
tiffanny sedang berjalan sendirian di area lorong - loromg kamar hotel. setelah beberapa saat dia masuk kedalam sebuah ruangan biasa , dia berdiri di area balkonnya.
saat melihat kebawah para wartawan masih setia berada di luar depan hotelnya. padahal ini sudah sore dan langit mulai gelap, dia hanya bisa mendesah pelan tidak tau harus apa.
disisi lain dia juga merasa takut jika apa yang dikatakan samuel itu benar. buktinya tidak pernah diduga - duga masalah yang tidak pernah terjadi sebelumnya malah muncul kembali.
setelah beberapa saat disana mencari ketenangan , dia kembali keluar dari ruangan itu.
drtt...drtt
tanpa melihat siapa yang menelpon dia angkat ponselnya
📱 " halo " ucap fanny.
(sayang , aku didepan hotel dekat parkiran. aku masuk ke bassment ya )
ternyata yang menelpon itu adalah devan, dia pun tersenyum mendengarnya.
📱" baiklah aku akan ke bawah nanti "
( oke , dah sayang )
tiffanny menutup telponnya , namun setelah itu ponselnya kembali berdering. lalu menekan tombol hijau.
📱 " iya devan, sebentar lagi aku turun " dia tidak tau siapa yang menelpon dia pikir itu devan.
( ck ...ck ... ck sepertinya , hidup kalian damai sekali. nak kau dengarkan masalah suamimu. sekarang... dia di suspend untuk beberapa saat , rasanya sedikit demi sedikit perkataanku akan menjadi nyata ) ujar samuel di dalam ponsel dengan nada yang santai.
📱" darimana kau tai nomor handphone ku ? " hardiknya
( hanya nomor handphone sayang , bahkan nomor rekening atau sepatumu saja aku tau )
📱 " hentikan omong kosongmu ! aku peringatkan padamu tuan samuel. jangan pernah mengganggu hidup orang yang tidak bersalah , jika kau membenciku maka celakai aku bukan devan " tekannya.
( kau pikir aku yang melakukannya ? hahha tidk mungkin sayang, untuk apa aku melakukan itu semua lebih baik aku hilangkan nyawanya daripada menyisakannya seperti ini )
📱 " kau atau bukan ! tapi aku yakin orang - orangmu yang melakukannya. jika kau masih mengganggunya aku akan melupakan usiamu itu dan membalasanya " ancam dia.
( lakukan saja , tapi memang bukan aku , jika kau mau .. aku bisa membantumu , tapi dengan satu syarat )
📱 " syarat apa ?"
( Bercerailah dengannya )
fanny membelalakkan kedua matanya , dia benar - benar gila pikirnya semudah itu menyuruh seseorang untuk bercerai.
📱 " aku tidak akan bercerai , kau sudah gila "
saat itu juga fanny akan menutup ponselnya.
( tunggu ! kau akan menyesal jika menutup ini. aku tau bagaimana pernikahan kalian berdua , jadi jangan coba - coba sok bahagia dihadapanku. )
fanny mematikan segera ponselnya , dia akan lebih emosi jika terus mendengarkan ocehan samuel.
dia sudah terlambat sekarang, devan mungkin sudah menunggunya dengan lama di bassment.
***
__ADS_1
bassment
fanny baru keluar dari hotel , devan yang melihat fanny sudah keluar menjalankan mobilnya untuk menghampiri tiffanny.
" sayang , masuklah "
fanny tersenyum seraya mengangukkan kepalanya. devan langsung menjalankan mobilnya saat tiffanny sudah masuk.
mobilnya berjalan keluar dari bassment , salah satu wartawan melihat keduanya berada di dalam mobil itu.
" hey ! itu dia nona tiffanny dan Suaminya " teriak wartawan itu.
sampai semua wartawan mengejar mobil itu , dan mengerumuni pinggir jalan.
" sayang , pegangan yang kuat " tiffanny berusaha duduk dengan tenang , devan agak mengebutkan mobilnya sehingga membuat para wartawan itu minggi semua.
" ck ...lagi - lagi gagal " umpat wartawan itu.
sekarang mereka sudah dijalan raya , jalanan agak macet sehingga hanya bisa mengendarai dikecepatan rendah.
" Dev " panggil fanny tanpa menoleh itu.
" iya sayang " devan menoleh melihatnya.
" Bagaimana perasaanmu ? apa kau takut kehilangan pekerjaanmu ?" tanya tiffanny yang kini menatapnya.
devan pun menepikan mobilnya di pinggir jalan.
" Aku tidak takut , sekalipun harus keluar dari profesiku. yang hanya aku takutkan adalah berpisah darimu. aku bisa bekerja apapun tapi aku tidak bisa kehilanganmu. "
mendengar itu membuat hati fanny sedih , dia tidak harus meragukan cinta pria ini lagi. dia tidak peduli impiannya yang hanya dia prioritaskan hanya dirinya.
" Apa konsekuensinya jika terbukti benar ? " tanya tiffanny lagi , kenapa dia sekarang takut jika devan akan terkena hukuman penjara.
