
Rencana untuk berangkat ke perkebunan diundur besok. Bang Ar yang kekeuh ingin pergi bersama sang istri, tak menyetujui saran sang Ibu.
"Nih! Minum dulu vitaminnya!" Titah bang Ar memberi sebutir vitamin beserta air putihnya.
Ayra menggeleng, Ia tidak pernah meminum obat berbentuk tablet atau pil. Ia hanya meminum obat sirup saja. Susah untuknya meminum obat berbentuk tersebut, kalaupun dipaksa pasti keluar lagi.
"Kenapa?"
"Gak ada sirup aja bang? Aku gak bisa minum obat tablet." Jawab Ayra membuat bang Ar tersenyum.
"Disini gak ada anak kecil. Mana ada obat sirup?" Timpal bang Ar membuat sang istri cemberut.
"Jadi menurut abang aku anak kecil gitu?" Tanyanya sewot membuat bang Ar tergelak.
"Iya kan cuma anak kecil yang minum obat sirup." Timpal bang Ar dengan tawanya.
"Isshh abang ini ngeselin! Masa aku dikatain anak kecil? Anak kecil yang udah bisa bikin anak kecil mah iya." gerutunya membuat bang Ar semakin tergelak.
"Ya deh iya. Kenapa sih gak suka obat tablet?" Tanya bang Ar.
"Bukan gak suka tapi takut. Waktu kecil aku pernah keselek biji salak. Lama tu biji ditenggorokan ampe biji udah keluar, tenggorokanku sakit. Ampe susah makan beberapa hari. Dari situ aku mulai trauma buat nelen-nelen gitu apalagi ama salaknya aku gak pernah makan lagi." Tuturnya dan dijawab anggukan kepala dan oh ria dari bang Ar.
"Jadi kalo aku sakit, Mamih suka minta obat sirup sama dokternya." Lanjutnya.
Bang Ar ikut naik ke atas kasur menyilakan kakinya menghadap sang istri yang tengah duduk menyilakan kakinya dan bantal dipangkuannya.
"Abang akan bikin trauma kamu hilang." Ucap bang Ar.
"Caranya?" Tanya Ayra heran.
Bang Ar mengambil butir vitamin yang tadi Ia siapkan memasukannya kedalam mulut dan meneguk sedikit air. Menarik tengkuk sang istri menyemburkan air didalam mulutnya kedalam mulut sang istri. Ayra membelakakan matanya kala sang suami melakukan hal yang tak pernah Ia duga. Vitamin yang masuk serasa mengganjal ditenggorokannya. Membuat Ia mencoba melepaskan pagutannya dengan sang suami. Namun bang Ar semakin kuat menahan tengkuknya.
Bang Ar me lu mat benda kecanduannya itu, memainkan lidahnya, menyecapnya dalam-dalam membuat Ayra ikut terlena. Keduanya terus memagut mengahsilkan suara decapan merdu dikamar itu. Hingga tanpa sadar Ayra sudah menelan vitaminnya.
"Gimana?" Tanya bang Ar.
Ayra mencoba menggerakkan tenggorokannya pelan. Ternyata tenggorokannya terasa lega. Ia pun tersenyum senang.
"Gak ada bang. Udah masuk bang!" Ayra meraba lehernya dan bersorak girang sampai memeluk sang suami.
__ADS_1
"Makasih abang suami! Cinta abang tumpeh-tumpeh!"
Bang Ar ikut tersenyum membelai rambut acakadul sang istri. "Iya Ayang istri. Cinta kamu luber-luber!" balas bang Ar membuat keduanya tergelak.
Bang Ar menutup tubuh sang istri sampe dada, mengusap kepalanya mendaratkan kecupan dikeningnya.
"Istirahat ya sayang. Abang keluar dulu bentar nemuin Ayah." Ucapnya dan dijwab anggukan sang istri.
Setelah kepergian sang suami Ia mulai memejamkan matanya. Namun suara notif Hp berulang-ulang mengganggunya. Dengan decakan kesal dia mengambil Hp dari nakas.
Ternyata bukan Hp nya yang bersuara namun Hp sang suami. Ia mengambil Hp suaminya, memencet kode yang sudah Ia tau. Tanggal dimana mereka pertama bertemu dikafe menjadi sandi untuk membuka Hp nya.
Pesan dari orang yang sama berjejer disana. Membuat Ia mengerenyitkan dahinya heran. Untuk apa dia menghubungi suaminya?
