
" Tiffanny apa ini kenapa kau ketakutan begitu ?" tanya nenek yang mendekati fanny.
fanny membuka matanya dan mendesah nafas lega.
" ha ? nenek ... aku kira siapa " gumamnya pelan.
" siapa lagi ? apa hantu ? sayang kau takut dengan hantu?" goda nenek.
" tidak ! aku... aku tidak takut " jawabnya terbata - bata.
nenek tersenyum lebar melihatnya. tetapi saat dia memandang tiffanny dia lihat baju fanny yang basah kuyup seperti itu.
" kenapa bajumu basah , fanny kenapa keluar disaat hujan deras begini ?" tanya nenek.
" oh ... eh itu aku ... aku tadi habis mengambil laporan hotel yang ketinggalan di dalam mobil. aku masuk dulu nek masih banyak pekerjaan " kata fanny yang segera meninggalkan nenek dan berlarian menuju ke atas.
" ganti bajumu dan pakailah jaket " teriak nenek.
" iyaa" jawab fanny.
dari dalam kamarnya devan mendengar teriakan fanny, dia segera bangkit dari tidurnya dan membuka pintu ternyata fanny baru masuk kedalam kamarnya.
dia menutup lagi pintu kamarnya dan duduk di pinggiran ranjang. entah kenapa dia gelisah sekali malam ini dia tidak bisa tertidur padahal cuaca hujan begini adalah saat yang paling nyaman untuk tertidur.
" Bagaimana caraku agar bisa menyembuhkannya. Hari demi hari kondisinya benar - benar parah. Aku Punya kemampuan tetapi tidak punya bahannya. Jika saja aku masih bekerja di jerman mungkin dengan tanganku sendirilah aku bisa menyembuhkannya " pikirnya.
" haa " dia kembali merebahkan diri di ranjang. mengingat wajah fanny yang sangat ingin hidup itu membuatnya gusar, dia sudah berjanji untuk membantu fanny keluar dari penyakitnya.
***
sementara itu di dalam kamarnya beberapa jam sudah terlewati sampai pukul 2 dia masih berkutik di depan laptopnya. malam ini dia harus menyelesaikan masalah hotelnya. dia menekan tombol enter dan kemudian tersenyum kecil.
" Selesai " katanya.
" akhirnya aku bisa mengembalikannya ke posisi semula " sambungnya , namun seketika , pandangannya kabur dan kepalanya terasa sangat pusing dia memejamkan matanya dan menyender ke ranjangnya.
tangan yang tadinya berada di atas laptop kini terjatuh terjuntai ke lantai. dia tidur atau pingsan ? tidak tau hanya keesokan harinya lah yang akan menjawabnya.
hingga keesokan harinya dia masih berada di posisi semula , tertidur dengan posisi duduk dan menyender di kepala ranjang.
tok...tok...tok
" Fanny sayang " teriak nenek.
" Fanny saat nya sarapan nak ... ayo turun " sambung nenek.
ceklek
" eh tidak dikunci " gumamnya.
" astaga tidurnya " kata nenek sambil menggelengkan kepalanya. dia segera berjalan menuju ke arah fanny mengambil laptop dan menyingkirkannya.
" kebiasaan sekali saat tidur masih memegang laptop" gerutu nenek.
" nak bangunlah " katanya menyenggol pelan bahu fanny.
" nak "
" nak "
" Fanny bangunlah " ucap nenek kali ini dengan gusar karena sebelumnya dia mengucapkannya dengan lembut tidak biasanya fanny dibangunkan beberapa kali seperti ini.
" Fanny " teriaknya
tetapi fanny tetap tak bergeming , nenek sangat khawatir dia segera berdiri lagi dan berlari kearah pintu.
__ADS_1
" Devannn" teriaknya.
" Devannnn" teriaknya sekali lagi.
" ada apa nek ?" tanya devan dari bawah dan segera naik ke tangga.
" Tiffanny ... dia ... dia tidak bangun " jawab nenek.
" apa ?" katanya shock.
devan segera berlari dan dia masuk kedalam kamar fanny , dia mengecek nadi di pergelangan fanny.
" kita harus membawanya kerumah sakit " ujar devan yang kini menggendong fanny.
***
sesampainya dirumah sakit , devan memasangkan ventilator alat bantu pernasan pada fanny dan menyuntikkan sesuatu di cairan infus itu.
tubuh fanny seperti mayat hidup yang kini hanya bisa terbaring lemah , waktunya sudah benar - benar sangat kritis. nenek sudah menatap cucunya dengan sedih dari balik jendela. banyak alat yang dipasang sehingga dia tidak tega untuk mendekat.
ceklek
devan keluar dari dalam ruangan , nenek memandanginya dengan sedih. devan langsung memeluknya memberikan kekuatan untuk sang nenek.
" Kondisinya benar - benar parah bukan ?" gumam nenek.
" hmm "
" Nenek aku ingin bicara "
" devan nenek ingin bicara " kata kedua nya dengan kompak.
" Nenek saja dahulu " ujar devan mengalah.
" Nenek memutuskan untuk membawanya menjalani pengobatan di Inggris " ungkap nya.
" Nenek sudah tidak tahan melihatnya begitu menderita dan terus kesakitan. Nenek akan mengorbankan semua nya untuk kesembuhannya " sambung nenek.
" nenek aku juga sebenarnya ingin mengatakan untuk membawanya menjalani pengobatan di sana. ada seorang dokter bernama keth , dia ahli saraf dan tumor otak terkenal. aku sudah menghubunginya lewat bantuan ayah " jelas devan.
