
Setelah melakukan drama perdebatan panjang, akhirnya keempat orang itu berangkat juga. Mobil pun melesat meninggalkan kediaman bang Ar, karena waktu sudah melewati jam tujuh malam.
Tak berselang lama, mobil pun sampai diparkiran. Tamu sudah berbondong memasuki halaman rumah Agel. Tamu malam ini seperti biasa dikhususkan untuk para kaum muda.
Brukkk!!!
"Maaf-maaf! Gak sengaja." Seorang pemuda menabrak seorang gadis hingga terjatuh.
Ia membangunkan gadis itu dan menyunggingkan senyumnya kala melihat siapa yang Ia tabrak. "Kamu?"
Gadis itu tak menjawab, ekspresinya begitu datar namun mampu menarik perhatiannya. "Kamu masih ingat aku kan? Kita belum berkenalan."
Ia menyodorkan tangannya ingin menjabat tangan si gadis yang tengah menepeuk-nepukan tangannya yang kotor. "Kenalin aku-" Belum selesai ucapannya, seseorang memanggil gadis itu.
"Kak Aysa!" Panggil Siska. Ia berjalan menghampiri pemuda dan gadis itu.
"Kakak ngapain disini ayo!" Ajaknya menggandeng lengannya.
Saat masuk Ayra, bang Ar dan Siska sudah berjalan terlebih dahulu. Aysa mengekori dari belakang cukup jauh, hingga tertabrak seseorang.
"Eh! Tunggu." Tangan Aysa kembali dicekal seseorang yang tadi menabraknya itu.
"Kakak Siapa ya?" Tanya Siska heran, namun senyumnya mengembang kala fokus melihat wajah tampannya. "Omeegaatt!" Siska sampai menutup mulutnya.
"Kakak ganteng banget. Kenalin aku Siska!" Dengan semangat Siska menyodorkan tangannya meminta kenalan dan disambut olehnya dengan tersenyum manis.
"Nama yang cantik. Aku Rendi! Siapa temanmu ini?" Tanyanya melirik Aysa. Yang dilirik hanya memutar bola matanya malas.
"Namanya kak Aysa." Siska melepaskan jabatan tangannya. "Kakak kenalan dulu dong!" Titahnya.
"Gak perlu! Gak penting." Ucapnya dan berlalu meninggalkan kedua manusia disana.
"Dasar kulkas lempeng! Pantes jomblo mulu. Hadeuh, gimana mau laku coba?" Siska sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah kakak barunya itu.
Rendi tersenyum melihat omelan gadis cerewet didepannya. "Apa dia memang kek gitu?" Tanyanya.
"Gak tau juga sih. Kita baru kenalan juga tadi. Tapi dari tadi berangkat aja udah ngeselin banget." Timpal Siska membuat Rendi tertawa.
"Kenapa?" Tanya Siska heran.
__ADS_1
"Gak! Kamu tu lucu. Kamu orang baru disini?" Tanyanya yang merasa baru melihat gadis didepannya itu.
"Ia aku dari desa. Adiknya kak Ayra. Apa kakak kenal kak Ayra?" Tanya Siska.
Rendi tertegun. Jadi kedua gadis ini saudara-saudaranya Ayra. Dunia terasa begitu sempit. Kenapa Ia harus selalu bertemu dengan keluarga gadis yang sudah membuat hatinya patah.
"Iya. Kenal." Timpalnya tersenyum.
"Kakak jangan keseringan senyum begitu!" Titah Siska.
"Kenapa?"
"Takut diabetes aku. Manis banget!" Gombal Siska membuat Rendi tergelak.
"Kamu tu bisa aja! Kecil-kecil udah pinter gombal. Pasti udah banyak tuh cowoknya!" Sindir Rendi.
"Aku tuh emang suka gombal. Tapi gak ada juga cowok yang nyangkut." Timpalnya membuat Rendi kembali tertawa.
"Sis! Kamu ngapain? Ditungguin juga." Omel Ayra menghampiri keduanya, namun karena Rendi membelakanginya, Ia tak melihat wajahnya.
Saat Rendi membalikkan badan Ayra sedikit terkejut melihat siapa yang tengah berbicara dengan Siska. "Bang Rendi?" Sapa Ayra tersenyum.
"Woy! Kak?!" Teriak Siska melambaikan tangannya diwajah Rendi dan membuatnya terkesiap.
"Kakak kenapa sih? Aneh banget." Tanya Siska heran. Ayra yang tau alasan Rendi seperti itu hanya geleng-geleng kepala. Sepertinya fansnya ini belum juga bisa move on.
