
Hari ini bang Ar dan sang istri beserta putranya akan pindah kerumah barunya. Semua keluarga dan sahabatnya ikut mengantar dan akan mengadakan acara makan bersama. Sebelumnya rumah itu juga sudah diadzani terlebih dahulu.
Tidak banyak barang yang mereka bawa, karena memang semua sudah tersedia disana. Hanya beberapa koper pakaian milik ketiganya.
Ayra bersama dua bestie somplaknya tengah membereskan pakaiann dan barang-barang yang dibawa. Sedangkan satu bestienya, tengah ikut memasak dengan Mamih dan Ibu juga Aysa didapur. Siapa lagi kalau bukan Feby chef andalan mereka.
Sedangkan para pria tengah mengajak main ketiga baby diruang tv. Kebetulan hari ini hari minggu, jadi semua pria ikut hadir disana.
Ketiga wanita didalam kamar begitu hobah, banyak celotehan yang keluar dari mereka. Seperti biasanya kala berkumpul seperti ini, mode ghibah merekapun langsung ON.
"Eh beneran tu si bang Rendi pacaran sama sepupu lu?" Tanya Rila memulai mode ghibahnya.
"Iya katanya. Gak tau juga sih. Lu kan tau sendiri gimana tu kulkas, mana mau curhat sama gue." Timpal Ayra membuat kedua sahabatnya mengangguk paham.
Mereka tau tentang hubungan Ayra dan sepupunya yang tak pernah hangat. Entah apa alasannya mereka tak pernah dekat sampai sekarang.
"Gue heran! Kenapa tu si bang Rendi ngebet banget sama dia?" Tanya Agel.
"Mungkin karena mukanya sama kali sama lu Ay." Timpal Rila dan dijawab gedikan bahu oleh Ayra.
Tanpa mereka sadari Aysa ada didepan pintu untuk mengajak mereka makan. Ia bahkan mendengar semua percakapan mereka. Tanpa ingin masuk, Ia kembali membalikkan tubuhnya namun malah menabrak Feby yang hendak menyusul.
"Lu gak papa? Mana mereka? Belum keluar juga?" Tanya Feby. Aysa tak menjawab dan berlalu begitu saja membuat Feby heran.
Feby masuk kedalam kamar mengalihkan atensi mereka. "Masih asyik aja lu pada. Ayo makan!" Ajaknya.
"Emang udah siap?" Tanya Ayra.
"Udah!" Timpal Feby. "Eh, tadi Aysa masuk sini kan?" Tanya Feby penasaran.
"Nggak! Kenapa emang?" Tanya Agel.
"Tadi tuh disuruh Mamih buat ngajak kalian makan. Waktu gue mau nyusul sini, dia udah berbalik dan nabrak gue. Gue tanya dia malah diem bae. Malah nyelonong gitu aja. Sepupu lu tu emang nyebelin Ay!" Tutur Feby kesal.
"Jangan-jangan!" Ayra dan Agel menganga dan menutup mulutnya, tapi tidak dengan Rila. Seperti biasa dia tidak akan langsung peka, sebelum mereka menjelaskannya secara detail.
"Jangan-jangan apa?" Tanya Feby menaikkan satu alisnya.
"Udah gak usah pake kode-kodean gue pusing. Kenapa sih? Ada apa?" Tanya Rila.
__ADS_1
"Ck. Lu mah. Kita kan tadi lagi ghibahin Aysa." Timpal Agel.
"Terus?" Tanya Rila.
"Ya kalo dia gak masuk, berarti dia denger kita lagi ghibahin dia." Timpal Ayra membuat Feby dan Rila manggut-manggut.
"Terus gimana dong?" Tanya Rial.
"Udah gak papa, emang itu kenyataannya! Yuk dah kita makan! Laper gue." Ajak Ayra berdiri membuat mereka juga mengikutinya.
Merekapun berlenggang menuju meja makan. Ketika tiba, mereka tak melihat Aysa disana. Apakah gadis itu marah? Pikir mereka.
"Mih Aysa mana?" Tanya Ayra.
"Dia tadi dijemput pacarnya." Balas Mamih dan dijawab anggukan keempat perempuan itu.
Setelah menidurkan para baby nya, para Papa pun ikut menyusul dan siap makan bersama. Semua menikmati makannya dan diselingi obrolan ringan.
**
Sementara itu disebuah mobil, sepasang kekasih begitu hening tak terdengar suara dari keduanya.
