
Setelah pertemuan terakhirnya dengan bang Ar lima hari yang lalu. Kini Ayra seperti mendapatkan jekpot.
Bagaimana tidak? Perlakuan manis bang Ar, mampu membuat hari-harinya terasa lebih cerah.
Seperti saat ini, Ayra yang tengah istirahat di kantin bi Eem terlihat tengah melamun tapi dengan senyum yang tak pudar dari bibirnya.
Teman-temannya hanya mampu menggelengkan kepala. Pasalnya setiap hari kelakuan temannya ini seperti orang mabuk lem aibon.
"Lama-lama gue merinding tau gak liat si Ay kek gitu mulu." Rila mulai berkomentar pada teman-temannya.
"Iya. Gue juga. Apa kita bawa ke pak kyai Barok aja ya?" timpal Feby.
"Lu pikir gue kerasukan?" selak Ayra tak terima dengan komentar teman-temannya.
"Ya lagian si lu, tingkah lu makin hari makin parah. Kek mabok lem aibon tau gak?" timpal Feby lagi.
"Kalian tu yah. Gak seneng banget si liat gue bahagia." ucap Ayra dengan mencebikan bibirnya.
"Tapi dari yang kita lihat lu tu gak kek orang lagi bahagia. Yang ada lu tu lagi siap-siap terjatuh dan terluka." timpal Agel penuh peringatan.
"Kejam banget si. Jan gitu dong! kasih semangat gue dikit napa." lirihnya.
"Bukan maksud gue gak dukung lu, justru gue gak mau lu jatuh terlalu dalam." ucap Agel menasehati.
"Lu musti inget dan musti sadar kalo bang Ar dah punya cewek. Berharap si boleh, bodoh mah jangan!" tambahnya lagi.
__ADS_1
Agel memang paling bijak diantara mereka. Selalu bisa memberi nasihat dan masukan untuk mereka.
Ayra mulai mencerna setiap kata yang Agel ucapkan. Benar Ia tak boleh terlalu berlebihan menanggapi setiap perlakuan bang Ar. Belum tentu itu sebuah perhatian yang Ia harapkan.
"Hemmm..Oke gue ngerti!" terdengar helaan nafas panjang. Mencoba melepaskan sesuatu yang sesak didadanya.
"Gue tau lu bukan orang yang mudah patah, dan gue juga tau lu orang yang terlalu pandai." ucap Agel dengan senyumnya dan mampu membuat Ayra tersenyum juga.
"Ohh...makasih yaa beb, kalian memang terdebesss". ucap Ayra seraya memeluk Agel. Terjadilah adegan peluk-peluk lagi.
"Ya udah. Sekarang persiapkan hati lu, buat nanti besok ketemu lagi sama bang Ar, diacara pernikahannya si Ian." ucapnya sambil melerai pelukan mereka.
"Bang Ar pasti hadir, dan gak nutup kemungkinan ceweknya bakal ngikut." sambung Agel yang disambut tatapan tak percaya dari teman-temannya.
"Ya kan, bisa aja. Lagian kan si Ian emang kerja di bapaknya." timpal Agel.
Mereka memang tau, kalo perusahaan dimana bang Ar dan yang lainnya kerja milik Papanya kekasih bang Ar, Rara.
"Oke, gue akan siapin diri gue. Gue juga penasaran pen tau ceweknya bang Ar kek gimana? Cantikan mana sama gue?" tanyanya dengan percaya diri.
Gadis ini kalo dah kumat, ya gitu sifat aslinya keluar. Padahal mah ya kalo depan bang Ar jangankan percaya diri, cerewetnya aja ilang.
"Yakin lu bakal kuat?" goda Feby.
"Yakinlah. Gue Ayra gak bakal takut saing sama siapa pun. Baru juga ceweknya. Liat aja Gue bakal jadi istrinya." ucapnya benar-benar terlampau percaya diri.
__ADS_1
Semua temannya hanya mampu tertawa melihat tingkahnya.
Bang Ar yang baru keluar dari kantor dicegat sang pacar, sebelum menaiki motornya.
"Ar..kamu masih marah sama aku?" tanya Rara pada kekasihnya itu.
"Gak!" jawabnya datar
"Come on, sampe kapanpun aku gak akan lepasin kamu. Aku akan pertahanin kamu juga impianku. Please! Percaya sama aku." Seperti biasa bujukan Rara mampu membuat bang Ar luluh.
'Gak Tega' yang melekat di diri bang Ar, selalu membuatnya tak berkutik. Disaat siapa saja memohon dan meminta dia slalu berusaha meberikannya.
"Besok pernikahannya Ian, apa kamu mau ikut bersamaku?" tanya bang Ar pada kekasihnya.
Rencananya setelah menghadiri acara pernikahannya Ian, bang Ar akan mengenalkan Rara pada kedua orangtuanya.
"Hemm..oke deh, tapi bentar aja yaa!" jawabnya.
Bang Ar hanya tersenyum simpul mendengar jawaban kekasihnya. Entah kenapa dua bulan terakhir ini hubungannya terasa hambar.
Hubungan yang terjalin selama hampir 2 tahun ini, terasa tidak tentu arah. Setahun pertama memang begitu manis, tapi ditahun kedua terasa banyak perubahan.
Dan sampai saat ini semakin terasa, seperti ada jarak yang membentang diantara keduanya. "Apa langkah yang ku ambil ini sudah benar?" Tanyaanya bermonolog sendiri.
************
__ADS_1