Raraš¤
P
Raraš¤
Ar lagi apa? Aku ganggu gak?
Raraš¤
Raraš¤
Ar bantu akuš
Raraš¤
Temui aku ditempat biasa.
**
Ayra bangkit dari tidurnya. Ia scroll pesannya keatas. Namun tidak ada pesan lama diatas sana. Ia mulai mengotak ngatik Hp sang suami. Melihat setiap folder dialbum galery nya. Namun masih tak menemukan apapun disana. Menjajah semua media sosialnya masih saja sama. Ia menghela nafasnya kasar.
"Kok gak tidur?" Tanya seseorang yang tengah Ia selidiki.
Ayra menatap tajam suaminya yang tengah berjalan kearahnya. Membuat bang Ar menegerenyitkan dahinya heran.
__ADS_1
Bang Ar mendudukkan diri disebelah sang istri, Ia belai lembut rambutnya. "Kenapa hemm?"
Ayra menyerahkan Hp sang suami dengan menahan gemuruh dihatinya, pesan terakhir dari sang mantan membuat darahnya naik hampir mencapai ubun-ubunnya.
Bang Ar mengangkat alisnya tak mengerti kala Ia menerima Hp nya. Ayra hanya memalingkan wajahnya kesamping.
Bang Ar ingin meraih wajah sang istri namun ditepisnya membuat bang Ar tertegun. Ada apa dengan istrinya ini?
"Sayang kamu kenapa?" Bang Ar ingin memegang kedua bahunya. Namun Ayra segera merebahkan dirinya dan menarik selimut, menutupinya sampai kepala.
"Sayang?" Tanyanya lagi khawatir. "Apa abang ada salah?"
Ayra masih tak mengeluarkan suaranya, bahkan airmatnya luruh begitu saja. Dadanya terasa sesak.
Bang Ar membiarkan istrinya sebentar, Ia nyalakan Hp nya. Membuka sandi dan matanya menyipit melihat layar awal yang Ia lihat laman WA, apalagi pesan dari sang mantan yang membuatnya menghela nafas kasar. Ternyata ini yang membuat istrinya seperti itu.
"Sayang!" Bang Ar ikut merebahkan diri disamping sang istri dan memeluknya.
"Abang kan udah sering bilang. Apapun yang terjadi, kita bicarakan. Jangan seperti ini!" Ungkapnya namun sang istri masih bergeming. "Abang gak suka!" Satu kalimat itu bagai sebuah tombak penakluk untuk Ayra.
Ia membalikkan badannya mendekap erat tubuh sang suami menyembunyikan wajahnya yang beeantakan disana. Bang Ar mendekap tak kalah erat tubuh langsing sang istri, mengelus kepalanya dan menciumnya bertubi-tubi.
"Sekarang katakan apa yang mengganjal dihatimu?" Tanyanya. Menurutnya tak ada yang salah darinya disana. Ia tak pernah menanggapi chat dari gadis manapun.
"Pesan terakhir." Lirih Ayra.
Bang Ar menghela nafasnya pelan. Ia tau istrinya ini tengah salah paham.
"Dengerin abang baik-baik. Selama kita hubungan abang gak pernah nemui dia. Tempat yang dia maksud mungkin tempat yang dulu pernah kita datangi." Bang Ar menjeda kalimatnya sebentar.
"Dan abang gak peduli itu. Sekarang tempat abang disini, prioritas abang disini, hanya kamu. Kamu lebih berharga dari hidup abang sendiri."
"Maafin aku bang! Aku selalu meragukan kepercayaan abang. Aku sayang abang! Aku gak mau kehilangan abang." Tuturnya semakin kencang menangis membuat bang Ar tak berhenti mengelus kepalanya memberikan ketenangan untuk sang istri. Membiarkan sang istri menangis disekapannya.
Bang Ar mengotak atik Hp yang masih digenggamannya membuat Ayra melepaskan pelukannya dan meraih tangan bang Ar untuk melihat apa yang suaminya lakukan.
Takut-takut sang suami membalas chat sang mantan, Ia pun meraih Hp dari genggaman suaminya. Namun Ayra melongo kala melihat nomor sang mantan sudah suaminya blokir.
Bang Ar tersenyum melihat tingkah sang istri. Ia usap jejak kebasahan dipipi mulusnya dan mendekapnya lagi semakin erat.
__ADS_1
"Semua rasaku untukmu melebihi semua rasamu untukku!" Gumamnya.
**************