Flashback *on
siang hari di dalam kantor nya perasaan fanny tidak menentu, pikirannya melayang kemana - mana tangannya hanya menekan asal tombol keyboard itu.
entah dari mana datangnya pikiran itu dia membuka contoh kasus dari sebuah halaman pencarian.
* kasus salah memberikan pengobatan dan hukuman yang diterima *
dalam sekali enter semua nya langsung keluar dia membacanya satu per satu.
" salah suntik sampai mengakibatkan meninggal , seorang suster ditahan dan dikurung 2 tahun penjara "
" salah memasukkan obat , dokter di rumah sakit suci harus mendekam di penjara* "
*setelah membaca itu dia makin rungsing , dia takut devan akan diperlakukan sama. kenapa hatinya jadi sedih pikirnya , dia tidak ingin melihat devan seperti ini.
flashback off*
" tidak akan , aku yakin dengan diriku sendiri. semuanya akan segera terungkap. sayang, bukankah aku bilang aku memang tidak melakukan apapun , hanya demi prosedur dan kepuasan tuntutan keluarga pasien maka aku di suspend. sudah ya ... jangan takut " devan kembali memeluk tiffanny , mulut yang memang berkata seperti itu tapi tetap hati dan pikirannya juga kalang kabut.
***
apartemen
brian berdiri di pinggiran pagar pembatas balkon kamarnya dan raka. dia hanya bisa menatap bulan dan bintang yang kini sedang bersinar terang itu.
__ADS_1
raka baru saja masuk membawa segelas air minum, melihat kakaknya diam dia pun mendekatinya.
" Memikirkan kak tiffanny ?"
brian menoleh seraya tersenyum.
" kenapa kakak tidak mencoba untuk melupakannya ? sekarang , kak tiffanny sudah bahagia bersama suaminya. kita harus membiarkannya bahagia bukan. "
" tidak bisa raka. kakak tidak bisa melupakan cinta pertama kakak. walaupun dia menikah aku akan tetap mencintainya. tidak peduli seberapa besar rasa cinta keduanya , tapi dalam diam aku masih bisa mencintainya. "
" Baiklah, aku tidak bisa melarang keinginan kakak. tapi sekarang aku juga memikirkannya , kenapa kak tiffanny selalu saja mendapat masalah sekarang. sebelumnya dia selalu tenang dan bahkan aku sering makan siang bersamanya. tapi sekarang ... bahkan aku tidak pernah melihatnya setenang dulu . " wajahnya berubah sedih , karena dia sudah menganggap tiffanny sebagai kakaknya juga. dia mungkin merindukan tiffanny yang biasanya makan siang bersamanya.
" Siapa lagi yang bisa melakukan ini kecuali semual dan agatha. "
raka mengenyitkan dahinya dan menghadap ke brian sekarang.
" apa yang membuat kakak yakin ?" tanya raka.
sejenak brian diam , bagaimana mungkin dia tidak tahu sifat kedua orang itu sedangkan dia hidup bersamanya selama ini.
" karena kakak bercerai dengannya , jadi dia juga tidak akan membiarkan pernikahan tiffanny berjalan dengan baik. apapun bisa dia lakukan untuk merusak rumah tangga tiffanny. "
" tapi dengan begitu , apa dia tidak berpikir jika suatu saat nanti bisa saja kakak dan kak tiffanny kembali " timpal raka.
" kau benar , tapi cara berpikir agatha berbeda. jika dia hancur orang yang dia benci juga harus hancur. dia tidak akan membiarkan semuanya , dan pada akhirnya dia akan meminta bantuan samuel sehingga salah satu dari kami bertiga , akan mati "
***
fanny sedang duduk diruangan televisi , devan membuatkannya teh hangat.
" Bagaimana sayang ? apa enak ?"
" hmm ini enak " mengangukkan kepalanya.
" oh ya , nenek menelpon tadi. katanya besok akan kesini menemui kita. " ungkap devan.
" benarkah ? jadi nenek sudah kembali " ucapnya
" sepertinya "
setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara keduanya, mata devan terpaku pada televisi dengan menyanggakan tangannya ke dagunya.
sesekali memperhatikan perilaku devan, dia menurunkan gelas itu.
mulutmu memang mengatakan baik , tapi siapa tahu yang ada di hatimu. bagaimana caraku bisa membuatnya kembali seperti semula.
***
keesokan paginya
karena nenek sudah menelpon akan kerumah jadi devan bangun pagi sekali , dia sibuk memasak menyiapkan makanan untuk nenek barang kali mungkin bi kali juga ikut pikirnya jadi harus memasak banyak.
sedangkan di dalam kamar tiffanny baru saja selesai mandi dia memilih pakaian yang ada di dalam lemari. dia akan pergi ke hotel setelah nenek pulang atau mungkin tidak akan masuk hari ini.
ting
suara bel rumah berbunyi, devan yang sedang mengiris bawang itu langsung menghentikan aktivitasnya dan segera membuka pintu.
__ADS_1
siapa pagi - pagi begini yang datang pikirnya.
ceklek