
Hari senin adalah hari dimana kaum rebahan enggan untuk membuka mata. Seperti gadis yang satu ini, Ia masih meringkuk didalam selimutnya dan enggan melepas guling didekapannya. Bahkan suara lengkingan sang Mama yang sudah seperti alarm, dengan gedoran keras dipintu kamarnya tak pernah mampu membangunkannya dihari paling menakutkan itu baginya.
Tok! Tok! Tok!
"Sena bangun! Ini udah hampir jam tujuh. Sena!!!" Teriak sang Mama, namun tak dapat membangunkannya.
"Ya ampun! Punya anak gadis kalah sama anak ayam tetangga." Ucapnya menghembuskan nafasnya panjang. Namun hal itu justru membuatnya tersenyum. Bagai dejavu, apa yang menimpanya kini, pernah terjadi puluhan tahun yang lalu pada Mamihnya.
"Gini kali ya, yang dirasain Mamih tiap hari" Gumamnya.
Ketika pikirannya tengah berkelana dimasa lalunya, tiba-tiba sebuah tangan menyelusup dan bertengger didepan perutnya dengan dagu yang menumpu dibahunya.
Ia tersenyum dengan mengusap rahang yang bertengger dibahunya itu. "Ntar dilihat anak-anak bang!"
"Gak papa. Biar mereka tau bagaimana caranya menyayangi dan memperlakukan pasangannya kelak."
"Tapi kan belom waktunya bang, ntar mereka dewasa diperam lagi." Keduanya tertawa, hingga suara seseorang mengalihkan atensi mereka.
"Pa, Ma?" Sapanya.
Keduanya menoleh seraya sang Papa melepaskan pelukannya. Dilihatnya seorang pemuda dengan seragam putih abu dengan atribut lengkap menghampirinya, kemudian mencium takzim tangan keduanya.
"Salam dulu Aka!" Peringatnya.
"Maaf! Aka udah salam dari tadi, tapi Mama Ay sama Papa Ar nya yang sibuk sendiri. Ampe gak balas salam Aka." Timpalnya.
Mama Ay tersenyum, ponakan yang sudah menjadi putranya itu begitu sopan dan kalem, persis sang suami. Dengan wajahnya yang tampan dan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya, membuat Ia begitu digemari kaum hawa.
"Maaf ya! Mama gak denger." Sesal Mama Ay dan dijawab anggukan pemuda didepannya.
"Dede belum bangun Ma?" Tanya Aska.
"Ya seperti biasa ini hari senin, mana mau dia cepat bangun." Kekeh sang Mama.
"Ya udah aku bangunin ya Ma!" Izinnya pada sang Mama dan diiyakannya.
"Sebenernya ada petaka apa dihari senin. Sampe tu gadis susah sekali dubangunin?" Tanya Papa Ar heran.
"Petaka berdiri ditengah lapang yang bisa buat kulitnya gosong." Timpal Mama Ayra membuat sepasang orang tua itu tertawa dan pemuda tampan itu tersenyum.
"Ya udah kak, Papa sama Mama tunggu dimeja makan ya!" Ucap Papa Ar dan dijawab anggukan Aska.
Ia pandangi pintu warna coklat itu, seraya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kamu gak pernah berubah de." Gumamnya.
Ia ambil kunci disaku celananya. Kunci duplikat untuk membobol kandang si kang ngorok itu. Ia yang sudah biasa mendapat jatah membangunkan adiknya di hari senin tentu sudah mempersiapkannya.
Ia buka knop pintu itu hingga menampakan seorang gadis yang tengah anteng dibalik selimutnya. Ia sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Ia berjalan dan duduk ditepi ranjang itu, memandangi wajah cantik sang gadis hingga membuatnya mengukir senyuman termanisnya.
__ADS_1
Fiuhh~
"Emmm" Hanya gumaman yang terdengar kala Aska meniup wajahnya.
Fiuhh~
Kembali sang kakak meniup wajah bantal yang enggan membukakan matanya itu.
"Aku izin aja kak! Ngantuk!" Ucap Sena yang tau siapa yang sudah mengganggu tidurnya.
"Ayo bangun! Gak mau upacara bukan berarti gak mau sekolah." Ucap Aska seraya menarik tangannya.
Sena terbangun dengan mata yang masih terpejam. "Aduh kak! Biarin aku bolos sehari aja. Mataku ngantuk banget, tadi malam si Jinjin ngajakin curcol. Abis putus katanya. Terus aku gak bisa nolak. Terus-" Belum selesai celotehannya telunjuk sang kakak sudah bertengger didepan bibirnya hingga membuat dirinya bungkam.
"Udah ayo! Jangan banyak alasan." Sang kakak menariknya hingga berdiri dan mendorongnya memasuki kamar mandi.
