
"Beneran kamu udah gak papa?" Pertanyaan yang sama berulang kali diucapkan bang Ar pada sang istri.
"Iya bang. Aku gak papa udah sehat kok!" Jawab Ayra yang tengah duduk dimeja rias, tengah mengeringkan rambutnya.
Bang Ar yang baru mengganti pakaiannya menghampiri sang istri dan mengambil alih handuk dari tangannya. Membantu mengeringkan rambut panjang nan bergelombang miliknya.
"Gak papa kita berangakat sekarang?" Lagi-lagi pertanyaan sama bang Ar lontarkan membuat sang istri berdecak menghentikan tangan suaminya dan membalikkan badannya menghadap sang suami.
"Ya ampun udah berapa kali abang nanya itu mulu. Udah aku jawab berapa kali juga. Aku gak papa oke! Kita berangkat sekarang. Kalo terus ditunda-tunda masalahnya makin larut. Makin sulit dipecahkan." Ayra meraih sebelah tangan sang suami menggenggamnya.
"Kita harus cepat selesaikan ini. Jangan sampe semuanya terlambat. Oke!" Lanjutnya tersenyum meyakinkan sang suami.
Sebelah tangan bang Ar terulur membelai kepala sang istri mengusek pucuk kepalanya dan tersenyum hangat. "Kamu terbaik!"
**
Kini keduanya sudah berada dirumah Mamih Asti untuk mngambil beberapa pakaian Ayra untuk dibawa ke rumah dipuncak.
"Berapa lama kalian disana?" Tanya Papih pada sang mantu yang tengah duduk bersamanya disofa ruang tamu dengan menyeruput kopi buatan putrinya.
"Mungkin beberapa hari Pih. Banyak yang harus diselesaikan disana." Jawab bang Ar yang ikut menyeruput kopi ditangannya.
"Papih doain mudah-mudahan masalahnya cepat selesai ya!" Timpal sang Papih.
"Iya Pih. Makasih. Dan maaf jadi buat anak Papih ikut susah sama aku." Timpal bang Ar sendu.
"Kamu tu, kek ama siapa aja. Lagian udah kewajiban Ayra buat nurut sama suaminya, ngikutin kamu kemanapun kamu pergi. Jadi Papih mohon jaga Ayra, bimbing dia jadi istri yang baik ya nak!" Pesannya pada sang mantu.
Rasanya masih belum percaya.Ia sudah melepaskan putri kecilnya yang dulu selalu ia manjakan, yang selalu menjadi obat penatnya kala pulang kerja. Dan kini Ia menimpakan tanggung jawabnya pada pemuda dihadapnnya.
"Iya Pih tentu saja. Aku akan jaga Ayra dan membimbingnya, aku akan berusaha menjadi imam yang baik untuknya. Dan akan selalu berusaha membahagiakannya." Timpalnya.
Papih tersenyum, sepertinya Ia memang tak salah memepercayakan putri bungsunya pada mantu idamannya ini.
Keduanya terus mengobrol bertukar cerita, tentang pekerjaan dan masalah yang tengah menimpa di perkebunan.
"Bang sini dulu bentar!" Teriak Ayra diambang pintu kamarnya pada sang suami.
Bang Ar menghampiri sang istri dipintu kamarnya. "Kenapa yang?" Tanyanya.
"Ini gimana cara bawanya?" Tanya Ayra membuat sang suami mengerenyitkan dahinya heran.
__ADS_1
"Kenapa emang?" Tanyanya.
Ayra menarik lengan sang suami masuk ke kamarnya. Bang Ar membelakakkan matanya, kala melihat koper yang berjejer.
"Ini! Kenapa banyak sekali?" Bang Ar sampe menganga melihatnya.
"Ya ampun sayang kita disana cuma nginep, bukan mau pindah."
"Aku tau bang. Yang buat dibawa kesana cuma satu koper tuh yang itu!" Tunjuk Ayra pada satu koper, dan itu kopernya sang suami.
"Terus yang lainnya buat apa?" Tanyanya semakin bingung.
"Yang lainnya buat dibawa kerumah Ibu. Kata abang tar kita akan tinggal dirumah Ibu. Ya sekalian aja aku packing." Timpalnya membuat bang Ar tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Ternyata istrinya begitu semangat untuk tinggal bersama kedua orangtuanya. Sampai semua barangnya Ia packing buat dibawa pindah.
"Kamu tu ya!" Bang Ar mengusek pucuk kepalanya gemas. "Abang pikir kamu gakan mau tinggal bareng Ibu dan Ayah?"
