
"Aka tungguin dede!" Pekik seorang gadis kecil yang tengah mengikat tali sepatunya.
"Buruan! Lama banget sih." Omel sang kakak yang sudah berdiri dengan melipat kedua tangannya didepan mobil.
"Sabar lah kak! Kamu tu harus bisa mengayomi adek kamu." Ucap Papa menasehati seraya mengusek kepala putranya gemas.
"Tapi dede ngeseelin Pa. Dari pagi juga aku udah sabar. Dandan aja lama banget." Gerutunya membuat sang Papa tersenyum.
Entah mirip siapa putra sulungnya itu, sifatnya yang cuek dan kata-katanya yang tajam jauh berbeda dengan dirinya, apalagi sang istri.
"Aka! Ini bekalnya sayang." Sang Mama menghampiri keduanya bersama putri bungsunya.
"Aku gak usah Ma. Buat dede aja!" Tolaknya halus.
"Gak papa kak! Ini dua buat dede satu buat Aka satu." Bukan Mama tapi sang adik yang menimpali.
"Ya udah kamu bawa aja buat Aka Aska. Dia pasti seneng banget dibuatin makanan buatan Mama." Timpal Mama.
"Ya udah sini, buat Aka aja!" Shaka mengambil alih bekal yang hendak Mama nya berikan pada sang adik.
Mama dan Papa tersenyum melihat tingkah putranya itu. Shaka yang waktu bayi begitu kalem si kaum rebahan, tumbuh menjadi bocah kecil yang cuek dengan kata-katanya yang tajam. Namun mengenai kecemburuannya pada kakak sepupunya itu yang kerap kali memperebutkan kasih sayang sang Mama tak dapat Ia sembunyikan. Kedua bocah laki-laki itu tak pernah akur kalau mengenai kasih sayang sang Mama. Namun tidak dengan hal lain keduanya begitu kompak, apalagi mengenai adek perempuan mereka. Keduanya paling overprotektif mengenai hal itu.
Kedua bocah itu sudah memasuki mobil dan mendudukan dirinya dikursi belakang setelah menyalimi takzim sang Mama dan memberikan morning kissnya untuk wanita tercintanya itu.
"Itu kek nya putra kita ketuker deh sama putra bang Agung." Celetuk Ayra.
"Kenapa emang?" Tanya bang Ar.
"Coba aja lihat, sifat kak Shaka persis bang Agung yang ngeselin. Terus lagi tu kak Aska kek kamu banget bang, kalem." Timpal Ayra cekikikan dan disambut senyum bang Ar dan usekan dikepala sang istri.
"Kamu tuh, emang suka bener kalo ngomong." Timpal bang Ar membuat keduanya tergelak.
Meskipun putra putrinya sudah memasuki sekolah dasar, namun tak membuat keduanya mengurangi keromantisannya. Bahkan keduanya kerap menunjukan kebucinannya didepan anak-anaknya dan terkadang membuat si kakak jengah, beda lagi dengan si bungsu yang begitu senang melihat kebucinan kedua orang tuanya.
"Pa buruan! Udah siang ini." Omel sang putra dari jendela mobil.
"Iya bentar." Balas sang Papa.
"Abang berangkat ya!" Pamitnya pada sang istri.
Ayra menyalimi takzim tangan suaminya dan dibalas ciuman dikening, kedua pipi hingga bibirnya sekilas. Ritual wajib yang keduanya lakukan setiap berangkat kerja. Tanpa melihat sikon keduanya seolah asyik dengan dunia mereka sendiri.
"Pa!" Lagi-lagi teriakan membuat orang tua itu tertawa.
"Udah cepetan gih. Keburu ngamuk tuh anak abang!" Titah Ayra.
__ADS_1
"Anak kamu juga!" Jawab bang Ar menarik hidung istrinya gemas. Membuat keduanya tergelak.
Akhirnya mobil berlalu meninggalkan halaman rumah menuju sekolah kedua putra putrinya. Kegiatan setiap pagi yang dilakukan bang Ar mengantar terlebih dahulu keduanya sebelum berangkat ke kantor.
**
Selang beberapa menit keduanya sampai didepan gerbang sekolah. Keduanya turun setelah menyalalmi Papanya dan memeberi kissing dipipinya. Papa Ar ikut turun untuk mengantar keduanya.
"Jangan pada nakal ya! Belajar yang baik!" Pesan Papa Ar mengelus kepala keduanya dan dijawab anggukan oleh keduanya.
"Dan Aka jaga dede nya yah! Jangan ampe nangis!" Pesannya pada sang putra dan diiyakan olehnya.
"Papa!" Sapa seorang bocah kecil dengan seragam yang sama menghampiri mereka bersama satu bocah juga dibelakangnya.
