
" Sekarang aku ingin tau apa kau punya masalah ?" tanya devan lembut.
fanny menggelengkan kepalanya " tidak ada " balasnya.
lalu mereka kembali berjalan - jalan di pinggiran danau itu. hanya ada beberapa pengunjung yang datang bersama pasangannya.
Keduanya sekarang duduk di bangku , fanny tampak merasa kedinginan. devan yang mengerti itu segera melepaskan jaket nya dan menutupi tubuh fanny.
" Cuacanya dingin " kata devan.
" oh ehm terima kasih "
" ayo kita pulang aku sudah lapar " ajak fanny yang sudah berdiri itu, dia melepaskan jaket itu dan memasangkannya ke tubuh devan.
" Kau pulang karena takut aku kedinginan bukan ?" tanya devan sambil tersenyum.
" ha ? eh .... tidak " balas fanny yang malu itu, memang benar dia tau cuaca sangat dingin di malam hari sedangkan devan hanya memakai kemeja diluar.
" Mengaku saja " bisik devan.
" Hei , aku mengatakan yang sebenarnya " kata fanny yang tidak mau kalah itu.
devan langsung menarik tangan kiri fanny dan sekarang fanny ada didepannya tangannya memegang pinggang kecil tiffanny.
" Jangan mengucapkan kata Hei ... Hei kepadaku, aku ini suamimu. dan juga ... Aku memang kedinginan sekarang , bagaimana ... kalau dirumah nanti , kau hangatkan tubuhku. " ucap devan dengan suara yang menggoda.
" ya ... devan, ini ditempat umum bagaimana mungkin kau mengatakan ini diluar. " cercah fanny.
" Mana ? mana hanya ada kita disini , oke deal pulang nanti kita akan saling menghangatkan tubuh kita. " devan mengedipkan matanya membuat pipi fanny memerah, dia segera mendorong devan dan kembali berjalan.
" sayang tunggu jangan berjalan seperti pasangan SMA yang sedang bertengkar " teriak devan.
fanny tak menghiraukan devan dia terus saja berjalan cepat sampai devan mengejarnya.
***
dikamar itu fanny baru berkeramas dia memakai handuk dikepalanya dan mantel putih , dia masuk ke dalam walk in closet namun tidak dia sangka devan masih belum memakai bajunya. dia segera menutup kembali pintu itu.
" Kenapa ? kau tidak ingin masuk sayang ? aku tidak tau harus pakai apa , karena sepertinya malam ini ... kita tidak perlu menggunakan semua ini. "
" bahkan mulutmu berkata vulgar dihadapanku. cepatlah aku akan mengganti pakaian juga. "
" Ayo masuk saja , pilihkan aku pakaian. " devan langsung menarik fanny kedalam , fanny sudah kesal melihatnya dan membuka lemari devan.
dia mencari tumpukan kaos , dan fanny memilihkan kaos berwarna hitam dan juga celana warna hitam.
" ini " fanny memberikannya pada devan.
" pakaikan " ujarnya dengan santai.
fanny memelotokan matanya , menatap devan dengan raut muka kesal.
" Apa kau anak - anak berusia 5 tahun ? tidak ... bahkan diusia itu aku memakai pakaianku sendiri. " cercah fanny.
devan bersedakap di hadapan fanny dan memajukan wajahnya hingga sangat dekat dengan fanny.
" Aku suamimu sekaligus bayimu. jika kita punya bayi kau tidak kaku laki . "
" siapa yang mau punya anak denganmu ? pakailah cepat aku juga ingin memakai baju. " fanny melemparkan pakaian itu di hadapan devan , devan dengan sigap menangkapnya.
devan pun berjalan kearah fanny kebetulan posisi fanby saat itu sedang membelakanginya jadi dia memeluk fanny dari belakang dan membuka tali mantel kimono itu.
__ADS_1
" devann " teriak fanny dan segera memegang tali mantelnya.
" apa yang kau lakukan ?" katanya dengan panik.
" sayang kau sendiri yang bilang siapa yang mau punya anak dengan ku kan ? tapi aku sangat mau punya anak . ayo kita kembali mencetaknya " bisik devan yang kini kepala devan sudah bertengger di bahu sebelah kiri fanny.
" De...devan, lepaskan " gumamnya pelan, dia takut jika devan melakukan sesuatu padanya. padahal mereka sudah melakukannya.
" Kenapa ? aku menginginkanmu sekarang " bisik devan yang sudah menciumi Leher fanny yang terasa wangi itu.
" de..van , apa ... yang kemarin ti..tidak cukup ?" tanyanya dengan gugup.
" hmm tentu saja tidak cukup, tidak dengar kata nenek kemarin ? harus membuatnya setiap hari " ujarnya yang sudah menggerayangi leher fanny sambil menciuminya.
" Kau tau sayang ? berapa kali yang harus suami istri lakukan dalam seminggu untuk berhubungan ? 3 kali seminggu, dan minggu ini .... aku baru 2 kali. "
" Kau pikir aku tau , aku bukan dokter sepertimu."
" Kalau begitu sisakan untuk malam lainnya saja. sana .. aku sudah mengantuk. " usir fanny yang mendorong pelan tubuh devan.