"Mandi ya! Jangan tidur! Sepuluh menit. Aka tunggu!" Titahnya, kemudian menutup rapat pintu kamar mandi.
Sena berdecak kesal, sudah berapa kali Ia mengambil diam-diam kunci dari tangan sang kakak tetap saja, sang kakak dapat kembali mendapatkan kunci duplikatnya.
"Nasib! Punya aka terlalu pinter!" Tuturnya hingga menghembuskan nafasnya panjang. Kemudian pasrah mengguyur tubuhnya yang serasa remuk, akibat semalaman begadang.
Aska duduk disofa kamar seraya memainkan benda pipih ditangannya. Sudah dipaastikan setiap cowok yang berkutat dengan hp nya, pastilah tengah bermain game. Namun tidak dengan cowok satu ini, Ia lebih suka membaca. Berbagai buku Ia baca, disalah satu aplikasi hp nya. Dari sastra hingga novel, Ia baca dengan khidmat.
Hingga suara notif pesan mengalihkan atensinya. Bukan dari benda pipih yang Ia pegang, namun dari hp gadis yang tengah melakukan ritual mandinya.
Ia buka layar dengan kode yang Ia tau, tanggal lahir sang gadis. Ia mengerenyitkan dahi melihat pesan WA dari dari nomor baru.
081222333xxxš„
P
081222333xxxš„
Aku pulang!
Ia lihat foto si pengirim, namun hanya gambar walpaper disana. "Siapa sih?" Gumamnya.
"Aka lagi apa?" Suara gadis yang baru saja keluar kar mandi membuat Aska terlonjak.
"Emm.. Nggak! Aka mau ngirim sesuatu dari hp kamu." Jawabnya dan ditimpali oh ria dari gadis yang tengah mengeringkan rambutnya, dengan hanya menggunakan bathrob.
Aska terdiam sejenak memperhatikan pergerakan dedenya itu. Sang gadis mengambil seragamnya dan kembali berlenggang kekamar mandi. Aska kembali melihat layr pipih ditangannya. Ia juga melihat seluruh chat dilaman itu, ternyata banyak chat dari teman cowok sekolahnya. Rayuan dan pujian dilayangkan pada adik kesayangannya itu.
Ia berdecak kesal melihat itu. Melihat dari foto-fotonya, tentu Ia tau siapa saja yang menggombali adiknya itu. Bahkan Ia melihat chat dari semua anak basket. "Berani sekali mereka gombalin dede, awas aja!"
Melihat semua deretan chat disana membuat Ia kesal sendiri. Namun hanya satu pesan yang membuat Ia tertarik, chat dari nomor baru itu. "Kira-kira nomor siapa ya? Apa dede punya pacar? Misterius!" Gumamnya heran. Ia otak atik hp sang gadis, hingga seluruh chat hilang begitu saja.
__ADS_1
"Aka ngapain sih, sibuk bener?" Tanya Sena yang sudah rapih keluar dari kamar mandi.
"Nggak! Udah nih!" Aska mengembalikan hp nya ke atas nakas dan hanya dijawab hedikan bahu oleh sang gadis.
Sena berkutat didepan meja riasnya, tanpa tau sang kakak tengah memperhatikannya. Ia menyenderkan tubuhnya didepan pintu lemari disisi meja rias dengan melipat tangannya didepan dada.
Sena melirik ke samping, melihat sang kakak yang terasa aneh menurutnya hingga Ia melipat dahinya heran. "Kenapa sih kak?" Tanyanya seraya memakai liptin dibibir ranumnya itu.
"Bisa gak sih? Gak usah terlalu cantik dandannya!" Ucapan sang kakak tentu membuat sang gadis menoleh kesamping dengan lipatan didahi yang semakin kentara.
"Emang kenapa?" Tanya Sena heran
"Aka migrain!" Balasnya dengan raut muka tak bersahabat.
*********************
Ayo ramaikan lagi disini! Kita pindah ke kisah uwwuu bocah-bocah Abegehš¤ up dijam tertentu aja yaaš kongsi sama abang duda pastinyaš¤£
Arsena Quenara Pratama
Usia 17 th. Putri bungsu bang Ar dan Ayra.
Cerewet kek mak nya, paling cantik diantara tiga sudaranyaš¤£
Abizar Radeeya Permana
Usia 17th. Putranya si pleboy bang Rendi dan si kulkas Aysa.
Tampan kek bapaknya, tapi kulkas kek maknyaš¤£
Aska Giovano Aruman
Usia 18th. Putra si abang dudaš¤ Bang Agung dan Icha.
Kalem dan penyayang fix bang Ar bangetš
Arshaka Ravindra Pratama
Usia 18th. Putra sulung banh Ar dan Ayra.
__ADS_1
Badboy, cuek, kalo ngomong asal jeplak kek bang Agungš¤£