"Hai Aka? Abi?" Sapa Papa Ar pada kedua bocah itu.
"Papa mau berangkat kerja?" Tanya Aska seraya menyalimi takzim tangan om serasa Papanya itu dan disambut elusan dikepala ponakan rasa anaknya itu. Kemudian disusul Abi yang ikut menyaliminya.
"Iya. Kalian masuk gih! Udah mau bel tuh." Titah Papa dan dijawab anggukan keempat bocah didepannya.
Bang Ar kembali memasuki mobil dan melesat meninggalkan tempat itu, setelah mereka benar-benar masuk kedalam sekolah.
"Aka anterin aku dulu dong ke kelas!" Ajak adek kecilnya itu ketika keempatnya berjalan beriringan dikoridor sekolah.
"Manja banget sih. Kan ada Abi." Timpal sang kakak dengan sinisnya.
"Ya udah Aka anterin." Ucap Aska tersenyum dan mengusek pucuk kepalanya gemas.
"Aku duluan!" Abi nyelonong begitu saja meninggalkan ketiganya.
"Tuh kan, Abi suka gitu. Dia tuh suka ninggalin aku. Ntar ujung-ujungnya aku digodain sama anak-anak cowok!" Tuturnya membuat Aska tertawa tapi tidak dengan Shaka, Ia berdecak kesal dengan tingkah adeknya itu.
"Udah deh de. Jangan so kecentilan. Masih kecil juga!" Omel sang kakak pada adeknya.
"Aku udah kelas lima loh kak!"
"Baru kelas lima juga!"
"Tapi aku udah baligh!"
"Tapi masih kecil."
Perdebatan keduanya seolah menjadi musik yang melantun ditelinga si kalem yang tak banyak bicara itu setiap paginya. Ia hanya tersenyum menanggapi kedua adeknya yang tak pernah akur itu.
Hingga tak terasa ketiganya sudah sampai dikelas sang adek. Kedua bocah lelaki itu pergi setelah membiarkan adek nya masuk. Usianya yang berbeda setahun membuat keduanya berbeda sekelas juga dengan sang adek.
__ADS_1
"Pagi Sensen!" Sapa seorang gadis kecil begitu heboh pada gadis yang baru saja masuk itu.
"Pagi juga Jinjin!" Sapanya tak kalah heboh.
Keduanya bertos ria kemudian tergelak. Membuat bocah laki-laki yang tengah duduk dibangku paling depan memutar bola matanya malas mendengar kehebohan dan kealayan dua gadis didepannya.
Baru aja keduanya ditahap saling sapa, bel masuk sudah berbunyi membuat keduanya duduk dibangku masing-masing.
Seorang guru wanita memasuki kelas mereka dengan wajah sangarnya. Bu Neti guru matematika sekaligus guru BP yang paling ditakuti para murid. Seketika kelas pun hening dengan kehadirannya.
"Baiklah anak-anak! Kita mulai absennya dulu."
"Abizar Radeya Permana."
"Hadir!" Jawabnya dengan dingin.
"Arsena Quenara Pratama."
"Hadir!" Jawabnya setengah berteriak. Membuat bocah laki-laki dingin disampingnya menutup telinga.
"Gak usah teriak! Berisik!" Omelnya.
"Biarin aja! Wleek."
"Abi! Sena!" Peringat bu Neti membuat kedua bocah yang duduk semeja ini seketika bungkam dan terdiam.
Setelah selesai mengabsen, pelajaran pun dimulai. Semua murid mulai membuka buku catatannya. Tak ada yang bercanda dipelajaran matematika ini, karena hukumannya untuk yang tak bisa belajar serius tak main-main. Mereka akan diminta berdiri didepan kelas sampai pelajaran selesai.
Akhirnya jam istirahatpun tiba. Semua murid sudah berebut keluar kelas untuk memasuki kantin. Tapi tidak dengan Sena dan sahabatnya Jingga. Keduanya menikmati bekal mereka didalam kelas. Begitupun dua bocah laki-laki yang setia menemani mereka didalam.
"Bekal aku banyak bi. Nih makan!" Ajak Sena.
"Gak usah!" Jawabnya ketus.
"Ya udah."
"Buat aku aja Sen!" Timpal Rizky
Sena hendak memberikan makanan yang sudah Ia duakan didua wadah pada Rizky. Namun segera diambil Abi.
"Lah katanya gak mau?" Tanya Sena heran.
"Mubadzir!" Balas Abi dan segera memakn makanannya.
****************
__ADS_1
Tebak-tebakan gak berhadiah😂 **Ayo yang siapa yang bisa tebak itu bocah, anak siapa aja?🤭
Yuk ramaikan kolom komentarnya. Kalo rame, mak othor siap up lagi disini😁**