Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
Jangan Memikirkan Apapun


__ADS_3

" hahaha iya ... iya , nenek sudah buat banyak masakan hari ini , mau makan sekarang ?" tanya nenek lembut.


" Terserah Devan saja nek , barang kali dia sudah lapar "


" hmm jadi sekarang , apa - apa harus devan duluan ya " ucap nenek lagi dengan suara yang menggoda tiffanny.


" nenek " raut wajah fanny cemberut tanda jika dia tidak ingin di kerjai.


" ayo ... ayo " nenek menarik tangan fanny untuk berdiri menuju ke meja makan. bi kali sudah menghidangkan semuanya namun ke mana devan , fanny celingak - celingukan mencari sosok pria itu.


" tuan sedang ke kamar mandi nona " ujar bi kali.


" oh "


" Duduk...duduk " perintah nenek , dia pun duduk di bangku yang biasanya dulu dia tempati.


bi kali mengambilkan piring dan sendok tiffanny " nona mau makan apa biar saya siapkan " tanya bi kali.


" Cumi dan daging saja bi "


bi kali memberikan apa yang fanny pinta lagi , dari balik tembok devan muncul sepertinya dia sudah selesai dari kamar mandi.


" duduklah nak devan " ujar nenek.


" iya nek "


mereka semua sudah siap dengan makan malamnya , namun setelah selesai menyiapkan makanan untuk semua orang bi kali pun berniat pergi.


" saya permisi dulu , nek , tuan dan nona " pamitnya.


" ehhh tunggu .... tunggu , makanlah disini, seperti biasanya " cegah nenek.


" tidak nek , terima kasih hari ini ada nona dan tuan yang menemani jadi saya akan ke kamar saja dulu "


" sudahlah , tidak apa duduklah. " kata nenek yang tak mau dibantah.


" iya bi ,makanlah dengan kami " saut devan.


dengan rasa tidak enak menolak tuan dan nenek akhirnya bi kali duduk di bangku.


semuanya makan dengan tenang , tidak ada percakapan diantara berempat itu hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


karena tiffanny makan tidak banyak jadinya dia pertama yang selesai diantara ketiganya , dia mengelap tangannya dengan tisue lalu minum.


" Sayang , mau kemana ?" tanya devan saat fanny berdiri.


" ah itu , aku ingin kekamar ku sebentar " jawabnya.


" baiklah "


tiffanny melenggang pergi sendirian ke kamarnya. sudah lama semenjak dia menikah tidak pernah menemui kamar nya itu.


kembali ke meja makan , bi kali membereskan semuanya setelah keduanya selesai makan dan duduk lagi di sofa.


" Nek , apa nenek tidak mau tinggal dengan kami ? nenek sendirian disini apa tidak kesepian ?" tanya devan.


" bagaimana bisa nenek kesepian , setiap hari nenek selalu menemui teman nenek di panti jompo. lagipula , setelah pulang ada kali yang menemani "


" dan juga ... rumah sebesar ini siapa yang akan meninggalinya kecuali nenek " sambungnya.


devan tersenyum mendengarnya " jika nenek mau "

__ADS_1


" terima kasih tapi tidak apa nenek sudah biasa "


" tiffanny ini lama sekali apa yang dia lakukan dikamar itu" ungkap nenek yang penasaran.


" katanya ada beberapa baju yang ingin dia ambil nek , mungkin untuk bekerja. "


" devan bagaimana menurutmu dia sekarang ? apa dia sudah menerimamu sepenuhnya ?" nenek mulai kepo sekarang.


" tentu nek , hatinya sudah menerimaku sepenuhnya dan juga aku tau , dia sudah mulai mencintaiku. hanya saja ... dia masih tidak ingin mengungkapkannya " menjelaskan itu mata devan seakan - akan sedang menatap tiffanny dia sedang membayangkan tiffanny.


" ah syukurlah kalau begitu , kapan kalian bulan madu ? sudah 6 bulan menikah belum juga bulan madu , siapa tau kan ... bisa cepat punya momongan "


" Aku sedang mencari waktu yang tepat nek "


" ajaklah juga dia ke jerman ke rumahmu, dia hanya ke jerman 1 kali sebelumnya itupun hanya dua hari karena pekerjaan , sekalian menemui orang tuamu " timpal nenek lagi.


" iya nek , itu pasti "


" Nek , dimana baju yang kubeli waktu itu dengan nenek ?" tanya tiffanny yang baru saja turun dari tangga membuat kedua orang yang asik berbincang itu menoleh.


" baju ? ... hmm yang warna putih itu ya ? " nenek sejenak berpikir.


" iya " jawab fanny cepat.


" sayang nenek pikir kau tidak mau memakainya lagi jadi nenek berikan kepada anak pemilik yayasan "


" nenek , kenapa nenek memberikannya. aku masih akan memakainya " gerutunya yang tidak suka itu.


" sayang kan bisa beli lagi " kata devan.


fanny tidak bicara dia hanya duduk di sofa satu itu.


" pulang ini kita beli saja bagaimana ?" bujuk devan yang sudah melihat wajah fanny merajuk itu, baru pertama kali dia melihat tiffanny merajuk dengan wajah seperti ini.


dia masih diam tak menjawab , lalu devan mendekatinya " tidak baik marah pada nenek begitu. kita bisa membelinya nanti , atau ... mau aku belikan seberapa banyak ?" devan berusaha membujuk tiffanny.


