
Hari ini sepasang Papa dan Mama muda ini akan pulang kekota. Tepatnya kerumah orangtua Bang Ar. Seminggu lagi pernikahan Juna dan Agel digelar. Ibu meminta keduanya untuk pulang lebih awal.
Kini keduanya sudah berada didalam mobil untuk perjalanan pulang.
"Bang kita ke kantin bi Eem dulu ya. Aku pengen cimol!" Pintanya.
"Kita pulang aja dulu, nyimpen barang-barang. Abis itu kita pergi sekalian jalan-jalan. Gimana?" Tawar bang Ar yang terus fokus dengan kemudinya.
"Gak ah bang. Pengen sekarang!" Rengeknya membuat sang suami menghembuskan nafasnya pasrah.
"Ya udah! Kita ke kantin dulu." Final bang Ar mengalah dengan mengelus pucuk kepala sang istri.
Tak berselang lama mobil pun sampai diparkiran pabrik. Keduanya turun dengan bang Ar membukakan pintu sang istri dan menggandeng tangannya.
Karena ini watu istirahat kantin pun penuh dengan para pekerja disana.
"Ay!" Teriak seseorang membuat Ayra dan bang Ar yang tengah berjalan menoleh.
Senyum terukir dari bibir si Mama muda itu, tiga orang yang Ia rindukan datang menghampiri keduanya.
"Ay! Kangenn!" Feby menubruk tubuh sang sahabat memeluknya erat.
"Gue juga. Kangennn!"
"Lu kapan pulang?" Tanya Feby melerai pelukannya.
"Baru aja! Gue kesini dulu pengen cimol." Timpalnya membuat mereka tertawa.
"Kamu apa kabar Ay? Lama gak ketemu, eh tau-tau udah bulat." Sapa mbak Nur, mantan menejernya dulu.
"Alhamdulillah baik mbak." Keduanya pun melakukan cipika cipiki ala ciwik-ciwik. "Mba sendiri gimana?" Tanyanya balik.
"Alhamdulillah baik! Sekarang gak ada kamu, bagian pack jadi sepi. Udah gak ada yang cantik." Timpal mbak Nur terkekeuh.
"Gimana mao ada yang cantik. Semua yang kerja cowok semua!" Timpal Nina si asisten mbak Nur. "Gimana kabarnya si debay?" Tanyanya mengelus perut Ayra.
"Alhamdulillah sehat mbak!" Timpal Ayra dan keduanyapun melakukan cipika-cipiki.
"Berhubung aku ketemu mbak Nur. Mao dong ditraktir cimol!" Pinta Ayra. "Ngidam nih!" Ucapnya mengelus perut membuat mereka tergelak.
Bang Ar yang melihat keakraban mereka tersenyum. Ternyata istrinya ini begitu friendly dengan siapapun. Sampai begitu banyak yang menyayanginya.
Setelah berbincang-bincang sebentar mereka pun masuk dan langsung memesan makanan.
"Sekalian aja makan disini Ay?" Tanya mbak Nur.
__ADS_1
"Gak mbak, aku cuma mau cimol. Mau langsung pulang aja!" Timpalnya.
"Oh yaudah. Rujaknya mau sekalian?" Tanyanya lagi.
"Emm.." Ayra berfikir sejenak, Ia memang tak pernah mau memakan rujak yang masam-masam, namun tau sang suami begitu menyukainya. Ia pun menyetujuinya.
Selain mengalami morning sick, bang Ar juga suka makan rujak. Setelah ritual muntah-muntahnya, Ia akan memakan makanan asam seperti rujak atau jus lemon. Itu akan membuatnya segar kembali. Bahkan Ayra sampai menyiapkan berbagai macam buah muda dilemari esnya.
Setelah pesanannya selesai pasangan ini berpamitan kepada ketiganya untuk pulang. Keduanya kembali masuk mobil dan melajukan perjalanannya.
**
Beberapa menit kemudian keduanya sampai dirumah dan disambut kang Ali, kang kebun dirumah Ibu.
"Tolong bantu saya bawa barang-barang ya kang!" Pintanya.
"Iya den!"
"Oh iya kang! Apa ibu ada dirumah?" Tanyanya.
"Ibu sedang ada arisan den." Timpal kang Ali.
"Oh yaudah!" Bang Ar berlenggang membawa koper kecil dengan menggandeng tangan sang istri.
Apa yang dibawa kang Ali? Tentu saja oleh-oleh dari perkebunan. Banyak yang memberikan keduanya oleh-oleh, apalagi bu Titin. Banyak makanan yang Ia berikan untuk kedua anak angkatnya itu.
