
Aska terus memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kenapa juga Ia bisa mengungkapakan itu pada Papa dan Mamanya. Sungguh ini memalukan baginya. Bagaimana caranya untuk berhadapan dengan orang tua yang sudah Ia anggap orang tua kedua baginya itu?
"Kenapa aku gak bisa mengontrol perasaanku? Ck!" Aska begitu frustasi memikirkan itu.
Setelah melontarkan pertanyaan terakhirnya, Aska berlenggang begitu saja meninggalkan rumah Papa Ar. Dan kini Ia terus bergelut dengan pikirannya diatas kursi meja belajar.
Dengan kepintarannya Ia juga dapat menyembunyikan lebam diwajahnya dengan sesuatu yang diam-diam Ia curi dari kamar sang adik, untuk menghindari cecaran pertanyaan dari sang timom.
Tangannya menumpu diatas meja dengan tangan yang tak berhenti memijit pelipisnya. Ia terus memikirkan apa alasan Ia melakukan itu, apa benar itu karena Ia cemburu pada Abi? Atau memang itu keposesifan Ia terhadap adiknya?
Sungguh Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Hingga helaan napas panjang terus terdengar dari bibir pria tampan itu. Ia ambil sesuatu dari laci meja belajarnya, sebuah layar persegi yang sudah lama belum Ia lihat lagi. Ia tekan tombol power disisi layar itu, namun benda itu tak menyala.
"Kek nya mati." Gumamnya.
Ia ambil charge dan mengisi daya benda itu, mencoba menekan tombol disamping itu hingga benda itu menyala. Senyum Aska terbit kala melihat layar itu menampilkan gambar yang selalu membuat Ia tenang kala dirinya tengah gundah seperti itu.
"Kamu dimana Van? Kenapa gak juga kembali?" Tanyanya dengan tangan meraba layar itu.
"Pasti sekarang kamu cantik banget. Apa kamu udah lupain Aka?" Tanyanya bermonolog sendiri. Ia terkekeh, entah kenapa bicara pada layar itu membuat hatinya sedikit tenang.
Setelah setahun, kepergian Vani dan keluaraganya. Aska dan keluarga tak mendapatkan kabar apapun dari mereka. Sama seperti Abi juga. Dan sekarang setelah bertemu kembali dengan Abi, Ia dan dady Rendinya pun juga tak tau apapun tentang keluarga sahabatnya itu.
__ADS_1
Entah apa yang mereka alami. Karena setahun setelah membantu dedy Rendi, papa Ivan memutuskan untuk memboyong istri dan anaknya untuk pergi dari kota itu. Hingga dedy Rendi pun los kontak dengan keluarga itu.
Aska menghembuskan napasnya panjang. Ia hanya berharap sang gadis kembali dan selalu dalam keadaan sehat.
Ia simpan benda itu dan mulai membuka bukunya. Jika orang lain mengalihkan rasa kesal dan sakit hati dengan bermain, berbeda lagi dengan pemuda itu. Aska akan menghabiskan waktunya dengan tumpukan buku didepannya. Semakin Ia kesal, semakin pintar pula Ia mengerjakan soal-soal ujiannya.
**
Sementara itu sepasang kekasih baru itu tengah disidang kedua orang tuanya. Mama Ay terus menatap tajam dan bergantian kerah dua remaja itu. Posisi mereka yang berhadapan, membuat Mama Ay dapat leluasa menatap keduanya yang hanya menunduk.
Papa Ar sendiri hanya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Entah bagaimana caranya menghadapai tingkh anak-anaknya ini. Ia masih memikirkan cara, bagaimana menyelesaiakn masalah ini.
"Abi! Sensen" Panggilan papa Ar membuat pemuda dengan beberapa lebam diwajahnya itu mendongak. Tapi tidak dengan sang gadis yanh masih menunduk.
"Salah bang!" Sangkal mama Ay. Hingga sukses membuat Sena mendongak.
"Mereka tuh sepupu. Tak pantas rasanya sebuah hubungan terjalin antara mereka." Balas Mama Ay.
Sena hendak berkomentar, namun Abi segera menyelaknya. "Aku tau Ma. Ini mungkin terlihat aneh." Ucapnya.
"Tapi, aku sama Sensen memiliki rasa yang sama." Lanjutnya hingga sang Mama menghembuskan napasnya panjang.
__ADS_1
"Tapi-" Ucapan Mama Ay terselak.
"Kasih kami kesempatan!" Ucapan Abi membuat kedua orang tua itu mendongak.
"Jika sampai lulus nanti perasaan kami berubah, mungkin benar itu hanya sebatas rasa kagum yang kami rasa. Tapi, jika rasa ini tetap sama dan mungkin semakin besar. Izinkan aku untuk menikahi Sensen saat itu juga." Lanjut Abi.
Ketiga orang disana shok mendengar penuturan itu. Ini dialog Abi terpanjang, sepanjang sejarah yang mereka dengar.
"Tapi kalian-" Belum juga mama Ay meneruskan ucapannya, Abi kembali menyelaknya.
"Sedarah." selak Abi. "Banyak diluar sana yang mengalami hal seperti kami. Tapi apa rasa itu salah? Bahkan kami sendiri tak pernah tau akan merasakan hal ini."
"Papa sama Mama tenang saja, kami berjanji gak akan melakukan hal diluar batas seperti yang ada dipikiran kalian. Kami akan fokus pada pendidikan kami. Kami hanya butuh restu untuk hari itu tiba." Lanjutnya.
Ternyata Abi bisa membaca apa yang kedua orang tua itu pikirkan. Selain ikatan persaudaraan, mereka juga menakutkan akan hal negatif dari kebersamaan mereka.
Kedua orang itu hanya menghembuskan napasnya panjang. Mengenai cinta, mereka pun pernah muda. Tidak ada yang bisa mengendalikan itu.
"Baiklah! Kita akan pegang janji kalian. Jika kita melihat kalian berbuat yang aneh-aneh. Papa gak akan segan buat misahin kalian!"
***************
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaaš¤