" huft ... baiklah , aku tunggu besok malam ya sayang " ujarnya.
cup
dia mencium pipi fanny dan langsung berlari meninggalkan fanny.
" dia selalu saja melakukan tindakan sesuka hatinya. " gumam fanny yang kembali meneruskan mencari bajunya.
***
" Aku langsung pergi ya, ada operasi pukul 9 nanti. oh ya nanti aku jemput , jangan lupa makan siang tepat waktu. "
devan tak pernah berhenti mengocehinya dari pagi, fanny yang sibuk membuka selt beltnya itu menatap devan.
" tentu saja , sampai kau mendengarkan semua perkataanku aku tidak akan berhenti bicara. "
" kemarilah " perintah devan.
" apa ?"
cup
devan mencium bibir fanny sekilas , " Jangan lupa nanti malam "
fanny menatap nya tajam dan segera keluar dari mobil devan. devan hanya terkekeh melihat nya menjahili fanny adalah kesukaannya.
Dari jarak beberapa meter fanny sudah bisa melihat raka yang berdiri di depan hotel dengan pakaian yang rapi, dia segera menghampirinya.
" Kakak " panggil raka seraya tersenyum. fanny pun tersenyum kepadanya.
devan yang masih disana bisa melihat apa yang dilakukan fanny, dia bisa tersenyum lebar seperti itu kepada pria lain pikirnya. sedangkan dengan dia saja tidak pernah selebar itu.
" itukan ... pria yang bernama raka " gumamnya.
" Ayo masuk " ajak fanny yang diangguki oleh raka.
devan didalam mobil itu masih mengawasi fanny " sebenarnya apa hubungan mereka berdua, mereka tampak dekat. " pikirnya.
***
didalam hotel itu fanny mengarahkan raka untuk bertemu dengan bagian humas, dia mengantar raka di lantai 19.
__ADS_1
dia disambut oleh pak tama sebagai ketua humas di hotel itu.
" Pak tama , dia adalah pelamar baru di hotel ini. kau bisa mengujinya sendiri , untuk lulus atau tidak aku serahkan semuanya padamu "
" Oh jadi ini pria itu, sangat tampan " puji pak tama.
ya , benar saja semua karyawan disana memuji dan terpesona dengan ketampanan raka, hidung mancung badan tinggi dan kulit yang putih.
" raka .. kau bisa ikut dengannya. "
" Baik kak , terima kasih " ucapnya.
fanny segera meninggalkan raka , semua hal yang dia lakukan tidak luput dari pengawasan rian. rian tau kalau itu adalah adiknya devan.
" Tiffanny apa yang kau lakukan dengannya ? membawanya kesini dan bekerja di hotel ini. " tanya rian yang ingin tau itu.
" Aku hanya ingin membantunya, aku hanya menunjukkan jalan tapi dia yang akan melewatinya. "
" Aku tau ! tapi bagaimana jika dia bersekongkol dengan brian dan menghancurkan mu "
" Brian tidak akan melakukan apapun padaku, percayalah raka dan brian tidak sama. kau tau sendiri bagaimana sifat raka , membantunya sedikit tidak membuatku rugi. "
" Kenapa kau begitu baik ha ? tidakkah ingat apa yang dilakukan kakaknya kepadamu ?" cercah rian.
" Rian ... tidak ada hubungannya antara apa yang dilakukan Brian dengan Raka. Aku juga tidak tau kenapa brian melakukannya ... mungkin ada sesuatu yang membuatnya terpaksa melakukan itu atau ... hal lainnya "
" Dengan perkataan mu seperti ini, kenapa aku merasa kau seperti membela brian ? "
" bukan begitu maksudku, hanya saja ... Sudahlah, mari kita bekerja lagi "
Fanny meninggalkan rian sendirian di tempat itu, sedangkan rian merasa kecewa atas tindakan fanny yang menurutnya lebih membela brian sekarang.
***
Dirumah sakit itu devan tengah berkeliling dirumah sakit karena sudah selesai melaksanakan operasinya jadi dia sudah tidak punya pekerjaan lagi.
dia seorang diri mengelilingi taman itu, namun seketika langkah kakinya terhenti saat didepannya seorang wanita berdiri.
" Dokter ... Devan ?" panggil agatha.
devan melihatnya dan kemudian agatha mendekatinya.
" Bu Agatha , ada yang bisa saya bantu ?" jawab devan yang hanya berbasa-basi saja.
" Bisa kita bicara ?"
...
sekarang keduanya sudah ada diruangan devan, agatha duduk berhadapan dengan devan dan menatap wajah devan.
" Kau ... mencintai Tiffanny ?" tanyanya.
" Tentu saja , dia adalah istriku jadi ... aku sangat mencintainya " jawab devan dengan santai dan tenang.
" Apa dia juga mencintaimu ?" cercah agatha sepertinya dia ingin mencari tahu kebenaran tentang hubungan keduanya.
devan tersenyum mendengarnya " Jika kami tidak saling mencintai untuk apa kami menikah " balas nya lagi.
" hmm ya , seharusnya aku tidak bertanya hal bodoh seperti itu. " ujarnya seraya tersenyum.
__ADS_1
" tentang masa lalunya ... apa kau tau ?" tanyanya lagi.