"Ishh.. abang tu yah. Kita kan udah sepakat buat tinggal dirumah Ibu sebelum kita punya rumah sendiri." Timpal Ayra.
"Iya. Iya. Tapi kan kita mau berangkat ke perkebunan. Kenapa udah packing dari sekarang?" Tanya bang Ar.
"Kan sekalian aja. Kita simpan dulu barang-barang aku ke rumah Ibu. Sekalian jalan." Timpalnya. Karena memang jalan untuk pergi keperkebunan, melewati rumah Ibu terlebih dahulu.
"Eehh.. Kalian mau kemana?" Tanya Mamih yang baru pulang dari warung.
Mamih tak mengetahui kedatangan keduanya. Saat keduanya datang Mamih baru beranjak pergi kewarung. Dan sekarang Ia kaget melihat anak dan mantunya menggiring beberapa koper.
"Kami mau keperkebunan Mih." Jawab Ayra.
"Mau ngapain? Honeymoon?" Tanyanya lagi.
"Bukan, bang Ar ada kerjaan disana." Timpal Ayra.
"Terus kenapa bawa banyak koper?" Cecarnya lagi.
"Isshh ini koper buat dibawa kerumah Ibu. Abis pulang dari sana kita akan langsung kerumah Ibu, kita akan tinggal disana." Timpal Ayra lagi membuat Mamih murung.
Ayra yang tau sang Mamih pasti sedih dengan kepergiannya. Memeluk sang Mamih. Biarpun keduanya sering beradu argumen, tapi untuk terpisah rasanya berat untuk keduanya.
"Mamih jangan sedih dong! Aku kan cuma ikut suami aku. Lagian kita akan sering kesini kok. Nginep disini juga." Tutur Ayra pada sang Mamih didekapannya.
__ADS_1
Mamih tak menimpali, Ia dekap tubuh putri bungsunya dan terisak menangis.
"Mamih jangan nangis! Akunya jadi ikut nangis. Lagian Mamih kan yang ngajarin aku untuk nurut sama suami. Udah yah jangan nangis!" Ayra ikut terisak. Rasanya akan terasa aneh jika tiap pagi tak mendengar teriakan sang Mamih yang menjadi alarmnya untuk bangun.
"Gak kok. Mamih gak nangis. Mamih cuma bingung aja. Kalo kamu pergi tar siapa yang mau Mamih ajak ribut tiap pagi?" Tuturnya dengan melerai pelukannya dan tersenyum
"Mamih!!!" Ayra menghentakkan kakinya kesal. Alih-alih sang Mamih akan membuat drama untuk menahannya pergi. Eh malah sepertinya terlihat girang.
"Apa? Justru Mamih seneng, kamu mau nurut sama suami kamu." Ibu mengusap jejak air dipipinya dan beralih ke pipi sang putri.
"Jadi istri yang baik. Jangan suka lawan suami, cukup Mamih aja yang kamu lawan!" Ucapnya lagi membuat Ayra memeluknya lagi.
"Aku sayang Mamih. Aku bakal kangen, diteriakin Mamih!" Ayra tergelak dengan ucapannya.
"Kamu tu ya! Mamih apalagi bakal kangen banget sama kamu. Pasti rumah bakal sepi. Apa Mamih bikin adek aja ya buat kamu!" Timpal Mamih dan membuat Ayra melepaskan pelukannya.
"Gak. Awas aja kalo ampe aku punya adek lagi!" Kesal Ayra membuat orang disana tergelak.
Dari dulu Ayra tak mau memiliki adik. Dia sudah mengklam dirinya menjadi anak bungsu. Biarpun sang Mamih mengingikannya lagi, namun ditentang keras oleh sang putri.
"Udah lah jangan mikirin adek buat aku. Bentar lagi baby kak Icha launching. Mamih urus aja tu cucu jangan mikirin anak, udah tua juga!" Ayra masih saja terus ngedumel. Membuat sang Mamih geleng-geleng kepala.
"Ya udah, kamu juga cepet kasih Mamih cucu! Biar rame rumah ini." Timpal Mamih dengan tawanya.
"Mamih tenang aja, bentar lagi aku kasih Mamih cucu." Timpalnya.
"Beneran?"
"Iya!"
"Pulang dari sana. Kita tunggu kabar baiknya."
"Oke! Karena kita akan banyak bikin part disana?"
"Part apaan??"
"Part bikin anak!"
****************
Tinggalkan jejak! jangan melayang seperti si mbak kunti beranak😁
__ADS_1
Cuma minta di like dan komen. Apalagi kalo ampe berkenan kasih vote dan hadiah. Makasihnya tumpeh-tumpeh😘