siap menanggungnya "


" jangan berkata seperti itu , jika nenek sakit siapa yang akan menemaniku. tetaplah sehat sampai usia 100 tahun seperti yang nenek inginkan "


ceklek


saat suara pintu terdengar mereka berdua langsung melepaskan pelukan masing - masing. fanny menghapus air matanya sendiri.


devan masuk mengenakan pakaian dokter nya dia terlihat tampak tampan tetapi matanya tidak bisa bohong kalau dia tidak cukup istirahat beberapa hari ini.


" devan bagaimana ? " tanya nenek.


" beberapa hari ini , aku mencari caranya jikalau pun operasi, tumor itu sudah menyebar. kemoterapi hanya untuk menopang seberapa lama saja tetapi tidak menyembuhkan. aku sedang mencari dokter ahli yang biasa menangani penyakit ini " jelas devan.


" devan tolong ! carikan dokter nya seberapa mahal pun akan nenek bayar " ucap nenek.


" nenek sudahlah , kita tau kalau kita bisa membayarnya. tapi tidak ada yang tau apa aku mampu melewatinya. sudahlah nek , aku hanya membutuhkan nenek sekarang untuk ada disisiku " lerainya dia sudah pasrah dengan hidupnya sendiri. toh ini bukan yang dia mau.


" devan apa aku bisa pulang ?" tanya nya.


***


beberapa hari kemudian


fanny memutuskan untuk menjalankan aktivitasnya kembali seperti semula , tentunya dengan awasan devan dia tidak boleh terlalu lelah bahkan tidak boleh pulang lewat dari pukul 6 sore.


setiap hari dia selalu diperiksa oleh devan , dan setiap dikantor rian selalu mengawasinya. sampai saat ini berita sakitnya belum tersebar karena dia tidak ingin semua itu dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab nantinya.


dia sedang bekerja mengetik sesuatu di laptopnya nampak amat serius , devan yang ada di sampingnya memperhatikan dia takut kalau sakit kepalanya kambuh.

__ADS_1


dia sangat khawatir sama seperti seorang kakak lainnya, tapi tidak tau apakah fanny menganggap rasa sayangnya sebagai seorang kakak atau seorang pria.


dia sudah sering menunjukkan ketertarikannya tetapi fanny hanya menganggapnya biasa saja.


" ini sudah jam 5 sore , mari sudahi pekerjaan hari ini. besok ada rapat penting " ujar rian yang memperingati dengan bahasa lembutnya.


" hanya beberapa baris lagi " balas fanny.


" baiklah 5 menit lagi " kata rian.


" apa kepalamu sakit ? " tanya rian .


" tidak " jawab nya .


" jangan menutupinya dari ku , aku tidak mau terjadi sesuatu " kata rian.


" sudah selesai , ayo pulang " ajak fanny.


sesampainya dirumah , devan sudah menunggunya di sofa itu dia segera menyuruh fanny duduk dan memeriksa kondisinya.


" bagaimana perasaanmu hari ini ? apa ada yang sakit ? kau lelah ? apa penglihatanmu kabur lagi ?" tanya devan.


" aku , aku merasa sedikit lelah saja " jawab fanny.


" minumlah obat ini , aku telah meresepkan obat baru diminum seperti biasa " jelas devan menyodorkan beberapa botol obat.


" obat lagi ..." gumamnya yang menatap obat - obatan itu.


" kau mengatakan sesuatu ?" tanya devan.


" ha ? eh tidak ... tidak lupakan saja , oh ya dimana nenek ?" tanyanya.


" aku permisi untuk ke atas " pamit fanny yang segera pergi itu.


devan membiarkan fanny pergi mungkin untuk berbenah diri , dirinya juga merasa lelah seharian bekerja pun memutuskan untuk mandi.


malam harinya , nenek sedang mengatur makanan di meja dia juga memotong apel dan buah Pir kesukaan fanny. devan turun sambil membawa laptopnya dan duduk di meja makan.


" Apa fanny belum turun dari semenjak pulang tadi ?" tanya nenek.


" ya nek, mungkin sedang mandi atau istirahat aku juga tidak tau " jawabnya.


" sebentar nek , akan saya panggilkan " kata kali yang kemudian naik keatas untuk memanggil fanny.


tok..tok...tok


" Nona muda , Nenek memanggil anda untuk makan malam " teriaknya.


