
kini mereka berjalan - jalan disekitaran jembatan , tak pernah sekalipun devan melepaskan tangan tiffanny. setelah berjalan cukup lama keduanya berhenti di pagar batu itu mereka menatap kedepan tetap saling menggengam tangan.
" rasanya ... kita sedang berpacaran seperti pria dan wanita lainnya. menggenggam tanganmu, melihat rambutmu yang terurai lalu bertebrangan ditiup angin dan tersenyum menatap bulan "
sontak fanny menoleh kesamping kirinya , dia tersenyum mendengar perkataan devan.
" kau tidak pernah berpacaran, bagaimana kau tau apa yang mereka lakukan " ucap fanny lembut.
" ya ... karena aku punya mata ( seraya terkekeh ) jika tidak berpacaran bukan berarti tidak tau bukan. banyak temanku yang bilang berpacaran itu sangatlah indah. "
" jadi , kau mendefinisikan berpacaran itu seperti yang kau katakan tadi ?"
" hmm " devan mengangukkan kepalanya.
" orang yang mengatakan seperti itu , karena kisah cintanya berjalan sesuai dengan keinginanya. beberapa orang harus merelakan kisah cintanya berakhir. "
" Sayang ( menatap wajah tiffanny dengan lembut ) boleh aku tau bagaiman dulu cara kalian berpacaran ?"
" ha ? " fanny menatap bingung devan.
" itu maksudku , karena aku tidak pernah berpacaran jadi tidak tau sepenuhnya. aku ingin belajar bagaimana menjadi pacar yang baik itu "
" kenapa kau ingin menjadi pacar yang baik , sedangkan kita sudah menikah. " fanny menatap devan dengan sayu.
" Aku akan mengubah semuanya, agar kau cepat jatuh cinta padaku. pertama - tama aku harus memenuhi bagaimana menjadi kriteria pacara yang baik. lalu setelah itu, menjadi suami yang baik bahkan ... sempurna untukmu. kita memang sudah menikah , tapi anggap saja kita masih berpacaran "
" aku ingin ... kau menganggapku sama seperti dulu kau menganggap brian saat menjadi kekasihmu, tidak pernah malu mengatakan cinta , mengatakan apapun. se...muanya " sambungnya.
tiffanny tersenyum lebar mendengarnya bahkan ia hampir tertawa dibuat devan. lelaki ini bahkan bisa melucu pikirnya. bagaimana mungkin dia bisa seperti orang lain sedangkan setiap orang punya sifat yang berbeda.
" sayang kenapa kau tertawa , apa lucu ?"
" tidak " fanny menggelengkan kepalanya.
" devan ... kau tidak perlu menjadi sepertinya agar aku jatuh cinta kepadamu. kau dan dia berbeda, cukup jadi dirimu sendri , aku tidak mencintai nya hanya karena wajah , penampilan ataupun bakatnya. "
" Kalian berdua memiliki perbedaan yang mungkim sangat jauh " sambungnya dengan mata yang berkaca - kaca sekarang.
" apa perbedaan kami ?" dia menatap fanny dengan penasaran dan menghadapnya sekarang.
" kau tidak marah saat aku mengatakannya ?" tanya fanny untuk memastikan semuanya.
" untuk malam ini tidak ,.aku ingin tau semuanya "
" brian , dia orang yang tidak pernah membuatku kecewa sebelumnya. setiap perkataanku dia selalu menurutinya , dia bersikap hati - hati terhadapku. dia tidak pernah memarahiku, mengatakan jika aku salah dan selalu mengatakan iya untukku. tetapi ... dalam hidupnya , sekalipun dia tidak pernah mengatakan permasalahnnya kepadaku. dia hanya ingin aku tau kalau dia baik - baik saja dan menutupinya sendiri. "
" dan dirimu ( menatap mata devan ). kau lelaki pertama yang berani memarahiku, mengomentariku dan mengatakan salah jika aku berbuat salah. kau selalu mengatakan apapun perasaanmu kepadaku , kau ingin aku tau apa dirimu baik - baik saja atau tidak. seolah - olah aku sangat penting untukmu "
" jadi ... menurutmu " ujar devan.
" ya , aku suka dengan caramu itu. dulu aku ingin brian melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku. tapi mungkin ... itu memang sudah sifatnya, jadi aku tidak akan mempermasalahkannya. semuanya memiliki pandangan yang berbeda - beda. tetaplah menjadi dirimu sendiri , yang selalu memarahiku saat aku salah , saat aku melakukan hal yang tidak seharusnya kulakukan. "
devan tersenyum mendengar pernyataan itu , dia mencium punggung tangan tiffanny " mulai sekarang ... aku akan terus memarahimu bahkan kalau perlu , mengocahimu setiap saat agar kau cepat mencintaiku " goda devan.
" hei , jika kau melakukan nya setiap hari. aku juga tidak akan suka " saut tiffanny sambil tersenyum.
__ADS_1
" sayang , bisakah tidak memanggilku dengan hei ,hei ( menirukan cara bicara fanny ) aku ingin kau memanggilku dengan benar. rasanya kita seperti bermusuhan "
" itu .. hmm hanya kebiasaan saja, jika kau tidak menggoda atau menakutiku aku tidak pernah mengatakannya "
" baiklah , tapi sekarang jangan lagi ya. aku akan berikan hukuman jika mendengar itu lagi " memainkan hidung tiffanny yang mancung itu.
" hukuman apa ?"
devan tersenyum smirk sekarang dia suka pertanyaan ini " hukuman yang membuat kita berdua puas " bisik devan.