" aku tidak marah dengan nenek , tapi baju itu ... "


" hmm baiklah ... baiklah nenek mengerti baju itu sangat bersejarah untukmu "


" iya sudah lupakan saja nek " ujar fanny .


" tapi senyum dulu " perintah.


fanny memberikan senyuman nya , setelah itu wajahnya kembali bersikap biasa.


devan hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum , dia mengangkat tangan untuk melihat jam di tangannya ini sudah jam 9 malam.


" sayang ayo kita pulang sudah malam " ajaknya.


" ya sudah nak , nanti dijalan pulangnya kemalaman. lagipula besok kalian mau bekerja semua " timpal nenek


fanny berdiri dari duduknya , mengambil ponsel yang ada di meja itu. devan menunggunya bersiap - siap setelah siap mereka langsung kembali ke rumah.


***



didalam mobil tiffanny terus saja memainkan ponselnya, dia memainkan sebuah permainan game balok. devan curiga yang melihatnya terus saja diam itu dia pikir tiffanny masih kesal karena bajunya.


" sayang kau masih marah karena baju itu ? bagaimana kita beli saja ?" tanyanya lagi.

__ADS_1


fanny melirik kearahnya " bahkan aku sudah tidak mengingatnya lagi. ada yang ingin kubicarakan nanti denganmu tapi setelah di rumah saja " jelasnya sambil memainkan game itu.


" apa sayang ? jangan membuatku penasaran. atau jangan - jangan ... sedang ingin ya " goda devan.


" ingin apa ?" sorot mata fanny memang seperti berpikir tidak tau maksud nya apa.


" ingin bercinta "


fanny melotokan matanya " hei ! ah maksudku kau ! pikiranmu kenapa kotor sekali "


" berarti malam ini sekali "


" tidak mau "


" harus mau "


" tidak , sudahlah kau sedang menyetir " gerutu fanny.


***


didalam kamarnya keduanya sudah ada di ranjang, mereka dengan posisi tidur saling menatap.


" Apa yang ingin dikatakan hmm ?" tanya devan lembut sambil tangannya mengelus pipi fanny.


" di hotel , akan mengadakan gethering bersama karyawan. semua karyawan yang ikut meminta ku datang bersama mereka. menurutmu ... apa aku harus datang ? " tanyanya.


" memangnya berapa lama dan apa alasan nya istriku harus datang disana ?" tanya devan dengan nada lembut.


" Rian bilang ... aku tidak pernah berkumpul dan merayakan sesuatu dengan para karyawan , setidaknya aku harus menghargai hasil kerja keras mereka. gathering itu akan diadakan selama 3 hari , di villa ku " jelasnya.


" 3 hari ? waktu yang cukup panjang bagiku, karena jika kau ikut aku akan sendirian disini dan dipastikan aku tidak bisa tidur jika tidak melihat wajahmu. tapi aku juga tidak boleh egois ... mungkin karyawan ingin lebiu dekat dengan pimpinannya sesekali lebih baik ikut "


" dan villa yang mana ?" tanya devan lagi.


" aku tidak pernah menceritakan apa yang kupunya padamu bukan ?" tanya balik fanny.


" hmm tapi tidak apa , aku tidak perlu seberapa banyak harta yang kau punya. tapi aku hanya perlu tau siapa saja orang yang bertemu dengan mu setiap hari ? apa yang lau lakukan ? kau sedang memikirkan apa ? apa saja kecemasanmu ? semua itu aku ingin mengetahuinya. tapi jika kau benar - benar ingin menceritakannya , aku juga senang aku menganggapnya sebagai berbagi cerita kepada suamimu ini "


fanny hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya , lalu dia merubah posisi tidurnya dengan telentang dan mata menatap langit - langit kamar.


" Orang tuaku meninggalkan semua hartanya untukku dan kakak , karena kakak juga sudah tidak ada jadi semuanya diberikan atas namaku. selain itu , beberapa lainnya aku dapatkan dengan kerja keras ku sendiri. "


" Bagaimana cara kerja keras mu itu ?" tanya devan lagi yang masih tidur dalam posisi miring menatap fanny.


" Aku belajar bisnis di harvard aku lulus hanya dalam 3 tahun , dan aku lanjutkan program MBA di stanford hanya dalam 12 bulan saja. aku pikir dengan mendalami ilmu itu aku bisa membangun kembali impian papa "


" Bagaimana denganmu ? kau kuliah kedokteran dimana ?" tanya balik fanny yang menoleh ke arah devan.


" oxford , tadinya aku ingin mengambilnya di harvard tapi karena aku sudah berjanji dengan dion untuk berkuliah bersama jadi kami memilih oxford. "


" sayang ini sudah larut , tidak ingin tidur ?"


fanny kembali merubah posisi tidurnya berhadapan dengan devan. wajah devan terlihat sudah mengantuk


" tidurlah " ujar fanny.


devan mengangukkan kepalanya , dia mendekati fanny hingga sangat dekat dan memeluknya.


deg...deg...deg


kenapa kau selalu berhasil membuat jantungku berdebar kencang seperti sekarang, apa aku sudah benar - benar mencintainya

__ADS_1


" tidurlah jangan memikirkan apapun lagi " gumam devan dengan mata yang tertutup


__ADS_2