Cinta Di Hatiku

Cinta Di Hatiku
bukan waktu yang tepat


__ADS_3

" tidak tiffanny !!! " teriaknya


devan terbangun dari tidurnya , kepalanya mengeluarkan keringat nafasnya memburu dengan cepat.


" tidak , tidak mungkin itu terjadi "


dia melirik kesebelah dimana tiffanny masih tertidur nyenyak " syukurlah itu hanya mimpi buruk " gumamnya , dia bangun dari ranjang itu sebelum langkahnya pergi tangannya membenarkan posisi selimut.


" selamat pagi sayang , ini sudah hari minggu lagi. aku akan membersihkan diriku lalu setelahnya dirimu , kau pasti merasa gerah kan dengan pakaian ini " katanya sambil mengelus kepala tiffanny dan jaraknya sangat dekat dengan tiffanny.


cup


dia selalu mengecup kening tiffanny apapun keadaannya sekarang. lalu berlalu masuk kedalam kamar mandi.


setelah devan masuk dan cukup lama dia di dalam kamar mandi , di kasur itu tangan tiffanny kembali bergerak perlahan dan kedua matanya barusaha untuk membuka perlahan.


matanya terus berusaha untuk terbuka, kepalanya masih terasa pusing dan hanya mambu membuka sebentar dan kembali menutup.


" De- van ... " lirihnya dengan pelan.


seorang suster masuk kedalam ruangan itu dan terkejut melihat tiffanny yang terbangun tiba - tiba.


" bu tiffanny , anda mendengarku ?" tanyanya.


mata tiffanny terlihat sangat sayu dan tubuhnya masih terasa lemah.


suster itu membuka alat pernafasan yang ada di hidung tiffanny.


" Dokter ! dokter apa kau didalam ?" teriak sustet itu dari jauh.


ceklek


devan sudah memakai bajunya dengan lengkap , dia bingung kenapa suster itu meneriakinya tapi saat dia keluar dia langsung terpaku.


" sayang "


" sayang kau sudah siuman ? " tanyanya lembut , tiffanny tidak menggubrisnya tatapannya hanya tertuju pada atas langit - langit kamar.


" Kenapa aku ada disini ?" tangannya pelan.


" sayang terjadi kecelakaan malam itu "


brak


kembali dia menutup matanya saat kembali teringat peristiwa itu , devan langsung memeluknya saat itu juga " aku sangat merindukanmu , terima kasih sudah kembali "


tidak ada reaksi apapun terhadap tiffanny dia hanya diam kebingungan.


" aku masih hidup " gumamnya dengan tatapan kosong.


mendengar itu membuat devan heran hingga dia melepaskan kembali pelukannya. dia menatap tiffanny , tapi dia ingat masih ada suster disana.


" pergilah , aku akan menanganinya sendiri " ujar devan.


" baik dokter " segera suster itu pergi dan menutup lagi pintu kamar.


tiffanny nampak bingung pada dirinya sendiri, atau selama ini dia hidup didalam bayangan, sehingga dia berpikir dia sudah magi.


" sayang kau tau siapa aku ? " tanya devan tepat diwajah tiffanny. fanny memperhatikannya dengan lekat.


" sayang kau dimana ?"


" suara ini " pikirnya yang mengingatkan dia tentang mimpinya.

__ADS_1


" iya sayang kau kenal aku kan ? aku Devan aku suamimu " timpal devan lagi.


kembali tiffanny menatapnya lekat " su-suami ?"


" ya ! " jawabnya cepat seraya tersenyum.


" Devan " gumam tiffanny.


" iya sayang itu aku " katanya lembut


" devan " katanya lirih dan langsung memeluk tubuh devan , sehingga pelukan itu langsung dibalas oleh devan.


" aku mencintaimu , maaf aku terlambat " ungkap tiffanny.


dalam pelukan itu devan menangis seraya tersenyum , mendengarnya secara langsung adalah keinginannya dan hal yang paling dia nantikan.


" aku juga sangat mencintaimu " balas devan.


" malam itu aku berpikir aku akan mati disana , aku takut tidak bisa melihat mu lagi. kau yang menyelamatkan aku kan ?" tiffanny melepaskan pelukannya sehingga keduanya kini saling menatap.


" siapaa yang menyelematkan aku ? malam itu tidak ada siapapun " tanyanya lagi.


" Sayang .."


" siapa devan ?"


" apa yang akan kau lakukan ? " tanya devan.


" siapapun dia aku akan mengabulkan permintaannya , aku ingin berterima kasih kepadanya karena sudah menyelamatkan nyawaku dan aku ... tidak kehilanganmu " tiffanny mengelus wajah devan dengan lembut.


devan masih diam dan tidak memberi tahu siapa orang yang pertama kali menyelamatkan tiffanny dari kecelakaan itu.


" dia ... adalah , brian. "


***


semenjak devan memberi tahu kalau brian lah yang membawanya kerumah sakit dan juga dialah yang mengeluarkannya dari dalam mobil membuatnya selalu kepikiran.


bagaimana mungkin pikirnya brian ada disana sedangkan dijalan itu terlihat sepi. lalu kenapa brian mau menyelamatkannya sedangkan brian bisa saja terluka bersamanya waktu itu.


sedangkan devan tidak ingin mengambil pusing dan banyak bertanya tentang hal itu sekarang dia fokus mengurus dan membuat tiffanny sembuh terlebih dahulu.


dia sedang meracik obat untuk tiffanny , sambil dia memperhatikan tiffanny yang sedang melamun itu.


ceklek


" tiffannyyyy !! " ujar micheal dengan semangat lalu memeluknya. membuat kalista dan devan terperangah.