" ya " teriaknya dari dalam.


" kenapa suaranya seperti kesakitan " pikir kali.


" nona tidak apa ? apa perlu aku masuk ?" tanyanya karena khawatir.


" tidak usah ,5 menit lagi aku turun " teriaknya.


" ba.. baiklah " jawabnya.


didalam kamar itu fanny memegangi kepalanya yang terasa amat sakit. nafasnya tersenggal - sengal dia berusaha menggapai obat yang diberikan devan tadi. dengan susah payah dan usahanya dia berhasil membuka pil itu dan meminumnya segera.

__ADS_1


" 48 hari tersisa " gumamnya.


keesokan harinya


karena akan diadakan rapat di hotel samuel's dia pun berangkat bersama rian. dia duduk dibelakang sedangkan rian membawa mobil.


mobil sudah memasuki area parkiran untuk mobil dan rian menghentikannya ketika mobil sudah tepat masuk kedalam jalur parkir.


" apa aku juga akan masuk ?" tanya rian.


" kau boleh masuk " jawab fanny yang kemudian turun dari mobil nya.


dia menghembuskan nafas kasarnya , karena didalam ada brian yang akan memimpin rapat nya. dengan keberanian dan rasa profesionalisme pun dia berjalan dengan langkah pelan menuju kedalam hotel.


" selamat datang bu , silahkan lewat sini " tunjuk pramuaniaga itu.


" terima kasih " ucapnya.


" Fanny aku rasa kemarin bagian ini tidak seperti ini , ini seperti desain yang kita punya " katanya melihat bagaimana lorong itu.


" hmm , tapi punya kita motifnya tidak seperti ini , lihatlah warna yang tidak kontras itu " matanya melihat dinding - dinding hotel.


" ternyata punya kita masih lebih unggul" kata rian.


" selamat datang bu , pak silahkan masuk pak brian sudah menunggu dari tadi " salam dari resepsionis yang ada di depan ruangan rapat itu.


rian membukakan pintu untuk fanny , mata brian tertuju pada suara pintu yang baru saja dibuka itu. matanya berbinar tak kala melihat mantan kekasihnya hadir dirapat itu.


fanny terlihat cantik dengan blezer berwarna pink dan rambut yang di buat bergelombang.



" selamat datang , silahkan duduk aku sudah menyiapkan kursimu " kata brian yang menarik kursi untuk fanny agar duduk di sampingnya.


sekilas fanny meliriknya , dia menatap brian dengan tajam.


" Baju itu ..." ucap fanny dalam hati.



"


" aku memakai baju yang kau sukai, masih bagus kan ?" tanya brian pelan karena diruangan itu bukan hanya ada dia dan fanny melainkan beberapa pemilik hotel lainnya.


" terima kasih " ucapnya yang duduk di sebelah kursi brian.


brian tersenyum kecil karena fanny mau menerima tempat duduk yang dia sediakan. dia juga kembali duduk diruangan itu.


" Bu fanny apa kabarmu ? maaf kemarin tidak bisa ikut rapat di hotelmu. anak saya harus wisuda jadi saya harus menghadirinya " tanya seorang perempuan yang kira - kira berusia 50 tahunan.


" saya baik bu Fatmala , tidak masalah. saya ucapkan selamat untuk anak ibu " balasnya dengan ramah.


" Ini sekretaris anda bukan ? apa dia sudah punya pacar ?" tanya bu fatmala.


" oh ya ibu , Dia tidak punya pacar karena dia suka bekerja" jawab fanny sedangkan orang yang dibicarakan hanya diam saja.


" ya ampun , apa kau sangat setia dengan CEO cantikmu. apa memang kalian berdua saling ..."


" maaf bu Fatmala, mari kita selesaikan dengan cepat rapatnya. saya rasa disini masih banyak pekerjaan yang harus disesaikan " potong brian yang tidak suka mendengar akan hubungan antara rian dan fanny itu.

__ADS_1


" maafkan aku pak brian , mungkin perkataanku akan menyinggungmu. apa kau sakit hati karena meninggalkan wanita secantik bu tiffanny dan sepintar dirinya ? " telak bu fatmala.


__ADS_2