
Bandung , Indonesia.
dirumah milik devan itu sangatlah ramai berkumpul ada nenek, bi kali , micheal , kalista dan juga rian. mereka akan menyambut kedatangan sepasang suami istri nantinya.
hari mulai malam semua orang menunggunya sedangkan dimeja makan itu berbagai macam hidangan laut sudah dimasak dengan lezat dan ditata sebagus mungkin.
Micheal dan rian sibuk bermain balok , sedangkan kalista hanya bisa menyaksikan pertaruangan dua orang itu. nenek dan bi kali menunggu mereka di meja makan.
tin ... tinn
suara mobil terdengar membuat semua orang berhenti melakukan aktivitasnya.
" itu pasti tiffanny , ayo ... ayo semuanya mari kita keluar " nenek sangat heboh sekarang.
" ayo .. ayo , aku tidak sabar oleh - oleh apa yang dibawa mereka " timpal micheal yang juga bersemangat.
didepan halaman devan dan tiffanny sudah turun dari mobil , mereka bergandengan untuk masuk kedalam rumah namun sebelum mengetuk pintu sudah terbuka lebar.
" kejutaaaaan " sorak nenek.
" huuuu " micheal bertepuk tangan membuat semua orang juga ikut bertepuk tangan.
tiffanny dan devan hanya tersenyum melihatnya.
" memangnya ada yang ulang tahun " ujar fanny.
" haha humor mu lucu sekali , apa harus berulang tahun untuk memberikan kejutan " saut micheal.
" hai , apa kabar ?" tanya fanny melambaikan tangannya kepada micheal.
" apa itu tadi ? kau melambaikan tangan kepadaku ? mengatakan apa kabar ?" tanyanya seakan tak percaya.
" hei , jangan ganggu suamiku. sekarang ... aku adalah istri sesungguhnya untuk hmmm dia " menatap micheal dengan gayanya yang frontal.
" kalista , jangan diumbar atau pria disampingku jatuh tremor nanti " katanya yang merujuk pada rian.
" aku ?"
" hei micheal aku tidak menganggumu " kata rian ketus.
" sudah ...sudah sekarang mari masuk , kita mengobrol didalam " ajak nenek memegang tangan tiffanny.
" tunggu dulu, Fan dimana oleh - olehnya ?" cercah micheal.
" micheal " panggil devan kemudian menguntalkan kunci mobil kearahnya.
" ada di jok belakang dan bagian penumpang "
" oke , cepat rian mari kita unboxing semuanya "
rian hanya mengikuti micheal , sedangkan ke lima orang itu masuk kedalam. saat pertama kali masuk sungguh tiffanny sangat merindukan rumah ini.
dimana hanya ada dia dan devan sebelumnya, walaupun sering berselisih paham tapi dia sangat menyukainya tapi tidak dia ungkapkan saja.
mereka semua duduk di ruang tamu, karena haus tiffanny mengambil minuman yang sudah dibuatkan oleh bi kali.
" terima kasih bi "
" sama - sama nona "
" nona , nona sangat cantik sekali dan seperti punya aura yang berbeda " sambung bi kali.
" aura ? " gumam fanny.
" hmm sangat bercahaya "
dia melirik ke arah devan yang ada disebelahnya.
" bagaimana tidak bercahaya , saat seorang wanita jatuh cinta pasti berbunga - bunga " saut kalista.
" kau mencintai micheal ?" telak fanny.
" tentu saja , bahkan ... kami juga berencana untuk bulan madu "
" hey tifaanny !! kau membeli oleh - oleh apa memborong semua belanjaan satu toko " kata micheal yang membawa banyak paper bag ditangannya begitu juga dengan rian.
" aku hanya membeli beberapa sedangkan yang lainnya devan "
" sungguh ?" tanya micheal seakan tak percaya.
__ADS_1
" hmm " tiffanny mengangukkan kepalanya.
" kau sepertinya sudah ketularan tiffanny , jika berbelanja bisa satu toko diborong "
" Apa aku bisa makan sekarang ?" tanya fanny yang begitu tiba - tiba.
" sayang kau lapar ?" tanya devan.
" hmm aku ... aku menahannya dari tadi "
" sayang kenapa tidak bilang "
" kalian selalu berbicara "
" baiklah ... baiklah ayo makan semuanya "ajak nenek.
maka semua orang yang ada disana pun berpindah ke meja makan dan menikmati makan malam.
***
keesokan paginya
satu minggu kemudian
rutinitas mereka untuk bekerja harus segera mereka laksanakan, pertama - tama devan mengantar tiffanny terlebih dahulu kini dia mengantar sampai kedalam hotel.
" aku pergi dulu ya, jangan lupa makan siangnya aku sudah siapkan disini " memegang paper bag yang telah fanny bawa.
" aku mengerti. sebaiknya kau segera pergi , tidak baik kan dihari pertama masuk kau harus telat "
" hmm siap istriku sayang " ucapnya dengan hormat membuat tiffanny tertawa.
" sayang kau tertawa. "
" kau sangat lucu "
" devan , Tante Kalista ibunya brian dan raka memintaku untuk datang kerumahnya nanti siang, mereka sudah pindah dirumah lamanya. ibunya ingin aku datang aku boleh pergi ?"
devan mengernyitkan dahinya kenapa tiffanny meminta izin padanya padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukannya tetapi hal itu membuat senang seperti dia merasa dihargai sebagai seorang suami.