Rasa cimol yang serasa sudah diujung lidahnya, tentu membuat Mama muda ini tak mau menuda untuk segera menyatapnya.
Akhirnya setelah menyimpan kopernya, bang Ar pun menghampiri sang istri. Dan ikut memakan cimolnya.
"Jangan banyak-banyak! Ini punya aku." Ayra sampai menghadang tangan sang suami membuatnya tertawa.
"Idiihh, silahkan nyonya muda!" Goda bang Ar " Abang juga punya nih!" Bang Ar mengmbil rujak gratisannya juga.
Keduanya menikmati makanan mereka masing-masing. Namun Ayra berhenti mengunyah dan memandangi sang suami, Ia sampai menelan salivanya melihat sang suami yang begitu lahapnya memakan rujak dengan buah-buahan yang masih muda.
"Bang! Gak asem tuh?" Tanyanya penasaran.
"Gak! Nih kamu mau?" Tawar bang Ar dan langsung dijawab gelengan sang istri.
Bang Ar kembali menikmati rujaknya, namun tidak dengan Ayra. Ia cukup merasa kenyang melihat sang suami yang begitu lahap.
"Kenapa berhenti?" Tanyanya heran.
"Aku kenyang. Lihat abang aja udah kenyang!" Timpal Ayra terkekeuh.
__ADS_1
"Aku mau mandi ah bang! Gerah!" Ayra beranjak dari duduknya, namun tangannya segera dicekal sang suami.
"Yuk! Kita mandi berjamaah!" Ajaknya dengan cengiran kuda membuat Ayra tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Keduanya beranjak memasuki kamar. Hal yang selalu keduanya lakukan bersama, tak pernah berubah sampai sekarang. Ritual mandi berjamaah yang menjadi salah satunya.
Melakukan berendam dibathup bersama seakan menjadi kewajiban dari keduanya. Sampai beberapa adegan iklan menjadi pemanis diacara ritual mandi itu.
Setelah selesai keduanya bergantian mengeringkan rambut, dan mengganti pakaian. Lalu setelahnya melaksanakan empat rakaat kewajibannya dengan berjamaah.
**
Kini keduanya tengah berada didepan tv, menonton tayangan kesukaan Ayra untuk menunggu sang Ibu pulang. Ibu yang mengabari keduanya akan segera pulang dengan membawa makanan, tentu membuat keduanya menunggu untuk makan siang.
Bang Ar sampai tertidur dipangkuan sang istri karena tak mengerti dengan tontonan yang digemari istrinya itu. Drama korea yang menjadi favoritnya itu tentu bukan tontonan suaminya.
Saat tengah menikmati tontonannya, Ibu pun pulang.
"Sayang! Ibu pulang!" Sapa Ibu mengagetkan Ayra tapi tidak dengan suaminya.
Ibu menghampiri keduanya. "Bu!" Sapa Ayra mengambil tangan sang Ibu dan menciumnya takzim. Ibu membalas mengelus lembut kepalanya.
"Ya ampun!" Ibu terkejut melihat sang putra yang tertidur diatas pangkuan istrinya.
"Ar bangun! Kasihan tuh istri kamu!"
"Gak papa bu. Kayanya abang kelelahan, karena sering bangun malam." Timpal Ayra.
"Kenapa?" Tanya Ibu penasaran.
"Aku suka laper tengah malam bu." Timpalnya terkekeu membuat Ibu tertawa.
"Kamu tuh kaya Ibu. Dulu ibu juga kek gitu waktu hamil, suka laper kalo tengah malam." Timpal Ibu membuat keduanya tertawa.
Hal itu sukses membuat bang Ar terbangun. Ia bangkit dari pangkuan sang istri. "Ibu udah pulang?" Tanyanya menyalimi tangan Ibu.
"Udah. Yuk kita makan! Udah mau sore." Ajak Ibu dan diiyakan keduanya.
Merekapun berlenggang ke meja makan, untuk makan siang. Ayra membantu Ibu menyiapkan makanannya.
Ketiganya memulai makan siangnya dengan diselingi obrolan ringan. Ketika tengah menikmati makannya Hp Ayra tiba-tiba berdering. Ternyata sang Mamih meneleponnya. Ia tekan icon hijau, dan mengangkat teleponnya.
"Hallo Mih?"
"Apa? Rumah sakit?" Tanya Ayra shok.
__ADS_1
****************
Jangan lupa jejaknya yaa readers😊