
Siang ini bang Ar dan sang istri mendatangi greenhouse, Ia akan melihat uji coba produk yang telah dibatalkan secara sepihak oleh kliennya.
Duduk permasalahan yang melibatkan dua buah perusahaan itu berawal dari pihak klien sebagai pemasar membatalkan untuk kerja sama membuat perusahaan Ayah sebagai produsen harus mengalami kerugian besar.
Produk yang dikeluarkan perusahaan Ayah, diklam tak memenuhi kualitas standar yang telah keduanya sepakati. Namun sebelum produk itu diproduksi, sudah dipastikan semua produk telah dilakukan uji coba terlebih dahulu.
Bahkan sebelumnya bang Ar sudah mendapat laporan dari pihak laboratorium dan pabrik, kalau produk mereka tak ada kesalahan apapun. Dan sekarang, Ia harus memastikan di ruang Greenhouse untuk melakukan uji coba ualng tanam.
"Bang ini tuh yang ditanam apa aja?" Tanya Ayra pada sang suami yang tengah melihat produk pertama yang baru ditanam.
"Ini bibit tomat. Kita akan lihat, apa benar ini tak akan berkembang? Atau sebaliknya." Timpal bang Ar.
"Cuma tomat atau ada lagi?" Tanyanya.
"Banyak, yang itu cabe, yang itu sawi. Dan tuh kamu lihat aja masing-masing namanya!" Bang Ar menunjuk beberapa deretan nama bibit disetiap kolom-kolomnya.
Ayra mengangguk mengerti, Ia berjalan melihat setiap kolom yang tertera nama bibit disana.
"Ini kok semua gak jadi sih? Apa beneran gagal?" Tanyanya lagi.
"Kita belom tau, ini baru tanam." Timpal bang Ar.
"Emang berapa hari tumbuhnya?" Tanyanya lagi.
"Emm..beda-beda sih. Tomat ini akan tumbuh seperti kecambah sekitar empat hari. Kalo cabe bisa tujuh sampai sepuluh hari." Timpalnya.
"Lama dong ya? Berarti kita disininya lama juga bang?" Tanya Ayra penasaran.
"Iya. Gakpapa kan?" Tanya bang Ar.
"Gak papa lah. Asal sama abang!" Timpalnya tersenyum, dan dijawab usekan dikepalanya dari sang suami.
"Tapi kenapa lama sih tumbuhnya?" Tanya Ayra lagi.
"Ya kan butuh proses. Kita aja bikin part tiap waktu gak jadi-jadi." Timpal bang Ar membuat keduanya tergelak.
"Gimana mau jadi, baru juga beberapa hari." Ayra terus tertawa.
"Ya tanaman juga gitu sama aja. Gak bisa instan." Timpal bang Ar.
"Indimie kali ah instan. Eh kok jadi laper ya!" Ayra sampai mengelus perutnya yang berbunyi.
Saking asyiknya melihat poses nanam menanam, keduanya sampai lupa waktu.
__ADS_1
"Den Ardi mau makan apa? Biar saya beliin!" Ucap seorang pekerja menanyai keduanya.
"Emm.. Kalian disini makan apa? Samain aja!" Timpal bang Ar.
"Atulah den, jangan disamain! Kita mah cuma nyeduh mie instan aja." Timpal si pekerja, mang Udin namanya.
"Gak papa mang, aku juga lagi pengen!" Timpal Ayra.
"Iya mang. Sekalian aja!" Timpal bang Ar.
"Ya udah aden sama neng nya tunggu bentar ya. Mamang bikinin dulu!" Mang Udin pun berlalu meninggalkan keduanya setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari mereka.
Kini keduanya tengah duduk dibangku dengan meja didepannya menunggu makanan mereka tiba.
"Bang kalo misalnya produknya bagus gak kenapa-napa, apa mereka tetap membatalkan kerjasamanya?" Tanya Ayra.
"Emm..kek nya tetep batal. Mereka gak mau menunggu kita melakukan uji coba ulang." Timpalnya.
"Kok gitu sih bang. Kek nya itu mah alasan mereka aja deh, sengaja mau menjatuhkan kita." Timpal Ayra merasa kesal.
"Gak tau juga sii. Tapi kita jangan berperasangka buruk dulu. Belom terbukti juga hasilnya kan." Bang Ar mencoba menengahi.