" micheal " ucapnya dengan agak sulit.


" aku sangat takut melihatmu seperti itu , hei apa kau selalu membuat ku cemas "


" mi-micheal aku tidak bisa bernafas " ucap tiffanny dengan sesak.


" ups sorry " katanya.


" kau merasa baik sekarang ? kau selalu merepotkan semua orang , apa kau akan terus begini ha ? kau harus cepat sembuh " saut kalista.


" maaf , aku ... " ucapnya dengan tertunduk.


" hei ! aku hanya bercanda kenapa kau sangat emosional sekali" balas kalista yang mendekatinya.


lalu devan mendekati tiffanny juga dengan membawa obat - obatan di tangannya.

__ADS_1


" aku tahu " jawab tiffanny.


" waktunya untuk minum obat sayang "


beberapa pil yang diberikan devan segera dia minum, wajahnya menunjukkan bahwa obat itu sangat tidak enak , segera devan memberikannya air minum


" kenapa sangat pahit sekali " ujar tiffanny.


" satu obat yang memang terasa sangat pahit , agar luka dalamnya segera sembuh " balas devan yang kini duduk disebelahnya.


" tiffanny , bagaimana perasaanmu sekarang ? kau merasa baikan bukan ? " tanya micheal dengan penasaran.


" terima kasih , aku baik - baik saja " jawabnya.


entah kenapa dalam diri tiffanny dia merasa mengantuk , matanya sesekali menutup karena ada rasa ingin tidur.


" tidurlah ya obat itu memang membuat mengantuk " devan membantu tiffanny menidurkan tubuhnya lalu menyelimutinya.


" maafkan aku tapi dia harus istirahat sekarang tidak bisa banyak bicara dulu " kata devan pada kedua orang itu.


" ya .. ya tidak masalah , tidurlah fan kau pasti kesakitan " saut micheal.


" aku harus pergi ke tempat proyek sekarang " kata kalista.


" ah benar , kalau begitu baiklah aku akan mengantarmu " micheal melihat jam tangannya seraya mengangukkan kepalanya.


" Dokter devan kami harus pulang , lain kali kami akan kemari lagi " ujar kalista.


" hati - hati " ucap devan


setelah micheal dan kalista pergi devan hanya sendirian menemani tiffanny yang sudah kembali tertidur itu sepertinya reaksi obat yang diberikan sangatlah cepat , devan mengelus rambut tiffanny sambil tersenyum manis.


" cantik sekali " gumamnya memperhatikan bulu mata , alis hidung dan bibir.


keesokan harinya


devan tengah membersihkan tubuh tiffanny dengan mengelapnya , tiffanny hanya diam duduk di ranjangnya memperhatikan devan yang tengah mengurusnya dengan baik.


" tubuhmu sedikit kurus , kau tidak makan dengan benar ya " kata tiffanny yang memperhatikan devan.


" bagaimana aku bisa makan dengan benar saat melihat istriku hanya tertidur tanpa tau kapan dia akan terbangun " jawabnya sambil mengelap leher tiffanny.


" apa ... apa kau sudah mendengar pesan ku ?" tanya tiffanny lagi dengan hati - hati.


" hmm aku mendengarnya , tapi aku merasa sedih waktu itu diujung pesan kau membuatku kesal menyebut wanita lain , sayang kau senang jika aku menikah lagi ?" kata devan dengan wajah cemberut.


" aku tidak tau jika aku akan kembali lagi , saat itu terjadi rasanya sangat tidak mungkin untuk hidup lagi. tapi jika itu tetap terjadi aku tidak akan menyesal karena aku sudah mengatakan perasaanku " dengan mata berkaca - kaca dan bibir gemetar tiffanny mengatakan itu . devan berhenti melakukan kegiataannya dan menatap tiffanny, tangannya seperti mengurung tiffanny dalam pelukannya.


" tuhan juga tau kalau aku tidak bisa hidup tanpamu jika sesuatu terjadi padamu dan sampai kau menghilang aku pun akan menghilang saat itu juga "


" kau tau sayang untuk pertama kalinya aku merasa gugup saat mengoperasi , waktu itu untuk beberapa saat detak jantungmu berhenti ... aku menangis dan ingin pergi saat itu juga denganmu , semua tubuhku melemas aku berdoa agar kau kembali untuk menemani hari - hariku lagi , sampai akhirnya tuhan menjawabnya detak jantungmu kembali ." ucapnya dengan lembut dengan mengelus pipi tiffanny , kedua manik mata mereka beradu.


untuk itulah aku merasa sangat berat , seseorang menahan ku dengan suara tangisannya. orang yang menangis saat aku berada di tempat itu adalah devan , dia ... takdirku.


" aku mencintaimu " ucap tiffanny tiba - tiba


devan mendekatkan kepalanya dan memiringkan wajahnya , sampai bibirnya bertemu dengan bibir tiffanny mereka mulai saling berciuman lembut sampai akhirnya saling *******.


ceklek


rian dan brian datang diwaktu bersamaan tadinya mereka berdua akan menjenguk tiffanny , namun yang mereka dapatkan melihat sepasang suami istri sedang berciuman dengan panasnya.


rian langsung menutup kembali pintu itu , sedangkan brian hatinya hancur apa yang dia lihat persis seperti dulu yang tiffanny lihat bedanya dia lakukan itu hanya untuk membuat tiffanny marah dan meninggalkannya akan tetapi yang dilakukan tiffanny dan devan adalah ciuman penuh cinta.

__ADS_1


" aku rasa ini bukan waktu yang tepat , ayo kembali " ajak rian.


__ADS_2