"Ayo Sis! Kita udah ditungguin!" Ajak Ayra menggandeng tangan Siska. "Kita duluan ya bang!" Pamitnya pada Rendi dan hanya dijawab anggukam olehnya.
Rendi terus menatap punggung keduanya hingga menjauh. Ia menghela nafasnya panjang dan mengusap wajahnya kasar. 'Kenapa sulit sekali untuk move on darimu Ay?' Batinnya.
Ayra yang baru datang dengan Siska langsung dicecar pertanyaan oleh suaminya. "Darimana? Kenapa lama sekali? Abang khawatir tau gak?" Tanyanya seraya mengelus kepalanya.
Siska yang melihat adegan didepan matanya memutar bola matanya malas. Suami kakaknya ini begitu lebay menurutnya. "Yaelah Kak. Cuma dari depan doang."
"Didepan tadi ada bang Rendi. Kita ngobrol dulu bentar." Timpal Ayra jujur. Ia tak mau suaminya berfikir yang macem-macem.
"Rendi? Ngapain dia? Kamu jangan mau ya dimodusin sama dia!" Sinis bang Ar.
Ayra tersenyum melihat reaksi suaminya. Ada rasa senang dihatinya melihat ke posesifan suaminya. Ia tangkup kedua pipinya. "Abang cemburu ya?" Godanya.
__ADS_1
"Ck. Masih nanya lagi." Sepertinya mood nya bang Ar tengah kacau.
"Uhhh! Senengnya dicemburuin, jadi tambah-tambah sayang deh!" Ayra menempelkan hidung keduanya dan menggeseknya.
Siska yang melihat itu hanya menghela nafasnya kasar. Sungguh pemandangan yang seharusnya belum pantas Ia lihat. "Ck. Udahlah kalian lanjutin! Aku mau cari kak Aysa dulu. Ngilang mulu tu kulkas." Omel Siska sembari berlenggang meninggalkan keduanya.
Ayra tertawa melihat kelakuan gadis yang sudah mengklam dirinya sebagai kakanya itu. Namun tidak dengan sang suami, sepertinya moodnya benar-benar lagi down. Ayra yang melihat suaminya tanpa lengkungan bibir yang selalu menghiasi wajahnya tentu merasa heran. Apa suaminya ini benar-benar cemburu?
"Abang kenapa sih? Aku jujur loh sama abang!" Ayra kembali menangkup pipinya.
"Malam ini kamu terlalu cantik. Abang yakin, matanya si Rendi buaya itu udah nelanjangi kamu. Apalagi lihat body kamu yang sexy ini, udah gak kebayang gimana khayalannya." Tutur bang Ar dan membuang nafasnya kasar. Rasanya begitu frustasi melihat orang-orang yang memuja kecantikan istrinya itu.
Ayra berjinjit dan mengecup bibirnya sekilas. "Sekeras apapun mereka berusaha memisahkan kita. Itu takan berguna. Karena." Ayra menempelkan tangan suaminya didadanya.
"Disini hanya ada kita. Tentang kita. Hidup kita. Cinta kita. Kita, Aku dan Kamu. Ardiansyah pratama!"
Ayra tersenyum membuat bang Ar ikut tersenyum dan menarik tubuh sang istri kedalam dekapannya. "Kamu tau? Abang kangen!" Bisiknya ditelinga sang istri dan menenggelamkan wajahnya diceruk lehernya.
Ayra tersenyum, Ia melipat bibirnya berusaha menahan tawanya. Ternyata ini yang membuat mood suaminya down. Memang seminggu ini keduanya berpuasa dari kegiatan bikin part mencari pahalanya. Bahkan Ayra baru hari ini terlihat bersemangat lagi menjalani harinya.
"Malam ini kita pulang dulu kerumah, oke!" Ayra ikut berbisik ditelinga suaminya membuat sang suami tersenyum lebar.
Bang Ar melerai pelukannya, Ia rapihkan anak rambut diwajah cantik sang istri. "Ayo! Kita gabung disana." Ayra menggandeng lengan suaminya manja. Keduanya terus menyunggingkan senyumnya dan berjalan menaiki stand pelaminan.
"Hadeuh ini bumil manja bener!" Sindir Feby yang melihat Ayra menggandeng lengan suaminya mesra.
"Gue lagi pamer!" Balas Ayra dengan angkuhnya.
"Pamer cenah. Pamer apa?" Tanyanya lagi.
"Pamer! Punya suami ganteng kek artis thailand." Balasnya, kemudian tereglak.
*******************
Jangan lupa like dan komennya yaa! Vote nya jugaš Dikasih ngopi atuh! Kemarau muluš
Ini cenah yang kek artis thailandš¤£
__ADS_1