"Terus kalo mereka membatalkannya, gimana dengan semua produk yang sudah siap dikeluarkan? Pasti tu biayanya gak main-main?" Tanya Ayra khawatir.
"Kenapa kita gak coba buat masarin produknya aja bang?" Saran Ayra.
"Bisa aja sih. Tapi itu pasti memakan waktu lebih lama. Untuk masuk pemasaran, kita harus punya Agen konsumen terlebih dahulu. Kita juga harus segera mengeluarkannya sebelum menginjak tanggal kadaluwarsanya." Tutur bang Ar.
Ayra dan sang suami terlihat tengah berfikir keras, hingga mang Udin datang membawa nampan berisi dua mangkuk mie beserta dua gelas teh manis untuk keduanya dan membuyarkan lamunan mereka.
"Silahkan den mie nya sudah jadi!" mang Udin menyimpan nampannya diatas meja.
"Iya mang. Makasih! Kalian juga makan ya!" Titah bang Ar.
"Iya den sama-sama." Mang Udin menjawab dan berlalu meninggalkan keduanya.
"Oh iya bang-" Belum sempat Ayra meneruskan ucapannya sang suaminya sudah menyelanya.
"Udah makan dulu. Tar kita bahas lagi!" Titahnya
"Ihh bukan itu. Aku mau nanyain cabe nya mana?" Tanya Ayra.
"Tuh baru ditanem!" Timpal bang Ar tergelak dan sukses mendapat tampolan dilengannya.
__ADS_1
"Ihh abang! Bukan cabe bibit. Cabe buahnya yang merah gitu. Biar pedesnya nampol."
"Pantes aja ya, suka sakit perut? Kebanyakan makan cabe kan?" Protes bang Ar.
"Gak pedes gak endol bang!" Timpalnya cekikikan.
"Kamu tu ya!" Bang Ar mengacak rambut sang istri gemes. "Ada kok yang cuma anget aja tapi bikin endol."
"Apa?"
"Bikin part ngamer!"
Keduanya tergelak. Semakin hari keduanya sudah semakin menunjukkan sisi kepribadiannya. Sisi absurd keduanya tak bisa lagi disembunyikan ternyata pemirsah. Kala berdua seperti ini membuat otak keduanya oleng.
"Udah ketawanya, itu makan dulu mie nya kasihan!" Titah bang Ar.
"Iya, ya bang! Udah melambai-lambai minta disantap." Timpal Ayra.
"Kek si pisang ya? Melambai-lambai minta disantap si nona." Bang Ar membuat keduanya tergelak lagi.
"Udah bang udah! Perutku lama-lama kenyang sama ketawa bukan sama mie." Timpal Ayra yang sudah memegang perutnya, bahkan sampai air keluar dari sudut matanya.
"Iya udah iya. Ayo makan!" Bang Ar menghentikan tawanya dan mulai menyendok mie nya.
Keduanya makan dengan khidmat. Gak ada yang berani bersuara. Karena dipastikan kalo mereka bersuara kembali. Mie yang mereka makan auto masuk saluran pernapasan bukan saluran pencernaan.
"Alhamdulillah!" Bang Ar terlebih dahulu menyelesaikan makannya.
"Udah abis? Bantuin dong bang!" Pinta Ayra pada sang suami.
"Udah kamu abisin. Gak kenyang ntar!" Tolak bang Ar.
"Aku udah kenyang bang. Abang yang abisin yah..yah!" Rayunya.
"Abang juga kenyang." Tolaknya lagi membuat Ayra mengerucutkan bibirnya, membuat bang Ar tersenyum. "Ya udah kita abisin berdua!"
Akhirnya bang Ar mengalah mau memakan mienya berdua. Dengan senang hati Ayra menggeser mangkuknya ditengah-tengah dirinya dan sang suami.
Bang Ar mengambil sendok bekas Ia pakai tadi, menyendokkannya dan menyeruputnya, hingga mie terseruput panjang dan berhenti di dekat bibir sang istri. Tanpa mengingat sikon dan tempat, bang Ar menyambar bibir yang sudah memerah akibat cabe itu. Ayra terkejot namun tak ayal ikut menikmatinya.
****************
Seperti biasa, tinggalkan jejakmu readers! Kasih lah mak othor vote nya, biar semangat muterin otaknya iniš¤£
__ADS_1