" benarkah ? kapan harus pergi ?" tanya nenek.
" 3 hari lagi . lebih cepat lebih baik sebelum terlambat " jawab devan.
***
Dua hari sudah berlalu , besok adalah hari dimana fanny akan pergi untuk menjalani pengobatan. dia masih terbaring lemah di brankar itu dengan ventilator yang masih melekat di tubuhnya.
nenek , devan , rian dan juga micheal sering kali melihatnya dan berharap agar dia segera bangun dari komanya. tetapi hingga hari ini masih tetap sama dan tidak ada perkembangan.
Nenek sedang pulang untuk mengemasi barangnya dan juga barang fanny. dia akan ikut ke inggris untuk mengurus fanny.
dengan wajah yang sedih dan sambil menangis dia memasukkan baju dan keperluan tiffanny kedalam koper. ada fotonya dan juga fanny saat itu foto kelulusan fanny.
dia mengambilnya dan mengelus pelan foto itu.
" Nenek berharap ... setelah pulang nanti , kau akan menunjukkan senyum sehat mu yang seperti ini sama seperti kau pulang membawa kelulusan terbaikmu hikss "
" nenek " kata kali yang membawa beberapa pakaian dingin , dengan sedih dan tangannya gemetar dia menaruh baju itu kedalam koper.
" aku selalu berdoa agar nona fanny sembuh. dia seperti anakku sendiri " ujarnya.
" tolong jaga rumah ini ... dan urus devan dengan baik, nenek akan pulang setiap sebulan sekali nanti " kata nenek ji.
" hmm " kali mengangukkan kepalanya seraya menahan tangisnya.
__ADS_1
sedangkan didalam ruangan itu, micheal berada di sebelah brankar itu berdiri menatap fanny yang terlihat sangat nyaman tertidur disana.
dia merasa kehilangan sosok fanny , lantas dia mengingat bagaimana pertemuannya dengan fanny.
Flashback On
Cambridge, Amerika Serikat.
saat itu , micheal menggunakan kameranya untuk memotret gedung dan semua halaman di dekat situ. dia sangat tertarik dengan gedung yang menjulang tinggi dan berdesain kuno namun tetap elegan.
dia menyukai potret, Tetapi dia mengambil Jurusan Ekonomi di harvard ini. saat dia memotret tak sengaja bidik kamera itu mengenal wajah fanny yang sedang tersenyum saat akan menyebrangi jalan.
fanny melambaikan tangannya ke arahnya , dia memotretnya tiba - tiba. dia terpana setiap langkah dan setiap ekspresi fanny.
namun siapa sangka , senyuman lebar dan lambaian tangan itu diperuntukkan seseorang pria yang kini berada di belakangnya.
" Briaaan" teriak fanny sambil berjalan menuju ke arah brian yang saat itu mereka masih berpacaran.
micheal mengikuti kemana arah fanny menuju hingga matanya harus melihat bagaimana fanny dan brian saling berpelukan.
" Aku menunggumu dari tadi " kata brian.
" I am really, really sorry. The bus I was riding should not have been late, there was an accident on the road "
( Aku benar benar minta maaf. Bus yang saya tumpangi seharusnya tidak terlambat, ada kecelakaan di jalan.) jawab fanny.
" no problem, how do we get to the bookstore? "
" hmm yes " jawan fanny .
" Fanny tunggu " cegah brian saat fanny berjalan duluan.
" Fanny " gumam micheal.
semenjak hari itu , dia sering ke perempatan jalan hanya untuk melihat fanny menyeberangi jalan. hingga suatu hari tidak sengaja fanny menabraknya karena banyaknya buku yang dia bawa.
" You are okay ? I'm sorry for bumping into you" tanya fanny yang merasa tidak enak.
" ah hmm aku baik - baik saja " jawabnya dengan senyuman kecil diwajahnya.
" kau orang indonesia ?" tanya fanny.
" aku benar - benar minta maaf , karena aku su.."
" tidak apa , aku baik - baik saja. oh ya boleh aku mengenalmu ? namaku Leonardo Micheal " katanya sambil menyodorkan tangannya.
" eh oh ya ... Tiffanny wang " jawabnya yang menjulurkan tangan menjabat tangan fanny.
" Tiffanny wang ... nama yang indah " guman nya pelan sambil tersenyum.
" kau mengatakan sesuatu ? " tanya fanny.
" ah tidak , oh ya maaf buku - bukumu jadi terjatuh aku bantu membereskann" jawab micheal lalu berjongkok untuk membantu membereska buku - buku itu.
" tidak apa aku yang seharusnya minta maaf " timpal fanny
Flashback off
mulai dari hati itulah keduanya mulai saling mengenal, namun ... karena jurusan mereka berbeda jadi mereka jarang bersama. tetapi setiap semingu sekali micheal selalu mengajak fanny untuk berjalan bersama tentunya dulu dengan brian juga dia ikut.
" Kemana senyumanmu yang pertama kali aku lihat dulu, jujur saja ... aku sakit hati selalu mendengarmu menolak lamaranku tapi aku juga harus tau diri aku bukan pria yang kau cintai seperti Brian mu "
" tapi aku ingin kau selalu bangun dan menolakku terus agar aku bisa menganggapmu hanya sebagai teman "
" tidak seperti ini ... " sambungnya lagi.
__ADS_1