" hei !" teriak fanny tanpa sengaja.
" sayang ( melotokan matanya ) wah ! sepertinya ada yang ingin ku hukum "
" tidak " fanny kembali berjalan meninggalkan devan, devan masih tersenyum melihatnya lalu berlari mengejar tiffanny.
" tidak apanya sayang, itu sudah peraturannya. jadi pulang ini hukumannya tetap berjalan "
" tidak "
" harus "
" tidak "
" harus....harus...harusss " teriak devan.
" hei , jangan berteriak " ucap fanny.
" wah benarkan sayang , sepertinya ingin minta hukuman double ya "
***
keesokan paginya
semalam devan benar - benar memberikan hukuman kepuasan untuk mereka berdua. bahkan seperti yang dia ucapkan semalam , hukuman double.
dia malas untuk bangun padahal hari sudah siang. devan masih tertidur di sebelahnya bahkan tangannya saja ada di atas perutnya.
dia membuka matanya , tubuhnya dibawah itu hanya memakai baju pendek berwarna putih. hari ini dia ingat akan bertemu dengan mischeal.
dia menengok ke kanan untuk menatap wajah devan, wajah putih bersih dan mulus tanpa cacat itu sepertinya kelelahan nyatanya dia masih tertidur pulas.
biasanya tiffanny lah yang akan bangun paling akhir. tiffanny pun beranjak dari tidurnya dengan hati - hati sembari mulutnya menguap kecil karena mengantuk.
kakinya segera dia langkahkan kekamar mandi. didalam kamar mandi dia mengambil sikat gigi dan pasta gigi.
dia menggosok gigi seraya menatap dirinya dalam cermin tersebut.
sedangkan di ranjang itu , devan mulai mengeliat. meraba di sekitarnya sudah tidak ada tiffanny jadi dia terkejut dan langsung bangun begitu saja.
dia lirik jam yang sudah pukul 7 lewat , artinya istrinya itu sedang bersiap - siap.
dia menatap ke tempat tidur fanny seraya tersenyum kecil saat mengingat pergulatan mereka semalam.
ceklek
__ADS_1
fanny keluar dari kamar mandi menggunakan mantel mandi selutut dan rambut yang dililitkan dengan handuk, tiffanny tidak tau jka belum bangun saat itu devan terus menatapnya.
" selamat pagi sayang " ucap devan lembut.
fanny menoleh ke arah devan " selamat pagi " balasnya.
" mau sarapan apa hari ini ?"
" tidak usah , aku akan menyuruh rian saja membelinya. kau tidur sampai pagi jadi lebih baik istirahat saja " jawabnya sambil memakai make up.
devan pun beranjak dari tempat tidur , dia menuju ke meja rias fanny.
" Baiklah , tapi nanti siang aku kehotel ya. aku mau makan siang bersama "
dia sudah berdiri di samping meja rias memperhatikan tiffanny memakai aye shadow tipis.
" hmm "
devan berniat mengusili fanny , dia mengambil alat rias " hei ! "
devan melototkan matanya seraya tersenyum " sayang , kau suka ya dengan hukumanku semalam. jadinya selalu memanggilku hei "
" ti-tidak , kau yang menggangguku jadinya reflek aku menyebutmu hei "
devan makin tertawa mendengarkannya " ck sepertinya nanti malam kau harus menguras tenagamu lagi sayang "
" kembalikan devan , jangan mengganguku. kau memang curang selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan"
" itu memang taktikku sayang. jika tidak begitu kau selalu menolakknya , padahal menuruti perkataan suami adalah yang baik dan juga katanya ... dapat pahala yang besar "
" bahkan saat mengatakan hal seperti kau seolah - olah menjadi orang yang pintar agama. "
" kan memang iya sayang, dalam agama kita istri tidak boleh menolak suami. apalagi ... suami setampan dan sebaik diriku " ucapnya dengan percaya diri .
" tampan ? hahah ( dia tertawa lalu mukanya berubah menjadi cemberut ) narsis sekali "
dia meninggalkan devan dan memasiku walk in closet. devan kemudian duduk di bekas kursi fanny dan memperhatikan perlengkapan make up tiffanny.
" Aku rasa dia sangat menyukai model make up seperti ini " pikirnya.
fanny keluar ketika sudah siap dengan baju cokelat nya , rambutnya seperti biasa dia urai dan dibuat curly. melihat devan yang sibuk membuka - buka alat make up nya membuatnya dia penasaran apa yang akan dilakukan devan.
" apa yang ingin kau lakukan dengan barangku itu ?"
" ini sudah hampir habis , beli dimana ? aku akan membelinya hari ini ?" tanya balik devan.
" itu tidak dijual disini " jawabnya santai sembari membereskan pelaralatan make up nya.
" dimana dan berapa harganya ? katakan saja dengan senang hati aku akan membelinya langsung " ujar devan sambil matanya menatap lekat tiffanny yang sudah cantik seperti biasanya.
" tidak perlu , rian yang biasanya akan memesankannya. "
" ha ? sayang aku jadi berpikir disini siapa sebenarnya yang menjadi suamimu ? dia selalu tau apa yang kau pakai , memesam yang kau pakai ukuran dan nomor atau jangan - jangan yang ... " mata devan menatap dada tiffanny, titffanny melirik devan yang diam tak melanjutkan perkataannya itu.
dia cari kearah mana mata devan menuju , lalu dia tau mata devan menuju ke arah dadanya.
" hei ! " teriaknya sambil menutup dadanya.
__ADS_1