Aysa masih bergeming. Ia masih mencerna ucapan ketiga wanita dikamar tadi. Ia masih belum mengerti dengan ucapan Rila, yang mengucapkan wajahnya yang mirip dengan sepupunya itu. Apa maksudnya?
"Sayang! come on, bicara? Ada apa hem?" Tanya Rendi menggenggam tangan kanan kekasihnya dengan melirik sekilas.
Aysa menepis tangannya dan berlaih menatap jendela. Ia yang tak bisa bicara tanpa dimulai tentu tak tau bagaimana cara mengungkapkan kegundahannya itu.
Rendi yang sudah mulai mengerti tentang segala hal mengenai kekasihnya itu, menghentikan mobilnya dan diparkir dipinggir jalan sembarangan.
Ia buka sabuk pengamannya dan sabuk pengaman sang kekasih, Ia raih lengannya menuntunnya untuk menghadapnya.
"Aku tau pasti ada hal yang mengganjal dihatimu. Sekarang katakan, ada apa hem?" Tanyanya dengan nada begitu lembut. Kalau lah bukan Aysa, sudah dipastikan dia bakal klepek-klepek dengan pesona seorang Rendi.
Aysa menghela nafasnya panjang sebelum memulai ucapannya. "Apa hubunganmu dengan Ayra?" Tanyanya.
Rendi menghela nafasnya panjang seraya memejamkan matanya, Ia tau hal ini pasti akan terjadi suatu saat dan benar saja, hal ini terjadi sekarang.
Ia bingung harus menjawab apa. Jika Ia bohong sudah dipastikan Ia akan kehilangan kekasihnya. Namun jika Ia jujur, belum tau juga apa yang akan terjadi.
__ADS_1
"Baiklah aku akan ceritakan semuanya. Dan ini adalah kejujuranku. Kumohon kamu mengerti, dan bisa menerima masalaluku!" Tuturnya dan dijawab anggukan kekasihnya.
"Aku pernah suka sama Ayra!"
Hal itu tentu membuat hati Aysa sakit. Jadi bener kekasihnya ini menjadikannya pacar hanya karena Ia mirip dia?
Aysa melepaskan genggamannya hendak keluar, namun dengan segera Rendi mencekalnya. "Aku belum selesai."
Aysa kembali duduk, namun enggan menatapnya.
"Aku memang suka sama dia. Tapi bukan berarti aku masih suka sama dia."
"Dan kamu suka sama aku, karena aku mirip dia?" Tanya Aysa dengan wajah datarnya.
RendI menghela nafsnya lagi. "Gak! Aku suka kamu, karen itu kamu!" Ucapnya seraya menggenggam tangannya.
"Dulu aku hanya terobsesi padanya, sedangkan hatiku, hatiku bersama orang yang sudah pergi." Lanjutnya sendu.
Aysa mengalihkan pandangannya menatap sang kekasih. "Siapa?" Tanyanya.
"Namanya Anna. Dia cinta pertamaku." Rendi tersenyum miris mengingat hal pahit itu. "Hal itu yang membuatku menjadi seorang badboy. Aku melampiaskan rasa sakitku dengan mengencani setiap gadis pemujaku. Sampai aku bertemu Ayra." Ia jeda kembali ucapannya dengan pikiran yang menerawang kebelakang.
"Aku begitu terobsesi untuk memilikinya. Hingga akhirnya aku sadar, itu salah. Dan Ayra menyadarkanku kalau aku tak membuka hatiku untuk gadis manapun, aku takan bahagia."
Rendi kembali menatap kekasihnya dan menatapnya intens. "Setelah aku sadar, aku mencoba membuka hatiku. Mulai meinggalkan kebiasaanku menjadi seorang badboy. Dan berakhir bertemu kamu. Aku gak tau apa ini cinta atau sekedar suka? Tapi denganmu, aku menemukan diriku yang sebenarnya."
"Jadi Aysa Gunawan bersediakah kau hidup denganku? Menerima pria yang banyak kekurangan ini? Pria brengsek yang tak tau malu menginginkan cinta dari gadis sempurna sepertimu?" Tanyanya serius dan mampu membuat Aysa tersenyum.
"Jadi?" Aysa hanya tersenyum dan mengangguk sebagai tanggapan.
Rendi menarik sang kekasih kedalm dekapan mengelus rambutnya sayang. "Bersiaplah besok!"
"Untuk?" Tanya Aysha.
"Menikah denganku!"
***************
**Si pleboy mau tobat cenah😂
__ADS_1
Seperti biasa tinggalkan jejak kaleaan yaa readers😊 Jangan bosen-bosen masih banyak part nya ini**!