" Aku ingin melarangmu, tapi aku yakin padamu kau tidak akan melakukan sesuatu dibelakangku kan. jadi aku mengizinkannya tapi harus ingat , tetap ada batasan "
" kau pikir aku akan berselingkuh "
" ck iya ... iya aku tau , sekarang pergilah "
" kau mengusirku sayang ?" devan berpura - pura merajuk sekarang.
" tidak , jika kau ingin disini aku juga tidak masalah. tapi kau harus profesional "
" oke aku pergi sekarang "
cup
setelah mencium pipi tiffanny dia melambaikan tangannya tiffanny hanya tersenyum melihatnya.
***
siang harinya tiffanny sudah sampai di sebuah perumahan lama , dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan kompleks yang terlihat sepi itu.
dari jarak 10 meter dia melihat brian yang sedang membersikan area halaman depan rumahnya. dia menatapnya sebentar lalu berjalan untuk menemuinya.
tanpa tiffanny berkata brian sudah memutarkan tubuhnya , wajahnya yang tadinya datar langsung tersenyum dan bersemangat ketika melihat tiffanny.
" kau datang ?"
fanny hanya mengangukkan kepalanya " aku mencarimu tapi katanya kalian berdua sedang berlibur " jelas brian lagi.
" hmm "
" ayo masuk , ibuku sudah menunggumu didalam "
rumah yang terlihat tua itu tapi tetap bagus karena beberapa waktu yang lalu brian sudah merenovasinya. ibunya brian dan raka sudah menunggunya didepan itu. dia disambut dengan senyuman oleh kedua orang itu.
" Fan "
" ya " melirik sebentar lalu kembali menatap kedepan.
__ADS_1
" aku ingin bicara berdua nanti "
" lihat saja nanti "
" Kak " panggil raka yang sedang memegang kursi roda tante christin.
" raka , tante christin apa kabar ?" tanyanya.
" baik kak "
" tante sangat baik nak , semua ini juga berkat dirimu iyakan sayang ?" tanyanya pada raka.
" ah tentu saja , kak fanny memang baik "
" nak apa kau sudah makan siang ? ayo masuk kedalam tante memasak tadi "
" terima kasih tante tapi aku sudah makan siang "
" tumben kakak cepat makan ini baru jam 1 " ujar raka.
" Dokter devan membuatkan makan siang jadi kakak makan cepat "
" oh begitu , ayo kak masuk "
fanny hanya mengangukkan kepalanya , sedangkan brian dia tidak masuk hanya memperhatikan dari kejauhan bagaimana wanitanya itu.
didalam ruangan itu mereka bertiga mengobrol banyak dan terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. tiffanny harus segera kembali ke hotel.
" tante saya harus pergi , akan ada rapat sebentar lagi "
" begitukah ? kalau begitu yasudah selesaikan dulu pekerjaanmu nak "
" kakak mau kuantar ?"
" tidak raka , kakak bawa mobil sendiri "
mereka berdua mengantar tiffanny sampai ke bagian depan rumah, disana brian sudah menunggunya.
" aku akan mengantarmu sampai ke mobil "
" hmm "
" tante saya permisi "
" iya nak hati - hati "
" hati - hati kak "
Brian pun mengantar tiffanny sampai ke mobilnya namun dalam perjalanan menuju ke mobil tidak ada percakapan diantara keduanya sampai ke mobil tiffanny.
" buru - buru ?" tanya brian menatap tiffanny.
" aku sudah berjanji kepada devan untuk tidak terlalu lama keluar "
" Fan , aku merindukanmu "
fanny hanya diam mendengarkannya, dia tidak ingin menjawab itu. dia sudah tidak ada rasa cinta atau rasa apapun lagi untuk pria ini.
" kau tidak merindukan aku ? " tanyanya dengan penih harap dia ingin mendengarkan kata iya.
" aku harus pergi sekarang , brian permisi " ucapnya formal.
setelah beberapa tahun lamanya untuk pertama kalinya tiffanny mengucapkan kata formal seperti ini seperti mereka adalah dua orang lain yang tak saling mengenal.
" Apa yang dokter itu lakukan sampai kau tidak mau berbicara padaku ?" tanya brian dengan suara agak meninggi.
tiffanny berhenti memegang gagang pintu mobilnya barusan saja dia mendengar brian berteriak kepadanya.
" Dia hanya mencintaiku "
" cinta ? apa aku tidak mencintaimu ? aku rasa ... cintaku lebih besar untukmu, bahkan ... aku rela melakukan segala hal untukmu "
" Apa aku memintamu untuk melakukannya ? " tanya tiffanny yang tak ingin kalah sekarang tetapi cara bicara masih biasa.
" kau memutuskan semuanya sendiri, seperti kau yang mempunyai hak atas diriku. "
" tapi aku ingin melindungimu , fan " kata brian lemah.
" aku tau dan berterima kasih untuk semuanya. tapi sejujurnya aku tidak pernah memintamu untuk melakukannya , maafkan aku brian ... aku harus mengatakan ini sekarang kepadamu "
__ADS_1
" apa ?"
" Aku sangat mencintainya , aku mencintai dokter devan. "